JANDA SHOLEHAH JODOH CEO DUDA AROGAN

JANDA SHOLEHAH JODOH CEO DUDA AROGAN
Tasyakuran


__ADS_3

Tiada kata selain ucapan rasa syukur yang tiada terkira manakala mendapatkan nikmat sehat dan iman yang selalu tertanam di hati sanubari.


Begitupun yang dirasakan oleh Kyai Abdullah, Oma Marisa dan Papa Baskoro, saat anak-anak mereka kini tengah berbahagia menyambut kelahiran cucu dan kehamilan Dira.


"Masya Allah, banyak sekali yang turut hadir. Berkah semuanya." Oma Marisa saat menggendong salah satu cucu kembarnya.


"Iya Jeng Marisa, Alhamdulillah. Berkah betul Kita ya Allah." sahut Bunda Amelia yang menggendong anak kembar Khalisa.


Sementara disisi para pria tampak Papa Baskoro sedang berbincang dengan Kyai Abdullah menemani para undangan yang turut hadir dan mendoakan kebahagiaan kelahiran dan kehamilan cucu sang Kyai.


"Abdullah, terima kasih. Berkat Kamu dan Salman, Aku merasakan kebahagiaan yang mungkin sebelumnya tak pernah ku sangka dan Aku duga. Kehadiranmu membawa berkah bagi hidupku dan keluargaku." dengan mata berkaca Papa Baskoro memeluk sahabat sekaligus besannya Kyai Abdullah.


"Semua berkah dan rezeki nikmat ini berasal dari Allah. Dan Kamu berhak mendapatkannya Bas. Aku hanya berdoa agar Kita semua, anak dan cucu Kita selalu dalam lindungan Nya." Kyai Abdullah menepuk bahu Papa Baskoro.


"Ya, Aku sangat bersyukur, melihat Dira begitu bahagia bersama Salman, Aku sadar bahwa masih ada kesempatan bagiku yang Allah berikan, semua itu juga berkat kebaikanmu Abdullah." Papa Baskoro menatap dengan senyuman merekah memandang Dira dan Salman yang kini tengah berbahagia menyambut kehamilan Dira yang kembar 3.


"Semoga Allah memberikan Kita nikmat panjang umur yang bermanfaat Bas. Kita berdoa agar selalu diberikan kesehatan agar bisa melihat cucu-cucu Kita tumbuh." Kyai Abdullah juga merasakan syukur yang tak terkira atas berkah dan nikmat yang Allah berikan untuk keluarga besarnya.


Sementara disisi lain, pasangan Khalisa dan Nick serta Salman dan Dira kini tengah saling bersenda gurau.


"Nich, putramu tampan sekali. Keponakanku ini sangat menggemaskan." Salman menatap kedua keponakan kembarnya yang sangat menggemaskan kini tengah lelap di dalam box bayi.


"Kakak ipar tidak bisa melihat bagaimana ketampanan Adik Iparmu ini, tentu saja putra-putraku sangat menurun ketampanan dariku." dengan penuh rasa percaya diri Nich bangga sambil tersenyum menyaksikan kedua putranya yang sedang terlelap.


"Iya deh Pak Boss, asal jangan nular juteknya saja. Ya ga Khalisa?" Dira yang mengusap lembut pipi kedua keponakan tampannya.


Sementara Khalisa hanya tersenyum mendengar gurauan semuanya.


"Kakak Ipar ini, Aku doakan agar kehamilan Kakak Ipar lancar dan sehat sampai hari kelahiran nanti." Nick tulus mendoakan.


"Aamiin." jawab serentak semuanya.


Nyatanya Nick mengundang banyak tamu dan relasi bisnisnya tak terkecuali keluarga Tuan Alex rekan bisnis Nick.


"Selamat Nick, wah putramu sangat tampan. Jagoan nih dua-duanya." Alex memeluk dan menepuk punggung Nick memberikan selamat.


"Khalisa selamat ya, Ya Ampun tampan sekali jagoan Kalian. Aku jadi ingat sewaktu Martin kecil. Jadi ingin punya anak lagi rasanya." Hania istri Alex memeluk Khalisa memberikan ucapan selamat serta membawa hadiah untuk si kembar.

__ADS_1


"Wah Kak Hania, senang ketemu lagi." Dira menyapa sambil cipika cipiki dengan Hania.


"Dira, selamat ya. Ya Allah, Aku bahagia sekali. Wah katanya Kamu kembar triplet ya? Wah seru tuh, ah Aku jadi semakin ingin hamil lagi." Hania memeluk bahagia Dira dalam pelukannya.


