JANDA SHOLEHAH JODOH CEO DUDA AROGAN

JANDA SHOLEHAH JODOH CEO DUDA AROGAN
Pakaian Dinas


__ADS_3

"Assalamualaikum Bunda." Caca menyalami Bundanya saat melihat Khalisa sudah menunggu di depan sekolah menjemput Caca.


"Waalaikumsalam Sayang. Bagaimana hari ini di kelas?" Khalisa menggandeng Caca membawanya menuju mobil.


"Baik Bun, tapi. Ya gitu deh. Si Kulkas tadi aneh!" Caca dan Khalisa otw menuju kantor Dira.


"Kenapa Sayang. Martin memang bicara apa?" Khalisa mengusap pucuk kepala putrinya.


"Ya gitu deh Bu. Kita ga usah bahasa Si Kulkas lagi Bun. Caca masih kesal dengan dia." Caca masih tak suka meski hari ini Martin coba beramah tamah versi Martin.


"Iya deh. Tapi inget loh, kalau seseorang sudah meminta maaf kita harus berbesar hati memaafkannya. Allah saja maha pemaaf Sayang. Pelan-pelan saja ya anak cantik." Khalisa memberikan pengertian.


"Iya Bun. Caca ga marah cuma bete aja sama si Kulkas.


Sesampainya dikantor Dira, nyatanya CEO muda nan cantik itu sudah menunggu kedatangan Khalisa dan Caca.


"Tante Dira! Assalamualaikum." Caca mencium tangan dan memeluk Dira.


"Waalaikumsalam Sayang. Baru balik sekolah ya. Haus ga? Mau minum apa?" Sambil memangku keponakan tersayang.


"Kamu mau minum apa Ca?" Dira juga menanyakan hal yang sama pada Khalisa.


"Caca mau Jus ada ga Tante?" Caca menyebutkan.


"Ada dong. Mau jus apa?" Dira menanggapi.


"Jus alpukat!" Caca berseru semangat.


"Ok. Kamu apa Ca?"


"Samakan saja Dira dengan Caca."


"Ok." Dira menghubungi OB dan memberikan pesanan ketiganya.


Ketiganya kini otw menuju Mall.


"Mbak, Aku sudah booking perawatan untuk kita bertiga." Dira saat sampai di Mall.


Ketiganya kini memasuki salah satu tempat kesukaan para kaum hawa memanjakan diri sejenak, merelaksasi tubuh yang lelah dan butuh dimanjakan.


Caca pun ikut mendapatkan treatment bersama Bunda dan Tantenya.


Hanya saja ruang untuk anak dipisahkan dengan dewasa.


"Dira, Kamu jadi mau cari baju dinas?" Khalisa mengkode pada Dira sambil menikmati pijatan.


"Jadi Ca. Nanti pilih sama-sama ya. Kamu juga pilih sesuai selera Pak Boss!" Dira mengedipkan satu matanya.


"Sepertinya baik Suami maupun Kakakku mereka tipikal serupa. Okelah!" Khalisa menyetujui.


"Gaskeun!" Dira dengan senyum lebar.


Setelah puas dan tubuh terasa relax pasca perawatan eksklusif yang mereka jalani.

__ADS_1


Caca memilih main di tempat permainan selagi Bunda dan Tantenya berkelana mencari pakaian dinas.


"Wah, banyak juga ya jenis dan modelnya." Dira baru kali ini khusus ke store yang menjual pakaian dinas para istri.


"Dira, sepertinya ini bagus untuk Kamu." Khalisa memberikan saran mengambil salah satu pakaian dinas berwarna maroon.


"Aku dapat 1 yang cocok untuk Kamu dinas malam bareng Pak Boss. Nih cosplay jadi sekretaris!" Dira menyerahkan pakaian dinas malam dengan tema sekretaris.


"Wow, tak Ku sangka, Kakak Iparku sangat imajinatif!" Khalisa suka dengan pilihan Dira.


"Pak Boss dijamin klepek-klepek!"


Tawa renyah keduanya terhenti saat mendengar sapaan seseorang.


"Khalisa!"


"Hania!"


Keduanya bercipika cipika seakan lama tak jumpa.


"Kenalkan ini Kakak Iparku." Khalisa mengenalkan Dira pada Hania.


"Dira." Dira mengajak salaman.


"Hania." Hania menyambut salaman Dira dan mencipika cipiki juga.


"Dira, Hania ini, istrinya Tuan Alexander. Rekan bisnis Mas Nick." Khalisa menerangkan pada Dira.


"Ini istrinya Ustadz Viral ya, Ustadz Salman Al Farisi?" Hania memastikan saat sejak awal ia sudah menduga dan memastikan.


"Aku jadi malu Mbak, ga pantes ya?" Dira bercanda.


