
"Dengan mengucapkan Basmallah, Bismillahirrahmanirrahim, Saya Abdullah Basalamah ingin memperkenalkan putri kandung Saya yang bernama Khalisa Humairah. Para Ustad dan Ustadzah, Para Habaib, Para Santri serta seluruh undangan yang hadir saat ini inilah putri kandung Saya Khalisa yang selama ini hilang dan qadarullah kini kami dipertemukan dan bisa berkumpul ditengah-tengah semuanya yang hadir disini." Kyai Abdullah tak bisa lagi membendung airmatanya.
"Kemarilah putriku." Kyai Abdullah meminta Khalisa aka Kanaya untuk berdiri disisinya diikuti oleh Ustadz Salman.
"Tentunya dengan maksud dan tujuan Saya mengundang Bapak dan Ibu adalah sebagai wujud rasa syukur Saya karena rahmat Allah SWT saat ini lengkap sudah kebahagiaan Saya, bisa berkumpul dengan kedua putra dan putri Saya, Salman Al Farisi dan Khalisa Humairah."
Kyai Abdullah menggenggam tangan kedua putra dan putrinya.
"Tentu saja Saya dan keluarga sudah melakukan serangkaian prosedur tes DNA hingga Allah menakdirkan kami bisa bertemu kembali, berkumpul bersama sebagai keluarga yang utuh. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan rahmat dan karunianya sehingga kami sekeluarga bisa terus selalu dalam lindungannya."
DEG!
Nick mengangkat wajahnya.
Manik biru itu tak henti menatap pemandangan mengharukan yang begitu memainkan simfoni dengan begitu indah dan syahdu.
Seketika langit mendung berganti awan cerah, bunga yang layu kini mekar kembali, hati yang patah kini kembali bersemi, jiwa yang gersang kini seakan sejuk dan damai.
Rasa lega dan senyum kembali terpancar dalam wajah seorang Nicholas Bryan.
Kenyataan bahwa Kanaya maksudnya Khalisa adalah putri kandung Kyai Abdullah secara tak langsung adalah adik kandung Ustadz Salman membuat hati yang terpaksa merelakan kini kembali bersemangat karena ada secercah harapan.
Tentu saja pemandangan haru saat Ustadz Salman meminta operator menampilkan tayangan dalam sebuah video manakala mereka berjuang mencari sebuah kebenaran saat tes DNA di RS hingga tampilan bukti medis yang menguatkan bahwa Kanaya benar adalah putri kandung Kyai Abdullah serta foto-foto saat Kanaya bayi dan liontin berinisial K yang sebenarnya berpasangan dengan huruf H kini terpampang jelas dalam slide video yang ditampilkan dan disaksikan oleh semua yang hadir disana.
"Undangan yang berbahagia dan dirahmati oleh Allah SWT, perkenankan Saya selaku kakak dari Khalisa dalam kesempatan kali ini mengucapkan terima kasih kepada seseorang yang tentu sudah ditakdirkan oleh Allah menjadi perantara kami bisa menemukan Khalisa. Atas kesediaan dan waktunya Saya meminta dengan segala kerendahan hati kepada Tuan Nicholas Bryan untuk maju kepanggung." Ustadz Salman meminta Nick untuk maju.
__ADS_1
Tentu saja bagai tersengat aliran listrik beribu-ribu volt, Nick terkejut bukan main.
"Nick, sampaikanlah apa yang mau kamu sampaikan untuk keluarga Kyai Abdullah, khususnya dalam kesempatan ini sampaikan apa yang menjadi keinginan kamu pada Kanaya. Niat baik harus disegerakan. Ga mau kan galau lagi seperti kemaren!" Oma Marisa berbisik di telinga putranya sebelum Nick naik ke atas panggung.
Atas permintaan keluarga, Nick naik keatas panggung.
Saat melihat Khalisa, Nick memberikan senyuman terbaiknya dan Nick bisa merasakan degup jantungnya berdetak sangat kencang manakala Khalisa membalas dengan senyuman.
Blush! Nick tak bisa lagi menutupi rasa bahagianya.
"Silahkan Tuan Nick." Salman menepuk pelan lengan Nick.
Nick memohon izin kepada Kyai Abdullah untuk berbicara dan anggukan Kyai Abdullah menyiratkan persetujuannya.
Sejujurnya Nick sendiri tidak tahu harus berkata apa.
Perlahan Nick mendekatkan dirinya pada microphone, sambil mengatur nafas karena jantungnya semakin berdebar debar.
"Bismillahirrahmanirrahim." Lirih Nick saat akan berbicara.
