
Malam ini Nick akan datang memenuhi undangan sebuah acara perkumpulan para pebisnis yang memang biasa dilakukan.
Jika biasanya Nick selalu enggan hadir, malam ini Nick begitu bersemangat untuk datang ke acara tersebut.
Dengan stelan jas berwarna biru dongker, tatanan rambut yang baru ia potong oleh stylish kenamaan langganan Nick, dengan jam tangan branded serta segala yang melekat ditubuhnya bisa ditaksir tak kurang dari 20 M seakan menegaskan bahwa dirinya adalah pria dengan sejuta pesona.
Soal paras tampan tak usah lagi diragukan. Nick tentu saja memiliki itu pada dirinya.
Meski kekurangan Nick adalah sikapnya yang sedingin kulkas 2 pintu membuatnya terkesan killer, jutek dan misterius.
Tampak 2 pria berbeda generasi kini duduk berdampingan disebuah mobil mewah yang akan membawa mereka keacara yang sangat bergengsi.
"Tidak biasanya Abah mengikutsertakan Salman. Rasanya cukup Abah saja yang hadir. Biasanya seperti itu."
"Kelak kamu akan meneruskan segala apa yang Abah miliki Salman. Kecuali, jika adikmu," Kyai Abdullah menggantung kata-katanya.
"Doakan saja bah, dimanapun Khalisa berada semoga Allah menjaga dan melindunginya."
Tatapan menerawang terlihat jelas dari sorot mata Kyai Abdullah.
"Daddy, cepat sedikit! Nanti kita terlambat!" Sonia sudah siap dengan busana terbaiknya, menampilkan lekuk tubuhnya yang seksi mempesona.
"Sabar Sayang. Kenapa kamu jadi tidak sabar. Apakah karena kehadiran Nick?" David Hofman tersenyum pada putrinya.
Tentu saja Sonia sudah memastikan bahwa Nick akan datang malam ini dah ia akan menggunakan kesempatan hari ini untuk mendapatkan Nick.
Tampak disebuah rumah mewah Alvin yang sesang mematut diri memastikan paras dan penampilannya agar tampan maksimal seolah ingin terlihat sempurna.
"Mama senang akhirnya kamu berkesempatan datang keacara bergengsi itu Vin. Dulu saat Papamu masih ada, tak pernah absen menghadirinya. Ayo Vin kamu harus kembalikan kejayaan keluarga kita. Carilah wanita yang sederajat dengan kita untuk menjadi istrimu! Jangan janda miskin yang tidak jelas asal usulnya!"
Alvin tahu maksud sindiran ibunya memilih segera berangkat dari pada pusing mendengar petuah-petuah sang ibu.
"Tuan mobil sudah siap."
Pria paruh baya yang masih gagah kini bangkit dari kursinya berjalan melewati wanita yang dengan setia mendampinginya selama ini tak lain istri yang tak dianggap.
"Mas, pulang jam berapa?" Wajah yang tak lagi muda, meski kecantikan tak luntur dari wanita yang dengan lembut menyapa suami yang tak punya hati.
"Sudah ada kabar mengenai putriku?"
"Putri Tuan masih bekerja di NBC. Nona juga pindah dari kos nya yang dulu."
"Awasi terus. Jangan sampai kita kehilangan jejaknya. Anak itu, bikin pusing saja!"
"Siap Tuan."
"Kamu siapkan kamar untuk putriku, aku akan membawanya tinggal dirumah kita!"
__ADS_1
Departement penyiaran NBC.
"Mbak Naya, ga pulang?" Dira duduk di hadapan Kanaya yang masih terlihat mengetik di laptop.
"Sebentar lagi Dira. Kenapa?"
"Mbak, aku sebenarnya sedang cari kosan. Tapi belum dapat."
Kanaya menghentikan pekerjaannya.
"Memang kosan mu sekarang kenapa Dir?"
"Eh, itu Mbak. Mau direnovasi sama yang punya. Jadi diminta pindah."
"Sebenarnya ada sih, tapi kontrakan Dir. Di tempat aku ngontrak, ada satu yang kosong. Tapi kamu kan tahu, kontrakanku kecil dan tak sebagus kosanmu. Fasilitasnya juga seadanya."
"Aku mau Mbak. Boleh ya antar aku kesana. Aku mau lihat langsung."
"Ya sudah kalau begitu. Aku selesaikan dulu ya, tinggal sedikit lagi."
