JANDA SHOLEHAH JODOH CEO DUDA AROGAN

JANDA SHOLEHAH JODOH CEO DUDA AROGAN
Salah Paham


__ADS_3

Sesuai janji, Kanaya menemui Ustadz Salman sepulang kerja.


Karena setelah kembali ke kantor asa pekerjaan yang harus Kanaya selesaikan.


Alhasil keduanya bertemu dengan di dampingi Iman asisten Ustad Salman di sebuah resto dengan ruang privat mengingat keberadaan Ustadz Salman yang popular di masyarakat.


"Assalamualaikum. Maaf menunggu Ustadz." Kanaya yang datang telah melihat Ustadz Salman sudah menunggunya bersama Iman.


Kanaya juga menyapa Iman dan menangkupkan kedua tangannya memberi salam kepada keduanya.


"Waalaikumsalam Mbak Kanaya. Tidak kok. Saya juga baru sampai." Jawab Ustadz Salman.


"Maaf Ustadz sebetulnya ada apa ya, mengajak Saya bertemu?" Kanaya langsung to the poin.


Ustadz Salman mengeluarkan sebuah benda dari saku bajunya.


"Apakah ini milik Mbak Kanaya?"


"Alhamdulillah. Masih rezeki Saya. Ustadz menemukannya dimana?" Kanaya nampak sangat bersyukur benda ditangannya kembali ia temukan.


"Kemarin salah satu Santri menemukan di pesantren. Kemudian menyerahkannya pada Iman. Iman memberikan pada Saya." Ustadz Salman menjelaskan kronologinya.


"Alhamdulillah. Terima kasih Ustadz, Terima Kasih Iman. Ini begitu berharga untuk Saya. Saat hilang Saya sedih sekali namun mau bagaimana lagi." Kanaya yang hampir 2 minggu mencari benda tersebut.


"Maaf Mbak Kanaya, kalau boleh tahu apakah sangat berarti, maaf maksud Saya apakah itu begitu spesial?" Ustadz Salman mencoba mencari tahu.


Melihat wajah Kanaya yang tidak langsung menjawab, Ustadz Salman jadi tidak enak hati.


"Maaf Mbak Kanaya, jika tak berkenan menjawab tidak apa-apa. Saya lega sudah mengembalikan benda itu kepada pemiliknya."


"Oh tidak apa Ustadz. Buat Saya ini sangat berharga. Karena hanya ini benda satu-satunya yang ada pada saat Saya ditemukan. Dengan kata lain benda ini sekaligus identitas bagi Saya mengenai siapa diri Saya sebenarnya." Kanaya menatap sendu benda yang ada ditangannya.


"Mbak Kanaya boleh Saya mengatakan sesuatu?"

__ADS_1


"Ada apa Ustadz?"


Sementara tak jauh Nick dan Gusti sedang bertemu klien di restoran yang sama dengan Kanaya dan Ustadz Salman.


Nick tidak tahu, karena semua adalah pengaturan Gusti.


"Baik Tuan Nick, kita sudah sepakat mengenai hal itu, lusa tinggal pelaksanaannya saja. Saya mengundang Tuan Nick untuk product launchingnya."


"Ya Saya senang Tuan Han menerima persyaratan yang kami ajukan. Untuk launching Saya usahakan akan datang."


Nick menjabat tangan Tuan Han sebelum keduanya pergi.


"Mbak Naya, sepertinya besok Iman akan menjemput, nanti Saya dan Abah akan langsung ke lokasi. Semoga ada kabar baik bagi kita berdua. Semoga Allah pertemukan dan beri kemudahan bagi urusan kita." Ustadz Salman saat pamit dan sudah berada di luar resto.


"Aamiin. Semoga saja Ustadz Salman. Niat baik akan Allah kabulkan. Kita hanya bisa beedoa agar semua berjalan dengan lancar. Sampaikan salam Saya untuk Kiai Abdullah." Kanaya menyampaikan salam kepada ayah Ustadz Salman.


"Waalaikumsalam. Insha Allah akan Saya sampaikan pada Abah. Kalau begitu Saya pamit. Benar tidak mau Saya antar?" Ustadz Salman kembali menawari.


"Terima kasih Ustadz, Saya sudah pesan taxi online."


"Sedang apa Kamu dan Ustadz Salman disini Kanaya!" Nick dengan suara Baritonnya menghampiri Kanaya.


Nick mendengar jelas ucapan Ustadz Salman dengan Kanaya.


Keduanya tidak melihat Nich karena Nich berdiri membelakangi keduanya sambil menelpon.


Namun pendengaran Nick cukup tajam untuk mendengar isi pembicaraan keduanya.


"Mbak Naya, sepertinya besok Iman akan menjemput, nanti Saya dan Abah akan langsung ke lokasi. Semoga ada kabar baik bagi kita berdua. Semoga Allah pertemukan dan beri kemudahan bagi urusan kita." Ustadz Salman saat pamit dan sudah berada di luar resto.


