JANDA SHOLEHAH JODOH CEO DUDA AROGAN

JANDA SHOLEHAH JODOH CEO DUDA AROGAN
Kelulusan Caca


__ADS_3

Hari berganti hari, mingu demi minggu berganti bulan.


Khalisa sudah menyesuaikan dengan segudang aktivitasnya.


Menjadi seorang Ibu, Istri dan ia pun masih melanjutkan pendidikannya tentu tak mudah membagi waktu.


Khalisa yakin, ia sebisa mungkin dan selalu mengutamakan kewajiban utamanya sebagai seorang istri serta Ibu bagi putra putrinya akan selalu berusaha melakukan yang terbaik.


Benar yang dikatakan orang, jika wanita memang terlahir sebagai makhluk multi tasking, seperti itulah yang kini Khalisa rasakan.


Disisi lain, Khalisa juga menjadi anak dan menantu yang berbakti bagi kedua orang tuanya.


"Bunda, Caca bagus tidak pakai ini?" Caca yang terlihat sudah rapi dengan kostum untuk acara perpisahan sekolahnya.


"Masha Allah, cantik sekali putri Bunda." Khalisa mengusap kepala Caca.


"Iyo dong. Siapa dulu Bundanya!" Caca mengeratkan pelukannya pada sang Bunda.


"Loh, ini peluk-pelukan kok gak ngajak Daddy?"


Nick yang sejak tadi berada di ambang pintu mengamati interaksi keduanya sangat haru kini memilih bergabung bersama.


"Daddy iri ya, ini Bunda Caca!" Caca merajuk malah semakin mengeratkan pelukannya pada Khalisa sang Ibu.


"Ternyata Kalian masih disini? Nih lihat, jagoan kembar Oma saja sudah gamal begini!" Oma Marisa beserta baby sitter masuk membawa kedua jagoan Nick dan Khalisa.


"Gamal?" Nick mengernyitkan dahi.


"Gamal itu, Ganteng Maksimal Daddy!" Caca menjelaskan sambil ia mendekati kedua adik tampannya.


"Ada-ada saja Mom, kenapa jadi alay begitu sekarang!" Nick serasa tertinggal peradaban bahasa kekinian.


"Kau saja yang tidak gaul Nick, makanya, update!" Oma Marisa menyerahkan Nadhif kepada Khalisa dan Nabil kini sudah berpindah ketangan Nick.


"Oma, Daddy, lebih baik sekarang Kita berangkat. Caca ga mau sampai telat ke acara sekolah Caca." Caca menginterupsi Daddy dan Sang Oma yang selalu tak mau kalah.


"Yuk Bunda, Kita duluan saja." Khalisa yang digandeng oleh Caca menuju keluar kamar.


Sementara di Kediaman Papa Baskoro dan Bunda Amelia tampak sedang menikmati sarapan bersama namun tak melihat keberadaan Dira dan Ustadz Salman bergabung.


"Sayang, Dira dan Salman belum turun?" Papa Baskara menanyakan sang istri.


"Nah itu Salman, Nak Dira mana?" tanya Bunda Amelia pada sang menantu.


"Bunda, Papa, Salman sepertinya akan membawa Dira ke Rumah sakit. Dira sudah pecah ketuban." Ustadz Salman terlihat panik meski ia berusaha menenangkan diri.

__ADS_1


"Ayo Salman, segera Kita bawa Dira ke Rumah Sakit. Bun, tolong lihat Dira." Papa Baskoro malah ikut panik.


"Iya Pa, Bunda akan naik." Bunda Amelia sudah masuk dalam lift sebelum Papa Baskoro menyelesaikan ucapannya.


"Sayang, ketubanmu sudah keluar Ayo Kita ke Rumah sakit." Bunda Amelia yang segera masuk ke Kamar Dira dan meluhat Dira sedang menahan sakit karena kontraksi.


"Iya Bun, ini sakit sekali." Dira memegang perutnya dengan bersimbah peluh yang keluar sebesar-besar jagung di dahinya.


Acara perpisahan sekolah begitu meriah dan berbalut keharuan.


Siswa dan Siswi menampilkan pertunjukan dihadapan guru dan para orang tua.


"Sekarang, adalah saatnya pengumuman siswi dan siswi terbaik. Untuk Siswa Terbaik jatuh kepada,,, Martin Alexander. Dan Siswi terbaik jatuh kepada Clarisa Aurora Bryan! Kepada kedua Siswa dan Siswi yang namanya disebutkan harap maju keatas panggung." Seorang guru sekaligus MC membacakan hasil pengumuman kelulusan.


Khalisa dan Nick bergantian mencium Caca dengan perasaan bahagia dan bangga.


Betapa harunya Khalisa dan penuh dengan senyuman diwajahnya, memiliki putri seperti Caca.


