JANDA SHOLEHAH JODOH CEO DUDA AROGAN

JANDA SHOLEHAH JODOH CEO DUDA AROGAN
Main Bersama


__ADS_3

"Loh, Ustadz Salman mau kemana?" Oma Marisa melihat Ustadz Salman yang hendak pamit menghampiri dirinya.


"Bu Marisa, Tuan Nick, Saya permisi pamit pulang duluan."


"Loh kok ga makan dulu. Kami sudah siapkan loh Ustadz." Oma Marisa sedikit memaksa.


"Om Ustadz ayo makan dulu, lagi pula kata Om Iman kan masih 2 jam lagi acaranya. Makan dulu ya." Pinta Caca pada Ustadz Salman.


Anggukan Ustadz Salman membuat Caca senang.


"Ayo Ustadz, Caca, Kanaya, kita makan sama-sama." Oma Marisa mengajak tamu-tamunya sekaligus Nick yang duduk di kursi tengah paling depan sebagai pemilik rumah.


"Silahkan Ustadz, dinikmati." Nick berbasa basi setelah tadi Oma Marisa mendengar Nick berteriak menghampiri dan bukannya ditolong malah ditertawakan karena Nick menendang kaki ranjang.


"Makanya Nick, buang gengsimu. Kamu masa kalah sama Ustadz Salman!" Begitulah ledekan Oma Marisa pada Nick.


"Terima kasih Tuan."


Tak ada yang berbicara mereka semua makan dengan tenang.


Namun ada pemandangan yang sedikit membuat mata Nick melotot manakala melihat tangan Ustadz Salman dan tangan Kanaya beradu saat keduanya sama-sama akan mengambil Sayur.


Tentu saja Ustadz Salman memohon maaf atas ketidaksengajaan itu begitupun Kanaya.


"Cih! Banyak drama!"batin Nick membuat tatapannya kesal.


"Baik Tuan Nick, Bu Marisa dan Caca, Om pulang dulu ya. Saya permisi pamit Tuan Nick, Bu Marisa, Kanaya. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


"Om Ustadz hati-hati dijalan ya!" Caca melambaikan tangannya dibalas senyum dan lambaian tangan dari Salman untuk Caca.


"Tante Naya, temani Caca beli perlengkapan melukis ya. Tadi Caca minta diantar Oma, tapi kata Oma, Oma kakinya sedikit sakit. Mau ya Tante?"


"Iya Nak Naya, tolong ya. Kaki Oma sedang sakit, mungkin asam urat Oma kumat. Nanti biar Nick saja yang antar. Begitukan Nick?" Oma Marisa melihat kearah Nick.


"Iya." Nick menyahut singkat.


Udah bilang aja seneng Nick! Ga usah gengsi, happy tuh akhirnya bisa jalan sama Kanaya!Ups!


Kini ketiganya memasuki sebuah Mall menuju sebiah toko tempat Caca akan membeli perlengkapan melukis.


Caca yang menyukai kegiatan melukis segera berlari menuju rak-rak yang berisi cat-cat dengan berbagai warna dan merk.


"Sayang, jangan lari, nanti jatuh!" Suara lembut Nick manakala mengkhawatirkan putrinya.


"Si Boss bisa lembut juga ya?" Batin Kanaya saat melihat Nick begitu mengkhawatirkan Caca.


"Ngapain kamu bengong! Sini! Nanti Hilang lagi!" Nick memanggil Kanaya yang terlihat melamun.


"Huh, baru dipuji, eh kumat lagi!" Batin Kanaya.


"Tante Naya, ini bagus ga?" Caca meminta pertimbangan.


"Bagus, tapi kalau yang ini lebih awet."


"Oh begitu, ok Caca ambil yang ini."


Nick memperhatikan interaksi Kanaya dengan putrinya.


Hati Nick menghangat. Melihat Caca dengan Kanaya bertukat canda, tertawa bersama ingjn rasanya Nick memberikan semua itu full di hidup putrinya yang sejak kecil memang kehilangan sosok ibu.

__ADS_1


"Dad, sini, waktunya bayar." Caca memanggil Nick, ia dan Kanaya sudah mengantri di kasir.


"Dad, setelah ini Caca mau main di sky rink."


"Iya. Boleh."


"Tante Naya ikut ya."


"Memang kamu bisa main ice skating?" Nick dengan sombong malah seolah menantang Kanaya.


"Caca suka main ice skating? Kalo begitu ayo kita kesana!" Kanaya yang kesal diremehkan Boss beruang kutubnya malah semakin tertantang.


"Hore!" Seru Caca semakin tak sabar.


Kini ketiganya sudah sampai di sky rink.


Kanaya, Caca dan Nick bersiap memakai perlengkapan bermain ice skating.


Kini ketiganya siap beraksi di atas ice yang licin namun mengasyikan bagi mereka yang mahir memainkannya.


"Ayo Daddy sini, Tante Naya ayo!"


"Kau yakin bisa? Kalau tidak bisa pakai penguin itu!" Nick menunjung sebuah alat yang biasa digunakan bagi mereka yang belum lancar bermain ice skating.


