JANDA SHOLEHAH JODOH CEO DUDA AROGAN

JANDA SHOLEHAH JODOH CEO DUDA AROGAN
Kontraksi


__ADS_3

"Mas," Khalisa menguncang lengan Nick yang sedang tertidur pulas di sebelahnya.


"Sayang, perutmu sakit?" Nick seketika melebarkan matanya saat melihat Khalisa meringis kesakitan.


"Mas, sepertinya Aku kontraksi. Perutku mulas sekali. Tolong panggil Mom." Khalisa merasakan perutnya mulas dan pinggang terasa panas dan seperti mau patah.


"Tunggu sebentar Sayang, ke kamar Mom sekarang." Betapa paniknya Nick hingga ia memilih langsung mengetuk kamar Oma Marisa.


"Iya Mas, jangan lama-lama ya." Khalisa mengatur nafas seperti yang diajarkan oleh Dokter Obgyn saat ia periksa.


Tok,Tok,Tok!


Oma Marisa memang selalu bangun dipukul setengah tigaan. Menunaikan shalat tahajud. Semenjak pulang umroh Oma Marisa memang semakin banyak meluangkan waktunya mengisi dengan memperbanyak ibadah.


"Nick ada apa?"membuka pintu didapati Nick sudah panik dan cemas.


"Mom Khalisa kontraksi. Cepat Mom." Nick dengan suara sedikit blibet dan nafasnya tersengal-sengal.


"Ayo." Melepas mukena yang dipakai, Oma Marisa memakai kerudung dan bergegas ke kamar Nick.


"Sayang, coba Mom lihat." Oma Marisa mendekat pada Khalisa melihat apakah ada air ketuban yang keluar.


"Aku tidak tahan hingga pipis Mom. Maaf." Khalisa yang merupakan pengalaman pertama menganggap ia pipis namun tanpa ia bisa kontrol.


"Sayang, ini bukan pipis Nak. Nick cepat bawa Khalisa ke Rumah Sakit. Ketubannya sudah keluar." Oma Marisa membantu Khalisa bersiap sementara Nick meminta sopir untuk mengantar mereka ke RS.


Oma Marisa tak lupa berpesan kepada Bibi Art saat Caca bangun untuk bilang bahwa mereka sedang menuju Rumah Sakit dan meminta Bibi ART mengurus keperluan Caca.


"Mom, kenapa sakit sekali. Astagfirullah." Khalisa berulang kali istigfar.


"Perbanyak beristigfar Sayang. Insha Allah sebentar lagi kita sampai. Tarik nafas perlahan Nak. Iya begitu." Mom Marisa membimbing Khalisa yang sudah banjir keringat dengan nafasnya tersengal.


"Sayang, bertahanlah." Nick dengan raut wajah khawatir terus berdoa agar istri dan baby twins selamat saat lahir.


Sementara di Kediaman Kyai Abdullah, Ustadz Salman dan Abah sudah berangkat ke Masjid untuk shalat subuh berjamaah.


Dira baru saja selesai menunaikan shalat subub di kamar seketika pusing dan mual.


Huek! Huek! Huek!

__ADS_1


Ustadz Salman tersenyum saat memasuki kamar teringat pesan Abahnya yang senang sekali berguyon meski dalam guyonannya berisi nasehat untuk ia dan Dira.


Namun senyum Ustadz Salman berubah saat mendengar suara muntah di kamar mandi.


"Sayang, Kamu sakit? Kenapa mual?" Ustadz Salman memijat tengkuk leher Dira yang kini sedang mengeluarkan isi perutnya.


Dira menarik nafas, mencuci mulut dan mukanya.


Melihat wajah Dira pucat dan kuyuk, Ustadz Salman membimbing Dira ke ranjang, mengalasi punggung Dira dengan bantal saat bersandar di kepala ranjang.


"Kepalaku pusing dan perutku mual sekali Kak." Dira memejamkan matanya, rasa di kepala sedikit berputar.


"Sayang, Kakak panggil Dokter ya. Sejak kemarin Kamu memang tidak selera makan." Sambil memijat kepala Dira Ustadz Salman menghubungi Dokter.


Kembali pada Nick, Khalisa segera di larikan ke ruang IGD.


"Apakah istri Saya akan melahirkan?" Nick to rhe point ia tak sanggup melihat istrinya menahan sakit seperti itu.


"Pembukaannya masih belum lengkap Pak. Kita akan tunggu sampai pembukaan lengkap. Saat ini masih pembukaan 4." Dokter menjelaskan setelah memeriksa Khalisa.


"Nick, Kamu tenang. Jangan panik. Khalisa akan cemas melihatmu begini. Sekarang lebih baik Kamu mengusap punggungnya, sambil banyak berzikir." Oma Marisa menuntun Nick agar menetralkan kecemasannya agar tidak mempengaruhi psikis Khalisa.


"Sayang, atur nafas. Masih bisa jalan? Kalau bisa kita pelan-pelan berjalan. Tapi kalau sakit. Atur nafas buang nafas, perbanyak dzikir Nak." Oma Marisa mengusap punggung perlahan sambil mengkomando inhale dan exhale pada Khalisa.