"Aamiin. Semoga saja Ustadz Salman. Niat baik akan Allah kabulkan. Kita hanya bisa beedoa agar semua berjalan dengan lancar. Sampaikan salam Saya untuk Kiai Abdullah." Kanaya menyampaikan salam kepada ayah Ustadz Salman.


Tentu saja bagi Nick kata-kata keduanya bermakna ambigu dikepalanya.

__ADS_1


Seakan akan ada pertemuan antara kedua belah pihak untuk melakukan hal penting yang harus melibatkan keluarga.


"Tidak. Hanya bertemu." Jawab Kanaya.


"Kamu sepertinya dekat sekali ya dengan Ustadz Salman! Kalian pacaran!" Nick yang suasana hatinya buruk dan pikirannya sudah jauh segera menskak Kanaya.


"Jangan asal bicara Boss. Fitnah namanya." Kanaya kesal dengan kata-kata Nick.


"Ya kamu tidak mau menjabat tangan dengan lawan jenis tapi bertemu dan janjian dengan Ustadz Salman. Huh, wanita semua sama saja!" Nick makin ga kontrol suasana hati Nick kacau otaknya buntu sehingga yang keluar dari lisannya menjadi tidak ada aturannya.


"Boss." Gusti menahan Nick agar tidak semakin salah bicara.


"Maafkan Saya jika lancang mengatakan ini. Saya tegaskan disini. Saya tidak hanya berdua bertemu Ustadz Salman. Ada Iman asisten Ustadz Salman. Dan Saya tidak perlu memberitahukan urusan pribasi Saya kepada Tuan hanya karena Tuan boss Saya dikantor. Lagipula ini sudah diluar jam kantor. Maaf Saya permisi Assalamualaikum!" Kata-kata tegas Kanaya ditambah tatapan mata tajam Kanaya pada Nick menjelaskan wanita itu marah dengan tuduhan Nick.


Taxi Online yang Kanaya pesan sudah datang. Kanaya segera membuka pintu mobil dan masuk meninggalkan Nick yang kesal karena Kanaya menjadi marah seharusnya ia yang kesal karena ucapan keduanya membuat kepala Nick pusing.


"Boss, kenapa bicara begitu pada Bu Kanaya? Boss bukan bertanya tapi menuduh! Ah kacau ini sih!" Gusti mengeluh dengan sikap Nick pada Kanaya.


"Mengapa Saya yang jadi salah. Seharusnya Kanaya menjelaskan. Dan kenapa dia besok harus bertemu lagi dengan Salman dan Kiai Abdullah. Mau apa mereka?" Nick nyerocos tak berhenti.


"Boss bagaimana sih, seharusnya tanyakan mau apa Bu Kanaya dan Ustadz Salman bertemu. Bukan malah nuduh sepeeri tadi!" Gusti kesal dengan Boss killernya yang sekarang oleh Gusti ditambah satu julukan kepoers.


"Siapa suruh mereka sering sekali berduaan. Ga dikantor sekarang disini. Besok janjian lagi!" Nick semakin kesal.


"Masalahnya dimana Boss? Kalaupun mereka ada hubungan ya gapapa. Toh Bu Naya single dan Ustadz Salman, bujangan. Sah saja kalau mau menikah juga silahkan saja, itu hak mereka. Ga ada larangan diperusahaan kok. Oh iya lupa Ustadz Salman juga bukan pegawai NBC beliaukan pengisi program saja. Mau besok langsung nikah juga sah-sah saja!" Gusti senang sekali membjat si Boss kebakaran jenggot.


"Apa menikah!" Nick tiba-tiba kaget.


"Astaga Boss. Bisa pelan sedikit ga sih. Telinga Saya bisa tuli!" Gusti meniup tangan mengarahkannya pada telinga.


"Habis kau bicara ngaco! Emang ayam sama kambing bisa asal nikah!" Jawab Nick.


"Ya ampun Boss, bukannya di agama Boss bisa menikah secara agama dulu baru dicatat negara? Mungkin saja Bu Kanaya dan Ustadz Salman menikah siri dulu untuk menghidari fitnah bagaimanapun Ustadz Salman orang yang ngerti agama Boss. Sudahlah Boss kenapa Boss pusing mikirin keduanya, kalau Ustadz Salman dan Bu Kanaya jadi nikah, kita tinggal beri ucapan selamat, kalau Boss sih wajib kasih hadiah bagaimanpun mereka bekerja di NBC. Ya paling tidak tiket honeymoon misalnya." Gusti sangat piawai menjalankan misi dari Oma Marisa.

__ADS_1


Disaat ada moment yang pas Gustipun melancarkan aksinya.


"Panas Ga Boss, Panas Ga Boss, Masa enggak!" Batin Gusti meniru yang sedang viral di aplikasi toktok.


__ADS_2