JANDA SHOLEHAH JODOH CEO DUDA AROGAN

JANDA SHOLEHAH JODOH CEO DUDA AROGAN
Max Weber


__ADS_3

Dalam ruang kaca dengan penerangan yang temaram, seorang pria berwajah perpaduan Asia dan Italia tampak menikmati hiruk pikuk suasana pesta yang ia ciptakan untuk menyambut para undangan yang datang dari berbagai negara.


Max Weber. Pengusaha asal Italia. Salah satu konglomerat yang disegani di negara asalnya.


Kehidupan hedon, kemewahan, kekuasaan, dan kehormatan melekat sempurna pada pria yang terkenal casanova di negara asalnya.


Tidak sedikit wanita dari kalangan jet set yang bersedia menjadi teman tidurnya meski satupun tak ada yang mampu menggetarkan hati seorang Max Weber hingga kini.


Entah apa yang ada dalam benak Max, mengapa ia begitu tertarik dengan Indonesia.


Apa yang hendak ia cari, sedangkan di Italia semua yang menjadi dambaan manusia akan nafsu dunia telah ia miliki.


"Tuan, acara siap dimulai." Seorang pria berseragam serba hitam melapor pada Max dengan sikap hormat tanpa memandang kepada pria yang memiliki kharisma begitu kuat.


"Apakah tamu spesialku sudah tiba?"


Max meneguk minuman yang ada dalam genggamannya.


"Sudah Tuan. Sesuai dengan perintah Tuan, kami sudah menyuruh mereka menunggu di ruang khusus."


Gerakan tangan Max menandakan kepada ajudannya agar keluar.


Tatapan nyalang terlihat jelas dalam netra yang terihat tajam dalam bingkai wajah yang dingin tanpan ekspresi.


"Ayah, lihatlah. Aku pastikan mereka akan membayar apa yang telah mereka lakukan pada Ayah!"


Max melempar gelas dalam genggaman tangannya, hingga membentur dinding hingga pecah berkeping-keping.


Dentuman suara musik menghentak berdentum membuat degup jantung ikuti dengan tempo yang cepat.


Suasana gelap dengan kilapan lampu sorot layaknya club malam seolah semakin terasa dengan alunan musik keras dari seorang DJ.


"Huff, tahu begini aku tidak akan datang!" Nick memang tak menyukai hal-hal seperti itu.


Meski tak dipungkiri saat muda tentu saja Nick layaknya yang lain pernah ke club seperti ini.


Namun saat ia berpacaran dengan Aurel yang tak menyukai dunia malam, Nick pun terbiasa dan mulai meninggalkan dunia gemerlap.


Terlebih saat Caca lahir dan kepergian Aurel yang tak terduga oleh Nick, membuat Nick menenggelamkan diri dengan kerja dan kerja.

__ADS_1


"Boss, mau minum?" Gusti menawarkan.


"Tidak. Aku sedang tidak ingin. Dimana orang itu, dia yang mengundang, dia sendiri tidak terlihat!"


Nick kesal karena memang ia tak berniat datang, hanya saja iya pun menerima saran Gusti agar tak mencari masalah dengan tidak menghadiri undangan Max Weber.


"Ustadz, ga salah tempat kita?" Iman yang kini berpakaian menyesuaikan diri atas permintaan Ustadz Salman yang memintanya agar menemani dirinya dalam undangan tersebut.


"Entahlah. Aku pun kurang nyaman. Kalau tidak berkaitan dengan perusahaan, aku pun enggan berada ditempat seperti ini."


Entah mengapa firasat Salman tidak enak sejak awal, hanya saja demi kepentingan perusahaan Salman tetap hadir memenuhi undangan.


"Luar biasa. Tak sia-sia aku melakukan segala cara agar bisa datang dalam acara ini. Sungguh tak sabar rasanya ingin segera bertemu dan kenal langsung dengan seorang Max Weber. Tampaknya dia sangat berpengaruh. Cih! Diatas Nicholas Bryan yang sombong ternyata masih ada Max Weber!" Alvin masih dendam atas perbuatan Nick yang ia anggap telah mempermalukan dirinya kala ia sedang berusaha membujuk Kanaya.


"Aku harus bisa masuk dalam circle seorang Max Weber. Apapun akan aku lakukan, selama Kanaya bisa kembali kepadaku!" Alvin mengambil gelas minuman yang ditawarkan oleh waitress dan segera menegak habis isi didalam gelas tersebut.


