
"Mas semangat sekali?" Khalisa melihat Nick yang sudah rapi sambil senyum-senyum sendiri.
"Tentu Sayangku. Mas minta tolong dong." Nick menyerahkan hair dryer kepada Khalisa untuk membantu mengeringkan rambutnya agar tangannya bisa pindah lokasi nangkring dipinggang ramping yang kini terasa lebih berisi.
"Mas, kita jadi mengantar Kak Salman dan Dira?" Khalisa pasrah saja saat suaminya merusuh disekitaran perutnya yang kini terasa lebih mengembang.
"Tentu Sayang. Sekalian nanti pulangnya Kita menginap di rumah Abah." Nick asik saja mendusel-dusel kini sudah berpindah lokasi menuju sekwilda Khalisa yang terasa sedikit lebih besar dari semula.
"Mas," Khalisa mulai terbiasa dengan tangan kreatif Nick yang tak mau diam.
"Sayang, sepertinya ini semakin besar? Ah menggemaskan."
Tak usah dibayangkan, membuat jiwa kaum jomblo meronta.
"Mas ini, mengapa semakin hari semakin mesum saja!" Khalisa meletakkan hair dryer selesai mengeringkan rambut Nick.
"Mas bukannya mesum. Tapi hanya inisiatif dan tidak mau menyia-nyiakannya saja." Nick mengedipkan matanya.
Lain Nick, lain pula dengan pasangan pengantin baru Salman dan Dira.
"Apalagi ya yang dibawa?" Dira bersiap dan berkemas pakaian yang akan ia bawa sambil mengingat-ingat.
Greppp!
Salman memeluk Dira dari belakang selepas mandi dan masih menggunakan handuk sebatas pinggang hingga lutut.
"Astagfirullah. Kakak mengagetkan saja! Pakai baju Kak. Jam 9 loh kita berangkat."
Masih betah merusuh pada Dira tak menggubris himbauan sang istri yang masih berkutat melihat koper yang akan mereka bawa.
"Tidak perlu bawa baju banyak-banyak, Kakak lebih senang Kamu tidak usah memakainya!" Bisik Salman ditelinga Dira.
"Ya Allah. Mengapa Ustadz satu ini jadi mesum begini! Mana ada ga pakai baju! Yang ada Aku masuk angin Kak!" Dira geleng kepala sepertinya sang suami terlalu banyak mendapat edukasi dari mantan Boss Killer yang kini berubah menjadi bucin sekaligus adik Ipar keduanya.
"Loh, Kakak dan Zaujati mau honeymoon kan? Jadi Kita akan banyak menghabiskan waktu di kamar saja Sayang." Masih nempel bagai tomcat tak mau lepas memeluk istrinya.
"Mana bisa begitu! Sayang sekali! Aku belum pernah kesana. Mumpung sekarang ada kesempatan, Aku mau jalan-jalan sekalian." Dira sangat antusias karena memang belum pernah ia ke Korea Selatan.
__ADS_1
"Kakak akan selalu menempel padamu Zaujati, Kakak tidak akan membiarkanmu memandang pada si Opa-Opa itu!" Salman melafalkan dengan salah padahal maksudnya adalah Aktor Drakor yang Dira sukai Choi Si Won.
"Bukan Opa Kakak, tapi Oppa. Ah, semoga saja bisa ketemu langsung dengan Si Won Oppa, Oppa Kiyowo!" Dira menatap aktor favoritnya di laptop kerja miliknya.
"Aku akan buat Kamu sibuk Sayang. Hingga tidak ingat dengan Si Tawon itu!" batin Salman memandang Dira yang memandang memuja melihat gambar Aktor favoritnya.
Kini 2 pasangan bucin akut saling memeluk, Dira memeluk Khalisa, dan Nick berbisik-bisik dengan sang Kakak Ipar.
"Pokoknya jangan kasih kendor Kakak Ipar! Gas poll!" Nick memeluk dan menepuk punggung Salman menyemangati.
"Kau berguna juga Nick! Doakan Kami agar selamat sampai tujuan dan kembali dengan sehat tanpa kurang satu apapun. Jaga Khalisa ya, jangan Kau ajak sparing terus. Ada keponakanku disana!" Salman membulatkan matanya sambil tersenyum.
"Kakak, Mas, sedang bicara apa bisik-bisik begitu? Kalian tidak aneh-aneh kan?" Khalisa menggandeng Dira menghampiri kedua pria yang kini telah terkena Virus Bucin akut.
"Mana ada yang aneh-aneh Sayang, Mas sedang mendoakan Kakak Ipar berdua agar selamat sampai tujuan hingga kembali lagi dalam keadaan sehat dan bonus keponakan buat Kita." Nick dan Salman saling melempar senyum penuh makna.
