JANDA SHOLEHAH JODOH CEO DUDA AROGAN

JANDA SHOLEHAH JODOH CEO DUDA AROGAN
Caca Masuk RS


__ADS_3

Nick bangun tidur sambil mengerjapkan bola matanya yang terasa berat.


Tentu saja semalam ia tak bisa tidur dan kini suara ketukan pintu terdengar.


Nick mendengar panggilan Oma Marisa diluar kamarnya.


Dengan langkah berat dan masih terhuyung Nick membuka pintu kamarnya.


"Ada apa Mom?" Suara berat khas bangun tidur sambil mengerjapkan mata saat Nick membuka pintu kamar.


"Nick, Caca demam! Panasnya hingga 40 derajat!"


Ayah mana yang tak khawatir mendengar putrinya demam hingga 40 derajat.


Nick seketika langsung sadar dari kantuknya bergegas menuju kamar Caca yang tak jauh dari kamarnya.


"Sayang," Nick memegang dahi Caca dan memang terasa sangat panas.


Segera ia menelpon dokter pribadinya.


Tak butuh waktu lama, dokter datang memeriksa Caca.


"Nick, sebaiknya Caca di bawa ke rumah sakit. Dikhawatirkan Caca terkena DBD."


Tentu saja Nick dengan cepat membawa Caca yang kini memejamkan matanya.


Tak pernah Caca selemas ini, Nick tentu saja begitu khawatir dibuatnya.


Sementara Oma Marisa juga menghubungi Gusti meminta asisten Nick datang.


Caca langsung di bawa ke RS dan segera ditangani dokter.


"Dari hasil pemeriksaan, Nona Clarisa positif terkena DBD. Pasien akan terus dipantau, kalau hematokrit tinggi, maka kami akan lebih ketat dalam pemeriksaan darah. Jadi demam berdarah bisa kita cek apakah trombosit turun hingga di bawah 100ribu dan atau ada kenaikan hematokrit." Jelas dokter pada Nick.


"Lakukan yang terbaik agar anak Saya bisa sehat kembali."


"Baik Tuan Nick, kami permisi."


Nick mengusap lembut kepala Caca dengan tatapan sendu.


Betapa Nick begitu takut dan trauma jika anggota keluarganya mengalami kondisi kritis.


Masih jelas dalam ingatan Nick bagaimana saat Aurel meregang nyawa saat melahirkan Caca.


"Sayang, maafkan Daddy yang lalai menjagamu." Nick yang masih terus berada di samping brankar Caca menatap dengan pandangan sedih melihat putrinya berbaring lemah.


"Mommy, Mommy, jangan pergi! Caca rindu Mommy!" Caca mengigau disaat kondisinya yang masih diambang kesadaraan.


"Sayang, ini Daddy, dan Oma. Caca harus sehat. Caca anak kuat!"


Air mata Nick lolos begitu saja, hatinya pilu mendengar rintihan Caca sambil mengigau memanggil Mommynya.


Oma Marisa tak kuasa menahan tangis melihat bagaimana kondisi cuci tercintanya saat ini.


Terlebih melihat Nick yang kini rapuh seakan Oma Marisa tak kuasa memilih keluar dan duduk di selasar RS.


Gusti yang tiba ke RS tentu saja ia membawa pakaian ganti serta makanan untuk Nick dan Oma Marisa karena sebelumnya ia mampir ke rumah Boss nya dan meminta disiapkan pakaian untuk Nick kepada pelayanan disana.

__ADS_1


"Boss, sebaiknya Boss istirahat dan makan dulu. Boss harus tetap sehat." Gusti mendekati Nick berbicara perlahan mengingatkan Nick makan.


"Gus, kamu antar Mom pulang. Mom butuh istirahat. Mom pulanglah dulu, biar Nick yang menjaga Caca disini."


"Nick, jangan lupa makan, Caca perlu kamu. Kamu harus sehat Nak! Mom pulang dulu, besok Mom kesini lagi." Oma Marisa menepuk bahu Nick.


Sebagai seorang ibu hati Oma Marisa teriris pilu melihat keduanya.


"Boss, Saya mohon izin mengantar Nyonya Oma. Permisi."


"Hati-hati Gus."


"Siap Boss! Mari Nyonya Oma."


"Nick, Mommy pulang."


"Iya Mom. Istirahatlah Mom. Jangan terlalu kepikiran. Caca pasti akan baik-baik saja."


Kedua anak dan ibu itu terlihat saling menguatkan.


Sepeninggal Oma Marisa dan Gusti, Nick terus memandangi putrinya yang terbaring lemah.


"Sayang, maaf Dad yang egois. Maafkan Dad yang tidak memahami kamu Sayang."