Rasa syukur tak terkira yang Khalisa rasakan sebagaimana seorang Ibu yang bahagia atas pencapaian anaknya.


"Masha Allah, Cucu Oma!" Oma Marisa bergantian memeluk Caca sebelum Caca sebelum Caca naik keatas panggung.


Disisi lain Martin yang didampingin kedua orang tuanya juga dihujani peluk dan Cium dari Papi dan Maminya, Papi Alex dan Mami Hania yang terlihat bajagia sekaligus bangga terhadap putra tunggal mereka.


Meski begitu baik Martin dan Caca saling diam saja, keduanya memang terlihat tak akur meski hanya saling diam.


Kepala sekolah menyerahkan piala dan piagam kepada keduanya serta berfoto bersama dengan para guru.


Wajah-wajah penuh kebanggaan tergambar jelas dari kedua orang tua Caca dan Martin.


MC memanggil kedua orang tua mereka untuk mengabadikan foto bersama diatas panggung.


Ada setitik airmata di sudut mata Nick. Entah perasaan apa yang berkecamuk dalam benak pria yang kini masih terlihat tampan meski sudah memiliki 3 orang anak.


Khalisa dan Hania pun tampak saling memeluk merasakan kebahagiaan yang sama terhadap pencapaian yang diraih putra dan putri mereka.


"Caca Sayang, selamat ya! Tante Hania bangga sama Kamu!" Hania memeluk Caca yang turut bahagia Caca juga berprestasi bersama Martin putranya.


"Terima kasih Tante Hania." Caca membalas pelukan Hania.


"Martin, semoga kelak Kamu akan seperti Papimu!" Nick mengusap kepala Martin sambil tersenyum melihat anak laki-laki yang berwajah tampan namun irit senyuman itu.


Nick seolah membenarkan kalau dalam diri Martin ia melihat bagaimana ia dulu yang begitu kaku ibarat Kulkas 2 pintu.


"Terima kasih Om." jawab singkat Martin sambil mencium tangan Nick menyalaminya.

__ADS_1


"Kalau begitu Kita foto bersama ya!" ajak Tuan Alex.


"Ya, betul! Untuk kenang-kenangan. Ah Mami kok jadi melow ya! Kenapa Kamu harus sekolah keluar negeri sih Sayang!" Hania yang sebetulnya berat melepas anak semata wayangnya untuk jauh darinya.


"Ayo Kita foto dulu!" Oma Marisa merangkul Hania yang sudah terlihat sedih membayangkan jauh dari martin.


Oma Marisa tentu bisa merasakan apa yang Hania rasakan sama seperti dirinya dulu saat melepas Nick sekolah diluar negeri.


"Nah untuk merayakan kelulusan Caca dan Martin, Kami mengundang Tuan Nick dan keluarga ke retoran Kami. Bagaimana Tuan Nick?" ajak Tuan Alex.


"Ya Saya terserat anak dan istri Saya saja." Nick melihat kepada Caca dan Khalisa.


"Baiklah Tuan Alex. Terima kasih atas undangannya." Khalisa menangkupka kedua tangannya.


"Ayo Khalisa." Hania menggandeng Khalisa berjalan lebih dulu disusul Tuan Alex dan Nick serta Oma Marisa berjalan dibelakangnya.


Sementara Caca dan Martin yang berada dibelakang para tetua terlihat masih saling diam tak bersuara.


Martin sesekali melirik kearah Caca yang tampak cuek saja tak perduli.


"Martin! Ayo Sayang, kenapa masih disana!" panggil Hania pada sang putra yang ia lihat hanya diam saja sejak tadi.


Sementara Caca sudah duduk bersama keluarganya disamping Bunda dan Omanya.


Daddy Nick dan Papi Alex tampak seru berbincang apa saja.


Sedangkan Oma Marisa, Bunda Khalisa dan Mami Hania tak kalah asik bersenda gurau khas para wanita yang tentu saja panjang kali lebar bila sudah berkata-kata.


Caca mengajak main kedua adik jagoannya yang sedanh diasuh oleh baby sitter tampak happy sendiri tak memperdulikan Martin yang sepi tak ada lawan bicara.


"Kamu mau melanjutkan sekolah dimana?"


Tak ada angin, tak ada hujan Martin buka suara bertanya pada Caca.


"Kamu nanya? Kamu bertanya-tanya?" Caca malah meledek dengan candaan khas masa kini.


Terdengar helaan nafas Martin menimbulkan perhatian Caca yang seketika menoleh kearah sang Kulkas 2 pintu.


"Aku akan sekolah lama di luar negeri. Mungkin sampai kuliah!"


"Terus?" Caca kembali menatap kedua adiknya yang sedang lucu-lucunya.


"Aku harap Kamu tidak lupa sama Aku."


Caca kembali menoleh menatap kearah Martin yang malah pergi setelah mengucapkan kata-katanya.

__ADS_1


__ADS_2