"Kenapa Dira ga percaya ya sama mantan Boss satu ini? Pasti Adik Ipar sedang merusuh dengan edukasi sesatnya nih!" Dira menyelidik kedua pria Bucin dihadapannya.
"Kakak Iparku Dira, Aku ini hanya sekedar memberi saran, benar tidak Kakak Iparku yang tampan?" Nick menaikkan kedua alisnya kepada Ustadz Salman.
"Sudah, Kakak dan Dira segera berangkat saja. Tuh pilot dan awak kabin sudah siap. Hati-hati dan bahagia selalu ya." Khalisa menarik Nick agar segera menjauh dari Salman Kakaknya.
"Ca, Adik Ipar, berangkat dulu ya. Keponakan Tante Dira sehat-sehat dalam perut Bunda." Dira mengelus pamit pula dengan calon keponakannya.
"Sudah Kakak Ipar lekas pergi. Tuh Lihat Kakak Iparku sudah mupeng sekali." Nick tertawa masih saja senang menggoda Salman.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Salman dan Dira sudah baik PJ dan telah take off.
"Mas, kita jemput Caca kesekolah ya." Khalisa yang tangannya dituntun Nick saat menaiki mobil.
"Sayang, kenapa tadi Kita tidak sekalian saja ikut mereka. Bukannya Sayangku juga ingin ke Korea?"
"Lain waktu saja Mas. Lagipula Aku sedang malas kemana-mana." Khalisa memang merasakan sejak hamil ia segan bepergian jauh-jauh.
__ADS_1
"Jangan menggoda Mas Sayang." Pikiran Nick malah menjurus pada dunia peranjangan.
"Mas ini pikirannya kesana terus. Maksudku, bukan begitu. Aku hanya malas saja bepergian, lebih baik dirumah main sama Caca dan ngobrol dengan Mom." Khalisa meluruskan.
"Sayang tetap mau daftar kuliah sekarang? Apakah tidak sebaiknya nanti saja?" Nick memastikan permintaan Khalisa semalam saat ia mengutarakan mau mendaftar kuliah.
"Mas tidak mengizinkan?" Khalisa mengamati raut wajah suaminya.
"Bukan begitu Sayang. Mas takut Sayang kelelahan. Apalagi sedang hamil." Nich mengkhawatirkan kondisi istrinya.
"Insha Allah tidak apa-apa Mas. Lagi pula Dokter kan bilang kondisiku baik-baik saja dan janin juga sehat. Kuliah juga cuma 3 hari seminggu. Selebihnya Aku dirumah bersama Caca dan Mom." Khalisa memberikan pengertian.
"Ya sudah, tapi jangan terlalu lelah. Dan Kalau kemana-mana pakai sopir ya. Jangan nyetir sendiri." Pesan Nick.
"Siap Pak Suamiku yang Ganteng!" Khalisa mengecup pipi Nick.
Tentu saja Nick senang sekali mendapatkan kecupan dari sang istri.
"Sebelahnya lagi dong Sayang." Nick menyodorkan pipi kirinya.
CUP!
"Nah yang ini bonus Sayang." Nick mengecup singkat bibir merah delima Khalisa.
"Mas!" Khalisa memberi kode malu dilihat driver mereka.
"Tidak masalah Sayang." Nick mengelus perut Khalisa sambil berbicara sama anak dalam rahim sang istri.
"Sayangnya Daddy, nanti bantuin jagain Bunda ya di kampus. Kalau ada yang genit-genit sama Bunda, kasih tahu Daddy." Aneh-aneh saja memang Nick.
"Mas jangan ngaco. Ada-ada saja baby diajari enggak-enggak begitu." Khalisa tersenyum dengan ulah Nick.
"Siapa tahu ada dosen atau teman kelas Sayangku yang genit ke istri Mas. Awas saja mereka kalau berani." Nick kesal sendiri membayangkan bila ada yang mendekati Khalisa terkhusus spesies bernama cowok.
"Mana ada yang mau Mas sama Ibu hamil." Khalisa memberikan pengertian.
"Ya bagus Sayang kalau begitu. Tapi Sayangku ini terlalu cantik! Mas jadi resah sendiri!" Masih kesal terbayang ada dosen tampan dan muda mendekati istrinya.
__ADS_1
"Mas itu jangan kebanyakan lihat sinetron atau baca novel! Aku tuh sudah hak paten miliknya Boss Killer dan Jutek, Tuan Nicholas Bryan, CEO tampan dan baik hati." Khalisa menggombal.
"Ih, pinter banget sih gombalin Mas. Istri siapa sih ini, sini cium." Nick menghujani Khalisa ciuman diwajahnya bertubi-tubi.