"Doakan lancar dan sehat ya. Ayolah Kak. Makin seru sepertinya." Dira menanggapi.


Martin yang sengaja meninggalkan kedua orang tuanya yang sedang asik lepas kangen memilih berkeliling dan ia melihat Caca sedang ngobrol dengan teman sekelas mereka yang turut hadir dalam acara tasyakuran ini.


"Ca, itu ada Martin. Ajak saja kesini." Chate memberi tahu Caca kedatangan Martin.


"Biarkan saja Chate. Caca malas dengan si Kulkas 2 pintu." Caca tak menoleh sedikitpun.


Nyatanya Martin menghampiri Caca.


"Hai Martin. Kamu hadir juga." sapa Chate pada Martin.


Tak ada jawaban, Martin Hanya mengutas senyuman tipis.


Chate meninggalkan Caca dan Martin memilih ke stall makanan mencoba kuliner yang belum ia coba.


"Kamu punya adik, nanti tidak disayang lagi loh!" tanpa dugaan Martin malah membuka percakapan dengan kalimat konfrontasi.


"Hei! Aku lagi ngomong sama Kamu!" Martin sebal karena diabaikan Caca.


"Oh Kamu ngomong ya? Caca pikir sedang bergumam!"


Caca memilih duduk sambil menikmati es krim.


"Sebagai Tuan rumah Kamu harusnya lebih ramah, Kamu tidak menawariku?" Martin memperhatikan Caca yang asik menikmati es krim.


"Kalau Kamu mau, ambil saja, Caca kan tidak pegangin es krimnya. Tuh disana!" tunjuk Caca ke salah satu stall es krim yang ramai didatangi tamu yang hadir.


Bukannya mengambil es krim yang Caca tunjuk, malah Martin mengambil es krim ditangan Caca dan membawanya lari.


Tentu saja Caca geram hendak mengejar Martin namun terhenti karena dipanggil sang Bunda.


"Sayanh, Kakak Caca, sini. Ada Tante Hania dan Om Alex." pinta Khalisa pada Caca.

__ADS_1


Caca menghampiri Alex dan Hania menyalaminya bergantian.


Sementara Martin si tanpa dosa juga melakukan hal yang sama saat diminta Mommy dan Daddynya menyalami rekan bisnis Daddynya itu.


"Wah Caca sudah jadi Kakak ya? Martin Kamu mau juga kan punya adik seperti Caca?" Hania sepertinya sangat antusias saat melihat bayi-bayi tampan Nick dan Khalisa.


"Mau asal adiknya laki-laki." jawab Martin singkat.


"Mana bisa milih begitu Sayang, memang kalau adiknya perempuan kenapa?" Hania mengernyitkan dahinya mendengar jawaban sang putra.


"Tidak mau! Kalau perempuan suka ngambek!" mata Martin sengaja meledek Caca.


Tentu saja semua yang hadir tersenyum dengan jawaban Martin tapi tidak bagi Caca yang sangat menyebalkan.


"Kakak, ajak Martin mencoba makanan, ayo." Khalisa tahu Caca sedang kesal berusaha meredam agar tidak terlalu ketara.


"Dia sudah ambil es krim Caca Bunda." Caca masih kesal dengan ulah Martin.


"Martin, jangan nakal Nak!" tegur sang Daddy pada Martin.


"Tak apa, namanya juga anak-anak." Nick menetralkan suasana.


Gusti dan Iman datang menghampiri menyapa hormat boss dan relasinya.


"Nona Caca, Den Martin ayo Om Gusti ajak kesana, disana ada booth foto. Nanti Om Gusti Fotokan. Ya kan Om Iman?" Gusti melihat Caca yang berwajah jutek mencoba membujuk.


Caca memilih ikut dengan Gusti dan Iman pun mengajak serta Martin bersama mereka.


"Martin itu memang kadang terlalu cuek." Hania tak enak sendiri.


"Namanya juga anak-anak Hania, nanti mereka berdamai sendiri." jawab Khalisa.


"Sepertinya mereka cocok sekali ya, seperti seseorang yang Aku kenal, akhirnya berjodoh." Dira tersenyum sambil menatap adik-adik iparnya.


"Sayang," Salman merangkul istrinya.


"Yah, Kelak kalau mereka berjodoh, Kita bisa menjadi besan Nick." Alex menepuk bahu Nick.

__ADS_1


"Biarkan anak-anak menentukan sendiri pilihannya Lex. Kalau memang jodoh ya Kita bisa apa." jawab Nick santai.


__ADS_2