JANDA SHOLEHAH JODOH CEO DUDA AROGAN

JANDA SHOLEHAH JODOH CEO DUDA AROGAN
Kakak dan Dede


__ADS_3

"Sayang, nanti kalau sudah besar Kalian jadi anak baik ya. Duh, Nabil sama Nadhif kesayangan Kakak. Gemes!"


Caca sangat bahagia, rasanya setiap hari begitu senang melihat tingkah lucu kedua adik kembarnya.


Seperti siang ini selepas pulang sekolah Caca bermain dengan sang adik hingga ia lupa belum makan siang.


"Kakak, ayo makan dulu." Khalisa mengingatkan putri sulungnya.


"Iya Bun, Kakak lupa, habis asik banget lihat adik baby, lucu dan gemesin." Caca masih senang berada di dekat kedua adiknya.


"Bunda ambilin dan suapi saja ya kalau begitu?" Khalisa hendak beranjak namun sang putri sulung menahan.


"Caca bisa makan sendiri Bunda, kan Kakak sudah besar sekarang." Caca memang begitu mandiri terlebih sejak punya dua adik jiwa mandirinya semakin terasa.


"Pinter banget sih Kak, ya sudah kalau bosen makan sendiri bawa kesini saja makannya."


"Iya Bun."


Siang itu Caca makan berdekatan dengan sang adik yang sedang santai di bouncer sambil berbincang dengan sang Bunda.


Anak dan Ibu yang selalu ada saja bahan obrolan.


Caca tak pernah sungkan dan ragu menceritakan aktivitas sekolahnya atau apapun yang sedang ia rasakan kepada sang Ibu sambung namun rasa ibu kandung.


"Kakak, sebentar lagi Kakak kan ujian, nanti lulus mau lanjut ke sekolah mana?"


Khalisa betul-betul memperhatikan pendidikan Caca meski begitu ia dan Nick selalu memberikan kebebasan kepada sang anak memilih sekolah mana yang Caca senangi sebagai orang tua baik Nick dan Khalisa hanya mendukung selama baik bagi Caca.


"Caca sebetulnya mau kesekolah lain Bun ga nerus di sekolah yang sekarang. Biar ganti suasana."


Sekolah tempat Caca sekarang memang tersedia jenjang pendidikan hingga SMA namun Caca sepertinya memiliki pilihan lain.


"Bunda dan Daddy mendukung apapun pilihan Kakak, selama baik dan Kakak nyaman di sekolah itu. Memang Kakak niatnya mau ke sekolah mana?" tanya Khalisa sambil mengusap lembut kepala sang putri.


Caca pun menceritakan sebuah sekolah yang ia inginkan.


Caca juga menjelaskan mengapa ia tertarik untuk sekolah disana.


Caca memiliki keinginan dan mimpi yang ia rasakan akan bisa mengakomodir cita-citanya.


Mendengar penuturan putrinya, Khalisa bangga sekaligus bersyukur, Caca meski belum dewasa namun pola pikir dan cara Caca memandang sesuatu begitu luas dan mendalam.


Betapa bersyukurnya Khalisa di karuniani putri secerdas Caca.


"Bunda, kenapa diam?"


Caca melihat sang Bunda memandanginya dengan tersenyum.

__ADS_1


"Bunda bersyukur karena Bunda dikaruniai putri secerdas Kakak. Tetap semangat belajar dan selalu jadi anak baik ya Kak. Daddy dan Bunda Insha Allah akan terus mendukung dan mendoakan Kakak agar Kakak sukses."


"Aamiin. Makasi ya Bun. Bunda juga sudah sayang sama Caca."


Khalisa dan Caca berpelukan hingga tak sadar akan kehadiran Oma Marisa.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


"Oma, Mom." Caca dan Khalisa menoleh kearah Oma Marisa.


"Kalian kayak teletubbies aja berpelukan. Ajak Oma juga dong!"


Oma Marisa kemudian menyusul memeluk Cucu dan Menantunya.


"Oma baru pulang ya?" tanya Caca.


"Mom sudah makan?" tanya Khalisa.


"Sudah Sayang. Eh Iya nih Oma bawakan kue kesukaan Kakak." Oma Marisa menyodorkan cake kesukaan Caca.


"Makasi Oma. Caca bawa kebelakang dulu ya." pamit Caca.


Anggukan Oma Marisa melepas Caca yang membawa kue.


