JANDA SHOLEHAH JODOH CEO DUDA AROGAN

JANDA SHOLEHAH JODOH CEO DUDA AROGAN
Sepertinya


__ADS_3

"Dira, ayo ikut Tuan Max." Baskoro mendorong sambil tersenyum dengan kode lirikan mata yang Dira paham tersirat tekanan dari Papanya.


Dira mengikuti langkah Max, meski ia enggak melakukannya namun terpaksa ia turuti keinginan Baskoro.


"Indira, hallo!" Max melambaikan tangan didepan wajah Dira.


Dira menyunggingkan senyum terpaksa pada pria yang ada dihadapannya.


"Are you oke?" tanya Max.


"Ya." Dira menjawab singkat.


"Aku senang bisa bertemu dengan kamu. Aku tidak menyangka Tuan Baskoro memiliki putri secantik kamu." Max dengan sejuta pesona mengeluarkan rayuan mautnya.


Dira hanya kembali tersenyum.


Hati Dira sakit, rasanya ia tidak punya harga diri dengan cara Baskoro memperlakukan dirinya yang diakui sebagai putri.


"Kamh takut sama aku Indira? Ga usah takut aku ga gigit kok! Sudah jinak!" Max kini berubah strategi dengan mengeluarkan selera humor yang ala kadarnya.


Dira tampak membetulkan pakaian bagian atas dan bawahnya yang memang terlalu minim, tak lupa Dira sebetulnya tidak nyaman dengan make up tebal di wajahnya.


Semua itu tentu atas perintah Baskoro dengan memanggil mua dan fashion style guna menampilkan kesan seksi dan menggoda.


Dira jijik jika mengingat segala tingkah pola sang ayah yang diluar nalar.


Hingar bingar musik yang berdentum keras kini berubah menjadi alunan melodi indah dan lembut seakan membuai undangan untuk segera melantai.


Max mengulurkan tangannya, "will you dance with me?"


Dira belum menjawab, pikirannya entah kemana. Rasanya ingin segera mengakhiri saat ini juga.


"Ekhem!" Baskoro yang ternyata mengawasi keduanya memberikan isyarat yang membuat Dira semakin sadar bahwa ia selalu dalam pantauan.


"Thanks sweety." Max menuntun Dira menuju ke tengah siap mengajak berdansa.


Tentu saja semua mata tamu undangan tertuju pada sang pemilik acara, dan semua merasa penasaran siapa wanita beruntung yang berdansa bersama konglomerat tampan sekelas Max Weber.


Baskoro begitu senang, melihat Max yang tertarik dengan Dira.


"Tidak sia-sia aku bersusah payah! Sebentar lagi, perusahaanmu akan semakin besar! Dan tentu saja aku akan selamat dari para penagih hutang itu." Senyum lebar dari bibir Baskoro betapa ia telah membayangkan memiliki Max Weber ada dalam pihaknya.


"Boss, bukankah itu Dira?" Gusti yang memperhatikan wanita yang sedang berdansa dengan Max.


"Aku tidak memperhatikannya!" Nick yang memang tidak minat tak memperhatikan.


"Itu Indira Boss. Teman Bu Kanaya! Yang resign dari NBC!" Gusti memaksa si Boss agar mau melihat.


Nick menatap pertujukan dihadapannya, bukan memperhatikan siapa wanita yang sedang berdansa dengan Max malah pikirannya yang travelling.


Dalam bayangan Nick, dirinya dan Kanaya sedang berdansa berdua, saling menatap mesra, menikmati kecantikan paripurna, pahatan sempurna maha karya sang pencipta yang tertuang dalam paras cantik dan mempesona milik Kanaya.

__ADS_1


Dalam lamunan Nick Kanaya yang tersipu malu, menyandarkan kepalanya di dada bidang Nick sambil tersenyum manja.


"Boss, Boss!" Gusti setengah berteriak hingga lamunan indah Nick hilang sudah.


"Kau ini! Telingaku tidak tuli!"


"Habis Boss malah melamun!"


"Sudah, kita balik ke hotel. Lagi pula acaranya membosankan!"


Nick meninggalkan acara yang ia anggap membosankan melangkah keluar dari ruangan tersebut kembali menuju hotel tempat ia menginap.


Gusti tentu mengikuti kemana langkah kali Big Bossnya sambil bergerutu.


"Bilang aja, Boss iri tuh, makanya cari jodoh, biar ga kelamaan jomblo!" Gerutu Gusti yang nyatanya masih terdengar ditelinga Nick meski Gusti berkata sangat pelan.


"Kau sudah bosen hidup Gus! Atau malam ini mau aku kirim langsung sekalian digantung di patung Garuda wisnu Kencana!"


"Maaf Boss!"


"Maaf, Saya mau ke toilet." Dira melepaskan diri meminta izin kepada Max.


"Silahkan. Segera kembali. Aku menunggu." Mac dengan senyum manis melepaskan tangannya dari pinggang Dira.


