
"Kamu mau melanjutkan sekolah dimana?"
Tak ada angin, tak ada hujan Martin buka suara bertanya pada Caca.
"Kamu nanya? Kamu bertanya-tanya?" Caca malah meledek dengan candaan khas masa kini.
Terdengar helaan nafas Martin menimbulkan perhatian Caca yang seketika menoleh kearah sang Kulkas 2 pintu.
"Aku akan sekolah lama di luar negeri. Mungkin sampai kuliah!"
"Terus?" Caca kembali menatap kedua adiknya yang sedang lucu-lucunya.
"Aku harap Kamu tidak lupa sama Aku."
Caca kembali menoleh menatap kearah Martin yang malah pergi setelah mengucapkan kata-katanya.
"Aneh sekali si Kulkas." sorot mata Caca menatap langkah Martin yang perlahan menjauh.
Sementara Dira yang sudah berada diruang bersalin kini sedang berjuang antara hidup dan mati didampingi Ustadz Salman yang tiada henti memberi semangat dan berdoa demi kelancaran kelahiran sang buah hati.
"Kakkkkk, sakit sekali." Dira dengan nafas terengah-engah berjuang dalam setiap helaan deru nafas yang memburu mengumpukkan sekuat tenaganya.
"Istigfar Sayang, Kamu pasti bisa." Ustadz Salman membelai kepala dan dahi Dira yang sudah basah oleh keringat.
Tak butuh waktu lama, terdengar suara tangisan bayi pertama berselang 5 menit kemudian bayi kedua dan 3 menit setelahnya bayi ketiga Dira dan Ustadz Salman lahir.
Tangisan haru Dira kala memandang 3 putra dan putrinya yang lahir normal sehat tanpa kuranh satu apapun.
Ustadz Salman saat itu juga sujud syukur atas kelancaran istri dan 3 anak-anaknya yang telah lahir ddngan selamat.
"Pak silahkan diazankan putra putrinya." perawat menyerahkan ketiga bayi mereka dalam box bayi.
Betapa bahagia tentu hati Dira dan Ustadz Salman.
Perjuangan 9 bulan menanti kelahiran sang buah hati kini terbayar saat melihat wajah-wajah lucu, polos dan menggemaskan dihadapannya.
Secara bergantian Ustadz Salman mengazankan dan mengikhomahkan ketiga putra putrinya.
Ada tetes airmata kebahagian mengalir dari kedua mata sang Ustadz kenamaan yang kini resmi menyandang Ayah beranak 3.
Setelahnya Dira beserta ketiga putra putrinya dipindahkan ke dalam ruang rawat.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
__ADS_1
Rupanya Abah Abdullah, Bunda Amelia dan Papa Baskoro kini sudah hadir melihat sang cucu yang kini tampak tertidur pulas di boxnya masing-masing.
"Masya Allah, Cucu Eyang, Alhamdulillah wa syukurillah. Semiga menjadi anak yang sholeh dan sholeha. Dira, Salman, selamat, sekarang Kalian sudah menjadi orang tua. Ada amanah yang kini Allah titipkan kepada Kalian. Jaga, Didik dan rawat ketiganya dalam iman dan islam ya." pesan Abah Abdullah sambil mengusap perlahan kepala ketiga cucunya bergantian.
"Sayang, Terima kasih telah memberi Kami Cucu-cucu yang sehat, cantik dan tampan. Papa bahagia sekali." Papa Baskoro tak kuasa menahan air matanya terus mengusap kepala Dira dengan keharuannya.
"Sayang, Kamu hebat sekali. Bunda bangga sama Kamu. Cucu-Cucu Oma, kalian tampan dan cantik sekali." Bunda Amelia memeluk Dira sambil memandangi ketiga cucu-cucunya yang baru saja lahir.
Suara ketukan terdengar dari ruang rawat Dira.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Suara salam serentak dengan jawaban yang tak kalah ramai menyambut kedatangan tamu yang hadir.
"Diraaaa, Selamat! Masha Allah, Alhamdulillah!" Khalisa datang bersama Nick, Oma Marisa, Caca, Kedua putra kembarnya serta keluarga Tuan Alex.
Keduanya berpelukan erat. Bahagia yang mereka rasakan. Bagaimanapun sahabat sekaligus saudara ipar itu kini merasakan berkah nikmat yang Allah berikan.
"Dira, Ya Allah, selamat ya sis, Wah tampan cantik putra putrimu." Hania memeluk Dira ikut merasakan kebahagiaan.
