
Sepeninggal Caca dan Gusti, kini Nick berdua saja di ruang rawat inap bersama Oma Marisa.
Sepasang ibu dan anak yang kini duduk berhadapan sambil menatap satu sama lain.
Nick menyadari Oma Marisa dengan usianya yang tak lagi muda, tentu sebagai anak satu-satunya Nick sadar betul ia belum mampu membalas jasa ibundanya.
Nick merasa hingga detik ini masih saja merepotkan dan sering membuat hati Ibunya sedih.
Terlebih semalam ia mengakui betapa bodoh dirinya.
Nick sendiri bingung dengan apa yang ada dihati dan kepalanya.
Nick buta akan perasaannya yang mungkin sudah sejak lama mati suri.
"Nick." Suara Oma Marisa pelan meski terdengar keseriusan di dalamnya.
"Aku minta maaf Mom. Aku selalu membuat susah Mom. Aku belum mampu membahagiakan Mom dan juga Caca." Nick dengan wajah sendu menatap pada wanita yang telah melahirkannya.
"Kau tahu Nick saat pertama Mom tahu Mom mengandung kamu, Mom saat itu juga memberi tahu Daddy kamu Nick. Kami berdua begitu bahagia sekali dengan kehadiran kamu di rahim Mom. Saat kamu lahir, Mom dan Daddy sangat terharu, suara tangismu begitu kencang Nick, hingga terdengar hingga seluruh koridor rumah sakit. Daddy mengatakan, putraku sejak kecil sudah sangat menarik perhatian. Kelak ia akan menjadi seseorang. Tapi kala itu Mom dengan bercanda mengatakan pada Daddy kamu, bukannya menarik perhatian Dad, putramu itu memang ingin selalu dilihat lebih, coba lihat bayi lain begitu tenang, mengapa hanya dia yang membuat seluruh dokter dan perawat dibuat susah. Mom kini teringat akan saat itu." Oma Marisa mengenang kejadian puluhan tahun silam.
Nick tersenyum mendengar cerita Oma Marisa.
"Nich, Mom sudah tua. Mom juga tidak tahu sampai kapan Mom bisa mendampingi kalian. Jikalau Mom bisa meminta ingin rasanya terus mendampingi kamu dan caca, bahkan hingga Caca memiliki anak. Namun usia tidak ada yang pernah tahu sampai kapan kita diberikan hidup oleh Allah." Tampak Oma Marisa merangkai kata-katanya dengan baik.
Nick tak menyela, mendengarkan dengan bijak setiap ucapan sang ibu.
"Nick, Mom tidak memaksakan kamu untuk mencintai Kanaya. Karena Mom tahu dihatimu masih ada Aurel kan? Mom hanya memikirkan Caca. Caca tentu membutuhkan sosok Ibu untuk mendampinginya hingga saat ia menikah nanti. Mom melihat Caca begitu menyayangi Kanaya. Namun Mom tak akan memaksakan, karena jodoh adalah takdir Allah. Begitupun Caca pelan-pelan akan Mom beri pengertian, bahwa cinta dan jodoh tidak bisa dipaksakan." Oma Marisa dengan lembut mencoba memahami.
__ADS_1
"Mom, mungkinkah aku jatuh cinta? Disaat hatiku masih mencintai Aurel?" Kata-kata Nick yang terlontar dari bibir pria yang kini terlihat pucat berbaring diatas brangkar RS.
"Aku sendiri tidak mengerti, dengan apa yang terjadi dalam hatiku. Tak sedikitpun aku melupakan Aurel, ingatanku masih begitu jelas kepadanya, tak satupun yang terlupa bagaimana aku dan Aurel dari dulu hingga sekarang, tapi seolah ada perasaan tidak rela manakala wanita yang dekat dengan putriku kini akan menjadi milik orang lain. Aku bingung Mom." Kali ini Nick dengan jujur menjelaskan bagaimana situasi hatinya.
"Apakah wanita itu Kanaya?" Oma Marisa menatap netra biru putranya yang mewarisi mata almarhum suaminya, Daddy Nick.
"Tidak tahu. Melihat mereka semakin dekat, aku kesal. Namun aku sendiri masih mencintai Aurel. Saat Caca semalam mengatakan bahwa ia menginginkan Kanaya sebagai bundanya ada sakit dihatiku karena aku sendiri bingung akan apa yang aku rasakan. Aku tidak mau perasaanku ini hanya sebuah pelarian, karena tidak ada wanita manapun yang mau berbagi hati. Aku masih mencintai Aurel tapi aku tidak rela Kanaya semakin dekat dengan Ustadz Salman."