Ada rasa lega di hati Dira.
Beberapa hari ini Dira berpindah-pindah hotel demi menghindar. Namun keuangan Dira yang semakin menipis memaksa Dira kembali mencari tempat tinggal yang bisa ia tempati secara permanen.
"Mbak Naya, anak-anak kantor masih gosipin Mbak loh dengan Ustadz Salman."
"Jujur Mbak aku sempat kaget saat melihat berita itu, sedikit sedih sih. Karena aku fans banget sama Ustadz Salman. Bawaannya adem aja gitu kalo liat Ustadz Salman kayak ubin Masjid!" Dira mengatakannya sambil tersipu.
"Kamu ada-ada saja Dira, memang ubin Masjid adem gitu? Kamu sudah pernah mencoba?" Canda Kanaya.
"Ya istilah saja Mbak. Habis, dulu aku ngejar pak Gusti tapi ga ada respon, lagi pula aku bakal kayak Mahalini dan Rizky Febian, Melawan Restu! Duh, enggak deh Mbak. Ga berani!"
Kanaya selalu dibuat tertawa dengan keceriaan dan sikap ceplas ceplosnya Dira.
Dira dan Kanaya kini menuju kontrakan Kanaya.
Keduanya menemui rumah pemilik kontrakan tempat Kanaya mengontrak.
Alhamdulillah Dira akhirnya memutuskan mengambil kontrakan petak yang kosong sejajar dengan petakan Kanaya.
Setelah melunasi pembayaran, Dira diberikan kunci dan kembali menuju petakan yang kini akan menjadi tempat beristirahat selepas lelah bekerja.
"Mbak, besok aku minta temani mencari kasur ya. Soalnya dulu dikosan kasur disediakan, jadi sekarang aku ga punya kasur."
"Iya. Besok kita cari."
"Oh iya Mbak. Boleh tidak, malam ini aku numpanh di rumah Mbak Naya. Sebenarnya, aku sudah kemas barang-barang aku dimobil. Jadi aku sudah ga perlu ambil barang-barang dikosan."
__ADS_1
"Oh gitu. Yasudah, malam ini kami tidur di tempatku saja. Lagipula kasir juga belum ada. Kalo kamu tidur tanpa alas nanti uang ada masuk angin."
"Maaf ya Mbak aku ngerepotin Mbak Naya."
"Ga lah Dir. Yuk kita masuk. Mau mandi gerah. Kamu juga."
Kanaya menggandeng Dira masuk ke rumah kontrakan Kanaya.
"Nich, kamu ganteng banget! Tumben!" Oma Marisa yang senang meledek putra dudanya semakin membuat wajah Nick yang sedang bete semakin bete.
"Mom bercanda Nick. Sayang lihat daddy kamu, pundung sama Oma."
"Daddy tampan sekali malam ini." Puji Caca yang sudah sembuh sejak beberapa hari lalu dan sudah kembali ke sekolah.
"Daddy selalu tampan kapanpun dan dimanapun."
Nich mengusap dan memberi kecupan di pucuk kepala putri kesayangannya.
"Ok. Daddy Caca paling tampan. Apalagi kalau senyum."
Gusti tertawa mendengar ucapan Caca namun segera terhenti manakala tatapan Boss Killernya mengarah kepadanya.
"Mom, aku berangkat. Sayang, Daddy pergi dulu ya. Jangan tidur malam. Jaga Oma ya!"
"Nyonya Oma, Nona Caca, Saya pamit mengantar Boss."
"Om Gusti, ganteng deh!"
"Makasih Nona."
"Hati-hati Nick. Gusti, jangan ngebut ya."
"Siap Nyonya Oma."
"Salamnya mana Daddy."
"Assalamulaikum Sayang."
"Waalaikumsalam Daddy."
"Oma, Daddy tuh ganteng loh sebenarnya, cuma Daddy tuh galak dan kayak elsa, jarang senyum jadi Dad kelihatan Killer!"
"Enggak Sayang, Oma yakin kelak Daddy kamu akan kembali ceria dan pastinya putra Oma itu akan kembali jadi pria tampan yang murah senyum."
"Emang Daddy dulu ga jutek dan galak gitu Oma?"
Oma Marisa menggelengkan kepala, memorinya membawa pada masa dimana saat Nick begitu bahagia bersama mendiang Aurel ibu dari Caca.
__ADS_1