
"Sayang, kenapa kita tidak memperpanjang saja honeymoon kita, hem?" Nick yang kini menikmati santap siang diatas ketinggian puluhan ribu kaki melintasi benua dan samudera ditemani istri tercinta kembali pulang.
"Mas, lain waktu kita bisa pergi lagi. Tapi Aku ingin kita pergi bersama keluarga kita. Ajak Mom, Abah, Caca dan Kak Salman. Ya sekalian liburan keluarga." Khalisa menyelesaikan makanannya karena sudah kenyang.
"Boleh juga Sayang, sudah lama Mas tidak liburan keluarga. Sayangku atur saja waktunya." Nick mengusap sisa saus diujung bibir Khalisa tentu dengan sapuan bibirnya.
"Mas, modus terus!" Khalisa harus membiasakan diri akan kelakuan mesum suaminya.
"Mas hanya membantu Sayangku saja, tapi suka kan?" Dengan mengedipkan matanya disertai senyuman puas menggoda sang istri.
"Mas Aku sudah mengabari Mom, kalau kita pulang kerumah Abah dulu, Caca juga masih disana. Mom juga bilang kalau kegiatan Mom diperpanjang jadi mungkin lusa Mom baru kembali." Khalisa memang sudah berbincang dengan mertuanya.
"Oh iya Sayangku benar tidak apa-apa resign kerja? Jujur kalau Mas sih memberikan kebebasan kepada Sayangku kalau mau bekerja boleh, kalau pun tidak ya Mas justru seneng sih, kan jadi banyak waktu buat manjain Mas." pikiran Nick kini memang tak jauh dari aktivitas Nyeh Uwah Uwah bersama istrinya.
"Tuh pasti modus lagi kan? Mas, Aku ikhlas resign dari kantor kok. Karena Aku ingin benar-benar mengurus rumah tangga, mengurus Mas, menemani Caca dan Mom. Tapi kalau Aku punya aktivitas lain boleh tidak Mas?" Khalisa memang ingin fokus mengurus rumah tangga karena ia tahu kewajiban utamanya kini adalah suami dan anak.
"Tentu saja boleh, Mas tidak mau Sayangku bosan kalau harus dirumah saja. Memang Sayangku ada kepikiran mau melakukan apa?" Nick juga bukan tipe suami yang melarang istrinya tetap berkegiatan.
"Sebetulnya sejak dulu Aku ingin sekali melanjutkan pendidikanku. Tapi tentu dulu soal biaya menjadi salah satunya. Meski bisa saja aku mencari beasiswa seperti saat dulu S1 namun saat itu prioritasku adalah keluarga." Ada kesedihan tampak diwajah Khalisa bila teringat bagaimana dulu perjalanan hidupnya saat masih menjadi istri Alvin.
"Sayang, sekarang tidak perlu khawatir, Mas janji tidak akan membuatmu sedih. Ingatkan Mas jika ada sikap Mas yang membuatmu tidak nyaman atau tidak berkenan." Nick memeluk Khalisa mengecup sayang pucuk kepalanya.
"Mas juga mendukung kalau memang Sayangku mau kuliah lagi. Asal harus jaga hati, jangan lirik cowok lain, karena Mas akan cemburu!" Nick menyolek hidung Khalisa.
"Masya Allah Mas, belum juga mulai, Mas sudah berpikir begitu. Percayalah. Aku akan selalu menjaga hati dan diriku hanya untuk suamiku seorang." Khalisa nampaknya sudah tertular Nick dalam hal gombal menggombal.
"Semoga Allah selalu menjaga keutuhan rumah tangga kita hingga kita tua nanti. Melihat anak-anak kita dewasa, mengantarkan mereka menikah, punya anak dan kita menjadi Nenek dan Kakek." Doa yang Khalisa selalu panjatkan sejak menikah dengan Nick.
"Aamiin. Tapi Mas maunya dipanggil Opa Sayang kelak oleh cucu kita. Dan Sayangku akan dipanggil Oma." Nick bahkan sudah punya panggilan untuk ia dan istrinya bagi Cucu-Cucu mereka.
