JANDA SHOLEHAH JODOH CEO DUDA AROGAN

JANDA SHOLEHAH JODOH CEO DUDA AROGAN
Kuliah Perdana


__ADS_3

"Sayang, hari ini mulai masuk kuliah ya?" Nick baru selesai mandi sambil mencari keberadaan Khalisa.


"Iya Mas. Tapi Aku izin setelah pulang kampus mau pergi sama Dira. Caca Aku ajak juga." Khalisa sambil membantu Nick memasangkan kemeja dan jas pada Nick.


Nick menyerahkan dasi seperti biasa, Nick sudah terlalu nyaman kesehariannya dari buka mata hingga menutup mata dilayani istri tercintanya.


"Mas, kapan selesainya kalau merusuh terus." Khalisa kesulitan memasang dasi saat Nick malah asik dusel-dusel Khalisa.


"Mas gemes Sayang. Apalagi ini semakin besar saja." Tangan bakal Nick tak absen menjamah pegunungan himalaya milik Khalisa yang semakin membesar faktor kehamilan.


"Pelan Mas." Khalisa sedikit nyeri karena kegemasan Nick terhadap si kembar bulat tapi bukan tekad.


Di kediaman Kyai Abdullah tampak Dira dan Ustadz Salman masih di dalam kamar bersiap menjalani aktivitas masing-masing.


"Kenapa dadan cantik begini Sayang. Kakak kok ga rela ya, pegawai Kamu lihat cantiknya Kakak setiap hari." Ustadz Salman merusuh saat Dira sedang mematut wajah memulas liptin di bibirnya.


"Kak, nanti belepotan. Tuh kan bener." Ustadz Salman malah semakin mencium istrinya bertubi-tubi.


"Yasudah hapus aja ya." Bukan mereda malah semakin rusuh memeluk posesif.


"Ayo Kak. Bukankah Kakak juga ada meeting pagi? Nanti telat. Abah juga pasti sudah nunggu di meja makan." Dira kesulitan lepas dari Ustadz Salman yang kini malah senang mengurung Dira dalam pangkuannya.


"Kakak sarapan Kamu aja ya Yang?" Bukan melepas malah semakin mengeratkan pelukan pada istri tercintanya.


"Mana ada! Ga kenyang juga." Dira hanya geleng kepala suaminya semakin hari semakin banyak akal bulus mencari celah modus pada istrinya.


"Siapa bilang? Justru Kakak makin sehat Sayang. Apalagi sarapannya minum susu cap nona!" Mendusel ke lokasi strategis sekwilda sang istri.


"Ya Allah, kenapa Pak Ustadz mesum begini!" Dira kegelian ulah rusuh Ustadz Salman.


Tok,Tok,Tok!


"Maaf Ustadz, Mbak Dira. Ditunggu Pak Kyai di meja makan." Bibi Art memanggil keduanya.


"Tuh Kak! Abah sudah nunggu!" Dira mengajak Salman segera menuruti panggilan itu.


Khalisa sudah sampai di depan gerbang sekolah Caca mengantar putri tercinta.


"Sayang, nanti Bunda jemput ya kalau sudah selesai. Jadi ikut kan ketemu Tante Dira?" Khalisa merapihkan seragam Caca.

__ADS_1


"Iya Bunda ikut! Bunda semangat ya kuliahnya! Caca masuk dulu. Assalamualaikum." Caca mencium tangan Khalisa sebelum masuk ke sekolah.


"Belajar yang rajin Sayang. Lancar segalanya. Aamiin doa yang sama untuk putri kesatangan Bunda. Waalaikumsalam." Khalisa mencium dan memeluk Caca sebelum sang putri cantiknya masuk sekolah.


Khalisa sampai di kampus yang kedepannya akan ia jalani selama kurang lebih 2 tahun kedepan jika tidak ada halangan.


"Bismillah Ya Allah. Semoga engkau ridhoi setiap langkahku. Berilah kemudahan dan kelancaran." Khalisa membawa langkahnya yang terasa ringan memasuki Auditorium Kampus mengikuti Kuliah Perdana.


Suasana Auditorium sangat ramai.


Sederet akademisi telah hadir menempati kursi yang tersedia.


Diikuti dibelakangnya mahasiswa baru pascasarjana dari berbagai jurusan yang ada.


Acara demi acara berjalan lancar, Khalisa serius mendengarkan setiap arahan yang disampaikan.


"Hai! Ketemu lagi kita!" Sapa Raditya pada Khalisa.


Khalisa hanya menganggukan kepalanya. Ia melihat saat Raditya duduk bersama jajaran akademisi di acara kuliah perdana.


"Pak Radit!" Seseorang memanggil Raditya.


"Permisi Pak." Khalisa pamit undur diri saat mendapatkan pesan dari Dira yang menanyakan apakah Khalisa sudah otw.