"Caca, Tante Naya datang!"


Tak menjawab remehan Boss menyebalkannya Kanaya justru mengejar dan beriringan bermain ice skating dengan Caca.


"Dia kok bisa sih? Malah lancar banget?" Nick masih dibuat terkejut dengan Kanaya yang kini asik berselancar bersama Caca meliuk-liuk lincah bermain ice skating.


"Daddy, ayo. Jangan diam aja disana!" Teriak Caca menyadarkan Nick yang sejak tadi belum mulai bermain.


Nick tentu saja tidak mau kalah dengan Caca dan Kanaya.


Caca hanyalah anak-anak tentu saja jail adalah satu paket dengan dirinya.


Seperti saat ini ia meminta kedua nya menangkap dirinya namun saat keduanya hampir mendekat Caca malah menghindar dan tak dipungkiri Nick dan Kanaya hampir saja bertubrukan.


Kanaya yang melihat ia akan bertubrukan dengan Nick memilih menghindar namun akibat kaget Kanaya hampir saja tergelincir.


"Awww!" Teriak Kanaya.


Kanaya tidak merasakan sakit dan dingin justru ia merasakan tangan seseorang dipinggangnya.


Kanaya membuka matanya.


Nick yang melihat Kanaya hampir jatuh dengan sigap menahan tubuh Kanaya, kini posisi mereka layaknya pasangan yang sedang berangkulan meski tak serapat itu dan ingat mereka memakai kostum tebal lengkap dengan sarung tangan.


Kanaya buru-buru bangun, menarik tubuhnya melepaskan dari pegangan tangan Nick.


Nick pun melepaskan tangannya yang semula memegang pinggang Kanaya.


"Kau itu makanya hati-hati!" Nick dengan omelannya.


"Mana Saya tahu kalau Boss bakal tabrak Saya!" Kanaya kesal karena ia disalahkan.


"Caper!" Nick tak kalah.


"Astagfirullah!" Kanaya memilih istigfar dibanding meladeni ucapan nyebelin Big Boss aneh.


"Tante Naya gapapa kan?" Caca mendekat.

__ADS_1


"Untung ada Daddy." Caca malah tersenyum.


"Sayang. Udah yuk mainnya. Nanti kamu flu." Nick yang sebetulnya masih teringat moment tadi memilih mengalihkan.


"Iya deh. Tapi kapan-kapan kita main lagi ya Dad. Ajak Tante Naya juga!"


"Dad!" Caca menuntut jawaban karena Nick hanya diam.


"Iya Sayang." Nick menjawab.


"Boss, Saya pulang dulu ya. Caca Tante Naya pulang dulu ya. Sudah sore." Kanaya pamit ia memang sudah mau pulanh dan berencana untuk memesan taksi online saja.


"Daddy kalau begitu kita antar Tante Naya saja."


"Tidak usah Caca. Tante bisa pulang sendiri."


Kanaya tentu tidak mau menyusahkan Boss galaknya yang selalu jutek dan galak setiap menatap dirinya.


"Daddy, kita antar Tante Naya ya. Kasihan kalau Tante Naya harus naik taksi online. Please." Caca menangkupkan tangannya tak lupa Caca dengan manik puppy eyes tampak membuat Nick sulit menolak permintaan putrinya.


"Iya Sayang. Kita antar Tante Naya."


Kanaya tak percaya si Boss juteknya mau dan tak menolak.


"Maaf Boss Saya jadi merepotkan."


"Ya, karena Caca, ayo cepat!" Dalam mode jutek Nick menjawab.


Saat naik ke mobil tiba-tiba Caca memilih duduk di kursi belakang.


Kanaya tentu saja kebingungan. Namun ja mengikuti Caca duduk di kursi belakang.


"Hei, kamu pikir aku sopir. Pindah duduk ke depan!"


Caca yang mau tidur sengaja memilih duduk dikursi belakang.


Kanaya ya tak tahu apa-apa ia mengikuti Caca tak mungkinkan ia duduk disamping Boss juteknya.


Namun hentakan Nick membawa langkah Kanaya pindah ke kursi di samping Boss galaknya.


Caca tak lelah dan tak butuh waktu lama ia terlelap di kursi belakang.


Malam minggu tentu saja jalanan lebih padat. Macet dimana-mana ditambah rintik gerimis menemani sepanjang perjalanan.


Tak ada suara ataupun musik. Hening. Lebih tepatnya mencekam.


Tak ada perbincangan antara Nick dan Kanaya.


Hingga ponsel Kanaya berdering.


Namun Kanaya memilih tak mengangkat.


Berkali seperti itu.


Berkali pula Kanaya merejectnya.


Nick yang menoleh sesaat pada Kanaya angkat bicara.


"Angkat saja, siapa tahu pacarmu yang menelpon!"


Jangan mancing Nick! Bilang aja kepo! Dasar Babang Nick!

__ADS_1


"Bukan pacar Saya Boss yang menelpon. Tapi mantan suami!"


Sesaat itu Nick menoleh begitupun Kanaya.


__ADS_2