JANDA SHOLEHAH JODOH CEO DUDA AROGAN

JANDA SHOLEHAH JODOH CEO DUDA AROGAN
Bertemu


__ADS_3

Nick yang sudah kembali sehat hari ini siap untuk berangkat ke kantor.


Setelah hampir 5 hari ia tidak datang ke kantor tentu saja karena Oma Marisa bawel memastikan Nick sampai sehat betul baru mengizinkan putranya kembali bekerja.


Karena Oma Marisa tahu betul Nick itu gila kerja, kalau ga dipaksa istirahat maka yang ada malah ke kantor sepulang dari RS.


Gusti sudah sampai dan ia diminta Oma Marisa untuk ikut sarapan bersama.


"Daddy hari ini antar Caca kesekolah ya. Caca kangen diantar Daddy!" Caca tidak ingin penolakan.


"Iya Daddy akan antar Caca. Tapi pulangnya Daddy ga bisa jemput Sayang. Gapapa kan?" Nick mengusap lembut kepala Caca.


"Iya gapapa Daddy. Biar Oma saja yang jemput Caca." Caca meneruskan sarapannya.


Kini Nick, Gusti, driver dan Caca berada didalam mobil menuju kesekolah Caca.


"Dad, tapi Caca masih boleh kan belajar sama Tante Kanaya dan Om Ustadz? Tapi kalau ga boleh juga gapapa kok." Caca menyadari permintaannya takut Nick marah.


"Boleh kok Sayang." Nick memaksakan senyumnya demi Caca.


"Beneran Dad?" Caca memastikan.


"Iya. Boleh." Nick tersenyum mesti hari ini saja ia enggan jika bertemu keduanya di perusahaan.


"Makasi Daddy!"


Gusti yang melihat raut wajah Nick seakan tahu si Boss tidak baik-baik saja.


Jika biasanya Nick selalu mencari cara untuk melihat Kanaya kali ini Nick terkesan menghindari salah satu pegawai NBC itu.


Sementara Kanaya dan Ustadz Salman mereka menjalani tugasnya masing-masing, Ustadz Salman syuting acara tausiah dan Kanaya kembali menjadi FD untuk syuting program tausyiah tersebut.


Nick yang melakukan breafing dengan semua kepada divisi larut dalam pekerjaannya setalah ia beberapa hari tidak masuk kantor.


Nick hendak keluar dari ruang meeting tak menyangka dihadapannya kedua orang yang ia tak ingin lihat malah secara bersama kini datang menemuinya.


"Assalamualaikum Tuan Nick. Apa kabar? Bagaimana keadaan Tuan. Waktu itu kami ingin menjenguk Tuan Nick ke RS namun Pak Gusti mengatakan bahwa RS tidak memperbolehkan karena demi kenyamanan pasien." Ustadz Salman datang menemui Nick bersama Kanaya.

__ADS_1


"Bahkan mereka dengan terang-terangan mengatakan kami." Batin Nick rasanya enggan mendengar dan melihat keduanya.


"Seperti Ustadz lihat Saya sudah baik-baik saja. Oh betul. Memang seperti itu. Ya mau bagaimana lagi. Sebagai pasien Saya mengikuti saja." Padahal Nick yang mengatakan pada Gusti tidak mau menerima kunjungan dari siapapun.


Nick menatap Kanaya entah mengapa ada rasa sesak di dadanya saat melihat sosok yang terlanjur mencuri hatinya namun tak bisa ia raih sebelum sempat ia berjuang.


Kanaya yang ditatap oleh Nick sedemikian rupa memilih mengalihkan pandangannya dan sialnya Kanaya menatap Ustadz Salman sambil tersenyum begitupun Ustadz Salman dengan senyuman manisnya menatap Kanaya aka Khalisa.


Pemandangan saling lempar senyum dengan keduanya yang saling menatap seakan membakar cemburu hati Nick yang ingin segera pergi dari sana.


"Alhamdulillah kalau Boss sudah sehat." Kanaya kini bersuara." Memecah kecanggungan.


"Tuan Nick Saya atas nama Kyai Abdullah, mau mengundang Tuan Nick, Ibu Marisa dan Caca untuk datang kepesantren kami dalam rangka acara syukuran. Saya berharap Tuan Nick dan keluarga menyempatkan waktu untuk hadir. Insha Allah kami berdua akan berbagi kabar bahagia ini kepada para undangan." Tatapan hangat Ustadz Salman kembali mengarah kepada Kanaya.


