JANDA SHOLEHAH JODOH CEO DUDA AROGAN

JANDA SHOLEHAH JODOH CEO DUDA AROGAN
Sahabat Lama


__ADS_3

Nick turun dari mobil mewahnya diiringi oleh Gusti sang tangan kanan memasuki NBC Hotel.


Tahun ini Nick sengaja menerima tawaran rekan sesama pebisnis untuk turut serta dalam acara bergengsi yang rutin dihadiri para pengusaha dan konglomerat.


Kumpulan pria-pria berduit dengan barang-barang branded melekat dari kaki hingga ujung kepala dan tunggangan kendaraan mewah tampak menyilaukan mata.


Nick bertegur sapa dengan sesama pebisnis lain yang menyapanya.


Tampak berbaur antara generasi konglomerat muda dan konglomerat senior.


"Assalamualaikum Tuan Nick." Ustadz Salman menyapa Nick yang terlihat sedang berbincang dengan beberapa pebisnis yang turut menghadiri acara tersebut.


"Ustadz Salman. Tuan Abdullah?" Nick menyapa Ustadz Salman dan pria baya yang Nick kenali.


Nick sudah lama sekali tidak melihat rekan bisnis mendiang Daddy nya itu.


"Kalian berdua sudah saling kenal rupanya. Syukurlah. Apa kabarmu Nick? Salman adalah putraku."


Meski terkejut Nick tampak biasa saja.


"Baik Tuan. Tidak menyangka kalau Ustadz Salman adalah putra Anda. Saya berterima kasih karena Ustadz Salman bersedia bekerjasama dengan Saya untuk mengisi program tausyiah di NBC."


"Bagaimana kondisi Caca Tuan Nick?" Ustadz Salman menanyakan kabar Caca.


"Sudah sehat. Sudah baik-baik saja. Terima kasih sudah meluangkan waktu Ustadz untuk menjenguk putri Saya."


"Qadarullah. Ternyata kalian berdua saling mengenal satu sama lain. Saya senang mendengarnya. Oh iya, apakah Nick mengenal perempuan yang muncul di berita bersama putra Saya?"


Wajah Ustadz Salman sedikit berubah manakala Abahnya menanyakan perihal Kanaya.


"Mengenai berita itu, Saya pribadi mohon maaf apabila Tuan Abdullah maupun Ustadz Salman tidak nyaman. Dia Kanaya Larasati. Salah satu pegawai kami di NBC yang menjadi FD pada program tausyiah yang Ustadz Salman pandu."


"Tidak masalah. Justru Saya senang, paling tidak ada harapan, sepertinya tak lama lagi Saya akan punya menantu." Canda Kyai Abdullah.


Uhuk! Uhuk! Uhuk!


Ustadz Salman dan Nick kompak terbatuk.


Gusti membantu Boss nya memberikan minum, begitupun Kiai Abdullah kepada Salman.


Sedangkan kedua pria tampan itu saling menatap dengan tatapan yang sulit diartikan.


Alvin baru sampai di NBC Hotel.


Betapa Alvin begitu takjub oleh bangunan megah milik Nicholas Bryan, pengusaha muda, hot duda dengan kekayaan berlimpah.


Alvin belum pernah berjumpa dengan Nick, untuk itu ia sangat penasaran. Harapannya ia dapat bertemu langsung dengan Nick, pengusaha muda yag di juluki Crazy Rich. Pemilik stasiun TV besar NBC.


Kyai Abdullah meninggalkan kedua pria dewasa yang kompak tersedak entah karena apa alasannya menemui kawan lamanya.


Pak Kyai ga tahu aja, lagi ada yang rebutan janda sholeha!hehehehhe!

__ADS_1


"Bukankah itu Baskoro?"


Kyai Abdullah melihat kearah yang ditunjuk salah satu rekannya.


Orang yang ditunjukpun datang menghampiri kumpulan rekan-rekan pebisnis yang berusia sama dengannya.


"Abdullah! Ups, Kyai Abdullah. Assalamualaikum." Tawa menggelegar penuh arogansi begitu terasa dari pria baya yang masih gagah bernama Baskoro.


"Waalaikumsalam. Apa kabar Bas? Ku kira kamu masih di Luar negeri." Kyai Abdullah tampak menyambut jabat tangan teman lamanya sesama pebisnis.


"Ya, aku baru kembali kurang lebih 1 tahun lalu. Kau sendiri sekarang lebih aktif sebagai pendakwah rupanya. Lama tak melihatmu, aku sampai tak mengenalimu pak Kyai" canda Tuan Baskoro.


"Ya aku sudah limpahkan urusan perusahaan kepada putraku Bas. Aku sekarang ingin lebih santai menikmati hari tua." Sikap tenang Kyai Abdullah.


"Wah beruntung kau memiliki putra. Sedangkan aku masih sibuk bergelut dengan segala kesibukan ini!"


"Nah Bas, kenalkan ini putraku. Salman ini teman Abah."


"Salman Al Farisi."


"Baskoro."


Kedua pria berbeda generasi berjabat tangan.


"Putramu sangat tampan Bas. Ini kartu namaku."


"Terima kasih Tuan."


"Kau punya putri?"


"Ah iya. Aku lupa. Putriku, namun bukan dengan Amelia." Bisik Baskoro ditelinga Kyai Abdullah.


