
Hari-hari berlalu dilewati Nick meski hatinya tidak baik-baik saja.
Nick mengakui kebodohannya.
Nick memang terlalu egois.
Nick sadar akan sikap buruknya yang kini ia harus terima bahwa apa yang belum sempat ia perjuangkan kini telah lepas dalam genggamannya.
Tentu saja perubahan sikap Nick tidak luput dari perhatian Oma Marisa.
Terlebih Oma Marisa sudah diceritakan secara gamblang oleh Gusti saat Nick bertemu Kanaya dan Ustadz Salman beberapa hari lalu.
"Caca sudah tidur Mom?" Nick saat melihat kedatangan ibunya diruang kerjanya.
Oma Marisa melihat Nick kembali seperti dulu menyibukkan diri dalam pekerjaannya di ruang kerjanya meski kini sudah malam.
"Sudah. Caca bilang, dia ga mau kesiangan bangun tidur karena besok mau menghadiri undangan dari Kanaya dan Ustadz Salman. Kau datang kan Nick?"
"Memang perlu Mom?" Nick tetap fokus dihadapan laptopnya tanpa menatap wajah sang ibunda.
"Nick kemarilah, Mom ingin bicara." Oma Marisa menepuk sisi disebelahnya meminta Nick mendekat.
Nick menuruti permintaan Mom Marisa kini Nick duduk disofa yang sama dengan sang ibu.
"Mom tahu, hatimu kecewa, marah dan mungkin tak nyaman dengan undangan besok. Tapi sebagai pria yang gentle kau harus datang dan tunjukkan bahwa kamu bisa menerima dengan lapang dada dan turut berbahagia pada mereka. Jika Caca saja bisa menerimanya tentu sebagai pria dewasa kau lebih kuat dari putrimu. Mom harap kamu bisa mengambil pelajaran dari apa yang telah terjadi. Bahwa terkadang ego itu membuat kita sulit sendiri. Dan hati tidak seperti logika yang jelas hitam atau putih. Hati kita hanya kita yang tahu. Jangan pernah menipu diri sendiri. Ikhlas memang berat tapi merelakan bisa kita lakukan setahap demi setahap."
"Sudah malam. Istirahatlah. Beberapa hari ini kau kurang tidur. Lingkar matamu sangat gelap Nick."
"Sedikit lagi pekerjaanku beres. Mom istirahatlah lebih dulu."
"Ok. Mom istirahat duluan ya Nicj. Ingat, kau jangan begadang kalau tiada artinya." Sedikit humor agar sang putra bisa kembali tersenyum.
Nick hanya menanggapi dengan seutas senyum candaan ibundanya.
__ADS_1
Tengah malam pekerjaan Nick selesai.
Nick masuk ke kamar Caca.
Ditatapnya putri cantiknya yang kini terlelap dalam buaian mimpi.
"Maafkan Daddy Sayang, karena keegoisan Daddy, Daddy gagal memberikan kamu Bunda. Maafkan Daddy Nak!" Tanpa terasa airmata Nick menetes, buru-buru Nick pergi dari kamar Caca menuju kamarnya.
Nick mencoba memejamkan matanya diranjang besar kamarnya, namun tak sedikitpun rasa kantuk di pelupuk mata Nick.
Bayangan saat pertama kali ia berjumpa Kanaya, pertengkaran kecil dengan Kanaya, saat mereka ke dunia fantasi, pokoknya semua bayangan dirinya dengan Kanaya yang selama ini terekam dalam benak Nick seolah muncul satu persatu membuat hati Nick mencelos.
Betapa Nick buta dan hatinya beku padahal banyak moment dan waktu yang ia tanpa sadari lewati bersama.
Nick sadar ia terlalu terjebak dalam kenangan hingga mata dan hatinya tak bisa merasakan bahwa disudut belahan hatinya telah tumbuh benih cinta pada wanita yang kini harus ia relakan berbahagia bersama Ustadz Salman.
Bagai tercubit, manakala ia dengan bodoh tidak menyadari letupan kecil saat keduanya mulai dekat hingga kini Nick telah kalah sebelum ia sempat memulai.
"Aurel, maafkan aku yang telah menduakanmu dengan rasa cintaku pada Kanaya, Maafkan aku karena telah membuat putri kita bersedih karena aku gagal sebelum sempat berjuang karena keegoisanku sendiri."
Dalam doanya Nick tak henti memohon ampun atas segala kesombongan dan kekhilafannya yang sering ia lakukan selama ini.
