JANDA SHOLEHAH JODOH CEO DUDA AROGAN

JANDA SHOLEHAH JODOH CEO DUDA AROGAN
Hasilnya?


__ADS_3

Matahari masih belum nampak namun tiba-tiba saja Khalisa merasa mual dan bergegas menuju wastefel di kamar hotel.


Huek!


Nick membuka mata saat mendengar suara muntah dari arah kamar mandi.


Melihat kesamping ranjang yang mereka tempati tak ditemukan Khalisa disebelahnya.


"Sayang, mual?" Nick memijat tengkuk leher Khalisa yang kini membasuh mulutnya pasca memuntahkan isi perutnya yang tak keluar apa-apa selain rasa pahit.


Nick menggiring Khalisa berbaring diranjang dengan bantal sebagai penyangga punggung lemah sang istri.


"Perutku mual sekali. Tapi ga keluar apapun saat muntah. Hanya rasanya pahit sekali." Khalisa menarik nafas panjang mengaturnya setelah mual-mual tadi.


"Sayang, Mas panggil dokter ya. Sejak semalam Kamu tak enak badan." Nick tak meminta persetujuan ia kini segera menghubungi dokter memintanya datang.


Caca dan Mom Marisa juga datang ke kamar setelah dikabari Nick kondisi Khalisa.


Terlihat putri cantiknya memijat kepala Khalisa, sedangkan Oma Marisa membuatkan teh manis hangat untuk menantunya.


Dokter datang memeriksa Khalisa.


Nick sangat penasaran dengan kondisi Khalisa takut terjadi hal yang tidak diinginkan.


"Bu Khalisa sudah berapa lama merasakan gejala ini?" tanya Dokter.


"Sekitar 3 hari Dok." Jawab Khalisa.


"Kapan terakhir Ibu haid?" Tanya Dokter kembali.


Khalisa baru menyadari bahwa ia sudah hampir 1 bulan lebih tidak haid.


Terakhir setelah ia lamaran dengan Nick.


"Sepertinya bulan ini memang belum Dok." Khalisa menjawab sambil mengingat-ingat.


"Iya Sayang, seingat Mas Kamu belum haid. Iya benar Mas yakin sekali." Nick ikut nimbrung menjawab dengan mantap.


Oma Marisa membolakan mata mendengar jawaban putranya yang pasti kearah mesum.


"Silahkan Ibu Khalisa cek dengan ini." Dokter menyerahkan testpack kepada Khalisa.


Khalisa terlihat ragu saat menerima benda tersebut.


Oma Marisa melihat wajah keraguan diwajah menantunya segera memberikan penenangan.


"Sayang, dicoba saja. Kalaupun hasilnya negatif tidak apa-apa. Jadi Dokter bisa memberikan obat untuk gejala yang kini Kamu rasakan." Oma Marisa mengusap tangan Khalisa menenangkan keraguan dihati menantunya.


Anggukan Nick seolah membenarkan perkataan Mommy Marisa.


Khalisa menuju kamar mandi membawa testpeck.


Bukan benda baru bagi Khalisa menggunakan benda tersebut.


Di pernikahannya terdahulu ia sangat sering hampir setiap bulan bila telat ia memeriksakan. Namun memang Allah belum berkehendak.


Khalisa juga sering merasakan kekecewaan manakala hasil dari testpacknya negatif.

__ADS_1


Seakan memorinya terbawa kemasa lalu.


Khalisa tak siap jika kejadian dimasa lalu terulang kembali saat ini.


"Tidak, Mas Nick dan Mom Marisa bukan orang seperti itu. Mereka adalah Suami dan Ibu Mertua yang baik." batin Khalisa menyangkal bisikan negatif yang mempengaruhi pikirannya.


Menarik nafas panjang, Khalisa coba melakukan tes dengan alat tes kehamilan ditangannya.


Khalisa memasrahkan semuanya kepada Allah. Apapun hasilnya semua semua bisa menerima dengan lapang dada.


Meski rasa cemas dan takut tak terpungkiri menyelimuti hati Khalis.


Khalisa melihat alat tes kehamilan tersebut.


Sementara di kamar Nick dan Oma Marisa ikut merasakan ketegangan yang sama.


Bukan takut kecewa, justru baik Nick dan Oma Marisa takut Khalisa bersedih jika hasilnya negatif.


Nick dan Oma Marisa tahu betul bahwa Khalisa mengalami trauma dari pernikahan sebelumnya.


Oma Marisa dan Nick takut Khalisa jadi sedih akan hasil yang tidak sesuai harapan.


Ceklek!


Khalisa keluar dari kamar mandi. Wajahnya datar, sulit diartikan.


Oma Marisa dan Nick segera menghampiri, meraih lengan Khalisa yang terasa dingin dengan ekspresi datar tanpa mengeluarkan sepatah katapun.


Oma Marisa dan Nick mengajak Khalisa berbaring di ranjang, menyandarkan tubuh Khalisa yang sejak tadi tak bersuara sepatah katapun.


"Bu Khalisa, boleh Saya lihat alat tesnya?" Terdengar ada kehati-hatian dalam nada suara Dokter.


Oma Marisa dan Nick tak berfokus pada hasil testpack, bagi keduanya mereka mengkhawatirkan kondisi Khalisa yang terlihat tidak baik-baik saja.


"Sayang, minum dulu ya. Sayang, Mom dan Nick tidak akan kecewa. Kami justru sedih bila melihatmu seperti ini Sayang." Oma Marisa memeluk Khalisa rasa khawatirnya memenuhi hatinya takut Khalisa tidak bisa menerima kekecewaan.


"Benar Sayang kata Mom. Mas juga sedih lihat Kamu murung. Mas cinta Kamu apapun itu." Nick memeluk Khalisa.


