JANDA SHOLEHAH JODOH CEO DUDA AROGAN

JANDA SHOLEHAH JODOH CEO DUDA AROGAN
35 Cm


__ADS_3

Khalisa sedang meninabobokan Caca yang ingin mendengar sang Bunda bercerita banyak hal sebelum ia tidur.


Pemandangan yang sangat menyejukan mata bagi Oma Marisa sekaligus berselimut haru.


"Mom," Nick duduk di di sofa sebelah ruang tidur kamar hotel menghampiri sang Ibu.


"Mom bahagia sekali Nick, Caca sangat bahagia memiliki Bunda seperti Khalisa. Semoga kalian selalu rukun dan bahagia selamanya." Oma Marisa meneteskan airmata bahagianya tak kuasa menahan haru melihat keluarga sang putra kembali berwarna sejak kehadiran Khalisa.


"Terima kasih atas doa Mom selama ini, terima kasih pula Mom sudah sabar dan tak henti menjaga Aku dan Caca." Nick memeluk Oma Marisa betapa rasa sayang Nick begitu besar kepada wanita yang telah melahirkannya.


Khalisa beranjak dari ranjang dimana Caca telah tertidur pulas kini melihat pemandangan mengharukan antara Ibu dan Anak yang begitu syahdu.


"Sayang, kemarilah." Mom mengajak Khalisa bergabung.


"Caca sudah tidur ya? Kalian kembalilah ke kamar kalian. Biar Caca sama Mom disini. Tuh lihat wajah mupeng suamimu." Oma Marisa menggenggam tangan Khalisa dengan hangat.


"Mommy ku yang paling cantik tahu aja keinginan putra tampannya!" Nick tersenyum sambil melirik Khalisa.


"Tentu Mom sangat paham dengan otak mesummu Nick! Sayang, kalau suamimu ini tidak memberikan waktu istirahat, potong saja perkututnya!" Sengaja Oma Marisa melotot kearah Nick.


"Tega sekali!" Nick malah berimajinasi sambil melindungi si Joni, makhluk tersembunyi kebanggaannya.


"Mom, istirahat ya. Jangan lupa obatnya diminum." Khalisa mengingatkan Oma Marisa yang sebelum tidur ada obat yang memang harus dikonsumsi, maklum Oma sudah banyak yang dirasa.


"Mom, Kita balik dulu ya. Doakan putramu agar berhasil!" Nick dengan tingkah konyolnya.


"Dasar Kau! Sayang, selamat tidur ya. Mom lihat Kamu juga lelah. Nick, biarkan menantu Mom tidur nyenyak malam ini!"


"Selamat istirahat juga Mom." Khalisa pamit pindah ke kamar sebelah.


Kini Nick dan Khalisa telah menempati kamar hotel mereka.


Khalisa merasakan memang sedikit pusing. Tubuhnya terasa sangat pegal.


"Sayang, Kamu tidak enak badan?" Nick menuntun Khalisa duduk di tepi ranjang, memegang dahi sang istri yang sedikit lebih hangat.


"Cuma capek saja sepertinya Mas."


"Mas panggil Dokter ya?" Nick hendak meraih ponsel menghubungi Dokter.


"Tidak usah Mas. Aku hanya lelah. Mau istirahat saja."


"Sayang, berbaring saja. Mas akan ambil air hangat." Nick mengambil air hangat dan membantu Khalisa untuk minum.


Melihat Khalisa memijat kepalanya, Nick mengambil alih memijat perlahan kepala dan tengkuk leher sang istri.


Khalisa tak menyangka jika suaminya itu piawai memijat.


"Bagaimana Sayang, enak tidak pijitan Mas?"

__ADS_1


"Enak Mas. Mas ternyata pintar mijit juga ya."


"Jangan salah Sayang, dulu Almarhum Daddy paling suka minta Mas memijitnya jika sedang pusing atau balik dari kantor." Nick mengenang bagaimana kebersamaan dengan sang Ayah tang telah lama tiada.


"Mas, Aku mau tidur dulu gapapa ya?"


"Gapapa Sayangkuh, tidurlah. Berbaringlah biar Mas sekarang pijat kaki Kamu. Pasti lelah nih seharian kesana kemari." Nick membantu Khalisa berbaring, meluruskan kaki istrinya kemudian memberikan pijatan disana dengan tekanan yang pas.


Nick tersenyum betapa bahagianya ia, melihat wajah tenang istrinya yang sudah terlelap terasa damai.


Nick menyelimuti tubuh Khalisa membiarkannya beristirahat dengan tentram tak lupa mengecup kening sang istri dengan pelan sambil mengusap pucuk kepala dengan lembut.


Di tempat berbeda, Kediaman Kyai Abdullah.


Di dalam kamar, kedua pengantin baru terjadi drama yang tak sesuai dengan harapan.