Sesaat dipandangnya lagi wajah Khalisa yang tak sengaja bertemu mata hingga Khalisa menundukkan pandangannya tersirat rona merah dipipi wanita yang sudah memporak porandakan hingga perasaan Nick jungkir balik.
"Assalamualaikumwarrahmatullahiwabarakatuh."
Ucapan salam Nick dijawab oleh seluruh yang hadir disana.
__ADS_1
"Yang Saya hormati pimpinan pondok pesantren Tahta Syajar Kyai H. Abdullah Basalamah, Phd., Ustadz H. Salman Al Farisi, Phd., Putri Kyai Abdullah, Khalisa Humaira, para Ustadz dan Ustadzah, Para Habaib, Para Alim Ulama, dan Para Undangan yang tidak dapat Saya sebutkan satu per satu namun tidak mengurangi rasa hormat Saya.
"Sejujurnya, apa yang sama-sama kita saksikan hari ini tidak hanya mengejutkan bagi semuanya. Saya pun terkejut dengan apa yang Kyai Abullah dan keluarga sampaikan."
"Saya mungkin tidak bisa mengatakan apapun selain selamat kepada Kiai Abdullah yang saat ini sedang berbahagia bisa berkumpul kembali dengan putri tercintanya."
"Saya mengenal Khalisa Humairah sebagai Kanaya Larasati, yang mana beliau adalah salah satu pegawai terbaik yang NBC miliki. Kanaya maaf maksud Saya Khalisa adalah pribadi wanita sholeha, pekerja keras dan profesional dalam bekerja."
"Saya ucapkan selamat kepada Khalisa karena kini telah berkumpul bersama keluarga tercinta. Karena tiada kebahagiaan yang melebihi apapun selain kebersamaan dengan keluarga yang kita sayangi."
"Selain itu, dalam kesempatan kali ini Saya pribadi juga memohon maaf secara pribadi kepada Ustadz Salman dan Khalisa apabila selama kita bekerjasama Saya berkata dan berbuat khilaf baik yang Saya sengaja atau tidak."
"Sebagai sesama manusia Saya hanya bisa memberikan doa yang tulus agar dengan berkumpulnya kembali keluarga Kyai Abdullah membawa keberkahan dan kita semua bisa mengambil hikmah dari peristiwa ini."
"Betapa kita tidak pernah menyadari sesuatu yang berharga sebelum merasakan kehilangan. Saat dekat terkadang mata dan hati kita buta dan menyesal manakala yang ada disisi pergi meninggalkan. Jika dulu Kyai Abdullah dengan penuh kesabarannya menunggu saat ini tiba, kini Allah berikan kebahagiaan dan nikmat tiada tara bisa kembali berkumpul dengan putrinya yang lama hilang."
"Saya juga seorang ayah, tentu sedikit banyak bisa merasakan apa yang saat ini Kyai Abdullah rasakan. Sebagai ayah tentu sangat bahagia apabila melihat putrinya bahagia, sebaliknya manakala melihat melihat airmata kesedihan diwajah putri kita, maka saat itu hati seorang Ayahpun ikut hancur. Bila bagi seorang anak perempuan Ayah adalah cinta pertamanya, maka bagi seorang Ayah putrinya adalah wanita tercantik yang tiada cela. Tak ada satupun Ayah didunia ini yang mau melihat putrinya yang sangat dicintainya bersedih, Sesulit apapun, sesedih apapun dan sesakit apapun yang dirasakan seorang Ayah percayalah bahwa tiada terasa manakala senyum manis dan raut bahagia bisa terpancar dari wajah putri tecinta."
Kali ini manik mata yang telah lama tidak ada airmata, seketika netra biru itu tampak berkaca-kaca.
Nick paham betul bagaimana seorang Ayah dengan segala pengorbanannya berjuang sekuat tenaga demi kebahagiaan anak-anaknya.
"Maaf bila Saya terlalu panjang lebar. Namun ada satu hal yang ingin Saya sampaikan di hadapan Kyai Abdullah, Ustazd Salman dan para hadirin sekalian, khususnya untuk Khalisa Humaira."
Wajah Nick kini begitu serius. Tatapannya dalam menyisir satu per satu dimulai pada Kyai Abdullah, Ustadz Salman dan Para hadirin.
__ADS_1
Hingga netra biru itu kini menatap wanita sholeha yang kini sedang tertunduk meski saat Nick menyebut namanya wajah cantik dan tenang itu terangkat dan menatap balik si pemilik suara bariton yang telah dalam menatap wajahnya.
Seketika semua yang menyaksikan terdiam, fokus menantikan apa yang akan disampaikan CEO NBC yang paras tampannya menyedot perhatian para undangan di pondok pesantren Tahta Syajar.