JANDA SHOLEHAH JODOH CEO DUDA AROGAN

JANDA SHOLEHAH JODOH CEO DUDA AROGAN
Panggil Sayang


__ADS_3

Khalisa, Oma Marisa, Caca otw menuju tempat yang Khalisa rekomendasikan kepada Oma Marisa untuk membeli kebutuhan donasi yayasan milik Oma bersama teman-teman sosialitanya.


Ponsel Khalisa berdering, setelah di cek teenuata suami tercintanya yang menelpon.


"Assalamualaikum." Khalisa menjawab panggilan suaminya.


"Waalaikumsalam Sayang. Masih di RS?" Nick dengan suara lembut.


"Sudah otw mau menemani Oma belanja kebutuhan donasi. Mas masih meeting?" Khalisa menanyakan.


"Masih ada satu klien lagi Sayang. Oh iya Sayang, Abah kan sudah berangkat, bagaimana kalau sore nanti kita menginap di rumah Abah." Nick tidak tahu kalau pengantin dadakan akan menginap disana.


"Jangan sekarang Mas, malam ini biarkan Kak Salman dan Dira saja yang kesana. Kalau kita ikut kesana bisa mengganggu." Khalisa jadi teringat wajah Kedua Kakak dan Kakak Iparnya yang masih malu malu meong saat di RS.


"Wah, mereka akan menginap disana Sayang? Bagaimana kondisi Pak Baskoro, Apakah sudah lebih baik?" Nick juga tersenyum mendengar pasangan pengantin dadakan yang sepertinya akan memiliki kesempatan unboxing.


"Alhamdulillah, sudah semakin baik. Sepertinya tak lama lagi sudah diperbolehkan keluar RS. Meski untuk saat ini, Pak Baskoro masih belum bisa berjalan harus dibantu kursi roda. Tapi tidak bersifat permanen. Masih bisa disembihkan dengan terapi dan perawatan yang intensif." Khalisa menjelaskan berdasarkan apa yang ia lihat, cerita Dira dan Dokter yang visit saat kunjungan mereka tadi.


"Alhamdulillah kalau begitu. Mas senang mendengarnya."Nick ikut senang atas perkembangan kesembuhan Pak Baskoro Ayah Dira.


"Bunda Caca mau ngomong sama Daddy."


"Dad, Caca mau ngomong nie." Khalisa memberikan ponselnya pada Caca.


"Daddy, selesai meeting jam berapa?" Caca menanyakan kapan Nick pulang.


"Insha Allah sore Dad sudah selesai. Ada apa Sayang?"


"Bagaimana kalau kita malam ini staycation. Caca kepingin berenang sama Daddy dan Bunda. Eh sama Oma juga deh!" Caca hampir lupa dengan Oma.


"Boleh. Ya sudah kalau begitu Caca, Bunda dan Oma selesai dari sana langsung saja datang. Nanti Daddy dan Om Gusti menyusul. Bagaimana?"


"Hore! Ok. Dad! Bunda ini lanjut ngobrol sama Dad." Caca menyerahkan ponsel kepada Bundanya.


"Mas, " Khalisa menyapa.


"Sayang, kalau begitu langsung saja dengan Caca dan Mom ke NBC Hotel. Nanti Mas dan Gusti selesai meeting akan menyusul. Biar nanti Mas telp pihak hotel untuk menyiapkan."


"Baiklah. Nanti kita kesana ya Mas. Lancar meetingnya."


"Makasi Sayang. Salam untuk Oma. Sampai bertemu disana ya Sayang, Muach. Love you honey." Nick bahagia sekali.


"Iya nanti disampaikan. Ya sudah Aku tutup ya Mas. Assalamualaikum." Khalisa masih malu mengingat di mobil ada Oma, Caca dan Driver.

__ADS_1


"Waalaikumsalam. Bales ciumnya nanti langsung ya Sayang." Nick tahu Khalisa tak membalas nya karena malu.


"Masih jauh Sayang tempatnya?" Oma Marisa bertanya.


"Tidak Mom, di lampu merah depan tinggal belok kiri." Jelas Khalisa.


Meninggalkan Khalisa, Oma dan Caca yang akan berpetualang di toko tradisional hunting kebutuhan donasi, disini dalam mobil terlihat sekali suasana malu-malu antara Ustadz Salman dan Dira.


"Ustadz, mampir sebentar ya kerumah Dira, mau ambil baju sama beberapa keperluan." Dira menoleh sebentar dan kembali menatap kedepan saat sang suami balik menatapnya.


"Ah, Ya." Ustadz Salman pun tak kalah kikuk saat pandangan mereka begitu dekat saling bersitatap.


"Assalamualaikum. Mbok." Dira mengucap salam menyapa ART yang bekerja dirumah Bundanya.


"Waalaikumsalam. Nona Dira. Bagaimana kondisi Tuan?" Dira menyerahkan paper bag pakaian kotor milik Bunda dan Papanya kepada ART dirumahnya.