"Baskoro, Baskoro. Kamu masih belum berubah."


"Ya begitu takdirku Abdullah. Sulit untuk bertahan pada 1 wanita! Tapi itu dulu!"


"Sepertinya aku datang terlambat."


"David! Apa kabar bro!" Tuan Baskoro memeluk Tuan David.


"Apa kabar David, lama tidak bertemu." Jabat tangan dan pelukan teman antara David dan Kyai Abdullah.


"Kabarku baik Bas, Abdullah. Kalian sendiri bagaimana?"


"Aku beginilah! Hehehe! Tuan Baskoro tertawa.


"Alhamdulillah kita semua masih diberi kesehatan dan umur panjang." Jawab Kyai Abdullah.


"Ku dengar dari putriku ia bertemu Salman? Tak kusangka, Salman mengikuti jejakmu."


"Oh iya? Putrimu sudah kembali kesini? Dunia memang sempit rasanya, kita saja akhirnya dipertemukan kembali setelah sekian lama."

__ADS_1


"Ya mereka bertemu karena sama-sama memiliki kerjasama dengan Nicholas Bryan. Kalian sudah bertemu dengannya?" Tuan David sambil meminum air.


"Sepertinya wajahnya tak asing, seperti aku kenal?" Tuan Baskoro yang belum bertemu dengan Nick secara langsung dan lama tinggal diluar negeri ia tidak begitu tahu perkembangan di negerinya sendiri.


"Dia putra Bryan. Kau tidak lupa kan?" David menepuk bahu Baskoro.


"Tentu saja. Tak kusangka Bryan memiliki penurus yang hebat seperti dirinya. Sayang Bryan harus wafat lebih dahulu. Jangan bilang kau mengulang cinta lama dengan Marisa Vid?" Tawa Baskoro.


"Kau ini! Cerita lama masih saja dibawa-bawa! Justru aku sedang mencoba mengenalkan anakku dengan putra Bryan."


"Kamu sendiri masih jadi cassanova di usiamu yang sudah tua!" Ledek Tuan David pada Baskoro.


"Eits, aku juga punya putri. Aku pun sedang melakukan hal yang sama ingin mencarikan jodoh untuk putriku."


"Putri? Abdullah, apa kau tahu si cassanova ini punya putri?" Tuan David terkejut.


"Akupun baru saja mendengarnya." Santai Kyai Abdullah menjawab.


"Tentu! meski Amelia tidak bisa memiliki anak, aku kan bisa buka cabang lain. Karena itu aku punya seorang putri!"


Pernyataan Tuan Baskoro tentu saja membuat kedua teman lamanya hanya bisa geleng kepala.


"Kalau begitu aku minta nomor kalian, agar lain waktu kita bisa saling bertemu lagi dan mengobrol. Siapa tahu kita bisa jadi besan." Tawa Baskoro kepada kedua temannya.


"Aku hanya punya 1 anak dan anakku perempuan. Abdullah yang punya putra. Semoga putrimu baik tidak sepertimu Bas!" Ledek Tuan David.


"Tentu. Putriku cantik dan baik!" Jawab Tuan Baskoro dengan tawa meski dalam hatinya ia sedang murka dengan putrinya yang tidak menurut akan perintahnya.


"Biarkan anak-anak memilih jodohnya, sebagai orang tua kita berikan mereka hak untuk memilih pasangannya. Karena kelak yang menjalani kehidupan ya mereka berdua. Kita jangan lagi hidup di zaman siti nurbaya." Kyai Abdullah dengan bijaksana.


"Ya betul Abdullah. Kamu benar. Apalagi anak-anak sekarang punya pemikiran sendiri tentang masa depan dan pilihannya. Kita hanya bisa mengarahkan." Sambung Tuan David.


"Mengapa mendengar kalian aku merasa tua. Padahal perasaanku mengatakan kita baru kemarin masih merintis bisnis kita. Sekarang, sibuk memilih menantu! Hahahaha!" Tuan Baskoro berkelakar.


"Kau ini Bas, kita memang sudah tua. Sudah pantas dipanggil Opa! Makanya Kau berhenti jadi Cassanova. Masa kau mau saingan dengan menantumu nanti!" Canda Tuan David.


Ketiganya tertawa mengenang masa-masa muda mereka, masa dimana ketiganya saat awal-awal membangun bisnis masing-masing.


"Nick, Salman. Kalian sudah lama?" Sonia menyapa kedua dengan ceria.


Terlebih ada Nick yang baru kali ini hadir dalam acara tersebut.


Nick melepas rangkulan Sonia dilengannya, risih wanita itu selalu saja menempel.


Sementara di sudut meja Alvin bingung melihat circle pebisnis yang tampak kenal satu sama lain.


Ada rasa rendah diri dalam hati Alvin, bagaimanapun ini kali pertama ia masuk kalangan jet set dimana ia tak mengenal akrab siapapun.


Alvin dengan segaja kegigihannya bertekad akan masuk ke circle pebisnis sukses dihadapannya dan matanya tak lepas memperhatikan sosok crazy rich yang tak lain adalah Nicholas Bryan yang saat ini sedang populer dikalangan pebisnis lain.


"Aku semakin penasaran siapa Nicholas Bryan dan bagaimana ia bisa sesukses ini?" Tatapan Alvin saat melihat Nick dari sudut sebuah meja.

__ADS_1


__ADS_2