"Justru serasi sekali, tampan dan cantik. Pernikahan Kalian diliput semua media. Wah Aku tersanjung bisa bertemu dengan Bu Ustadz." Canda Hania.


"Waduh, jangan panggil begitu Mbak Hania. Akupun masih jauh dari itu. Panggil Dira saja Mbak." Dira sadar kapasitas ilmu agamanya sangat minim.


"Aamiinkan saja Dira. Semoga jadi doa." Khalisa menambahkan.


"Aamiin." Ketiganya kompak.


"Btw, Kalian lagi cari-cari ini?" Hania berbisik pada Khalisa dan Dira sambil menunjuk pada barisan pakaian dinas.


"Iya Mbak. Ada referensi? Sepertinya Mbak Hania sudah suhu." Dira menambahkan.


"Sekedar kebutuhan! Ayo Aku akan kasih lihat koleksi terbaru."


Dira dan Khalisa mengikuti kemana Hania membawa.


"Mbak tolong keluarkan koleksi terbaru dan terlaris untuk sahabat-sahabat Saya." Hania meminta salah satu SPG menyiapkan.


"Baik Bu. Kami akan siapkan. Silahkan tunggu diruanganan." SPG membawa mereka memasuki ruangan khusus display.


"Hania, Kamu pemiliknya ya?" Duga Khalisa.

__ADS_1


"Kalian jangan sungkan. Jika suatu saat ada koleksi baru, Aku akan kabari. Pokoknya kita sebagai istri harus selaku terdepan dalam hal ini. Karena yang menyeramkan saat ini bukan kuburan jeruk purut, tapi pelakor!" Hania berbisik pada Dira dan Khalisa.


Tentu saja ketiganya tertawa bersama.


"Betul sekali Mbak Hania. Wah Dira senang sekali bisa tambah sahabat lagi. Ah senangnya hatiku!" Dira tertawa lebar bahagia rasanya dapat saudara baru lagi.


"Bu silahkan ini semua adalah koleksi terbaru kita." SPG memberitahu kepada Hania.


"Terima kasih Mbak." Hania menjawab SPG yang melayani mereka.


"Ayo silahkan pilih, mana yang disukai. Bawa pulang sepuasnya." Hania merangkul Khalisaa dan Dira.


Ketiganya sangat seru hingga ketiganya tak sadar sudah hampir 2 jam seru dengan dunia mereka.


Sementara Caca yang asik bermain di arena permainan tanpa sengaja menabrak seseorang.


"Aduh!" Caca jatuh terduduk.


"Kamu gapapa?" Seorang anak laki-laki mengulurkan tangannya hendak membantu.


Caca melihat siapa yang membantunya.


"Hei kenapa Kamu langsung pergi. Ga basa basi terima kasih!" Martin dengan ketus mampu menghentikan langkah Caca.


Caca berbalik, " Terima kasih!" Caca kembali berjalan memilih wahana permainan lain.


"Hei, Kamu sendiri? Kemana Bunda dan Daddymu?" Nyatanya Martin malah mengekori Caca.


Caca memasukan koin dan memulai naik ke atas panel siap untuk mengikuti dance yang ada dilayar monitor.


"Ayo duel!" Martin mengikuti Caca dan kini keduanya siap berduel mana paling tangkas dalam dance kompetisi dadakan.


Kedua suami bucin di dampingi kedua asisten tampan tapi jomblo, mulai memasuki Mall.


"Dira belum mengangkat telp." Ustadz Salman melihat pula chat di aplikasi hijau miliknya juga belum dibalas.


"Kakak Iparku kurang canggih. Nih lihat, mereka ada disini. Ayo kita susul." Nick merangkul Kakak Iparnya membawa pada titik yang ia tunjuk.


"Kau seperti spy saja Nick. Dasar bucin!" Ustadz Salman tak menyangka Nick bisa mengakses keberadaan Khalisa.


Tampaknya Ustadz Salman mulai terpikir melakukan hal yang sama.


"Hania, terima kasih ya. Aku jadi enak kalau begini." Khalisa mengucap terima kasih.


"Mbak Hania, emang paling best of the best. Pantas disayang Tuan Alex! Makasi banyak ya Mbak." Dira terlihat senang dengan apa yang ada ditangannya.


"Sama-sama. Aku malah senang baru saja menetap disini, sudah punya dua bestie seperti Kalian. Kapan-kapan kita holiday sama-sama yuk!" Hania mengantar keduanya keluar butik miliknya.


"Siap!" Dira membentuk tanda Ok.


"Bisa diatur. Kalau begitu, Kami pamit Hania." Khalisa dan Dira undur diri.


"Titi Dj ya! Kabari Aku kalau mau kesini!" Hania melambaikan tangan pada keduanya.

__ADS_1


__ADS_2