Dira merasa dadanya begitu sesak. Tentu saja, Dira canggung berada dekat dengan pria yang baru ia temui.


Langkah Dira yang terburu-buru menabrak seseorang.


Hampir saja Dira jatuh namun sebuah tangan melingkar di pinggang Dira.


"Maaf, nona tidak apa-apa?" Pria itu langsung melepas tangannya sambil memastikan wanita dihadapannya baik-baik saja.


Dira berdiri menegakkan badannya sambil kini bolamatanya menatap pria yang bertabrakan dengannya.


"Ustadz Salman." Dira membulatkan matanya tanpa berkata, sapaan itu hanya suara hatinya saja.


"Kamu,?" Ustadz Salman tampak berpikir.


"Permisi!" Dira memilih segara berlalu menghindari Ustadz Salman.


"Sepertinya?" Ustadz Salman masih belum menemukan jawaban.


Tengah malam barulah acara yang tersebut selesai.


Para undangan satu persatu meninggalkan tempat acara.


"Tuan Max, terima kasih atas undangannya. Saya berharap Tuan tak lupa akan investasi yang akan Tuan berikan untuk perusahaan Saya." Itulah Baskoro yang ada di kepalanya hanya uang dan uang.


"Saya pun senang, bisa berkenalan dengan putri Tuan Baskoro yang cantik.


Baskoro yang melihat putrinya tidak merespon ia lah yang kembali menjawab pujian Max.

__ADS_1


"Anyway, Saya berniat mengajak Indira breakfast, apakah boleh?"


"Tentu saja boleh Tuan Max, bukan begitu Sayang?" Baskoro mewakili Dira menjawab permintaan Max sambil Baskoro menatap tajam pada Dira.


Dira mengangguk.


"Dira, bertahanlah. Jangan sampai orang sekitar Lo bakal jadi korban seperti Mbak Naya."


Itulah alasan Dira pura-pura tidak kenal dengan Ustadz Salman karena Dira tidak mau Ustadz Salman nernasib seperti Kanaya.


Max meraih tangan Dira hendak akan mengecup punggung tangan Dira namun dengan cepat Dira menarik tangannya hingga Max tak sampai melakukannya.


Tentu saja melihat hal itu Baskoro terlihat tidak suka.


"Maaf Tuan Max, Indira ini pemalu, harap maklum ya Tuan." Baskoro sambil memberikan alasan takut sikap Dira menyinggung Max, alih-alih batal rencana yang sudah disusun Baskoro untuk mendapatkan investor seperti Max.


"Tak apa Tuan Baskoro. Justru Saya suka sikap malu-malu Indira, Ok sampai jumpa besok pagi, ajudanku akan menjemputmu untuk breakfast."


"Baik Tuan Max, Saya akan mengingatkan Indira agar tidak telat bangun agar kalian bisa sarapan bersama."


Dira yang baru saja membuka pintu kamar hotel seketika didorong masuk oleh Baskoro dan dihempaskannya Dira hingga tersungkur dilantai.


Baskara mencengkram dagu Dira sambil ditatap tajam.


"Kau jangan coba -coba melawan. Papa tidak akan segan-segan berbuat nekat, bila Tuan Max membatalkan investasinya. Dan jangan coba-coba kabur lagi, karena siapapun yang membantumu bersembunyi, akan teekena imbasnya. Kau tidak maukan mereka aku perlakukan seperti temanmu itu?"


Begitulah Baskoro, mengaku orang tua namun sikapnya sangat kejam terhadap anaknya.


Dira menekan amarahnya. Ia tidak mau orang-orang dan teman-teman yang mengenalnya ikut terjerat dalam pusaran masalahnya.


"Gusti pesankan aku tiket sekarang juga!"


"Tapi Boss, ini masih jam 3 pagi!"


"Kau ingin kupecat!"


"Baik Boss."


Nick hanya kembali ke hotel, kemudian ia mandi dan mengganti baju. Tak sabar rasanya menunggu pagi untuk kembali pulang kerumah.


Rasanya sayang bilang ia tidak berangkat ke kantor.


"Alamat kerja rodi deh! Masa jam segini loh! Harus banget ga nunggu pagi! Dia yang kangen, gw yang capek badan!" Gusti mendumel dalam hati sambil tangannya dengan lincah memesan tiket pesawat.


Sementara Ustadz Salman baru saja selesai mandi duduk diranjang menyandarkan tubuhnya yang lelah.


Iman yang memang menemani Ustadz Salman kini angkat bicara.


"Ustadz ingat tidak perempuan yang berdansa dengan Mr. Max? Seperti pernah lihat. Tapi dimana ya?" Iman tampak berpikir.


"Bukankah wanita itu, wanita yang sama dengan wanita yang menabrakku tadi? Oh pantas saja aku seperti pernah melihatnya, ternyata wanita yang sama dengan wanita yang berdansa dengan Tuan Max." batin Ustadz Salman.

__ADS_1


__ADS_2