
"Tante ada hubungan apa dengan pria ini?"
Dira menunjukkan foto Baskoro yang ia temukan di laci kamar villa yang mereka tempati.
Sebuah foto Amelia dan Baskoro, Ayah Dira.
"Dia Baskoro, dia suamiku."
"Suami? Baskoro suami Tante Amelia?" Dira terkejut dengan apa yang ia dengar.
"Dira, kamu kenapa Sayang, kok bingung gitu?" Amelia memegang bahu Dira terlihat Dira layaknya orang bingung sambil memandangi Amelia.
"Tante kenal dengan perempuan bernama Utari?" Dira menatap wajah Amelia lekat.
Deg!
Bagai petir bergelegar. Amelia tersentak mendengar nama wanita yang disebut oleh Dira.
"Utari, itu Mama Dira Tante. Dan laki-laki yang Tante bilang suami adalah Papa Dira!"
Bagai tersambar petir, Amelia tidak tahu bagaimana Allah menakdirkan ia bertemu Dira hingga kini ia sendiri yng membawa anak dari madunya.
Amelia melepas tangannya dari Dira.
Amelia tidak tahu harus berkata apa.
Amelia menatap kearah pantai ia menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya perlahan.
"Utari, Mama Dira sudah meninggal Tante. Dira sendiri tidak pernah menganggap Baskoro sebagai Papa Dira. Karena dia Tante, Mama meninggal! Dira menatap sambil menahan airmatanya.
"Dira, apakah kamu selama ini tahu bahwa Papa kamu punya istri selain Mama kamu?" Amelia menatap sendu wajah Dira.
"Dira hanya tahu, dia selalu mengatakan kepada Mama, bahwa Mama hanya alat untuk bisa memiliki keturunan, karena ia tidak bisa punya anak dari istrinya. Dan hanya itu yang Dira tahu!" Dira menatap tajam pada Amelia.
Tangis Amelia pecah saat mendengar penuturan Dira.
Betapa hancur hati seorang istri manakala mendengar suaminya dengan jelas menceritakan kekurangannya kepada orang lain.
"Tante tahu Mama sakit sejak melahirkan Dira hingga saat menjelang ajalnya Mama menunggu kehadiran si bajingan itu namun dia tidak pernah datang! Dan baru sekarang dia dengan seenaknya menginginkan aku untuk dia tukar dengan cara menjual aku kepada pengusaha bernama Max agar perusahaannya tidak bangkrut! Aku benci dia Tante! Benci!" Dira berteriak, sesak dalam dadanya menyeruak tak lagi ia tahan.
__ADS_1
Melihat Dira lepas kendali, Amelia membawa Dira dalam pelukannya.
Amelia bisa merasakan kepedihan hati Dira.
Bagaimanapun, ia sendiri merasakan bagaimana Baskoro yang selama hidup bersamanya tidak pernah tulus menyayanginya.
Pernikahan Amelia dengan Baskoro adalah hasil perjodohan.
Baskoro menikahi Amelia karena ia ingin menguasai harta Papi Amelia.
Amelia sendiri awalnya tidak mencintai Baskoro namun segala bujuk rayu serta kebaikan yang Baskoro tampilkan adalah hanya tipu daya.
Setelah Baskoro berhasil menikahi Amelia, Baskoro mulai menunjukkan sifat aslinya.
Terlebih lagi saat Amelia divonis dokter tidak bisa memiliki keturunan.
Sejak itulah secara terang-terangan Amelia disiksa lahir dan batinnya oleh Baskoro.
Puncaknya pertengkaran Amelia dan Baskoro saat Amelia mengetahui diam-diam Baskoro menikah lagi hingga lahir seorang anak.
Saat itu Papi Amelia mendengar hingga mendadak terkena serangan jantung dan meninggal.
Amelia sendiri tidak pernah mencari tahu siapa wanita dan putri Baskoro.
Hati Amelia terlanjur sakit akan semua perbuatan Baskoro.
Jika ditanya mengapa Amelia bertahan pada Baskoro, karena Amelia ingin menjaga peninggalan papinya paling tidak ia bisa mengetahui perusahaan peninggalan papinya yang sudah diambil alih atas nama Baskoro.
"Begitulah Dira. Apa yang Tante ceritakan padamu benar adanya. Tante dan Mama kamu hanya wanita yang menjadi korban Baskoro. Kami berdua perempuan yang punya cinta tulus namun mencintai pria yang salah." Amelia mengusap airmata yang jatuh di pipinya.
Dira menatap Amelia. Sesaat ia bisa melihat bahwa Amelia juga sama menderitanya dengan almarhum bunda Dira.
"Jadi Tante kabur juga dari pria itu?" Dira bertanya.
"Dia tidak akan perduli aku ada atau tidak dirumah Dira. Yang ia perdulikan hanya hartaku dan perusahaan milik Papiku. Tidak pernah ada cinta darinya untukku." Mata Amelia menerawang kepantai seolah hembusan angin yang menyejukkan membelai dan memberikan penghiburan.