Gusti yang memang sudah dihubungi dan tahu kalau hari ini big boss nya kembali dari honeymoon sudah terlihat menjemput saat pesawat pribadi Nick mendarat.
"Wah, pengantin baru apa kabar nih? Bagaimana kabar Bu Boss?" Sapa Gusti saat melihat kedua pasang pengantin baru yang wajahnya cerah ceria.
"Alhamdulillah baik Gusti." Jawab Khalisa.
"Boss sepertinya happy sekali, senyum terus. Apa Boss mau ikut casting model pasta gigi?" Gusti meraih tas milik Nick membantu membawakan sambil menggoda Nick yang terus menebarkan senyumnya.
"Tentu Aku sangat bahagia Gus! Jomblo sepertimu tidak akan paham!" Nick malah balik meledek Gusti.
Kini ketiganya sudah berada di mobil menuju kerumah Kyai Abdullah.
"Assalamualaikum." Nick dan Khalisa kompak mengucap salam.
"Waalaikumsalam." Jawab Kyai Abdullah menyambut kedatangan anak dan menantunya dengan senyum bahagia.
__ADS_1
"Bunda, Daddy!" Caca segera menghambur kedalam pelukan Khalisa, rindu dengan sang Ibu. Bergantian memeluk Daddynya dan duduk dipangkuan sang Daddy.
"Sayang, Bunda juga kangen Caca. Caca baik-baik saja kan?" Khalisa sambil mengusap kepala sang putri.
"Baik Bunda." Caca yang mencium tangan Khalisa dan Daddynya.
"Abah, kami kembali. Abah apa kabar?" Nick mencium tangan Ayah mertuanya sambil menanyakan kabar Kyai Abdullah.
Begitupun Khalisa mencium tangan Abah dan memeluk Ayah tercintanya.
"Alhamdulillah Abah baik, sehat! Kalian bagaimana, sehat-sehat sajakah?"
"Alhamdulillah Kami sehat Abah." Jawab Khalisa bersama dengan Nick.
"Kak Salman kemana Abah, tidak terlihat?" Nick mengiringi langkah Ayah mertuanya yang kini menuju pendopo untuk duduk dan istirahat disana.
"Kakakmu sedang menghadiri undangan tausyiah" Jawab Abah.
Khalisa yang datang bersama Caca dari dalam membawa teh hangat dan beberapa cemilan sebagai teman mengobrol.
"Nak, Kamu kan capek baru pulang, minta tolong saja pada Bibi."
"Tidak capek Bah, cuma duduk, tidur dan makan saja dipesawat." Sambil menyuguhkan teh hangat dan cemilan kepada Suami dan Abahnya.
"Sayang, bagaimana jalan-jalannya waktu itu sama Om Salman. Seneng ga?" Khalisa menanyakan perihal Caca yang bertamasya bersama Ustadz Salman.
"Coba ceritakan sama Bunda, Kalian ngapain aja disana?" Khalisa tertarik mendengar kata-kata Caca.
"Nih ya Bun, Jadi waktu jalan-jalan tuh Caca, Om Salman sama Tante Dira kita kan naik kanal gitu Bun, terus waktu pas turun dari kanal agak oleng gitu soalnya kan goyang-goyang lan Bun, Tante Dira hampir jatuh Bun, untung saja Om Salman cepat-cepat narik Tante Dira. Terus ya Bun, masa Om Salman sama Tante Dira mukanya jadi malu-malu gitu. Om Salman juga waktu pulang senyum-senyum sendiri." Caca sambil asik menikmati jus melon buatan Bundanya.
Tanpa janjian, Khalisa, Nick dan Kyai Abdullah tersenyum penuh makna bersama-sama.
"Assalamualaikum."
Panjang umur, Ustadz Salman yang menjadi topik pembicaraan baru saja tiba bersama Iman asisten pribadinya.
"Waalaikumsalam." Jawab semuanya.
