JANDA SHOLEHAH JODOH CEO DUDA AROGAN

JANDA SHOLEHAH JODOH CEO DUDA AROGAN
Maukah Kamu Menikah Denganku?


__ADS_3

"Maaf bila Saya terlalu panjang lebar. Namun ada satu hal yang ingin Saya sampaikan di hadapan Kyai Abdullah, Ustazd Salman dan para hadirin sekalian, khususnya untuk Khalisa Humaira."


Wajah Nick kini begitu serius. Tatapannya dalam menyisir satu per satu dimulai pada Kyai Abdullah, Ustadz Salman dan Para hadirin.


Hingga netra biru itu kini menatap wanita sholeha yang kini sedang tertunduk meski saat Nick menyebut namanya wajah cantik dan tenang itu terangkat dan menatap balik si pemilik suara bariton yang telah dalam menatap wajahnya.


Nick tersenyum melihat Khalisa kemudian ia kini Nick berjalan kearah Kyai Abdullah, pria sepuh yang merupakan ayah kandung wanita sholeha yang telah mencuri hati Nicholas Bryan.


Nick, bersimpuh dihadapan Kyai Abdullah meski sedikit gemetar tapi Nick merasa inilah saat yang tepat untuk ia secara langsung mengutarakan apa yang ada dihatinya dihadapn laki-laki yang paling berhak atas wanita sholeha yang ia cintai.


"Pak Kyai sebelumnya Saya memohon maaf sebesar-besarnya apabila perkataan yang akan Saya utarakan kurang berkenan dihati Pak Kyai. Namun dengan niat baik dan kesungguhan yang Saya miliki, perkenankan Saya Nicholas Bryan, laki-laki dengan segala kekurangan yang ada pada diri Saya untuk menyampaikan maksud hati Saya secara tulus dan sungguh-sungguh bahwa Saya ingin melamar Khalisa Khumaira sebagai istri Saya dan Ibu bagi putri Saya." Meski awalnya kata-kata yang terucap dari bibir Nick begitu berat, kini rasa lega dan plong di dada Nick saat ia bisa dengan lancar menyampaikan maksud dan isi hatinya kepada Khalisa di hadapan ayah kandungnya yang tak lain adalah Kyai Abdullah.


Khalisa tentu saja terkejut hingga ia menoleh memandang Nick bergantian memandang Abah dan Kakaknya.


Khalisa sungguh terkejut, tak menyangka manakala kata-kata tersebut keluar dari bibir boss nya sendiri.


"Pak Kyai, maaf bila cara Saya melamar Khalisa tidak pantas dan tidak layak. Namun sejujurnya memang ini diluar dari rencana Saya dan tidak ada persiapan apa-apa, karena sejujurnya saat Saya datang kesini, Saya begitu berat karena harus menata hati Saya, merelakan wanita yang Saya cintai bersanding dengan orang lain. Betapa bodohnya Saya, hingga Saya tidak menyadari bahwa Khalisa dan Ustadz Salman adalah kakak dan adik kandung. Saat mendengar kenyataan tersebut, hati Saya mantap dan Saya tidak ingin mengulangi kebodohan Saya, untuk itu hari ini, saat ini dengan tidak ada persiapan apapun, Saya tidak membawa apapun, hanya niat tulus diri Saya memberanikan diri dihadapan Pak Kyai untuk melamar Khalisa Humaira menjadi bidadari surga Saya, mendampingi Saya didunia hingga akhirat." Nick dengan mantap meski tidak membawa apapun hanya niat dan keberanian serta ketulusan yang ia bawa kehadapan Kyai Abdullah.


"Ya Allah Nick, memang putraku terbaik! Gusti kita berhasil! Sayang doakan agar Daddy diterima!" Oma Marisa adalah orang paling bahagia manakala Nick dengan gentlemant mengutarakan keinginan melamar Khalisa.


"Yes Nyonya Oma. Semoga lamaran Bos diterima! Nona Caca ayo doa!" Gusti tampak bahagia dengan apa yang ia saksikan.


"Daddy we love you! Fighting!" Caca malah bersuara memberikan semangat kepada sang Daddy.


Tentu saja tingkah 3 supporter terdepan Nick membuat semua yang menyaksikan tersenyum tidak terkecuali Kyai Abdullah, Ustadz Salman dan tentunya Khalisa Humairah aka Kanaya Larasati.


"Abah tidak bisa menjawabnya Nak Nick, yang berhak menjawab adalah Khalisa sendiri. Bagaimana Nak, apakah kamu menerima khitbah dari Tuan Nick?" Kyai Abdullah menatap wajah putrinya.


Kini semua mata tertuju pada Khalisa. Semua menantikan penuh berdebar apakah jawaban yang diberikan oleh Khalisa atas lamaran Nick.

__ADS_1


"Ca, kamu jawab, jangan sampai Boss Kita masuk rumah sakit lagi! Kamu memang tega?" Canda Ustadz Salman mencairkan suasana.


Khalisa menata Nick, sejujurnya ia terkejut dan masih tak percaya dengan apa yang saat ini terjadi.


Kegagalan pernikahannya dengan Alvin sedikit banyak meninggalkan luka dan kecewa di hati Khalisa aka Kanaya.