"Kak, boleh minta tolong?" Dira masih dalam posisi di kamar mandi hanya meloloskan kepalanya saja keluar.


"Kamu sakit? Apa yang terasa sakit? Kakak panggil dokter ya!" Wajah Ustadz Salman panik takut terjadi apa-apa dengan sang istri.


"Bukan Kak. Dira tidak apa-apa. Cuma," Dira merutuki dirinya mengapa bisa lupa.


"Sayang, bilang, kenapa? Perlu apa?" wajah Ustadz Salman begitu khawatir melihat Dira sedikit lemas.


"Dira boleh minta tolong, dibelikan pembalut." Dira menunduk rasanya malu sekali mengapa ia bisa lupa akan jadwal periodnya sendiri dan tidak membawa benda keramat itu.


"Iya Kak. Maaf, Dira ga bawa pembalut. Dira juga lupa hari ini jadwal haidku." Dira semakin tertunduk malu.


"Maaf. Kakak cuma ga tahu mesti beli yang mana. Kakak belum pernah beli itu sebelumnya." Ustadz Salman tak enak hati takut Dira terkejut dengan nada suaranya yang kaget.


"Di minimarket juga ada Kak. Dira biasanya beli yang ada sayapnya trus ukurannya yang 35 cm. Ada tulisan Night di kemasannya." Dira menyebitkan merk dan ciri dari pembalut yang ia maksud.


"Sebentar," Ustadz Salman menuju nakas disisi tempat tidurnya mengambil ponsel miliknya.


"Bisa Kamu tunjukkan gambarnya?" Ustadz Salman menyerahkan ponselnya pada Dira.


Dira paham langsung mencari pembalut yang ia maksudkan di mesin pencarian pintar.


"Ini Kak." Dira menyerahkan ponsel Ustadz Salman lengkap dengan gambar pembalut yang Dira maksud.


Ustadz Salman memperhatikan gambar tersebut.


"Kamu tunggu di kamar saja ya. Kakak janji ga akan lama. Assalamualaikum."


Melihat Ustadz Salman yang langsung ngacir mencari permintaannya Dira tersenyum.


Dalam sebuah minimarket Ustadz Salman kini langsung mencari dimana pembalut sesuai dengan gambar diponselnya.


Rak berisi aneka ragam jenis dan merk pembalut telah ia temukan yang tanpa diduga ternyata banyak jenis dan ragamnya.

__ADS_1


Menelisik satu persatu mencocokan mana yang sama dengan gambar diponselnya.


Saking fokusnya hingga ada sapaan dari kaum hawa yang tentu saja mengenal sang Ustadz Viral tersebut.


"Assalamualaikum Ustadz. Ustadz cari pembalut? Wah untuk siapa?"


"Waalaikumsalam. Maaf Saya duluan ya. Permisi."


Untung saja yang dicari segera ketemu mengambil dengan cepat hingga tak tahu berapa jumlah pastinya segera menuju kasir membayarnya dan pulang.


"5 pcs pembalut totalnya 150.000. Ada tambahan lain Pak?" Kasir memberitahukan total yang harus dibayar.


"Tidak. Ini saja." Ustadz Salman menyerahkan uang cash kemudian menerima belanjaannya dan struk.


"Terima Kasih."


"Silahkan berkunjung kembali." Kasir menanggapi.


"Bukannya itu Ustadz Salman ya? Kok beli pembalut sih?"


"Beliau bukannya belum nikah ya?"


"Ya siapa tahu buat pacarnya!"


"Masa Ustadz pacaran?"


"Ya itukan di TV siapa tahu di belakang mah!"


"Jangan suudzon, siapa tahu untuk keluarganya?"


Begitulah omongan netizen sepeninggal Ustadz Salman dari minimarket tersebut.


Ustadz Salman kembali ke kamarnya namun Dira nyatanya masih berada dalam kamar mandi.


"Dira, ini Kakak. Ini pesanannya." Ustadz Salman mengetuk pintu kamar mandi.


Dira membuka sedikit mengambil bungkusan dari tangan Ustadz Salman.


"Makasi Kak. Loh ini banyak banget Ka?" Dira melihat 5 bungkus pembalut isi 12 pcs tiap bungkus.


"Eh, maaf Kakak ga tahu Kamu butuh berapa jadi Kakak seambilnya saja."


"Gapapa Kak, bisa disimpan untuk bulan depan." Masih saling berbincang meski terhalang pintu kamar mandi.


"Semoga bulan depan Kamu ga datang bulan lagi."


"Eh! Maksudnya Kak?" Bermakna ambigu di telinga Dira kata-kata Ustadz Salman.


"Sebaiknya segera digunakan. Kamu nanti kedinginan sudah terlalu lama di kamar mandi." Ustadz Salman Tak menjawab pertanyaan Dira memilih segera berlalu.

__ADS_1


__ADS_2