
Finally, resepsi megah dan mewah yang sengaja dibuat olah Oma Marisa untuk Nick dan Khalisa selesai dengan tamu undangan yang melimpah ruah hingga sang raja seharian terus menggerutu karena menunggu lama untuk bisa segera menghabiskan waktu berduaan dengan pasangan halalnya.
Setelah semua keluarga kembali ke kamar hotelnya masing-masing kini tinggallah kedua pengantin baru yang tak lain si mantan duda dan mantan janda sudah berada di sebuah kamar hotel yang sangat indah dengan lampu temaram, taburan kelopak bunga mawar, sepasang angsa cantik yang menghiasi ranjang besar milik keduanya sebagai saksi mereguk manisnya malam panjang yang akan mereka lalui bersama.
Meski bukan pertama kali bagi Nick maupun Khalisa sejujurnya kedua tetap diliputi perasaan grogi.
Nick yang sudah lama tak merasakan hangatnya ranjang yang selama ini berteman guling dan selimut sebagai penghangat tidurnya tapi saat ini dihadapan matanya seorang bidadari cantik secara nyata ada dikamar berdua dengannya tentu menimbulkan gelora yang telah lama padam kini kembali membuncah.
Khalisa terlihat sedang membersihkan riasan diwajahnya.
Tentu saja ia menghabiskan sedikit waktu agak lama membersihkan polesan MUA yang membuatnya menjadi ratu sehari.
"Ya Allah, kau harus bisa Nick! Ingat, kau laki-laki harus memulai lebih dulu! Sudah halal! Gas pool!" batin Nick meyakinkan dirinya.
"Sayang, apa mau aku bantu melepas hiasan ini." Nick mendekati Khalisa dan kini dengan keberanian dan semangat malam pertama kedua tangan Nick sudah memegang bahu Khalisa.
Tak berbeda dengan Nick, Khalisa pun tak memungkiri debaran jantungnya membuat ia merasakan lemas apalagi saat ini melihat pantulan Nick dari kaca dengan kedua tangannya mendarat lembut di bahu miliknya.
"Eh," terlihat Khalisa kesulitan berkata-kata membuat Nick semakin gemas dan tak sabar ingin segera membawa istri tercintanya melintasi cakrawala mereguk surga dunia bersama.
"Mulai malam ini aku mau kamu panggil aku Sayang." bisikan Nick membuat Khalisa berdesir hebat terlebih sapuan deru nafas hangat Nick membelai pipi Khalisa.
Nick menuntun Khalisa duduk di tepi ranjang.
Nick bisa merasakan dinginnya tangan Khalisa menandakan ketegangan dan gugup terlebih berkali-kali Nich melihat Khalisa mengalihkan pandangan Nick kepadanya.
"Sayang," Nick perlahan memegang dagu Khalisa membawa wajah cantik istri agar menatap dirinya.
Khalisa menuruti kini ia bersitatap dengan wajah tampan Nick sebegitu dekat.
"Terima kasih telah bersedia menjadi istriku, pasangan halalku, ibu bagi Caca dan anak-anak kita kelak." Genggaman tangan Nick kini berpindah pada kedua bahu Khalisa.
"Apakah kamu siap jika malam ini kita menghabiskan malam menikmati indahnya lautan cinta menikmati surga dunia?"
Tentu saja Khalisa paham maksud dari perkataan Nick.
__ADS_1
"Insha Allah aku siap Mas." Khalisa tampaknya memiliki panggilan baru untuk Nick yang kini adalah suaminya.
"Boleh juga. Aku suka dipanggil Mas," Nick tersenyum karena selama ini tak ada yang memanggil ia dengan sebutan Mas.
"Bolehkah sebelum memulainya kita sebaiknya melaksanakan shalat sunah dulu, aku dan kamu juga harus membersihkan diri bukan. Tubuhku lengket sejak tadi memakai gaun ini." Khalisa memang ingin segera mandi karena ia merasakan gerah dan butuh menyegarkan diri.
"Tentu Sayang, akupun gerah sekali. Apa kita mandi berdua saja?" Goda Nick sambil mengedipkan sebelah matanya.
Tentu saja perkataan Nick membuat reflek Khalisa mencubit perut suaminya namun ia kesulitan meraihnya.
Khalisa Nich itu perutnya kotak-kotak layaknya roti sobek, pasti susah nyubitnya.