"Alhamdulillah. Papa sudah lebih baik. Sudah tidak diruang ICU. Sudah ga pake oksigen juga Mbok." Dira dengan wajah tersenyum menjelaskan kondisi Papanya.


"Alhamdulillah ya Allah. Semoga Tuan segera sembuh, cepet pulang lagi kerumah." Doa sang ART.


"Aamiin." Kompak Dira dan Salman menjawab.


"Eh maaf Non, ini siapa? Kok sepertinya Mbok pernah lihat, tapi dimana ya?" Dengan wajah berpikir mengingat wajah yang sangat familiar pria disebelah Dira.


Tentu saja semua yang mendengar terkejut akan pernyataan pria disebelah Dira.


Dira paham akan kebingungan tersebut kembali menjelaskan.


"Mbok ini Ustadz Salman Al Farisi. Pasti Mbok pernah lihat di TV kan?" Dira sejujurnya menahan rona wajahnya saat mendengar kata suami yang diucapkan Ustadz Salman.


"Oalah, si Mbok baru enggeh, iya Ustadz Salman. Masya Allah Non Dira beruntung sekali, menikah dengan Ustadz Viral yang ganteng. Si Mbok sampe seperti mimpi bisa lihat langsung Ustadz Salman yang Viral ini." Si Mbok layaknya netizen yang berjumpa idola.


"Mbok bisa saja. Justru Saya yang beruntung, bisa menikah dengan Nona cantik ini." Ustadz Salman memang bahagia meski dadakan ia senang sekaligus bersyukur bisa menikah dengan wanita yang ia suka.


"Ah si Mbok jadi lupa, Non Dira dan Den Ustadz makan dulu ya, si Mbok siapkan."


"Boleh. Ayo Ustadz kita makan." Dira memecahkan rasa groginya.


"Loh Non Dira, kok manggilnya Ustadz, panggil Mas gitu, atau panggil yang mesra." Canda si Mbok.


"Ah Mbok ini, seneng banget ya ledekin Dira. Ayo Mbok Dira sudah lapar." Dira buru-buru mengajak si Mbok agar tidak semakin ngelantur.


Setelah mereka makan dan Dira sudah berkemas dengan barang bawaannya, Dira dan Salman pamit

__ADS_1


"Mbok, Dira pamit dulu ya. Dira akan tinggal dirumah Abah, mertua Dira. Tapi bolak balik juga kesini. Papa juga tak lama lagi kalau kondisinya semakin stabil bisa pulang kerumah dan berobat jalan."


"Den Ustadz titip Non Dira ya. Non Dira ini, kalau bangun tidur suka susah, nanti Den Ustadz cium saja kalau Non Dira susah bangun pagi."


"Dira udah ga kesiangan lagi Mbok, cuma kalau weekend saja mumpur ga ke kantor." Dira malu aibnya dibuka oleh si Mbok.


Ustadz Salman hanya tersenyum mendengar celoteh si Mbok tentang Dira.


Salman memang belum mengenal seperti apa kebiasaan istrinya. Perlahan keduanya memang harus saling belajar memahami kebiasaan masing-masing.


"Dira pamit sekarang saja Mbok, makin lama makin Mbok bocorin aib-aib Dira. Dira pamit ya Mbok. Assalamualaikum." Dira mengucap salam.


"Kami pamit Mbok. Assalamualaikum." Ustadz Salman melakukan hal yang sama.


"Waalaikumsalam. Hati-hati nyetirnya Den Ustadz. Non Dira sehat-sehat ya." Si Mbok melambaikan tangan sampai mobil keluar dari gerbang kediaman Nyonya Amelia.


Dira aneh melihat Ustadz Salman tersenyum bahkan sampai terlihat barisan giginya yang putih bersih dan rapi.


"Ustadz kenapa ketawa?" Dira menatap dari samping Ustadz Salman yang fokus melihat jalan.


"Ternyata istriku ini sudah bangun pagi toh!" Sekilas melihat Dira disampingnya masih tersenyum.


"Ga ada ya! Buktinya di RS Dira duluan yang bangun dari Kakak!" Dira tidak sadar memanggil Kakak pada Ustadz Salman.


"Kenapa ga Sayang aja manggilnya?" Ustadz Salman menoleh ingin melihat reaksi Dira.


"Apa!" Dira kaget mendengar apa yang diucapkan Ustadz Salman.


Semesta mendukung, saat lampu merah kini memaksa mereka berhenti sejenak.


Ustadz Salman menoleh kearah Dira dengan senyuman manisnya.


Mendengar teriakan Dira yang terkejut " Kenapa kok kaget begitu, Sayang?"


Seketika wajah Dira bersemu merah mendengar panggilan Sayang dari Ustadz Salman.


"Duh Kok jadi gemes ya." Ustadz Salman melajukan lagi mobil mereka setelah lampu berubah hijau.


"Sudah hijau Kak, lampunya." Dira mengalihkan pembicaraan.


"Iya Sayang." Jawab Ustadz Salman mengulangi.


Tentu saja Dira berusaha menetralkan debaran jantungnya yang terasa akan loncat dari tempatnya.

__ADS_1


__ADS_2