
Selepas santap makan malam Khalisa disibukkan menemani sang putri tercinta belajar dan mengerjakan tugas sekolahnya.
"Bunda, tadi di sekolah Bu Guru menjelaskan macam-macam profesi yang ada di Dunia. Ternyata banyak pekerjaan yang unik-unik juga ya Bun." Caca selalu menceritakan apa saja yang ia lakukan di sekolah kepada Bundanya dengan antusias.
"Memang Bu Guru menceritakan apa Kak?" Caca sejak tahu Bundanya hamil ia ingin dipanggil Kakak.
"Macam-macam Bun, ada pencicip es krim, ada penjaga pulau, terus bahkan ada yang menjadi pencicip makanan hewan." Caca sambil mengingat penjelasnya Bu Guru saat di kelas.
"Kalau Kakak cita-citanya mau jadi apa?" Khalisa sambil menyisir rambut putrinya.
"Kakak masih bingung mau jadi apa? Kakak senang melukis, Kakak juga mau jadi Dokter, tapi Kakak senang jalan-jalan Bun." Caca mengingat banyak hal yang ia sukai.
"Sayang, Daddy tidak akan memaksakan Kamu mau jadi apa, yang penting Kakak happy menjalaninya dan syukur-syukur bisa bermanfaat untuk banyak orang." Nick ikut bergabung dengan istri dan putrinya.
"Oh Iya Dad, dulu waktu kecil cita-cita Daddy mau jadi apa? Apa jadi pengusaha seperti sekarang?" Pertanyaan Caca juga membuat Khalisa penasaran dengan jawaban suaminya.
Nick tersenyum melihat 2 wajah beda usia namun cantik baginya menunggu dengan wajah penasaran.
"Ya Daddy waktu kecil juga punya cita-cita Kak. Walaupun jadi pengusaha bukan cita-cita Daddy tapi Daddy semakin lama semakin menyukainya dan bersyukur. Karena bisa membuka lapangan pekerjaan bagi banyak orang." Nick tersenyum mengenang bagaimana saat Daddynya wafat Nick mau tak mau menggantikan posisi tersebut diperusahaan.
"Dulu saat masih seumur Kakak, Daddy ingin sekali jadi Tentara." Nick mengenang saat masih di sekolah dasar ia senang menggunakan kostum tentara saat ada acara sekolah seperti karnaval. Nick selalu minta pada Oma Marisa dibelikan kostum tentara untuk acara karnaval di sekolahnya.
"Wah, serius Mas?" Khalisa seakan tak percaya.
"Ya sebenarnya itu bermula karena saat Daddy taman kanak-kanak Daddy ditolong oleh seorang tentara saat Daddy dibully oleh kawan-kawan di taman. Waktu itu Daddy menganggap menjadi tentara seperti superhero." Nick tertawa mengenang kejadian puluhan tahun lalu yang ia alami.
"Terus Daddy punya cita-cita apalagi?" Caca antusias mendengar cerita Nick semasa sekolah.
"Nah cita-cita Daddy berubah saat Dad sekolah Kuliah, waktu itu Dad dan kawan-kawan Dad memiliki grup band, Kami sering tampil di acara pensi dan event-event. Saat itu Dad merasa keren sekali menjadi Drumer." Nick dengan wajah bangganya.
"Mas bisa main Drum?" Khalisa baru tahu fakta yang satu ini.
"Serius Daddy bisa main Drum? Kenapa Daddy tidak pernah menunjukkannya. Kakak mau lihat Daddy main Drum." Caca dibuat penasaran.
"Itu sudah lama sekali Kak. Sepertinya Daddy sudah lupa. Lain kali ya. Daddy ingat-ingat dulu. Malu dong kalau main Drumnya salah-salah didepan Kakak." Nick tersenyum sambil mengacak rambut putrinya.
__ADS_1
Namun Khalisa melihat sorot mata Nick seakan menyembunyikan sesuatu.
"Kakak, sudah malam. Istirahat yuk. Besok kan sekolah." Khalisa melirik jam memang sudah waktunya Caca tidur.
"Daddy, Kakak bobo dulu ya." Caca pamit Nick.
"Iya Sayang. Mimpi indah ya." Nick mengusap lembut kepala putrinya.
"Mas, Aku temani Caca dulu ya." Khalisa pamit mengantar Caca ke kamarnya.
Anggukan Nick seiring kepergian putri dan istrinya.
Obrolan tadi kembali mengingatkan Nick pada memory jadul saat masih kuliah bersama dengan mendiang Aurel.
Setelah Caca tertidur, Khalisa kembali ke kamarnya.
Terlihat Nick tengah fokus dengan laptop menyelesaikan beberapa pekerjaan.
"Mas, istirahat. Dilanjut besok lagi." Khalisa memijat bahu Nick.
