JANDA SHOLEHAH JODOH CEO DUDA AROGAN

JANDA SHOLEHAH JODOH CEO DUDA AROGAN
Ada Apa Dengan Dira


__ADS_3

Dalam kontrakan petak, Kanaya tampak termenung mengingat kembali kejadian yang ia alami.


Perasaan campur aduk, ingatan buruk kembali menyeruak manakala kini Alvin kembali datang dalam hidupnya membuat hati Kanaya cemas.


Kanaya hapal betul sifat Alvin yang ambisius tentu kejadian tadi tidak akan membuat Alvin jera.


Kanaya khawatir jikalau suatu saat Alvin berbuat lebih nekat.


Terdengar suara ketukan dari pintu rumah Kanaya.


Tok,Tok,Tok!


"Mbak, Mbak Naya!"


Kanaya mendengar Dira memanggil dan mengetuk pintu rumahnya.


Kanaya bergegas membuka pintu.


"Mbak, tadi siang aku cari kemana?"


Dira langsung masuk ke kontrakan Kanaya dan duduk di tikar yang memang terpasang.


"Tadi aku mau service hpku. Kamu baru pulang Dira?"


Kanaya melihat Dira dengan wajah tampak lelah.


Dira belum menjawab. Dira justru merebahkan dirinya di atas tikar.


Mata Dira menerawang jauh ke langit-langit kontrakan Kanaya.


"Mbak Naya, boleh Dira tanya sesuatu?"


Tatapan Dira kini mengarah pada Kanaya.


"Memang mau tanya apa?"


Dira tampak menghela nafas menghembuskan kasar. Terlihat berat lisannya untuk memulai.


"Dira benci pria yang menyebut dirinya Papa!"


Kanaya terkejut mendengar kata-kata Dira.


Tatapan kebencian terlihat jelas dalam sorot mata Dira saat mengucapkannya.


Dira tak melanjutkan kata-katanya.


Namun airmata yang mengalir deras dalam netra kedua milik Dira seakan menjelaskan bahwa ada luka yang tersimpan begitu dalam pada diri Dira.


Kanaya menggeser duduknya perlahan mendekatkan diri merengkuh tubuh Dira yang terlihat butuh sandaran.


Kanaya memeluk Dira, membawa dalam pelukannya.


Tak ada tanya yang Kanaya lontarkan, Kanaya membiarkan Dira menangis dalam pelukannya melepaskan beban yang mungkin saja menghimpit.


Kanaya mengusap lembut surai panjang Dira.


Kanaya menganggap Dira bagaikan adiknya yang kini sedang membutuhkan kasih sayang.


Lama Dira pelukan Kanaya. Selama itu pula Dira tak mengatakan apapun hanya tangisnya yang kian mereda.


"Aku lebih baik tidak punya Ayah dari pada memilikinya namun seperti dia!"


"Gara-gara dia Mbak, Mama meninggal!"

__ADS_1


"Dira benci Mbak!"


Kanaya menenangkan Dira yang meledak meluapkan amarahnya.


Lelah menangis Dira tertidur dirumah Kanaya.


Kanaya membiarkan Dira agar beristirahat.


"Mbak Naya."


Dira sudah bangun menyusul Kanaya yang kini sedang menyiapkan sarapan.


"Aku masak tumis kangkung dan telur dadar. Sarapan dulu Dir."


"Maaf Mbak, Dira selalu menyusahkan Mbak."


"Apa sih Dira. Aku ga merasa disusahin kok. Ayo kita sarapan. Setelah ini kita siap-siap berangkat."


"Makasi banyak ya Mbak."


"Ayo dimakan. Maaf seadanya ya Dira."


"Ini enak Mbak. Mbak Naya pinter masak. Aku jadi pingin belajar masak juga."


"Kamu bisa aja Dira. Aku bisa masak cuma yang simple aja."


"Makan masakan Mbak Naya aku jadi ingat Mama. Dulu Mama setiap hari masak buat aku. Aku suka banget masakan Mama. Kalo inget jadi sedih dan makin benci sama dia!"


"Mbak nanti kita berangkat kerja bareng saja. Biar aku ga sepi."


"Aku jadi enak nih naik mobil bareng kamu. Makasi ya."


"Sama-sama Mbak. Seneng deh sekarang ada temennya ga bosen sendirian dijalan."


Setelah selesai menikmati hasil masakan Kanaya, Dira hendak membantu membawa bekas piring mereka.


"Gapapa Mbak aku aja yang cuci."


"Iya tapi sekarang kan kita mau berangkat, sudah lain kali saja Dira. Pasti nanti Mbak bakal minta tolong kamu. Untuk sekarang kamu mandi biar kita ga telat. Kalau telat kamu ga takut sama Big Boss, ehm?"


"Yaudah Mbak, Dira balik dulu ya. Makasi makanan dan makasi udah mau nemenin Dira saat terpuruk."


Perjalanan menuju kantor sedikit macet maklum jam kerja dimana semua orang memiliki tujuan yang sama.


Kurang 30 menit sebelum jam masuk kantor, Kanaya dan Dira telah tiba.