Kini Khalisa dipeluk oleh Nick dan Oma Marisa. Caca yang melihat situasi seperti itu meski ia tidak paham, ikut sedih takut terjadi apa-apa dengan sang Bunda.


"Bunda, Bunda jangan sakit. Caca sedih kalau Bunda sakit." Caca sudah ikut memeluk ketiga orang yang ia sayangi.


"Nyonya Marisa, Tuan Nick. Maaf, jangan salah sangka dulu. Sebaiknya lihat hasil tesnya." Dokter ikut larut melihat bagaimana keharmonisan keluarga dihadapannya.


Nick meraih tespect dari tangan Dokter dan melihat sendiri apa yang tertera disana.


Nick mengucek matanya, beberapa kali mengedipkan memastikan penglihatannya tak keliru.


"Sayang, ini?" Nick menatap Khalisa, Oma Marisa dan Dokter bergantian.


"Benar Tuan Nick, selamat Ibu Khalisa saat ini positif hamil." Dokter menjelaskan dengan senyuman menyertai.


"Alhamdulillah ya Allah. Sayang! Terima kasih banyak!" Oma Marisa memeluk Khalisa menumpahkan airmata bahagianya.


"Sayang, Mas bahagia sekali." Nick ikut nimbrung memeluk Istrinya.


"Bunda, Caca mau punya Adek Baby ya. Hore!" Caca memeluk ketiganya ikut merasakan kebahagiaan.

__ADS_1


Khalisa sendiri kini tak bisa berkata-kata. Airmatanya tak henti mengalir membasahi kedua pipinya.


Betapa bahagia, bersyukur tiada tara atas karunia yang Allah berikan kepada keluarganya kini.


Keinginan yang sejak dulu hanya sebatas impian dan khayalan kini nyata dihadapan mata.


"Bu Khalisa untuk memastikan kondisi janin, silahkan Tuan Nick memeriksakan kondisi Bu Khalisa dan Janin ke RS. Untuk saat ini Bu Khalisa Saya berikan resep berupa vitamin dan banyak istirahat ya Bu." Dokter menyerahkan pada Nick resep yang harus di tebus.


"Terima kasih Dokter." Khalisa berucap beriringan dengan Nick dan Oma Marisa.


"Sehat-sehat ya Bu. Kalau begitu Saya permisi." Dokter pamit setelah menyelesaika  tugasnya.


"Terima kasih Dok." Jawab ketiga calon Ibu, Ayah dan Nenek kompak.


"Sayang, kita periksa ke RS ya." Nick sangat antusias sekali.


"Ya sudah kita check out sekarang dan pulang." Oma Marisa ingin Khalisa bisa beristirahat nyaman dirumah.


"Benar Bunda, Caca mau Bunda dan Adek sehat-sehat." Caca mengelus lembut perut Khalisa.


"Makasi Sayang." Khalisa mengusap kepala Caca dengan kasih sayang.


Dering ponsel Khalisa berbunyi.


"Mas tolong diangkat saja. Siapa tahu penting." Khalisa meminta Nick menjawab telponnya.


"Abah Sayang." Nick membaca nama di ponsel Khalisa.


"Assalamualaikum. Abah apa kabar?" Nick masih bahagia begitu terasa dari nada suaranya.


"Waalaikumsalam Nick. Alhamdulillah Abah sehat. Abah baru saja tiba di bandara. Kamu dan Khalisa sehat-sehat saja?" Abah Abdullah menanyakan kabar anak menantunya.


"Alhamdulillah Kami semua sehat Abah. Abah sudah kembali?" Nick ingat seharusnya Abah lanjut ke Turki.


"Abah tidak ikut ke Turki, selesai Umroh Abah kembali karena mendapat berita duka salah satu sahabat Abah ada yang berpulang. Untuk itu sekarang Abah akan lanjut ke Magelang untuk takziyah." Abah Abdullah menjelaskan kepulangannya yang lebih cepat.


"Abah, Khalisa ingin bicara."Nick memberikan kesempatan kepada Khalisa untuk menyampaikan kabar bahagianya langsung pada Abah.


"Assalamualaikum Abah. Abah sehat?" Khalisa menanyakan bagaimana kondisi Abah.


"Waalaikumsalam Sayang. Insha Allah Abah sehat-sehat. Kamu juga apa kabar? Sehat-sehat kan Nak?" Abah menanyakan keadaan putri tercintanya.


"Alhamdulillah Khalisa sehat. Abah, Khalisa ingin menyampaikan sesuatu."


"Katakan Nak."


"Abah, Khalisa hamil." Khalisa dengan suara paraunya kembali meneteskan airmata haru.


"Alhamdulillah. Wasyukurillah. Rabbi habli min ladunka dzurriyatan thayyiban innaka sami'ud du'a." Ya Tuhanku, berilah putriku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa." Abah mendoakan keselamatan putri dan cucunya.


"Aamiin. Abah juga sehat-sehat ya. Terima kasih Abah atas doanya." Khalisa mengaminkan doa yang diucapkan Kyai Abdullah Ayahnya.


"Iya Nak, Kamu jaga kesehatan ya, Kabari Kakakmu kabar bahagia ini. Ya sudah Insha Allah setelah dari Takziyah Abah akan mengunjungimu. Salam untuk Nick dan Bu Marisa juga untuk Caca Cucu Abah."


"Insha Allah Khalisa akan sampaikan salam untuk semua yang disini Abah."


"Assalamualaikum." Abah Abdullah mengucap salam mengakhiri percakapannya.

__ADS_1


"Waalaikumsalam." Khalisa menjawab salam sebelum mengakhiri percakapannya dengan Abah.


__ADS_2