
"Sayang, yuk bangun. Shalat tahajud." Ustadz Salman membelai lembut pipi lembut Dira yang masih tertidur pulas.
Pilihannya memberikan surprise untuk suami tercinta nyata sangat disukai oleh Ustadz Salman.
Hingga dini hari keduanya baru terpejam setelah bertukar keringat saling menyalurkan hasrat cinta yang bergelora.
Dira menggeliat meski matanya enggan terbuka. Seluruh tubuh terasa remuk dan lelah meski terbayar tuntas oleh percintaan yang sangat menggairahkan semalam.
Ustadz Salman tersenyum, teringat selama Dira piawai memanjakannya atas bawah disertai kostum spesial yang sungguh wow dipandang mata.
"Jauzati, Ayo bangun yuk." Nyatanya belaian tak mampu membuat Dira terjaga meningkat dengan hujan kecupan bertubi-tubi di seluruh wajah Dira.
"Kak, ini jam berapa?" Suara serak Dira malah terdengar seksi di telinga sang suami.
"Yuk, Kakak gendong ke kamar mandi. Kita tahajud dulu ya. Kalo yang semalam kurang Kakak ga keberatan kok mengulangi lagi."
Tentu saja mendengar kata-kata suaminya Dira mengerjapkan mata membayangkan akan terjadi pertukaran gairah yang tak cukup 1 kali putaran.
"Aku masih lelah Pak Ustadz. Oke. Kita tahajud saja." Dira membuka mata, membulatkan sepenuh tenaga agar cepat terjaga.
Tak jauh berbeda dengan pasangan Dira dan Salman, diatas ranjang yang sudah porak poranda, Khalisa membelai suami bucinnya membangunkan mengajak shalat berjamaah.
"Mas, yuk. Shalat dulu. Nanti setelah shalat Aku kasih bonus seperti semalam."
Trik jitu dan sukses membangunkan Nick dengan iming-iming olahraga si Joni tentu berhasil setelah segala cara dilakukan Khalisa sejak tadi.
Cup! Cup! Cup!
Nick menghujani kening, pipi, dan bibir Khalisa saat ia membuka mata.
"Akhirnya. Yuk. Aku tunggu Mas mandi dan wudhu. Aku pun jadi wudhu lagi kan." Khalisa menarik pelan lengan kekar suaminya agar mereka bisa segera menunaikan shalat jamaah.
"Tapi bonusnya jangan lupa ya Sayangku." Nick mengedipkan mata sebelum ngacir ke kamar mandi.
"Masya Allah Pak Suami. Kalau urusan yang itu semangatnya luar biasa sekali."
Gumaman Khalisa nyatanya terdengar oleh Nick yang membuat Nick bahagia lahir batin.
__ADS_1
Dikediaman Papa Baskoro dan Bunda Amelia kini Dira dan Salman bersama menikmati sarapan pagi.
"Bagaimana keadaan Papa. Salman lihat Papa semakin segar." Ustadz Salman melihat kemajuan pesat kondisi kesehatan Ayah mertuanya.
"Alhamdulillah Salman. Papa semakin hari semakin sehat. Itu semua berkat doa dan dukungan Kalian. Terima kasih banyak."
"Papa juga minta maaf sama Kamu Amelia dan Dira putriku. Maafkan Papa dan Mas ya." Sejak diderita sakit Papa Baskoro memang banyak mengambil hikmah dan betul-betul menyesali perbuatannya dimasa lalu.
"Papa, sudah. Kita tutup masa lalu. Yang terpenting Dira dan Bunda sudah mengikhlaskan. Yang terpenting sekarang Papa semangat terus perawatan dan tetap semangat." Dira menggenggam tangan Papa Baskoro.
"Betul yang dikatakan Dira Mas. Mas sehat dan bisa berkumpul lagi bersama Kami, Aku dan Dira sudah bahagia." Bunda Amelia menepuk lengan Pria yang sudah puluhan tahun menjadi suaminya.
"Terima kasih. Papa beruntung memiliki Kalian berdua. Wanita-wanita yang cantik paras dan hatinya. Papa juga bahagia memiliki menantu sholeh sepertimu Salman." Papa Baskoro tak kuasa menahan airmatanya.
Sementara di kediaman Nick dan Khalisa, Oma Marisa sudah meminta Anak, Menantu dan Cucunya berkumpul.
"Sayang, Oma ada pengumuman. Jadi Insha Allah Oma dan genk Oma mau pergi umroh. Sekalian ke Turki dan Dubai. Kurang lebih sekitar 14 hari." Oma Marisa memang setelah Nick memiliki pendamping rasanya beban pikirannya terlepas dan ia lebih bahagia makanya menyibukkan diri bersama dengen teman-teman sebayanya menjadi hal yang menyenangkan baginya kini.