"Saat itu dia pulang kerumah, mengatakan bahwa akan mengajak putrinya tinggal dirumah, untuk itu Tante memilih keluar rumah. Karena Tante berpikir dia sudah memiliki apa yang dia inginkan, untuk itu Tante pergi karena Tante merasa sudah cukup dan dia sudah tidak membutuhkan Tante lagi." Amelia menahan airmatanya namun airmata itu tanpa permisi mengalir deras dipipinya lagi.
"Dulu, aku pernah berpikir, bahwa dia meninggalkan Bunda dan aku karena lebih memilih keluarganya dan istrinya tapi," Dira tak melanjutkan kata-katanya.
__ADS_1
"Dia hanya mencintai harta, kekayaan dan dirinya sendiri! Dia tidak bisa melihat kasih sayang dan cinta orang-orang yang tulus padanya." Amelia kini menatap Dira mengambil tangan Dira menggenggamnya erat.
"Dira, apakah kamu mau bersama Tante untuk memberi pelajaran kepada Baskoro? Dulu Tante hanya sendiri, tapi kini ada kamu, Tante seakan punya kekuatan untuk bisa memperjuangkan kembali hak kita sebagai perempuan yang selama ini terinjak oleh dia." Amelia menatap lekat wajah Dira.
"Maksud Tante?" Dira mencoba menebak apa yang ada dipikiran Amelia.
"Katamu Baskoro sengaja menjualmu pada pengusaha yang bernama Max agar menyelamatkan perusahaan dari kebangkrutan. Kita akan rebut kembali perusahaan itu dari tangan Baskoro. Bagaimana?" Amelia meminta tolong dengan Dira mau bekerjasama dengan dirinya.
"Sejujurnya aku belum percaya dengan Tante, Apa untungnya aku membantu Tante, aku tidak mau dikhianati!" Dira menaruh curiga pada Amelia.
"Ayo ikut aku. Dan kamu bisa lihat sendiri apakah aku menipumu atau tidak."
Amelia mengajak Dira kembali ke Villa untuk memperlihatkan sesuatu.
"Dulu papiku pernah menitipkan ini untuk anak kami. Jika aku dan Baskoro memiliki anak maka ini akan menjadi milik nya."
Amelia memperlihatkan sebuah surat wasiat yang bertuliskan sejumlah deposito di Bank Singapura yang bisa dicairkan bila keduanya memiliki keturunan.
"Jadilah putriku, dan kamu akan memiliki ini. Lawanlah Baskoro. Kamu bisa menggunakan ini untuk memberinya pelajaran."
Amelia menyerahkan wasiat yang ada ditangannya kepada Dira agar Dira membacanya sendiri.
Dira membaca apa yang tertulis disana.
"Kamu tidak perlu khawatir aku akan merebutnya. Kita akan kepengacara mengurus semua. Dan kamu kita akan buat perjanjian, bahwa aku tidak akan menuntut apa yang menjadi hak kamu Dira."
Dira tak melihat kebohongan di mata Amelia.
"Baik, aku terima tawaran Tante. Ayo kita sama-sama memberi efek jera pada Baskoro." Dira dengan tatapan penuh kebencian mengingat Baskoro.
"Dira, Tante tidak mau kamu terlalu membenci Baskoro, karena bagaimanapun juga, darahnya mengalir ditubuhmu. Yang Tante inginkan dari rencana kita adalah menyadarkan Baskoro bahwa semua tindakannya itu salah dan ia sudah menyakiti wanita didalam hidupnya. Bagaimanapun ia adalah Papamu, orang tua kandungmu. Jikalau kamu menikahpun Baskoro memiliki hak untuk menjadi walimu." Amelia meluruskan niat mereka agar Dira tidak terlalu membenci kepada Baskoro yang notabene adalah ayahnya.
"Apakah Tante masih mencintainya?" Dira menatap wajah Amelia.
"Sejak pertama melihat kebaikannya, Papiku dan Aku jatuh hati dengan sikapnya. Kami tidak pernah memandang dia siapa dan dari mana ia berasal. Sebab itu papiku dan aku menerima Baskoro menjadi keluarga dan aku bersedia menikah dengannya. Namun tidak aku sangka ketulusan, cinta dan kasih sayang kami dibalas dengan air tuba oleh nya. Maka, aku hanya ingin mengembalikan ia menjadi manusia yang baik, sebagaimana Baskoro yang pertama kali aku kenal." Amelia dengan gamblang menjawab pertanyaan Dira.
"Ayo kita lakukan Tante."
"Kalau begitu panggilah aku Bunda. Karena sejak kau menandatangi wasiat ini dan menerimanya kau resmi menjadi putriku!"
__ADS_1
Dira mengangguk tanda setuju.