
"Selamat pagi Nyonya Oma, Pagi Bu Boss, Pagi Non Caca, Pagi Boss!" Gusti saat tiba menyapa seluruh anggota keluarga Boss Killer namun terlanjur sayangnya.
"Pagi Gus. Ayo sekalian sarapan." Ajak Oma Marisa.
"Ayo Om Gusti gabung Bunda yang masak loh!" Caca menepuk kursi di sebelahnya mengajak Gusti duduk.
"Jangan sungkan Gus." Khalisa menawarkan juga.
"Kau selalu mencocokan waktu kedatanganmu biar sarapan gratis!" Hanya Nick yang mode jutek namun baik hatinya.
"Boss tahu aja, maklum tanggal tua Boss belum gajian." Gusti hanya becanda.
"Kau kemanakan gaji dan bonusmu yang besar itu?" Nick tak terima karena ia tahu Nick menerima lebih dari cukup penghasilan yang diberikan oleh Nick.
"Ah Boss mau tanya aja atau mau tahu banget?" Bukannya takut malah meledek Boss Killernya semakin murkalah Nick.
"Sayang, Mas berangkat dulu ya. Kabari Mas kalau Kamu jadi ke kampus. Assalamualaikum." Nick menerima cium tangan Khalisa balas memberikan kecupan di kening sang istri.
"Iya Mas. Waalaikumsalam. Hati-hati bawa mobilnya ya Gus." Khalisa melepas Nick berangkat ke kantor.
Selepas mengantar Caca ke sekolah Khalisa diantar oleh sopir menuju Universitas Gemilang untuk mendaftar.
Khalisa memandang kampus itu dengan penuh senyuman.
Tak menyangka bisa kembali belajar mengenyam pendidikan yang lebih tinggi ada kesenangan tersendiri di hati Khalisa.
"Selamat pagi Bu, Saya mau mendaftar untuk kelas pascasarjana jurusan Manajemen Pendidikan. Apakah masih buka?" Khalisa mendatangi pusat informasi.
"Kebetulan hari ini hari terakhir pendaftaran. Minggu depan akan ada tes masuk. Silahkan Ibu bisa mengisi formulirnya dulu." Pegawai di meja informasi memberikan formulir kepada Khalisa.
Khalisa mengisi informasi dan menyelesaikan segala biaya administrasi dan dokumen pendukungnya.
"Minggu depan jangan lupa untuk hadir saat tes masuk ya Bu. Untuk informasi lengkapnya bisa hubungi nomot telp ini atau ku jungi website kampus kita."
"Terima kasih Mbak."
Khalisa sengaja tidak langsung pulang, memilih berkeliling melihat-lihat calon kampusnya.
"Maaf Mbak Saya tidak sengaja. Mbaknya tidak apa-apa?"
Khalisa melepas tangannya yang sedang digenggam oleh seseorang yang menabraknya.
"Maaf Mbak. Mbaknya mahasiswi disinikah?"
"Saya baru mendaftar." Jawab Khalisa.
"Perkenalkan Saya Raditya. Mbaknya ambil jurusan apa?" Pria tersebut mengulurkan tangan hendak mengajak jabat tangan.
Khalisa hanya membalas sapaan Raditya dengan menangkup kedua tangannya di dada.
"Oh maaf." Menarik kembali uluran tangan yang tidak disambut.
__ADS_1
"Permisi Pak, Saya duluan." Khalisa pamit undur diri.
"Ah Iya. Silahkan."
"Pak Radit!"
Pria bernama Raditya segera memutuskan pandangannya menatap Khalisa setelah terdengar suara memanggil.
"Assalamualaikum Bunda." Caca saat melihat Khalisa datang menjemputnya di sekolah.
"Waalaikumsalam Sayang. Capek ya?" Khalisa menerima cium tangan Caca dan memeluk putri cantiknya.
"Iya Bun. Tadi pelajaran olahraga kita semua praktek Basket. Tim Caca menang loh Bun!" Caca senyum sumbringah.
"Masya Allah. Hebat sekali putri Bunda. Kalau gitu, Caca mau apa nih? Mau langsung pulang atau," Khalisa menjeda kata-katanya.
"Kita ke toko buku dulu ya Bun. Ada buku dan komik yang Caca ingin beli. Sama sekalian beli bahan-bahan lukis."
"Ayo!"
Khalisa dan Caca kini sudah berada di Mall temoat toko buku langganan mereka.
"Daddy telp Sayang, Bunda angkat dulu ya."
Anggukan Caca melanjutkan memilih bahan-bahan melukis yang ia butuhkan.
"Assalamualaikum bidadariku. Lagi dimana?" Suara lembut suaminya yang selalu membuat Khalisa yerbang akan gombalan receh Nick.