"Aku akan buktikan, bahwa aku bisa mendapatkan pria yang lebih dari Nicholas Bryan! Kau akan menyesal Nich selama ini telah mengabaikanku. Tampaknya semesta mendukung Sonia Hofman untuk bisa mendapatkan seorang Max Weber yang pastinya lebih segalanya dibandingkan Nicholas Bryan."


Sonia dendam pada Nick yang selalu menolaknya meski ia telah berusaha keras mengambil hati duda keren yang tak pernah menggubrisnya sedikitpun.


Kini Sonia telah mendapatkan target baru yang menurutnya lebih segalanya dibandingkan Nicholas Bryan.


Dengan sebuah jentikan jari, seketika ruangan menjadi sunyi tak ada lagu suara DJ memainkan musik.


Max berdiri didepan semua undangan dan memulai sambutannya menyapa undangan yang telah hadir.


"Good evening, ladies and gentlemen, god bless you. introduce me, Max Weber. I would like to thank you for the presence of all of you who have agreed to come to fulfill my invitation. I hope that in the future we can have a good cooperation. Please enjoy the party."


Max mengangkat gelas wine ditangannya sebagai tanda penghormatan sekaligus pesta kembali dimulai.


Max sudah mempersiapkan lama termasuk soal bahasa, nyatanya ia lancar berbicara dalam bahasa Indonesia.


"Welcome Mr Nick. Nice to meet you and thanks for coming. I really feel happy if we can work together." Max menyapa Nick sambil berjabat tangan.


"Thank you for the invitation sir max. hopefully there are good things waiting for us when this is done." Nick mengutas senyum menghargai lawan bicaranya.


"I do hope so. Ok. Enjoy this moment.  Excuse me, but i am to say hello to the others."


"It's ok. Never mind."

__ADS_1


Dalam sebuah ruangan VVIP, terlihat wanita yang tak nyaman memakai gaun mewah yang cukup terbuka disebelah pria baya yang tak henti mengancam dan mengawasi ketat setiap gerak geriknya.


"Kau jangan buat malu! Ingat, kesepakatan kita! Kau harus mampu membuat Tuan Max menyukaimu!"


Wajah penuh kebencian terlihat jelas dari tatapan wanita yang saat ini lengannya dicekal keras.


"Maaf menunggu Tuan Baskoro"


Max masuk ke ruangan yang ia sengaja siapkan untuk menyambut tamu istimewanya.


"Tidak apa Tuan Max. Aku tidak merasa menunggu lama. Justru kami berterima kasih karena Tuan mengundang kami kesini. Bukankah begitu Sayang." Baskoro tersenyum saat berbicara dengan Max dan berganti ekspresi manakala menatap putrinya.


Acuh. Itulah respon Dira saat ini. Pandangannya sudah tertutup akan kebencian pada pria yang berlabel Papa.


"Ini putri Anda Tuan Baskoro. Hi, perkenalkan. Aku Max Weber. Senang bertemu denganmu."


Tatapan Galak Baskara penuh ancaman meminta Dira mengulurkan tangannya menyapa Max.


"Indira."


Max segera mengambil tangan Dira mengecup punggung tangan wanita dihadapannya sambil tersenyum.


Dira terkejut dengan apa yang Max lakukan, reflek Dira menarik tangannya.


Tentu saja Max dan Baskoro terkejut melihat hal itu.


"Sok jual mahal anak si brengsek ini!" Batin Max.


"Maafkan Dira Tuan Max, dia memang sedikit pemalu." Baskoro menutupi dengan alasan tentunya masih menoleh dengan tatapan kesal pada Dira.


"Aku suka gadia pemalu. Dan aku suka sikap malu-malu kamu Indira." Max dengan segala jurus menebarkan pesonanya.


"Ah begitu ya. Tuan Max, apakah kita bisa berbicara tentang investasi yang akan Tuan berikan kepada Saya?" Baskara tampak tak sabar.


"Relax Tuan Baskoro, tapi sebelumnya bolehkah Saya berbincang berdua dengan Indira?"


"Tentu saja. Sesuka hati Tuan. Silahkan. Saya akan keluar agar Tuan dan Dira bisa ngobrol."


Hati Dira terasa tercabik. Bagaimana bisa pria yang mengaku ayah, kini memperlakukan putri kandungnya bagai barang yang bisa ia jual belikan dan tukar dengan sebuah investasi. Sungguh kebencian dihati Dira semakin memuncak.

__ADS_1


__ADS_2