Kanaya merespon dengan senyuman manisnya sambil membalas senyum Ustadz Salman.


"Ya Tuhan! Mengapa harus sesakit ini! Seorang Nicholas Bryan ga boleh patah hati!" Nick dalam hati kesal setengah mati melihat interaksi keduanya.


"Tentu Saya akan hadir. Bagaimanapun semoga acara kalian berdua berjalan dengan lancar. Kalau begitu Saya permisi. Masih banyak yang harus Saya kerjakan." Pamit Nick sambil mengiyakan undangan keduanya demi menjaga harkat dan martabat meski hati hancur berkeping-keping.


"Saya juga sekalian pamit. Ada tausyiah di tempat lain. Kalau begitu Saya duluan Tuan Nick Assalamualaikum."


Kanaya memang meminta selama belum diumumkan panggil ia seperti biasa terutama dikantor.


"Terima kasih, Ustadz juga hati-hati di jalan. Ingatkan Abah minum vitamin ya." Kanaya lupa ia tak sadar bahwa ucapannya memicu kebakaran dihati seseorang yang kini hatinya sedang gersang.


Meninggalkan keromantisan keduanya Nick bergegas ke ruangannya dengan langkah lebar dan terburu-buru.


Gusti yang tahu apa yang sedang Bossnya rasakan memilih tak bersuara hanya menjaga si jarak aman bila si Boss sewaktu-waktu membutuhkannya.


Nick menutup pintu ruang kerjanya dengan kencang.


Bagai setrikaan di laundry yang mondar mandir tak jelas apa yang dilakukannya.


"Ini ga cocok denganku? Seorang Nicholas Bryan ga mungkin cemburu! Masih banyak perempuan lain yang lebih segalanya dari Kanaya! EHGGGG!" Nick menyugar kasar rambutnya melempar map yang ada diatas mejanya berceceran dilantai.


Gusti mendengar teriakan sang Boss.

__ADS_1


Ia membiarkan saja tak masuk.


Gusti tahu Boss Killernya cemburu berat dengan kedekatan Kanaya dan Ustadz Salman.


Namun ada yang menarik perhatian Gusti.


Gusti tahu pasti ada sesuatu dengan Kanaya dan Ustadz Salman.


Menurut Gusti Kanaya dan Ustadz Salman adalah orang yang taat pada agamanya, selama ini interaksi keduanya pun sangat membatasi.


Gustipun tak melihat ada cincin yang menandakan adanya ikatan diantara keduanya atau paling tidak Kanaya tidak terlihat memakai cincin.


Gusti akui ia memiliki keyakinan yang berbeda namun bukan berarti ia tidak tahu seperti apa muslim dalam mengikat sebuah hubungan.


"Apa mungkin undangan tadi adalah acara lamaran keduanya?" Sebuah teka teki yang akan Gusti cari tahu sendiri.


"Tunggu, tadi Ustadz Salman mengatakan mengundang Oma Marisa dan Caca?"


"Aku akan menyampaikan kepada Nyonya Oma perihal ini. Takutnya si Boss ga bilang ke Nyonya Oma soal undangan Ustadz Salman."


*


Di sebuah kamar hotel, Baskoro dengan tangan terikat, wajahnya babak belur.


"Tuan Max, Saya akan bawa Dira segera. Saya janji akan menemukannya." Baskoro memohon pada Max.


"Aku beri waktu 2 hari. Kalau tidak. Perusahaanmu akan hancur Baskoro! Aku tidak main-main dengan ucapanku!"


Max pergi meninggalkan Baskoro dalam keadaan terikat dengan wajah bonyok babak belur.


"Dasar anak ga tahu diuntung! Beraninya kabur! Wanita mandul itu juga brengsek! Kalian semua wanita ga tahu diri! Menyusahkan!" Baskoro dengan meradang mengumpat Dira dan Amelia yang hingga tidak tahu keberadaannya dimana.


Sementara di RS Kyai Abdullah sangat bersyukur sahabatnya yang merupakan pemilik RS tempat ia melakukan tes DNA membuat lebih cepat dan kini hasil Tes DNA Kanaya sudah ada ditangan Kyai Abdullah.


"Abdullah, selamat. Akhirnya kau menemukan kembali putrimu yang hilang! Aku saja sampai terharu saat mengetahui hasilnya."


"Alhamdulillah. Aku semakin semangat saat ini. Aku ingin selalu sehat, agar bisa melihat putra dan putriku menikah dan melihat cucu-cucuku kelak."

__ADS_1


"Aamiin."


__ADS_2