"Dira, kamu duluan saja, aku mau ke bawah dulu, ada dokumen yang mau ku ambil."


"Ok Mbak."


Dira naik lift menuju lantai kantor mereka dan Kanaya berjalan ketempat tujuannya.


Sementara di kediaman Nick, tampak Caca yang sudah siap berangkat akan diantar supir dan ditemani Oma Marisa.


Sedangkan Nick masih bersiap memakai pakaiannya memastikan sudah tampan maksimal.


Berkali Nick menatap wajahnya dicermin memastikan tampilannya hari ini mampu mempesona hati seseorang yang masih gengsi ia akui.


"Pagi Nyonya Oma, Pagi Nona Caca." Sapa Gusti saat hadir dikediaman Big Boss.


"Pagi Gusti."


"Pagi Om Gusti."

__ADS_1


"Boss masih dikamar atau sedang olahraga Nyonya Oma?"


Gusti yang biasanya melihat Nick sudah duduk nyaman di meja makan menikmati secangkir kopi tak melihat batang hidung Big Boss saat itu.


"Entahlah, aku sendiri sejak tadi menunggunya." Oma Marisa juga menunggu Nick.


"Oma, Om Gusti, tadi Caca lewat kamar Daddy terus Caca ngintip sedikit, Daddy sedang senyum-senyum didepan cermin. Terus Daddy berulang kali ganti baju, jas dan dasi. Sambil siul-siul pula." Caca dengan berbisik membagikan rahasia yang ia lihat.


Mendengar perkataan cucunya Oma Marisa juga dibuat penasaran.


Oma Marisa segera beranjak dari meja makan dan bergerak menuju kamar Nick dilantai atas.


Entah karena rasa ingin tahu yang besar Gusti pun mengikuti langkah Oma Marisa menuju kamar Nick.


Caca tak mau ditinggal sendiri ia mengikuti langkah Oma Marisa dan Gusti.


Kini keduanya berada di depan kamar Nick yang tidak terkunci terbuka sedikit celah sehingga lumayan bisa mengintip ke dalam.


Benar yang dikatakan Caca, terlihat di atas ranjang sudah terdapat banyak tumpukan jas, kemeja dan dasi yang tidak jadi dipakai.


Sementara Nick terlihat sedang menyisir rambutnya sambil bersiul dan tersenyum didepan cermin.


Mereka menonton pemandangan tak biasa dengan pemeran utama Nicholas Bryan yang biasanya memasang wajah kaku, jutek, galak dan dingin.


"Oma, Daddy kenapa ya. Apakah Daddy demam? Atau Daddy kerasukan bantu?" Caca sedikit khawatir melihat tingkah Daddynga semakin menjadi.


"Si Boss kenapa jadi alay begitu? Ah hp mana, nah ini dia." Gusti mengambil ponselnya merekam tingkah tak biasa Big Boss NBC.


Ketiganya sibuk menggosip hingga tak sadar kini mereka malah terdorong masuk ke kamar Nick.


Gubrak!


Ketiganya terjatuh dengan posisi Gusti paling bawah, ditengah Oma Marisa dan Caca di atas tubuh sang Oma.


"Gusti! Mommy! Sayang!"


"Sedang apa kalian sampai jatuh begini!"


Ketiganya saling membantu untuk bangun dan kembali dalam posisi berdiri.


"Kamu yang kenapa Nick. Baju berantakan itu! Senyum-senyum depan cermin. Jelaskan pada Mom?"


Gusti dan Caca juga penasaran dengan jawaban dari Nick.


"Aku, Aku sedang bersiap. Seperti biasa. Memang ada apa?" Nick dengan stay cool tetap tak mau ngaku tertangkap basah.


"Mana ada! Kau biasanya tak memilih pakaianmu. Cepat jujur, kau jatuh cinta ya!" Oma Marisa tak sabar ingin Nick jujur tanpa gengsi dengan menutupi.


"Hahaha, Mom ada-ada saja! Jatuh cinta! Tidak mungkin!" Nick tak mau tertangkap oleh 3 orang dihadapannya.


"Ah kau Nick. Mom tahu. Kau anak Mom! Memang ada kejadian apa kemarin? Sepertinya ada yang Mom lewatkan?"


Oma Marisa mengedarkan pandangannya pada ketiga orang yang kemarin pergi bersama.


Gusti langsung mendapat tatapan intimidasi hingga tak berani buka suara.


Tapi tak berlaku untuk Caca, putrinya malah buka suara tentang kejadian kemarin.


"Kemarin Daddy berhasil membuat Om Jahat kalah Oma!"


Oma Marisa tersenyum seakan mendapat berita bagus.


Sementara wajah Nick sudah panik namun mana bisa ia menghentikan Caca tidak bicara.

__ADS_1


"Ya sudah. Yuk Sayang, kita berangkat. Nanti dijalan ceritakan ke Oma ya. Oma mau dengar!"


Tentu saja Nick mati kutu dan pasrah karena Oma Marisa akan mengorek informasi selengkap-lengkapnya dari sang cucu.


__ADS_2