Dalam doanya Nick memohon agar hati yang remuk redam agar bisa ikhlas menerima segala yang terjadi dalam hidupnya.
Nick sadar ikhlas tak semudah diucapkan bahkan sangat berat melebihi ibadah lainnya.
Dalam khusuk doanya tanpa sadar Nick masih diatas sajadah terlelap hingga ia berada dalam sebuah taman yang indah dan betapa terkejutnya Nick melihat Aurel dalam busana terbaik dan begitu cantik bercahaya.
"Assalamualaikum Nick." Sapa Aurel.
"Waalaikumsalam Sayang. Aurel, kamu ada sisini? Kenapa kamu meninggalkan aku dan Caca?" Nick mengikuti langkah Aurel duduk disebuah kursi panjang dalam taman yang indah itu.
"Aku tidak meninggalkanmu, hanya saja waktuku memang sudah selesai. Nick, aku tahu kamu begitu mencintaiku. Terima kasih. Tapi aku ingin kamu juga harus belajar menata masa depanmu bersama Caca putri kita. Bukalah hatimu dan kelak kamu akan menemukan wanita baik yang akan menggantikan aku menjadi pendampingmu sekaligus ibu bagi Caca." Aurel yang bercahaya sangat menyilaukan dihadapan Nick.
__ADS_1
"Maafkan aku Sayang. Tidak ada maksud aku menduakanmu, namun wanita itu telah bersama orang lain. Aku gagal sebelum berjuang." Senyum getir Nick yang ia tampilkan.
"Berprasangka baiklah kepada Allah SWT. Jikalau ia berjodoh denganmu maka Allah akan mudahkan jalannya, namun jika memang tidak berjodoh Allah sudah menyiapkan penggantiku yang lebih baik." Pesan Aurel.
"Apakah kamu tidak cemburu jika Aku menikah lagi?" Nick sedikut kikuk berkata seperti itu dihadapan Aurel.
"Aku sudah bahagia sekarang, justru aku sedih melihat kamu dan Caca yang merasa kesepian. Nick, berjanjilah, kelak jika kamu menemukan wanita yang baik sebagai ibu penggantiku bagi Caca maka perjuangkan, jangan kamu terjebak dalam masa lalu. Simpan aku dalam hati namun jangan tutupi hatimu untuk cinta yang baru. Kamu dan Caca berhak bahagia dan melanjutkan hidup. Ingat pesanku ya Nick. Aku titip Caca putri kita. Jaga dan Sayangi dia. Aku selalu mencintaimu dan Caca. Selamat tinggal Nick."
Perlahan Aurel menghilang bersama cahaya yang membawanya semakin menjauh.
"Aurel!"
Nick terbangun.
Tepat suara azan subuh terdengar dari pintu balkon yang tidak ia kunci sisa semalam.
Nick bangkit menyadarkan dirinya.
"Aku bermimpi." Nick sadar ia yang masih berada diatas sajadah kini perlahan mengumpulkan kesadarannya bergegas menuju kamar mandi dan bersiap mengambil wudhu menunaikan shalat subuh.
Betapa tentram hati Nick dipagi ini seakan jiwa baru yang ia rasakan terlebih mimpinya bertemu Aurel mendiang sang istri.
Nick membuka acak kitab suci yang telah lama ia sempat lupakan.
Masih diatas sajadah dalam keadaan berwudhu Nick membuka Al Quran.
"Al-khabīṡātu lil-khabīṡīna wal-khabīṡụna lil-khabīṡāt, waṭ-ṭayyibātu liṭ-ṭayyibīna waṭ-ṭayyibụna liṭ-ṭayyibāt, ulā`ika mubarra`ụna mimmā yaqụlụn, lahum magfiratuw wa rizqung karīm."
“Wanita-wanita yang tidak baik untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik adalah untuk wanita yang tidak baik pula. Wanita yang baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk wanita yang baik”. (QS : An Nur Ayat 26)
Nick membaca tafsir dari ayat tersebut.
Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia:
__ADS_1
Setiap yang keji dari kaum lelaki dan kaum perempuan, ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatan akan cocok, sejalan dan sesuai dengan yang keji pula. Dan setiap yang baik dari kaum lelaki dan kaum perempuan, ucapan dan perbuatan akan cocok dan sesuai dengan yang baik-baik (pula). Para lelaki dan wanita yang baik-baik bersih dari tuduhan buruk yang dilontarkan oleh orang-orang keji. Mereka akan mendapatkan ampunan dari Allah yang akan menutupi dosa-dosa mereka dan mendapatka rizki yang baik di surga.