Kondisi jantung Nick rasanya mau meledek menantikan jawaban Khalisa.


Waktu seakan bergerak lambat, hingga terasa begitu menyesakkan dada.


Hati, Kepala, Perut, Lutut semua terasa nano nano bagi Nick.


"Abah, apakah boleh Khalisa menanyakan sesuatu pada Tuan Nick?"


"Katakan Nak, tanyakan langsung padanya apa yang ingin kamu ketahui." Kyai Abdullah tahu putrinya sedang menimbang-nimbang sebelum mengambil keputusan.


Semua yang mendengar ada rasa iba pada apa yang diutarakan Khalisa.


Betapa pedih hati wanita itu, seakan setiap kata demi kata yang terucap bagai tergores sembilu.


Hal wajar bagi Khalisa menanyakan hal tersebut.


Tak mudah bagi seorang laki-laki menerima istri yang tidak mampu memberi keturunan.


Terlebih pengkhiatanan dilakukan atas dasar kekurangan yang ia miliki menambah perih hatinya hingga meninggalkan trauma mendalam.


Sebagai Ayah, Kyai Abdullh pun sangat sedih, hatinya hancur betapa ia tak sanggup membayangkan bagaimana Khalisa saat itu sendirian menghadapi semuanya. Ada sesak yang menyelimuti dada Kyai Abdullah.


Ustadz Salman tak kuasa sudut matanya berkaca-kaca manakala mendengar penuturan adik perempuannya tentu rasa marah dan kesal terbersit dalam hati Ustadz Salman.

__ADS_1


"Silahkan Tuan Nick menjawab apa yang menjadi pertanyaan Khalisa." Suara parau Kyai Abdullah seolah menjelaskan betapa ia turut merasakan kepahitan hidup yang Khalisa pernah alami.


"Tiada yang sempurna didunia ini, aku, kamu kita semua memiliki kekurangan. Akupun seorang duda, memiliki satu putri. Aku bukan laki-laki sholeh, Aku tidak berjanji apapun, karena aku takut akan mengingkari janjiku sendiri. Aku hanya ingin mengatakan bahwa aku mencintaimu karena Allah menggetarkan hatimu. Aku memintamu untuk menjadi istriku karena hatiku yakin kamu adalah jodoh terbaik yang Allah kirimkan untukku. Soal anak, maukah kamu menganggap putriku sebagai anakmu juga? Masalah poligami, aku memang tidak paham bagaimana dan seperti apa hukumnya, yang aku tahu dengan kebodohan diriku aku tidak suka saat melihat kamu dimiliki orang lain, aku kesal saat senyum itu bukan untukku, Aku marah manakala aku tak sempat menyampaikan rasa cintaku padamu, Hingga tadi kakiku melangkah kesini, aku masih belajar menata hatiku yang kuanggap kau bukan jodohku. Namun, saat ku ketahui kenyataannya, aku yakin, kamu adalah jawaban setiap doaku. Lantas bagaimana aku bisa berbagi hati, jika sejak awal hatiku sudah kamu curi, Khalisa Humaira?"


"Oh so sweet Daddy! I'm proud of you Dad!" Caca teriak begitu bahagia sang ayah bisa se sweet itu.


"Ya Allah Nick, darimana kamu bisa seromantis itu, Mas anak kita bikin reader meleleh pastinya!" Oma Marisa tak menyangka Nick bisa seromantis seperti saat ini.


"Ya Tuhan Boss, sejak kapan jadi bucin begini!" Meski kaget Gusti terlihat happy se happnya.


Wajah Khalisa merona. Betapa ia malu saat ini dengan apa yang Nick utarakan.


Kyai Abdullah tersenyum melihat ekspresi wajah merona dan malu-malu putrinya.


"Dek Caca, kapan dijawabnya, kasian loh itu Mas Nich nungguin, kalo Mas Nich kamu pingsan Kakak ga kuat ya kalo disuruh gotong!" Canda Ustadz Salman.


Meski tersenyum mendengar mantan rivalnya Nick masih deg degan menanti jawaban Khalisa.


"Nak, apakah kamu siap memberikan jawabannya?" Kyai Abdullah menepuk bahu Khalisa perlahan.


Khalisa menatap wajah Abahnya, lalu kakaknya Ustadz Salman, Lalu Khalisa melihat senyum dan wajah penuhh pengharapan dari Oma Marisa dan Caca, gadis kecil yang sejak awal dekat dengan Khalisa.


Kini, tatapan Khalisa tertuju pada wajah tampan pria yang saat ini melamarnya, Nicholas Bryan, CEO NBC, Duda beranak 1, Pria yang selama ini menyebalkan, cuek dan minim ekspresi sedang menatap Khalisa dengan penuh harapan dan wajah tegangnya.


"Khalisa Humairah, bersediakah kamu menjadi istriku, ibu dari anak-anak kita, dan mendampingiku hingga ajal suatu saat tiba?" Nick kini berlutut dihadapan Khalisa.


"Maaf jika aku tidak membawa bunga dan cincin saat ini, tapi niat dan kesungguhanku kuharap dapat kau terima dan rasakan bahwa aku benar-benar mencintaimu."


"Khalisa Humairah, Maukah kamu menikah denganku?"

__ADS_1


__ADS_2