"Mom jaga kesehatan ya selama disana. Kabari Kami selalu. Kami pasti kangen Oma." Khalisa menitipkan pesan untuk Ibu mertuanya.
"Oma bakal kayak cewek-cewek Arab dong, naik Unta terus naik balon udara di capadocia. Ih keren banget sih Oma. Daddy, Bunda nanti liburan sekolah kali ini, bagaimana kalau Kita Umroh seperti Oma?" Caca jadi ingin pergi umroh juga seperti Omanya.
"Insha Allah Sayang. Kita lihat juga kondisi Bunda ya. Bunda kan sedang mengandung." Nick menjelaskan.
"Oh Iya. Nanti juga boleh kalau dede baby sudah lahir." Caca baru tahu kalau ada aturan untuk orang hamil melakukan perjalanan udara.
"Perbekalan dan segala yang mau dibawa apakah sudah disiapkan Oma?" Khalisa menanyakan.
"Nah itu, Oma nanti minta temani Kamu ya Sayang, Oma mau cari busana muslim dan pakaian ihram yang akan dikenakan disana." Oma Marisa mengajak menantunya.
"Siap Oma." Khalisa bersemangat.
"Mom jangan lupa konsul dokter dulu sebelum berangkat, agar dokter bisa memberikan Mom arahan dan apa obat dan vitamin yang diperlukan selama perjalanan Mom disana." Nick mengingatka.
"Tentu Nick, jangan khawatir. Itu sudah masuk dalam list yang akan jadi persiapan Mom." Oma Marisa sangat antusias hingga ia punya list apa saja yang akan ia lakukan dan bawa sebelum perjalanan umrohnya.
"Bunda, Daddy, selama Oma umroh, Kita tinggal dirumah Eyang saja. Biar Caca ada teman kalau Daddy kerja dan Bunda kuliah." Caca mengusul.
__ADS_1
"Boleh." Nick menyetujui.
Khalisa mengantar Nick sampai ke pintu mobil. Melepas dengan doa dan cium tangan kepada sang suami saat akan berangkat ke kantor.
Sementara selepas Nick berangkat Caca pamit pada sang Oma sebelum berangkat sekolah diantar sopir dan Khalisa yang sekalian ada kuliah pagi hari ini.
"Bunda, Caca sekolah dulu ya. Assalamualaikum. Bye Bunda." Caca mencium tangan Khalisa sebelu ia masuk ke gerbang sekolah.
"Waalaikumsalam Sayang. Belajar yang rajin ya." Khalisa memeluk dan mengecup pucuk kepala putri cantik yang semakin hari semakin tumbuh besar dan cerdas.
Lambaian tangan keduanya saling melepas dengan aktivitas yang akan mereka jalani selanjutnya.
Kini Khalisa ada jadwal kuliah. Hari pertama kuliah dan masuk kelas. Rasanya Khalisa teringat saat masa-masa dulu ketika ia kuliah S1.
"Hai. Kenalkan Aku Putri. Kamu?" Sapa seorang wanita cantik berambut lurus.
"Aku Khalisa." Khalisa menerima uluran tangan Putri.
"Maaf Aku seperti tidak asing dengan wajah Kamu. Apakah Kamu istri dari CEO NBC, Nicholas Bryan?" Putri merasa pernah melihat Khalisa di media elektronik dan kanal video berbagi.
Khalisa mengangguk.
"Wah, Aku beruntung sekali bisa sekelas dengan istri Sultan!"
Begitulah media, Nick sering disebut-sebut sebagai Sultan oleh para awak media.
Padahal Nich sendiri secara pribadi tidak merasa seperti julukan yang disematkan padanya.
"Jangan begitu. Aku malu. Biasa saja Putri." Khalisa mengingatkan.
"Iya deh sip! Oh Iya, hari ini Kamu sudah tahu kalau mata kuliah pertama Kita akan diajarkan langsung oleh Kaprodi." Putri bercerita panjang lebar tanpa diminta.
"Selamat Pagi." Suara pria yang masuk mengucap salam mengedarkan pandangannya pada seluruh mahasiswa yang ada di kelas.
Khalisa melihat Raditya masuk ke dalam kelasnya dan seketika Khalisa menundukkan pandangan saat mata Raditya tertuju sambil tersenyum kearahnya.
"Ah, Pak Radit tampan sekali!" Putri memuji dengan tatapan mengagumi dosen tampan yang kini malah asik memandang Khalisa.
__ADS_1