"Wah, penganten baru sudah pulang. Bagaimana kabar kalian?"
Mereka saling bersalaman tentu terlebih dahulu Ustadz Salman mencium tangan Abahnya lalu menerima salam dari adik, ipar dan keponakannya.
"Kabar Kami baik Kakak Ipar. Kakak Ipar sendiri bagaimana kabarnya? Apakah ada yang membahagiakan akhir-akhir ini?" Nick gatal sekali ingin melihat reaksi Kakak iparnya.
Khalisa menyikut pelan Nick memberi kode agar main halus.
__ADS_1
"Om, bawa apa itu?" Caca melihat sesuatu yang dibawa oleh Iman.
"Oh iya, tadi Om beli cake kesukaan Caca. Mau coba?"
"Mau!" Caca senang dibawakan cake kesukaannya oleh Ustadz Salman.
"Salman, duduk disini ada yang ingin Abah bicarakan." Kyai Abdullah mengajak Ustadz Salman duduk.
"Bunda, Ayo potong cakenya." Ajak Caca.
"Kalau gitu kita bawa kebelakang dulu ya, Abah, Mas, Kak, Khalisa kebelakang dulu ya." Khalisa yang pamit sambil tangannya digandeng Caca menuju dapur.
Tinggallah ketiga pria, Nick, Salman dan Kyai Abdullah.
"Abah mendengar Baskoro sudah siuman. Abah ingin menjenguknya. Kamu temani Abah ya Salman." Kiai Abdullah menyampaikan niatnya.
"Baik Abah." Jawab singkat Ustadz Salman.
"Pak Kyai maaf, ada telpon." Bibi ART memberi tahu kalau ada panggilan untuk Kyai Abdullah.
Sepeninggal Kyai Abdullah kini Nick tampak leluasa ingin menggoda sang Kakak Ipar.
"Cie, yang bakal ketemu calon mertua!" Ledek Nick dengan wajah menyebalkan.
"Calon mertua bagaimana?" Tampak wajah Ustadz Salman kikuk.
"Ya siapa tahu kan Kakak Ipar udah ada niat gitu buat melamar Dira jadi istri. Kan ada yang bilang nih Kakak Ipar, katanya Cinta itu dari Kanal turun ke hati, eh maksudnya dari mata turun ke hati!" Nick sengaja menyinggung soal Kanal seperti yang diceritakan Caca.
Iman maupun Gusti yang mendengar mereka tersenyum namun segera ditahan.
"Ah pasti keponakan tersayangku yang cantik nih, Caca kecil, ya Allah." Salman menepuk dahinya menutupi wajahnya yang salting.
"Jangan lama-lama Kakak Ipar, nanti ditikung disepertiga malam sakitnya tuh disini!" Nick puas menggoda Kakak Iparnya yang makin salting."
"Adik Iparku sekarang sudah berani menggoda rupanya, nanti aku umpetin Khalisa, biar getir Kamu!" Canda Ustadz Salman.
"Ah Kakak Ipar, janganlah, Aku tanpa Khalisa bagai butiran debu!" Nick makin mahir menggombal.
"Gusti, sepertinya Bossmu pulang honeymoon sedikit kurang minum obat, makanya oleng!" Ustadz Salman tak menyangka Nick yang ia kenal dulu kaku, jutek dan menyebalkan kini hangat dan menyenangkan.
"Jangan khawatir Ustadz, Boss sepertinya butuh disuntik Vaksin!" Gusti si paling semangat kalau urusan membully big Bossnya.
Tentu saja celetukan Gusti membuat tawa semua yang ada disana.
"Ya Kau benar Gusti, Aku selalu butuh Vaksin, Vaksin Cinta dari Istriku tersayang!" Nick bukannya kesal malah senyum-senyum teringat moment-moment romantis bersama Khalisa saat honeymoon.
__ADS_1
"Namamu sekarang Aku tambah Nick, jadi Nicholas Bucin Bryan!" Timpal Ustadz Salman.