"Mas baru saja selesai meeting. Ya sudah Mas susul Kalian ya. Kebetulan Mas ada sedang di Brevilia tidak jauh dari sana. Tunggu Mas ya Sayangku. Assalamualaikum." Nick menyudahi panggilannya bergegas menyusul istri dan anaknya.
Gusti yang masih belum terbiasa melihat Bossnya menjelma menjadi anggota Bucin Club senyum-senyum sendiri.
"Fokus nyetir. Kalo nabrak Kamu Aku gantung di," Nick belum selesai bicara sudah dipotong Gusti.
"Di gantung di patung Garuda Wisnu Kencana!" Gusti menyambar cepat, sudah khatam ancaman Boss Killernya.
"Good!" Nick membenarkan.
"Kita ke Toko buku di Mall Gus." Nick memberi perintah.
"Ashiap Boss!"
Sementara Khalisa dan Caca masih asik di Toko Buku mereka memang betah berlama-lama disana.
Caca meminta pendapat mengenai apa yang akan ia beli.
"Bun, Tante Dira dan Om Salman kapan baliknya?" Caca menanyakan karena sudah kangen dengan Om dan Tantenya itu.
"Sepertinya 2 hari lagi. Tapi Bunda juga belum dapat kabar sih. Kenapa Sayang?" Khalisa mengusap kepala Caca.
"Caca kepingin kita ramai-ramai jalan-jalan ke Dufan. Caca kepingin main kesana lagi." Caca jadi senang setelah tahu bahwa ada arena bermain dalam negeri yang tak kalah seru.
__ADS_1
"Ya sudah nanti kalau Om Salman dan Tante Dira sudah kembali kita ajak sama-sama ya." Khalisa memberi pengertian.
"Bun ajak juga Eyang, Oma, Opa Baskoro, Oma Amelia ya?"
"Iya Sayang. Semuanya."
"Assalamualaikum kesayangannya Mas dan Daddy." Nick sudah berada di belakang Khalisa dan Caca.
"Waalaikumsalam." Khalisa dan Caca menjawab kompak.
"Eh Om Gusti ikut juga." Caca menyapa Gusti.
"Beli apa Non?" Gusti melihat kantong belanja yang dibawa Caca.
"Caca beli alat dan bahan lukis sama buku dan komik." Jawab Caca sambil memperlihatkan isi kantung itu.
"Daddy ayo bayar, setelah ini kita makan ya. Caca laper."
"Ayo." Nick berjalan membawa Caca ke kasir.
Keluar dari toko buku sambil menggandeng Khalisa sedang Caca digandeng Om Gusti yang asik berbincang entah apa yang mereka bicarakan menuju tempat makan yang dipilih Caca.
"Sayang mau makan apa?" Khalisa menanyakan Caca yang sedang melihat menu di book list.
"Caca mau steak sama orange juice deh Bun." Caca menutup buku menu di tangannya.
"Sayangku mau makan apa?"Nick ganti menanyakan Khalisa.
"Eh, Apa ya, aku tomyam daging sapi saja deh Mas, minumnya kelapa muda. Mas mau apa?" Khalisa balik menanyakan suaminya.
"Samakan saja sama menu Sayang deh." Nick meniru menu pilihan Khalisa.
"Bu Boss, Saya boleh pesen juga ga?"
"Kau ini selaku saja. Sarapan dirumahku, sekarang ikut juga makan bareng. Lama-lama Kau tinggal saja Gus dirumahku sekalian!" Nick menyela.
"Mas,,, ya boleh lah Gus. Sekalian mau pesan apa aja boleh." Khalisa tak habis pikir mengapa Nick tak pernah akur dengan Gusti meski jika tak ada keduanya saling mencari.
"Saya panggil waitersnya Bu Boss." Gusti dengan sigap memanggil waiters.
Waiters datang dan mencatat menu yang dipesan oleh meja Nick.
Sambil menunggu Caca meminta ditemani Gusti untuk main diarena permainan anak-anak sementara Nick dan Khalisa duduk sambil melihati Caca dan Gusti yang sedang happy bersama.
"Mas kenapa sih kalo sama Gusti galak banget!" Khalisa iseng saja bertanya.
"Seneng aja sebenernya sama reaksi Gusti yang selalu jawabin Mas. Mas itu kan anak tunggal ga punya adik ataupun Kakak. Jadi saat ketemu Gusti kayak punya adik cowok. Tapi Sayang jangan bilang-bilang, nanti Gusti kegeeran!" Nick memang senang dengan Gusti baik secara profesional pekerjaan maupun kepribadian loyalnya.
"Ya Allah. Jahil Kamu Mas." Khalisa hanya geleng kepala dengan jawaban Nick.
"Sayang kapan kita periksa dedek bayi? Mas kepingin lihat, sudah kangen." Nick mengusap perut Khalisa yang mulai buncit.
__ADS_1
"2 hari lagi." Khalisa menjawab.