"Nakal ya kamu Sayang, cubit-cubit Mas." Nick berhasil menangkap tangan Khalisa.
Dipandang selekat itu Khalisa grogi bukan main.
"Aku mandi dulu ya Mas." Khalisa berdiri ingin segera masuk kamar mandi.
"Perlu aku bantu melepas gaunmu?" Nick melihat tadi Khalisa kesulitan untuk menurunkan resleting dipunggungnya.
"Bo,Boleh Mas."
Nick bisa melihat tubuh Khalisa bergetar. Nick tersenyum melihat kesamaan keduanya meski Nick sudah mulai bisa mengkondisikan situasi.
"Apakah aku boleh membuka kerudungmu terlebih dahulu?"
Anggukan Khalisa membuat Nick memulai pergerakannya dengan senyum ceria.
Satu persatu jarum pentul yang tersemat pada kerudung Khalisa mulai dilepas oleh Nick.
Helai demi helai kain pembungkus kepala sang istri mulai terlepas.
Hingga harnet yang melapisi rambut Khalisa menjadi bagian terakhir yang Nick lepas, betapa Nick tak bisa berkata-kata melihat pemandangan cantik mempesona dihadapan matanya.
Rambut hitam panjang terurai indah milik Khalisa yang selama ini tak pernah ia lihat kini terpampang nyata dalam netra milik Nick.
__ADS_1
"Sayang kamu cantik sekali." Nick membelai surai panjang dan lembut Khalisa menikmati helai demi helai rambut yang terasa lembut dalam tangannya.
Perlahan Nick mengikis jarak keduanya seolah tiada lagi jarak yang bisa memisahkan mereka.
Sejatinya Nick pria normal yang tentu tergoda akan perhiasan dunia yang kini halal baginya berada dihadapannya.
Bibir merah tanpa pulasan lipstik milik Khalisa membuat Nich tak sabar ingin merasakan manisnya kelembutan disana.
Khalisa tahu Nick akan melakukan apa tanpa sadar menutup matanya hingga hangat dari lembutnya sesuatu yang kenyal kini sudah mendarat tepat dibibirnya.
Betapa Khalisa bisa merasakan deru nafas tak beraturan milik Nick manakala sentuhan lembut dibibirnya kini perlahan berganti dengan ******* yang semakin menuntut.
Khalisa mengikuti permainan Nick bertukar saliva mengecap madu yang saling mereka berikan hingga nafas keduanya tersengal-sengal.
Nick melepaskan pagutannya dari bibir manis ia barusaja ia nikmati dan mampu membuatnya ingin kembali mengulangi.
Mengelap sisa saliva yang membasahi bibir Khalisa Nick tersenyum.
"Sayang, mandilah, aku akan menunggu disini dan kita shalat sunah bersama." Nick masih bisa menahan diri dan ingat akan permintaan Khalisa agar mereka melaksanakan shalat sunah terlebih dahulu.
Anggukan Khalisa disertai senyumannya segera membawa diri dan paperbag sebagai pakaian ganti menuju kamar mandi.
Sementara Nick tersenyum menatap Khalisa yang kini sudah berada dikamar mandi.
Terdengar percikan air membuat pikiran Nick semakin sulit berkonsentrasi membayangkan tubuh Khalisa dibawah aliran shower tanpa sehelai benang membuat si Joni seketika menegang tanpa permisi.
"Relax Bro, sebentar lagi kamu tidak akan kedinginan lagi, karena mulai malam ini, kamu akan merasakan hangatnya persemayaman yang akan menemani malam-malam panas kita." Nick dengan bahagia seakan mengajak si Joni berdialog.
Ceklek!
Nick menatap Khalisa dalam balutan bathdrobe dengan rambut basah terurai habis keramas.
Tentu saja membuat si Joni semakin blingsatan dibawah sana ingin segera lepas dari kandangnya.
"Mas, mandi dulu. Aku akan siapkan baju dan sajadah untuk kita shalat berjamaah." Suara Khalisa membuyarkan fantasi Nick yang sudah berpetualang entah membayangkan apa.
__ADS_1
"Ok Sayang. Tunggu aku," Nick melangkah menuju toilet.
"Ya Allah, baru begitu saja kamu sudah begini Jon!" Nick memutar kran shower membasahi tubuhnya yang kini terasa panas terbakar gairah.