
"Aku sudah bahagia sekarang, justru aku sedih melihat kamu dan Caca yang merasa kesepian. Nick, berjanjilah, kelak jika kamu menemukan wanita yang baik sebagai ibu penggantiku bagi Caca maka perjuangkan, jangan kamu terjebak dalam masa lalu. Simpan aku dalam hati namun jangan tutupi hatimu untuk cinta yang baru. Kamu dan Caca berhak bahagia dan melanjutkan hidup. Ingat pesanku ya Nick. Aku titip Caca putri kita. Jaga dan Sayangi dia. Aku selalu mencintaimu dan Caca. Selamat tinggal Nick."
Nick menyantap sarapannya sambil terus memikirkan kata-kata Aurel mendiang istrinya dalam mimpi.
"Daddy nanti ikut kan ke pesantrennya Om Ustadz?" Caca membuyarkan lamunan Nick.
Anggukan disertai senyuman Nick nyatanya membuat Caca bahagia dan itu cukup bagi Nick karena kebahagiaan Caca adalah prioritas utama baginya.
Ketiganya kini sudah rapi dan siap berangkat menuju pondok pesantren milik Kyai Abdullah.
Oma Marisa sudah cantik dengan busana muslimah, begitupun Caca yang tampak anggun dengan pakaian muslimah dan itu membuat putri seorang Nicholas Bryan, Clarissa Aurora Bryan begitu manis dan menggemaskan.
Oma Marisa sengaja menyiapkan pakaian muslim untuk Nick kenakan saat ini.
Memang sudah ganteng dan mempesona pakai apapun Nick terlihat memukau.
Orang ganteng mah bebas Readers, pake apapun tetap ganteng!
"Ya allah Caca, lihat Daddy kamu, tampan sekali putra Marisa." Oma Marisa menatap kagum sekaligus memuji tampilan Nick yang sudah rapi dengan pakaian yang disiapkan Oma Marisa.
"Pagi Nyonya Oma, Pagi Boss, Pagi Nona Caca!" Salam Gusti saat tiba di kediaman Nick.
"Om Gusti ganteng banget sih! Om pakai baju gitu sama kayak Daddy tambah keren!" Caca memberikan acungan 2 jempol buat Gusti.
Gusti juga diberikan baju muslim itu oleh Oma Marisa, atas nama toleransi Gusti menerima dan hari ini memakainya.
Gusti yang baru kali ini memakai baju muslim tampak tersenyum sendiri saat ia mematut diri di apartemennya.
"Ternyata cakep juga pake baju beginian." Gumam Gusti saat di apartemen memastikan dirinya sudah Gamal aka Ganteng Maksimal.
"Nyonya Oma semua sudah siap?" Seakan ada kode yang Gusti berikan pada Oma Marisa.
"Tidak ada yang terlupa. Semua Beres!" Oma Marisa memberikan tanda Ok pada Gusti.
Gustipun mengikuti kode Ok sama seperti yang Oma Marisa lakukan.
"Ayo kita berangkat, Oma ga sabar sampai di pesantren. Caca sini!" Oma Marisa menggandeng Caca berjalan menuju mobil dengan sangat antusias begitupun Caca anak itu terlihat happy sekali.
Satu-satunya wajah murung hanyalah milik Nick seorang.
"Bismillah." Kali ini Nick seakan mencari kekuatan dalam kata yang terucap dalam lisannya.
"Mari Bos." Gusti membukakan pintu mobil untuk Nick yang terlihat lesu sementara Oma Marisa dan Caca sudah berada di dalam.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan Oma Marisa dan Caca begitu riang gembira.
Tak habis bahan pembicaraan keduanya membuat suasan mobil menjadi riuh ramai.
Tidak untuk Nick ia menjadi penikmat jalan melihat dari kaca jendela mobil memperhatikan setiap lalun lalang kendaraan yang hilir mudik.
Tak butuh waktu lama, mereka kini sudah sampai di pondok pesantren milik Kyai Abdullah.
Kedatangan Nick dan keluarga disambut hangat oleh Kyai Abdullah dan tentunya Ustadz Salman dan Kanaya juga berada disana.
"Assalamualaikum Pak Kyai, Ustadz Salman. Maaf kami terlambat." Oma Marisa mengucapkan salam sambil menangkupkan kedua tangannya di dada saat menyapa Kyai Abdullah dan Ustadz Salman.
"Waalaikumsalam Bu Marisa. Terima kasih sudah menyempatkan hadir. Tidak telat kok. Baru akan dimulai. Tuan Nick apa kabar? Sudah sehat? Maaf Saya tidak sempat menjenguk waktu itu." Sapa Kiai Abdullah ramah.
"Alhamdulillah sudah sehat Kyai. Tak apa, insha Allah sekarang sudah sembuh." Nick menjawab ramah sapaan Kyai Abdullah.
Netra Nick tertuju menatap Kanaya yang berdiri disamping Ustadz Salman.
"Selamat datang Bu Marisa, Tuan Nick, Mas Gusti. Hai Caca, apa kabar?" Ustadz Salman menyapa Nick dan keluarga dengan sambutan hangat.
"Nak Ustadz terima kasih atas undangannya." Oma Marisa menjawab.
"Terima kasih kembali sudah hadir Bu Marisa." Senyum ramah Ustadz Salman pada Oma Marisa bentuk menghormati.
"Siapa ini pintar dan cantik sekali?"sapa Kyai Abdullah saat Caca mencium tangannya.
"Nama aku Caca, maaf Caca harus panggil apa?" Caca memang baru kali ini bertemu Kyai Abdullah.