"Bagaimana Dok, Istri Saya sakit apa?" Ustadz Salman dan Abah Abdullah berbicara di luar kamar.


"Tidak perlu khawatir. Bu Dira tidak sakit apa-apa. Itu normal terjadi di awal kehamilan. Berdasarkan pemeriksaan, Bu Dira mengatakan sudah telat datang bulan. Lalu gejala yang dialami juga sama seperti dimasa awal kehamilan. Saya merekomendasikan untuk Bu Dira di periksa lebih lanjut di Poli Obgyn agar lebih tahu kondisinya sepertinya. Insha Allah berdasarkan pengalaman Saya, Bu Dira positif hamil." Dokter menepuk bahu Ustadz Salman.


Ustadz Salman termenung, bahagia bercampur haru.


"Dokter terima kasih." Kyai Abdullah mewakili Ustadz Salman yang melihat putranya seperti kebingungan.


"Salman, cepat masuk sana. Ajak Dira ke Rumah Sakit. Benar saran Dokter. Lebih cepat lebih baik." Kyai Abdullah menepuk bahu putranya.


"Baik Abah. Salman ke kamar dulu."


Rasanya detik demi detik berlalu lebih lambat. Nick tak kuasa melihat Khalisa berjuang melewati fase-fase kontraksi.


"Sayang, apa tidak sebaiknya operasi saja. Mas tak sanggup melihat Kamu kesakitan." Nick sudah pucat pasi bahkan pikirannya semakin parno teringat bagaimana Aurel dulu harus kehilangan nyawa saat melahirkan Caca.

__ADS_1


"Mas, Dokter mengatakan kondisiku bisa melahirlan secara normal. Insha Allah Aku kuat Mas. Bantu doa yang banyak. Semua akan baik-baik saja." Keringat sudah membanjiri kerudung Khalisa dan nafasnya sudah mulai berat.


Setelah melewati perjuangan yang tak mudah, Dokter menyatakan Khalisa sudah mencapai pembukaan lengkap.


Khalisa di dampingi Nick, bersama Dokter dan tim medis kini bersiap menyambut kelahiran generasi Nicholas Bryan.


"Sayang, kalau sakit gapapa pukul saja Mas." Nick memiliki pengalaman saat menemani Aurel melahirkan Caca.


"Insha Allah Aku kuat. Allah bersamaku dan anak-anak Kita Mas." Khalisa optimis.


Sementara Oma Marisa berada di luar.


"Nyonya Oma."


"Oma, Bunda bagaimana? Apa adik baby sudah lahir?"


Gusti membawa Caca setelah ia menjemput Caca di sekokahnya.


Caca mau langsung ke Rumah Sakit. Ingin ikut menunggui Bundanya.


"Masih di dalam. Kita semua berdoa agar Khalisa dan bayinya selamat, sehat dan tidak terjadi apa-apa." Oma Marisa sejak tadi tak henti berdzikir demi kelancaran persalinan Khalisa dan keselamatan Khalisa dan baby twins.


Di dalam ruang persalinan, Dokter dan lerawat terus memberikan arahan pada Khalisa untuk mengejan.


"Terus Ibu, kepalanya sudah terlihat. Ayo Bu, lebih kuat lagi." Dokter berkali memberikan arahan.


"Sayang, Kamu kuat, Kamu hebat. Ayo Sayang." Nick mengusap peluh di dahi Khalisa, beberapa kali ia mengecup menyalurkan semangat.


"Bismillahirahmahnirahhim. Ahhhhh.!" Khalisa mengejan dengan sekuat tenaga.


Oek,Oek,Oek!


"Alhamdulillah Bu sudah lahir 1 orang putra. Keadaan lengkap. Ayo Bu sekali lagi masih ada lagi. Kepalanya mulai terlihat." Dokter menyerahkan bayi pertama kepada perawat dan kembali memimpin persalinan kedua.


Dengan kekuatan penuh dan tenaga yang maksimal Khalisa berhasil melahirkan bayi kedua yang berjenis kelamin laki-laki.


Khalisa menafas panjang. Menjatuhkan punggungnya, sambil mengatur nafas setelah merasakan bayi keduanya berhasil lahir disambut tangisan sang anak.


"Alhamdulillah. Putra kita keduanya laki-laki Sayang. Terima kasih. Kamu wanita terhebat. Terima kasih Dokter. Sayang ini Daddy Nak." Nick tak kuasa menahan kebahagiaannya hingga airmatanya terus mengalir deras membasahi pipi.

__ADS_1


"Selamat Ibu Khalisa. Putra Ibu kembar. Keduanya laki-laki. Pak Nick silahkan diadzankan dulu kedua putra Bapak." Dokter meminta sang Ayah Twins mengadzani kedua putranya.


Khalisa dalam sisa tenaganya, memandang haru. Tak menyangka, ia yang sempat di katakan mandul oleh orang-orang, hari ini Allah berikan anugrah terindah, dua orang bayi kembar laki-laki yang sangat tampan.


__ADS_2