"Kakak Ipar, Congrats Bro! Wih, Jagoan dan Putri cantik nya Uncle menggemaskan sekali!" Nick memeluk Kakak Iparnya Ustadz Salman sambil menengok ke box bayi kemnar tiga itu.
"Selamat Ustadz Salman dan Bu Dira, Kami turut bahagia atas kelahiran putra dan putri Ustadz Salman dan Bu Dira."
"Ayo semuanya duduk dulu. Terima kasih sudah datang menjenguk Baby dan Dira." ajak Bunda Amelia kepada besan dan para tamunya.
"Tante Dira, Om Salman. Selamat ya. Caca senang sekali nambah adik baby. Duh, Kalian gemesin banget sih." Caca sambil menengok ke arah box bayi yang berisi ketiga sepupunya.
"Kakak Caca juga selamat ya. Wah Kakak hebat loh! Sudah makin cantik dan pintar!" Dira memeluk keponakannya.
"Keponakan Om yang sholeha, semoga tambah pintar ya di sekolah barunya." Ustadz Salman mengusap kepala Caca lembut.
Martin yang ikut dengan kedua orang tuanya turut menyalami semua para tetua disana dan melirik kearah box bayi tersebut.
Terlihat wajah Martin terdiam menatap dalam pada ketiga bayi mungil yang lucu tersebut.
"Selamat Tante, Om. Adik bayinya lucu sekali." begitulah Martin dengan wajah datarnya tetap memberikan ucapan selamat kepada Dira dan Ustadz Salman.
"Terima kasih Martin. Selamat juga ya sudah lulus sekolah." Dira balik menyapa.
Hania melirik sang putra, ia tahu sebetulnya Martin ingin sekali punua adik namun namanya anak kembali lagi semua atas seizin Allah.
Caca terlihat senang sekali dengan hadirnya triplet sepupunya ditambah kedua adik kembarnya.
__ADS_1
Martin memperhatikan interaksi Caca dan ia terdiam sesaat.
Caca melihat Martin yang sejak tadi menatap ia penasaran sendiri.
"Kamu kenapa?"
Martin terhenyak dengan panggilan Caca.
"Sini, lihatlah sepupuku cantik dan tampan kan?" Caca asik saja memandangi sepupunya.
Martin berjalan mendekat ke arah box bayi triplet.
Ditatap bayi-bayi mungil itu. Ada rasa hangat dari sorot mata Martin.
Tanpa sadar Martin tersenyum.
Caca yang sangat jarang melihat itu usil saja meledek Martin.
"Kamu bisa senyum juga. Ku kira wajah Kamu itu Kamu seperti kanebo kering!"
"Enak saja!" Martin tak terima.
"Martin, Ayo pamit pulanh sama semuanya." panggil Hania kepada sang putra.
Setelah mereka berpamitan dan Sekali lagi Dira dan Ustadz Salman mengucapkan terima kasih Tuan Alex dan keluarga sudah menyempatkan menjenguk triplet.
Tak lama Nick dan keluargapun pamit pulang, mengingat twins boy mereka sudah ingin pulang.
Papa Baskoro, Abah Abdullah dan Bunda Amelia juga pamit pulang untuk beristirahat.
Kini tinggallah Dira, Ustadz Salman dan ketiga buah hati mereka dalam ruang rawat.
"Kak, kenapa mandangin Aku begitu?" Dira yang sedang memberikan Asi melihat suaminya terus memandang kearahnya dengan senyum terbingkai diwajah.
"Sayang, terima kasih. Sudah mengandung dan melahirkan putra putri Kita dengan selamat dan sehat wal afiat. Kakak bahagia sekali." Ustadz Salman mengecup kening Dira dan mengusap ketiga buah cinta mereka bergantian.
"Aku juga terima kasih Kak. Berkat Kakak Kita bisa melewati semua ini dengan baik. Sarangheyo Appa!" Dira masih dengan pembawaan cerianya.
"Appa?" Ustadz Salman mengernyitkan dahi karena biasanya Dira menyebutnya Oppa.
"Appa itu artinya Papa, Ayah atau Abi Kak. Sekarang Kakak kan sudah jadi Papa. Kakak mau dipanggil apa sama triplet?" Dira bertanya.
"Boleh kalau Kakak mau dipanggil Abati oleh anak-anak kita?"
"Boleh Kok. Kalau gitu, Aku mau dipanggil Umma ya Kak."
__ADS_1
"Bagus juga Sayang. Wah mereka bangun Sayang. Sini Abati gendong." Ustadz Salman melihat salah 2 orang anaknya terjaga.
"Nah yang cantik Umma yang gendong ya." Dira meminta dibantu untuk mengendong bayi perempuannya yang ikut terjaga.