"Tuan Nick putri Anda pintar dan cantik sekali, Salman, Kanaya Abah jadi ingin cepat punya Cucu! Panggil Eyang ya cantik." Kiai Abdullah mengusap pucuk kepala Caca dengan lembut senang hatinya melihat Caca yang salim dengan sopan.
Sejak menapakan kakinya di pesantren netra Nick mencari wanita yang beberapa waktu belakang ini selalu ia hindari di kantor.
Kini tepat dihadapan Nick, Kanaya dalam balutan busana syar'i dengan sedikit polesan diwajahnya membuat tampilan Kanaya sangat mempesona.
"Cantik. Seperti Bidadari. Sayang aku terlalu bodoh!" hati Nick merutuki diri kehilangan kesempatan.
Pakaian seragam dengan warna senada Kanaya dengan Ustadz Salman dan Kiai Abdullah seolah mengingatkan Nick bahwa kedatangannya sebagai undangan dan menata hatinya agar tak patah meski sudah remuk redam bahkan sebelum memulai.
"Naya, kamu cantik sekali. Oma pangling jadinya." Oma Marisa memeluk Kanaya dan memuji.
"Wah Nyonya Oma bisa saja. Caca, Tante juga kangen dengan Caca." Kanaya memeluk Caca hangat.
"Iya Om Ustadz juga kangen Caca yang ini." Ustadz Salman mengusap kepala Caca dengan kasih sayang sambil melirik dengan senyuman manisnya pada Kanaya.
__ADS_1
Interaksi Kanaya dengan Ustadz Salman saling melempar senyum ditambah kedekatan yang tampak membuat hati Nick mencelos betapa ikhlas itu sulit meski harus dijalani dengan perasaan perih.
"Silahkan duduk senyamannya Tuan Nick, Bu Marisa, dan Caca." Kyai Abdullah mempersilahkan keluarga Nick menempati kursi yang telah disediakan tepat didepan panggung acara.
Rangkaian acara demi acara berlangsung begitu khidmat.
Nuansa islami tampak dalam serangkaian acara yang ditampilkan.
Santri-santri ikut perpartisipasi dalam acara tersebut.
Lantunan ayat-ayat suci al quran mengalun indah dari santri yang saat ini sedang membacanya.
Untaian sari tilawah mengiringi sang qori manakala selesai ayat-ayat suci diperdengarkan.
Nick mencuri pandang pada Kanaya, dimana saat ini tengah duduk bersama Kyai Abdullah dan Ustadz Salman.
Melihat senyum Kanaya manakala berbicara dengan Ustadz Salman Nick tak bisa memungkiri ada bagian hatinya yang tercubit.
Sakit tak berdarah, Luka namun tanpa bekas, Hampa tanpa pernah memiliki. Seperti itulah perasaan Nick saat ini.
Tibalah saat dimana Kyai Abdullah memberikan sambutan.
Pria Baya itu naik ke atas panggung dibantu oleh Ustadz Salman dan memberikan kata sambutan dan ucapan terima kasihnya atas kehadiran tamu undangan yang sudah meluangkan waktu.
"Bismillahirahmanirrahim. Assalamualaikum warahmatulahi wabarakatuh, alhamdulillirabbil 'alamin, was sholatu wassalamu 'ala, asyrofil ambiyaa iwal mursalin, wa a'laa alihi wa sahbihi ajmain amma ba'du.
"Alhamdulillahilladzi an’amanaa bini’matil iimaan walislaam. Wanusholii wanusalimu ‘alaa khoril anam sayyidinaa muhammadin wa’alaa alihi wasohbihi ajma’iina imaa."
"Nahmaduhu wanasta’inu wanastaghfiruhu wana’udzubillahi min syuruuri anfusinaa wamin sayyiaati a’maalina. Min yahdillah falaa mudhillalahu wamin yudhillhu falaa haadiyalahu. Allohumma solli wasalim ‘alaa sayyidinaa muhammadin wa’alaa alihi wasohbihi ajma’ina amma ba’du."
"Pada kesempatan berbahagia kali ini, dengan mengucapkan rasa syukur kehadirat Allah SWT, perkenankan Saya untuk memperkenalkan seseorang yang sangat berarti bagi Saya.
"Kehadirannya kini mengingatkan kita bahwa Allah maha segalanya, tiada satupun yang tidak mungkin jika Allah sudah berkehendak. Dan Allah sebagaimana prasangka hambanya, Allah pula yang menakdirkan jalan hidup setiap hambanya.
"Dengan mengucap alhamdulillah hirobbil alamin atas kebesaran Allah SWT hari ini, dalam kesempatan yang indah ini, izinkan Saya memperkenalkan putri kandung Saya yang selama ini hilang dan Alhamdulillah wasyukurillah, Allah izin kami kembali berkumpul semua atas rahmat dan limpahan berkah Allah SWT."
Kyai Abdullah tampak tak kuasa hingga sudut matanya kini telah menganak sungai dan berkaca-kaca.
"Nak, ayo kemari, Abah ingin memperkenalkanmu kepada semua yang hadir disini. Kepada para Ustadz dan Ustadzah, para habaib, para santri dan khususnya para undangan yang tidak bisa Saya sebutkan satu per satu namun tanpa mengurangi rasa hormat Saya selaku shohibul bait."
"Salman, bantu adikmu naik ke atas panggung."
Kyai Abdullah dan Ustadz Salman menyambut wanita cantik dengan senyuman indahnya menatap penuh kebahagiaan dan rasa syukur yang tiada terkira.
__ADS_1