Khalisa menyadari sesuatu seperti ada yang dipikirkan Nick.
"Mas, ada apa?" Khalisa kini berhadapan dengan Nick.
"Sayang, maafkan Mas." Nick mengajak Khalisa ke ranjang duduk mengobrol disana sambil bersandar.
"Ada apa Mas? Ceritakan saja." Khalisa membelai rambut Nick yang kini berada dalam pangkuan.
"Tadi Mas selintas terbayang Aurel, Mommynya Caca saat menceritakan soal drum." Nick merasa bersalah.
Khalisa tersenyum, menangkupkan kedua tangannya di pipi Nick sambil memandang wajah tampan suaminya.
"Kenapa harus minta maaf. Bagaimanapun Mbak Aurel adalah Mommynya Caca, bagian dari masa lalu Mas. Dan Mas jangan pernah merasa bersalah sama Aku bila ingin menceritakan sesuatu yang berkaitan dengan Mbak Aurel kepada Caca. Bagaimanapun, Mbak Aurel adalah Ibu kandung Caca. Dan tidak ada ceritanya mantan anak atau mantan Ibu." Khalisa menjelaskan pada Nick.
"Terima kasih Sayang. Mas memang tidak salah pilih istri. Kamu memang wanita yang baik dan sholeha, meski awal-awal galak dan judes!" Nick menoel hidung mancung Khalisa.
__ADS_1
"Ga salah Pak Boss, bukannya lagi ngomongin diri sendiri itu?" Khalisa membalas.
"Ya siapa juga yang ga kesel, disaat banyak perempuan di kantor dan diluar sana begitu terpesona dengan ketampananku Kamu malah cuek bebek. Tapi dengan Ustadz Salman sangat ramah. Bikin kesel tahu!" Nick bete dilanjut tersenyum mengingat bagaimana hatinya panas saat itu.
"Aduh, aduh, Pak Boss pede banget rupanya. Ya siapa coba yang ga kesel di galakin plus di jutekin terus. Udah gitu sukanya maksa lagi!" Khalisa teringat awal-awal bekerja di kantor Nick.
"Tapi suka kan dipaksa Mas? Buktinya ini ada Nick junior disini?" Nick sambil mengusap perut Khalisa.
"Ya gimana lagi, kan mendadak, dan didepan banyak orang juga. Kasian kalau ditolak." Khalisa sengaja pura-pura.
"Oh gitu ya, nakal ya. Sini Mas mau kasih hukuman buat Bundanya debay." Nick tentu saja bila sudah menyebut hukuman tidak jauh dari dunia peranjangan.
"Mas, inget Dokter bilang apa? Puasa!" Khalisa menghindar membuat Nick makin gemas.
"Ah, itu ya. Tapi pelan-pelan kan bisa Sayang. Ya icip-icip dikit ya." Nick menaikkan kedua alisnya memberi kode.
Tentu saja dengan segala jurus dan taktik suhu Nick berhasil meski ia sangat hati-hati mengingat kondisi Khalisa.
Sementara nun jauh di negeri Korea Selatan tampak sepasang pengantin baru yang sedang menikmati masa-masa honeymoon sedang berbaring dalam selimut yang sama mengatur nafas yang tersengal selepas penyatuan.
"Capek ya Yang?" Ustadz Salman membelai wajah lelah Dira yang kini berada dalam pelukannya.
"Ya kali Kak, 4 kali ga capek. Gimana coba mau jalan-jalan kalo badan pegel dan remuk gini." Dira mengeluh karena suaminya tak sesuai janji bilang sekali malah nambahnya sampai 3 kali.
"Sayang, Kakak ga bisa janji kalau sudah sama Kamu, maunya lagi dan lagi." Masih sempat mencuri ciuman menyesap bibir ranum Dira.
"Tapi Dira juga mau keliling-keliling Kak, masa ke Korea di kamar doang. Ga asik. Ga ada foto-fotonya." Dira padahal sudah berencana mengabadikan banyak foto tempat yang sering ia lihat di drakor.
"Siapa bilang ga keliling-keliling, Kakak sih rasanya udah senang bisa kesini, kesini, kesini, ke-" Ustadz Salman belum tuntas.
"Ya Allah, kenapa Ustadz satu ini mesum banget ya." Dira menepuk dahinya.
"Mesumnya kan sama istri Kakak tercinta aja. Udah bobo dulu yuk. Besok pagi habis tahajud kita lanjut lagi. Gimana?" Ustadz Salman Menaikkan kedua alisnya menyuguhkan senyuman semanis madu dihadapan istri tercintanya.
"Tobat ya Allah!" Dira memilih segera memejamkan matanya daripada dikerjai lagi oleh suaminya.
__ADS_1