Entah perasaan bersalah begitu besar meliputi hati Nick saat ini.


Terbersit di pikiran Nick nama Kanaya.


"Pasti Caca senang bila Kanaya disini. Ya, Kanaya!" Nick mencoba meraih ponselnya menghubungi Kanaya.


Teringat kala itu mantan suami Kanaya menghubungi Kanaya berkali-kali.


"Pasti dia sedang bersama mantan suaminya. Apa yang aku pikirkan!"


Ada kekesalan dan amarah dalam dada Nick.


Nick tak tahu harus berbuat apa saat ini.


Sepanjang malam Nick berada di sisi Caca.


Memantau kondisi putrinya.


Hingga Nick tak menyadari ia tertidur dalam posisi duduk sambil menggenggam tangan Caca.


"Daddy, Dad," suara Caca perlahan memanggil Nick yang ia lihat sedang tertidur di kursi sambil memegang tangannya.


Nick terbangun dengan suara panggilan Caca.


"Sayang kamu sudah bangun? Apa yang sakit? Daddy panggil dokter ya!" Nick yang panik namun gerakannya seketika dihentikan dengan genggaman Caca.


"Dad, panggil Tante Naya kesini. Caca mau ketemu Tante Naya." Caca meminta Kanaya untuk datang.


"Ya, Daddy telp Tante Naya. Tapi Daddy panggilkan dokter dulu ya."


Dokter memeriksa Caca.


Melihat hasil pemeriksaan tampak Caca lebih baik dari sebelumnya.

__ADS_1


"Tuan Nick, kondisi Nona Caca memang sudah lebih baik dari sebelumnya namun tetap masih perlu pengawasan kami. Dan Nona Caca masih harus banyak istirahat ya."


"Terima kasih Dokter."


"Baik Tuan Nick, kami akan terus pantau kondisi Nona Caca, semoga trombositnya segera normal kembali."


"Sayang, ayo makan dulu. Sejak kemarin Caca belum makan."


"Mulut Caca pahit Daddy."


"Iya memang begitu Sayang, tapi Caca harus makan, supaya Caca segera pulih."


"Daddy sudah telpon Tante Naya?"


"Iya, nanti setelah Caca makan Daddy telpon Tante Naya ya."


Caca menurut manakala janji Nick akan menelpon Kanaya.


Kanaya yang sejak semalam tak tahu kalau baterai HP habis dan kini setelah daya ponselnya telah terisi ia membuka ponselnya dan melihat apakah ada pesan masuk.


Kanaya melihat 5 panggilan tak terjawab dari Big Boss nya.


Selain itu ada juga dari Ibu Marisa dan Gusti.


Kanaya segera menelpon balik Big Bossnya.


Namun tak ada jawaban.


Kanaya segera menelpon Gusti.


Hal serupa juga tak ada jawaban dari asisten boss nya.


Kini opsi terakhir ia menelpon balik kepada Oma Marisa.


"Assalamualaikum, maaf Nyonya Oma ponsel Kanaya semalam lowbat dan Kanaya baru mengaktifkan ponsel. Ada apa nyonya Oma semalam menghubungi Kanaya?"


"Waalaikumsalam Kanaya. Caca dirawat di RS. Caca DBD. Dia mengigau memanggil Mommynya. Oma khawatir, makanya Oma telpon kamu Nak."


Kanaya bisa mendengar nada khawatir dan kesedihan dari suara Oma Marisa.


"Kanaya akan ke RS sekarang Nyonya Oma. Maaf bisa Kanaya tahu Caca dirawat di ruang apa?"


Setelah penjelasan singkat Oma Marisa Kanaya kemudian bersiap.


Kanaya juga terlebih dahulu menyempatkan membuat bubur sayuran dengan jamur dan ayam.


Setelah semua siap, Kanaya segera pergi menuju RS.


Entah mengapa hati Kanaya begitu khawatir mendengar cerita Oma Marisa tentang kondisi Caca.


"Ya Allah, sembuhkan Caca, sehatkan dan pulihkan Caca seperti sediakala."


Begitu terus menerus doa Kanaya sepanjang perjalanan menuju RS.


"Allāhumma rabban nāsi, adzhibil ba’sa. Isyfi. Antas syāfi. Lā syāfiya illā anta syifā’an lā yughādiru saqaman." 


Artinya; “Tuhanku, Tuhan manusia, hilangkanlah penyakit. Berikanlah kesembuhan karena Kau adalah penyembuh. Tiada yang dapat menyembuhkan penyakit kecuali Kau dengan kesembuhan yang tidak menyisakan  rasa nyeri,” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Adzkar, [Damaskus: Darul Mallah, 1971 M/1391 H], halaman 113).

__ADS_1


__ADS_2