Di sebuah lounge tampak Nick dan Ustadz Salman duduk makan siang bersama setelah keduanya selesai menghadiri sebuah acara bersama.


Tampak Gusti dan Iman juga asik sendiri entah apa yang kedua jomblo itu bahas di meja berbeda namun tak jauh dari meja Ustad Salman dan Nick.


"Nick, Khalisa sudah mulai kuliah hari ini?" Ustadz Salman menyesap kopi hangat.


"Ya. Hari ini kuliah perdana. Minggu depan 3 kali seminggu jadwal perkuliahannya." Nick meletakkan cangkir berisi capucino miliknya.


"Oh iya, Kau bekerjasama dengan Tuan Alexander?" Ustadz Salman mendengar dari beberapa rekan bisnisnya.


"Ya, NBC menggunakan restoran dan kitchen milik Tuan Alex untuk program Hell's Kitchen. Ada apa Kakak Ipar?" Nick melihat wajah cemas dari raut Ustadz Salman.


"Aku mendengar, Tuan Alex masih ada hubungan kekerabatan dengan Max Weber. Ya meski Max sudah mendapatkan ganjaran dari apa yang ia lakukan, namun Kau tetap harus waspada. Aku hanya mencemaskan keluarga Kita." Ada gurat kekhawatiran begitu nyata dari wajah Ustadz Salman.


"Insha Allah, Aku sudah mengecek dan mencari informasi akan hal itu. Sejauh ini keduanya memang memiliki hubungan keluarga namun Tuan Alex dengan Max hanya saudara tiri. Dan dari Informan terpercaya yang Ku miliki hubungan keduanya tidak dekat cenderung kurang harmonis." Nick menjelaskan.

__ADS_1


"Ya, semoga semua baik-baik saja Nick. Aku hanya mengkhawatirkan keluargamu." Bagaimanapun Khalisa dan keponakannya menjadi pihak yang dikhawatirkan Ustadz Salman.


"Aamiin. Bantu doa ya Pak Ustadz." Nick tersenyum namun tulus meminta doa sang Kakak Ipar.


"Ngomong-ngomong, Kau ada agenda lagi setelah ini Nick?" Ustadz Salman menghabiskan tegukan kopinya yang tersisa.


"Tidak, rencananya mau langsung jemput istri dan putriku. Mereka sedang bersama Dira." Nick memberitahu.


"Pas sekali. Ayo lebih baik kita susul mereka. Aku sudah rindu dengan istri, adik dan keponakanku yang cantik dan pintar." Senyum Ustadz Salman.


"Jelas, Kakak Ipar lihatlah Daddynya, tampan begini!" Nick dengan kepercayaan diri tinggi.


"Kau ini. Khalisa tidak gumoh mendengar suaminya yang kepedean ini setiap hari."


"Justru Sayangku Khalisa Humairah semakin mencintaiku Kakak Ipar." Nick semakin pede.


"Ya. Bagaimana Kau masih suka mengidam?" Ustadz Salman menanyakan.


"Ya, setiap subuh Aku pasti mual. Makanya di saku selalu sedia ini." Nick menunjukkan minyak angin gosok.


"Wah memang suami bucin maksimal." Ustadz Salman tertawa.


"Jangan meledekku Kak, nanti Kaupun akan segera merasakan hal yang sama. Aku doakan segera menyusul!" Nick ingin Kakak Iparnya juga segera hamil dengan Ustadz Salman.


"Aamiin. Eh maksudku mengaamiinkan hamilnya bukan ngidamnya sepertimu." Ustadz Salman mengecualikan.


"Gapapa, dinikmati saja. Seperti saat bercocok tanamnya. Sangat Kunikmati!" Nick tertawa membayangkan yang iya iya bersama Khalisa.


"Kau ini, sungguh mesum Nick!"


"Seperti Kakak Ipar tidak saja. Buktinya Kakak Iparku kenapa hari ini mengajak Khalisa membeli baju perang. Kakak Ipar ternyata luar biasa juga! Hahaha!" Nick tertawa.


"Loh Kau tahu dari mana hal itu? Dira tidak mengatakan apa-apa padaku. Hanya izin pergi dengan Khalisa." Ustadz Salman girang bukan main sang istri saat ini sedang membeli pakaian dinas malam.


"Nick gitu loh! Ayo Kakak Ipar kita susul bidadari-bidadari Kita. Jangan sampai di Mall banyak pria-pria iseng menggoda mereka." Nick dengan posesif.


"Ide bagus. Ayo!" Ustadz Salman juga tak rela istri tercintanya digoda pria lain.


"Gusti let's go!" Nick memanggil Gusti.

__ADS_1


"Iman, Ayo!" Ustadz Salman memanggil Iman.


"Siap Boss!" Jawab kompak 2 jomblo yang kini makin karib.


__ADS_2