Oma Marisa merasakan kebahagiaan dan rasaya syukur yang tak henti akan takdir yang Allah berikan bagi keluarganya.


Melihat Nick dan Caca mendapat sosok seperti Khalisa membuat Oma Marisa merasakan kebahagiaan yang luar biasa.


Kehadiran Khalisa laksana embun di pagi hari, menyirami ladang tandus yang kini telah bersemi dan menghijau kembali.


"Sayang, Kamu masih akan melanjutkan kuliahmu?" Oma Marisa sambil memandangi kedua cucu tampannya.


"Keinginannya Khalisa begitu Mom, menurut Mom bagaimana?"


"Mom mendukungnya, tidak apa-apa lanjutkan saja. Toh Nick tak akan melarang kan? Mom akan membantu menjaga si kembar selama Kamu sedang kuliah."


"Ya, Khalisa akan bicarakan sama Mas Nick Mom."


"Ya bicarakan saja dengan Nick. Oh Iya Sayang, besok Kamu mau bawa si kembar imunisasi ya? Mom ikut ya. Ingin tahu juga bagaimana perkembangannya menurut Dokter."


"Masya Allah, Khalisa hampir lupa. Iya Mom besok jadwalnya. Tapi Khalisa antar Caca dulu ke sekolah ada pertemuan orang tua murid."


"Ya sudah kalau begitu sekalian saja."


"Iya Mom."

__ADS_1


Lain di Kediaman Nick, berbeda pula dengan Dira dan Salman yang kini sedang ada kegiatan masing-masing.


Dira yang sedang berada di ruang kerjanya iseng melihat tayangan tausyiah yang dipandu oleh sang suami sebagai nara sumber.


Semula Dira yang senyum dan senang karena tak bosen melihat wajah tampan suami seketika jadi cemberut karena ada pertanyaan jamaah yang menanyakan apakah sang Ustadz berniat berpoligami.


Tentu saja hormon kehamilan membuat cemburu Dira semakin menggebu hingga ia segera menghubungi sang suami.


"Assalamhalaikum Sayang." sapa Ustadz Salman yang kini ada di kantor selepas meeting.


"Waalaikumsalam Kak. Kakak dimana?" nada Dira terdengar serius.


"Kakak di kantor. Sayang sudah makan siang?" Ustadz Salman sudah berfirasat ada yang tak beres dari nada bicara sang istri.


"Aku mau dijemput Kak sekarang." Dira seketika tak ingin melanjutkan pekerjaannya.


"Ya sudah, Kakak ke kantor Kamu ya sekarang. Mau dibawakan apa?" dengan lembut Ustadz Salman agar meredakan kekesalan Dira.


"Ga usah Kak. Aku maunya Kakak segera kesini aja."


"Ya sudah. Kakak otw ya. Sampai ketemu Jauzati. Assalamkalaikum."


"Waalaikumsalam."


"Iman, Jika ada yang mencariku, katakan Aku pulang dulu ya."Ustadz Salman berpesan pada Iman.


"Baik Ustadz. Saya antar sekarang."


"Tidak usah Man. Aku berangkat sendiri saja."


Sementara di NBC Nick gelisah karena sejak tadi ia begitu ingin segera pulang, namun masih ada beberapa meeting yang harus ia lakukan tentu saja membuat Boss besar dari Gusti ini bad mood.


"Boss setelah ini masih ada meeting dengan Mr. Takeshi." Gusti menjelaskan jadwal Nick selanjutnya.


Tanpa menjawab Nick mencoba menghubungi sang istri namun tak ada jawaban.


Karena tak mendapat amunisi suara merdu istrinya Nick melanjutkan aktivitasnya dengan mood yang jelek hingga Gusti kewalahan menjaga mood sang Big Boss yang semakin uring-uringan.


"Akhirnya Boss sudah selesai jadwal Boss hari ini. Mau langsung Saya antar pulang?"


"Dari tadi seharusnya!" jawab Nick seenaknya.


"Ya mau gimana lagi Boss, klien hari ini semua mau bertemu langsung dengan Boss. Lagi pula Boss selalu bilang kalau-"


"Stop! Kalau Kau ngomong terus Gus, kapan Aku sampai rumahnya!"


"Ok Boss. Kita otw sekarang."

__ADS_1


Memilih aman dan menuruti keinginan si Boss agar dunia aman dan selamat begitulah trik Gusti dalam menjinakkan Bossnya yang sudah mode singan lapar.


__ADS_2