Oma Marisa melihat jelas kebimbangan dalam raut wajah Nick.
Meski Oma Marisi meyakini, cinta itu telah tumbuh di hati putranya untuk Kanaya.
Namun disisi lain, seperti yang diucap oleh Nick, Kanaya pun tentu tidak salah, ia bebas memilih pria mana yang terbaik bagi dirinya.
"Nick, Allah maha membolak balikkan hati setiap hambanya. Mom pernah mendengar saat satu penceramah mengatakan begini, Allah itu sebagaimana prasangka hambanya, maka sebagai manusia dan hamba wajib kita berprasangka baik kepada Allah. Lalu dilanjutkan lagi Ustadzah itu mengatakan, tidak ada yang mustahil bagi Allah. Kita adalah mahkluknya maka Allah yang maha mengetahui apa yang menjadi kebutuhan dan keinginan kita. Karena sesungguhnya Allah tidak hanya memberikan apa yang kita inginkan tetapi Allah memberikan apa yang kita butuhkan. Jika memang Kanaya adalah jodohmu Nick sesulit apapun halangan dan bimbang apapun hatimu, maka akan Allah akan tunjukkan dan mudahkan kalian bersama. Sebaliknya sekeras apapun kamu menolak, jika Allah berkehendak kalian berjodoh dengan semudah membalikan telapak tangan bukanlah hal yang sulit bagi Allah untuk mempersatukan hambanya hingga berjodoh." Oma Marisa membagikan isi ceramah seorang ustadzah yang pernah ia dengar saat menghadiri majlis taklim bersama teman-teman sosialitanya.
Nick menyadari sudah lama ia meninggalkan shalat. Betapa ia menyadari sangat jauh ia dengan sang pencipta.
Padahal Allah begitu baik kepada Nick. Kesuksesan, kemapanan dan memiliki putri pintar, sehat dan cantik, ibu yang menyayanginya, seakan Nick menjadi hamba yang kufur nikmat.
"Assalamualaikum. Daddy, sudah makan?" Caca segera menghampiri Nick dan memeluk Daddynya.
"Kamu sudah makan Sayang?" Nick balik bertanya.
"Caca sudah makan Dad tadi dengan Om Gusti. Oh iya Oma ini Om Gusti membelikan makanan untuk Oma." Caca menyerahkan paper bag berisi makanan untuk Oma Marisa.
"Kamu repot -repot Gus. Terima kasih ya." Oma Marisa menerima pemberian dari Gusti.
__ADS_1
"Kau tidak membawakan apapun untuk Boss mu ini?" Nick dengan penasaran.
"Boss bukannya belum boleh makan aneh-aneh dulu, nah itu sudah diantarkan makan oleh perawat.
"Siang dengan pasien atas nama Bapak Nicholas Bryan, ini makan siangnya." Perawat menyerahkan set makanan ala pasien RS.
"Terima kasih ya sus." Jawab Oma Marisa saat perawat yang mengantar makanan pamit.
"Nick ayo makan. Mom suapi kamu!"
"Bubur? Itu apa Mom? Ayam giling?" Nich melihat set menu yang semuanya terlihat makanan lunak membuat Nick tak selera.
"Kenapa menu makananku seperti kakek tua tak punya gigi! Huft!" Keluhan Nick semakin malas makan.
"Makanya kau nurut ucapan Mom jangan minum air setan ya begini akibatnya! Sudah makan saja, telan tidak usah dirasa. Kau mau menginap lebih lama disini?" Oma Marisa mengomeli Nick yang kembali menyebalkan padahal keduanya baru saja mengharu biru.
"Oma Daddy minum air apa? Air setan? Seperti apa Oma bentuknya?" Caca penasaran dengan ucapan Omanya.
"Mom, ada Caca, kenapa asal ucap?" Nick berbisik.
"Makanya kau jangan aneh aneh, duda tua! Cepat makan dan minum obat! Kau harus cari istri yang sabar, karena Mom tidak sabar mengurusimu yang tidak menurut dengan Mom!"
"Kau jangan tertawa Gus! Aku potong nanti gajimu!" Nick melihat Gusti tersenyum Boss Killernya kini menjadi anak penurut pada Nyonya Oma.
"Daddy jangan marah-marah, nanti Daddy lekas tua." Caca menyanyikan lirik lagu yang viral di aplikasi toktok.
"Astaga! Caca! Pasti ini Oma yang mengajarkan." Bisik Nick pada Mom.
__ADS_1
"Sudah kau makan saja. Ayo habiskan Nick!" Bagai ibu tiri Oma Marisa meminta Nick menghabiskan makanannya.