
"Gus, Agendaku sudah selesai kan?" Nick bertanya pada Gusti.
"Sudah Boss. Memang ada apa?" Gusti bertanya.
"Kalau begitu Aku mau jemput bidadari surgaku dulu. Kau tetap di kantor. Jika tidak ada yang urgent jangan hubungi Aku. Awas kalau berani ganggu Aku ya!" Nick mengultimatum Gusti.
Nick meninggalkan Kantor menuju mobil yang sudah tersedia di pintu keluar.
"Assalamualaikum. Mom, Aku minta tolong jemput Caca di sekolah ya. Soalnya Aku mau pacaran dulu sama Istriku." Nick menghubungi Oma Marisa meminta tolong menjemput Caca.
"Waalaikumsalam. Kau ini, baiklah. Mom akan otw ke sekolah Caca. Ingat, menantu Mom jangan Kau bikin capek-capek!" Oma Marisa paham pikiran mesum putranya.
"Mom ini buruk sangka sekali padaku. Baiklah. Terima kasih ya Mom. Dah Mom. Assalamualaikum." Nick menyudahi panggilan pada Oma Marisa.
"Waalaikumsalam." Oma Marisa tersenyum bahagia melihat putranya kini sudah kembali seperti dulu lagi sejak menikahi Khalisa.
Dengan semangat 45 Nick kini sudah sampai di parkiran fakultas kampus Khalisa.
Sengaja tak menghubungi sang istri, Nick memilih memberi kejutan dengan kehadirannya menjemput Khalisa.
Tentu saja sopir keluarga yang mengantar Khalisa telah Nick minta kembali.
Memang banyak sekali cara dan upaya Nick agar bisa berduaan dengan istrinya.
Dalam lamunannya yang terus tersenyum sumbringah seketika mendadak wajah Nick berubah ke mode biasa jutek, galak dan menyeramkan saat melihat Khalisa sedang di kejar seorang pria.
Khalisa selesai kuliah segera keluar ruangan, ia ingat bahwa akan menjemput Caca ke sekolah.
"Khalisa!"
"Ada apa Pak?" Khalisa tak nyaman dengan sikap Raditya yang selalu cari perhatian.
"Sudah selesai ya? Boleh Kita mengobrol sebentar. Sepertinya Kamu selalu menghindariku?" Raditya kini berjalan melangkahi Khalisa hingga kini posisi Raditya ada di hadapan Khalisa.
"Sayang! Assalamualaikum!" Nick langsung memeluk Khalisa mengecup kening istrinya yang masih bingung dengan kedatangan suaminya.
"Maaf sepertinya Istri Saya tidak nyaman berbicara dengan Anda, Oh Iya perkenalkan. Nicholas Bryan, Pemilik NBC sekaligus suami tercinta Khalisa Humairah!" Nick mengulurkan tangan pada Raditya.
Tentu saja Raditya tahu Nick, Nick adalah pengusaha sukses, dijuluki sultan, berita mengenai kerajaan bisnisnya sering mondar-mandir ada di media.
Raditya juga mendengar bahwa Nick memiliki saham di kampus tempat ia mengajar.
Namun Raditya yang baru kembali ke Indonesia tak mengetahui kalau istri Nicholas Bryan adalah Khalisa Humairah, mahasiswinya sekaligus wanita yang sejak pertama kemunculan dan pertemuannya dikampus sudah mencuri hati Raditya.
__ADS_1
"Saya Raditya. Saya dosen disini. Senang berjumpa Anda Tuan Nicholas. Maaf Saya tidak tahu Khalisa maksud Saya Nyonya adalah istri Tuan." Raditya tentu saja salah tingkah.
"Sekarang Anda sudah tahu. Jadi tolong tidak perlu dekat-dekat dengan istri Saya. Selain di kelas sebagai dosen dan mahasiswi selebihnya tidak perlu." Nick mengeluarkan taringnya menjaga apa yang menjadi hak dan miliknya.
"Sekali lagi maafkan Saya. Kalau begitu Saya permisi Tuan, Nyonya." Raditya cari aman memilih undur diri sebelum Nick mengundurkannya dari jabatannya sebagai dosen di kampus itu.
"Mas, kok ada disini?" Khalisa tahu suaminya sedang mode ngambek.
Masih diam dan hanya menuntun lembut Khalisa membukakan pintu untuk masuk ke dalam mobil.
Khalisa jelas mengerti Nick sedang dalam mode cemburu.
Nick menjalankan mobilnya dengan perlahan meski hatinya kesal ia tetap ingat Khalisa sedang hamil.
Namun rasa kesal masih menyelimuti hatinya karena tak rela sang istri ditaksir oleh pria lain.
"Mas, jangan diam saja dong. Mas marah ya? Maaf ya Mas. Jujur Aku ga tahu kenapa Pak Radit ngikutin Aku." Khalisa membujuk Nick yang masih memilih diam.
Nick menepikan mobilnya. Menoleh ke sang istri menatap wajah cantik yang semakin tak rela bila harus dilihat dan dipandangi pria lain selain dirinya.
"Mas, Aku tuh cuma cinta sama Kamu. Mas itu segalanya buat Aku. Jadi Mas ga usah khawatir, meskipun banyak diluar sana yang mendekatiku, tapi cinta dan hati Aku cuma milik Mas seorang." Sekali-kali puitis tak apalah, demi melunakkan hati suami yang sedang dibakar cemburu.
"Mas ga marah sama Kamu Sayang. Mas hanya kesel aja ada pria lain yang suka sama Kamu. Mandangin Kamu kagum begitu. Rasanya si Rabbit mau Mas cakar-cakar saja!" Nick terlihat kesal.
Tentu saja diperlakukan manis, dimanjakan oleh Khalisa membuat Nick tak tahan marah lama-lama.
"Sayang, meski Mas ga kesel sama Kamu, tapi Mas mau minta ganti rugi?" Nick dengan senyum terselubung.
"Ganti rugi? Aku mana punya uang." Khalisa mengerutkan dahinya.
"Ganti ruginya bukan pakai uang Sayang, tapi dengan silahturahmi." Nick senyum-senyum sendiri sambil membayangkan yang ada dipikirannya.
"Jangan-jangan?" Khalisa menyipitkan matanya menduga hal yang iya - iya akan segera terjadi.
"Kamu cerdas sekali Sayang. Tentu seperti yang Kamu duga, Ayo Mas akan ajak Kamu ke suatu tempat. Kita bisa silahturahmi sepuasnya!" Nick kembali melajukan mobilnya dengan hati riang gembira.
"Ya Allah, alamat pegel luar dalem ini sih." Gumam Khalisa.
"Tenang saja Sayang, Mas tanggung jawab kok bakal pijitin Kamu kalau pegel." Nick mengecup tangan Khalisa.
"Bukan dipijit kalo sama Kamu Mas. Malah makin pegel yang ada Akunya." Khalisa sudah paham luar dalam Nick suaminya selalu punya cara agar sesi menggairahkan keduanya lebih dari sekali dalam sekali putaran.
"Kamu selalu mengerti keinginan Mas Sayang. Jadi makin cinta deh!" Nick tak sabar untuk sampai ke tempat tujuan.
__ADS_1
Khalisa melihat sebuah pantai yang indah. Meski masih di dalam kota, Khalisa tak menyangka ada tempat sebagus ini dan tampaknya sepi dari pengunjung.
"Sayang, ayo!" Nick membuka pintu mobil mengulurkan tangannya agar digenggam Khalisa.
"Mas kok sepi sekali disini? Tidak ada pengunjungnya kah? Apa ini masih tutup?" Khalisa bertanya namun tak mendapat jawaban.
"Selamat Sore Tuan Nicholas dan Nyonya. Silahkan." Tampak seorang pria dan wanita menyambut kedatangan keduanya.
"Ayo Sayang." Nick menggandeng Khalisa masuk ke dalam sebuah resort yang memiliki gaya bernuansa tepi pantai.
"Tuan, Nyonya, Kami sudah menyiapkan kamar untuk beristirahat. Apakah Tuan dan Nyonya mau langsung ke kamar, atau mau menikmati hidangan terlebih dahulu?" Tanya pegawai resort.
"Sayang, mau makan dulu? Atau mau langsung ke kamar?" Rasanya bila Nick yang berbicara mengajak ke kamar suasananya menjadi mendebarkan bagi Khalisa.
"Kita makan dulu saja Mas. Aku lapar sepertinya." Khalisa menelan saliva melihat sirat keomesan sang suami.
"Siapkan makan malam saja untuk Kami di pinggir pantai." Nick memerintahkan.
"Baiklah Tuan, Nyonya, Kami akan menyiapkan dinner spesial untuk Tuan dan Nyonya. Kami permisi."
Tak butuh waktu lama apa yang Nick rencanakan kini sudah ada di depan mata.
"Bagaimana Sayang, Kamu suka?" Nick membuka penutup mata Khalisa membiarkan Khalisa menyusuri setiap hal yang dipersiapkan Nich sebagai surprise bagi istri tercintanya.
"Masya Allah. Indah sekali. Terima kasih Mas. Mas repot-repot segala. Padahal dimanapun asal bersamamu Aku bahagia. Terima kasih ya suamiku Sayang." Khalisa memeluk Nich.
"Sayang, Mas cinta sama Kamu. Cinta Mas semakin bertambah subur setiap hari bersamamu. Berjanjilah untuk selalu menemani Mas hingga Kita menua bersama."
Nick menyerahkan sebuah kotak persegi empat dengan warna biru dongker.
"Untukku?" Khalisa menatap tak percaya.
"Tentu honey. This is for you My Queen. Mau Mas bantu pakai?"
"Masya Allah indah sekali gelangnya Mas. Ini terlalu mahal." Khalisa masih sering terkaget-kaget dengan apa yang Nich lakukan untuknya.
"Insha Allah tidak Sayang, Suamimu ini kan disebut Sultan menurut orang sih." Tawa dan Canda terselip dalam ucapan Nick.
Nick sendiri sebetulnya tak merasa dengan apa yang media dan semua orang katakan bahwa ia adalah Sultan dengan segala yang ia miliki.
"Selalu rendah hati dan jangan sombong ya Mas. Semua titipan Allah." Khalisa mengingatkan.
"Iya Sayang. Mas ga takut karena akan ada Kamu yang selalu mengingatkan Mas." Nick mengecup kening Khalisa.
__ADS_1
"Terima kasih Mas atas semuanya." Khalisa memeluk Nick erat.