
Hari demi hari berganti mingu demi minggu dan bulan pun silih berganti.
Usia kandungan Khalisa menginjak memasuki bulan kelahiran.
Perut semakin besar tentunya membuat tidurpun terasa tak nyaman.
Nick juga sudah tak lagi ngidam. Sebagai suami siaga selalu ada disaat Khalisa membutuhkan.
Caca sebentar lagi dalam beberapa bulan akan lulus dari sekolah dasar.
Sementara pasangan Ustadz Salman dan Dira masih harus bersabar dan banyak berdoa serta berusaha agar segera diberikan momongan.
Pagi ini Oma Marisa sedang menemani Khalisa jalan pagi di taman belakang rumah mereka.
Nick dan Caca asik berenang sambil bercanda gurau.
Begitulah Daddy dan Putrinya meski sering adu pendapat namun tanpa mereka sadari sedikit banyak sifat Nich menurun pada Caca.
"Sayang, duduk sini. Ada yang Mom ingin sampaikan." Oma Marisa menuntun Khalisa yang mengikuti permintaan mertuanya.
Tentu saja kehamilan baby twins membuat ukuran perut Khalisa lebih besar.
"Ada apa Mom?" Khalisa menatap wajah Oma Marisa yang terlihat teduh.
"Belakang Mom sering bermimpi bertemu Dad. Ayahnya Nick." Oma Marisa menghela nafas panjang.
"Mom juga tak sekali dua kali. Dalam sebulan ini bahkan sering sekali Dad mengunjungi Mom dalam mimpi." Lanjut Oma Marisa.
"Dalam mimpi Mom bisa melihat senyum bahagia Daddy, meski ada kecemasan dalam hati Mom." Oma menjeda perkataannya.
"Tapi Mom sudah tenang, jikalau memang Allah menakdirkan Mom segera menyusul Daddy, Mom ikhlas. Mom juga tenang karena sudah ada Kamu yang akan mendampingi Nick dan Caca. Juga sebentar lagi baby twins akan lahir. Mom sangat bahagia." Oma Marisa mengusap lembut perut besar dan bulat Khalisa.
"Mom, hidup dan mati manusia semua adalah rahasia Allah SWT. Meski begitu Khalisa, Mas Nick dan Caca juga baby twins ingin Oma panjang umur, sehat, bahagia dan masih lebih lama lagi mendampingi Kami. Apalagi, Khalisa sudah menganggap Mom selayaknya Ibu kandung Khalisa sendiri. Khalisa ingin Mom selalu ada dbersama Kami melihat Caca dan Baby Twins tumbuh dewasa dan melihat mereka bersama-sama Khalisa dan Mas Nick." Khalisa menggenggam tangan Oma Marisa.
"Iya Sayang. Mom juga berharap bisa melihat Cucu-Cucu Oma tumbuh. Caca, Baby Twins. Cucu-cucu kesayangan Oma." Oma Marisa tak bisa lagi membendung airmatanya.
__ADS_1
"Mom bagaimana kalau besok Kita Ziarah kemakam Daddy, sekaligus kemakam Mbak Aurel. Sudah lama juga Kita semua belum kesana." Khalisa mengusulkan.
"Iya Sayang. Meski setiap shalat Mom tak lupa mendoakan mendiang Daddy dan Aurel namun sepertinya memang Mom sudah lama tidak nyekar." Oma Marisa mengusap airmata yang kembali terjatuh.
Nyatanya interaksi Oma Marisa dan Khalisa, ditangkap Nick, ia tak mau mengganggu membiarkan keduanya berbicara dari hati ke hati.
Nick menyadari tentu sesama wanita akan lebih saling memahami meskipun ia putra kandung Mom Marisa terkadang tetap saja kurang memahami perasaan sang Ibu.
Sementara di Kediaman Pak Baskoro, trrlihat Ustadz Salman sedang asik menemani Papa Baskoro berjalan pagi mengelilingi kebun di belakang rumah mereka.
Mertua dan Menantu terlihat kompak, banyak saja bahasan yang mereka perbincangkan, dari mulai perusahaan, hobi hingga sharing soal agama.
Meski lebih tua Papa Baskoro tak malu belajar dan bertanya kepada Ustadz Salman sang menantu karena bagi Papa Baskoro malah sebagai suatu anugrah ia bisa dengan leluasa bertanya kepada menantunya sendiri.
Dira yang duduk di kursi taman termenung menarik perhatian Bunda Amelia yang semula akan menghampiri Papa Baskoro memilih duduk disebelah putrinya.
"Sayang, melamun?"
Suara lembut Bunda Amelia membuyarkan renungan Dira.
"Bunda." Dira tersenyum mendapati Bunda Amelia duduk disebelahnya kini mengusap pucuk kepala Dira.
Sambil menarik nafas, mengambil ancang-ancang sebelum membuka perbincangan.
"Dira hanya sedang memikirkan sesuatu." Dira menjeda sebelum ia buka suara.
"Dira khawatir Bun, hingga kini Dira belum juga hamil." Wajah Dira menunduk terlihat raut kesedihan dalam paras cantiknya.
Bunda Amelia sangat paham sekali apa yang dirasakan Dira.
Tentu saja pernikahannya dengan Baskoro puluhan tahun bahkan hingga kini tidak ditakdirkan diberi keturunan.
"Sayang, sini lihat Bunda."
Dira menghadapkan wajahnya pada Bunda Amelia. Bunda Amelia bisa melihat sudut mata Dira menganak sungai dengan netra berkaca-kaca.
__ADS_1
"Dira takut Bun, tidak bisa memberikan Kak Salman keturunan. Dira takut Kak Salman seperti Papa, Dira," tak sempat melanjutkan kata-katanya kadung airmata dan isak tangis mendahului.
Bunda Amelia membawa Dira dalam pelukannya. Menepuk lembut punggung putri sambungnya yang sudah dianggap selayaknya putrinya sendiri.
Bunda Amelia membiarkan dulu Dira meluapkan kesedihan dan sesak didadanya.
Perlahan tangis Dira mereda, isakan terhenti dan Dira mengurai pelukannya.
Bunda Amelia mengusap airmata yang membasahi wajah cantik Dira.
Perlahan dengan lembut Bunda Amelia buka suara.
"Sayang, Bunda bisa memahami apa yang Kamu rasakan saat ini. Bunda paham kekhawatiranmu akan masa lalu Papa, Bunda dan Mama Kamu. Bunda tahu meski semua telah berlalu Kamu trauma dengan semua itu."
"Tapi satu hal yang Kamu harus tahu Sayang, jalan hidup setiap orang berbeda - beda. Apa yang terjadi pada Papa, Bunda dan Mama Kamu tidak serta merta akan sama dengan apa yang Kamu jalani kini."
"Bunda bersyukur memiliki putri seperti Kamu meski bukan terlahir dari rahim Bunda. Namun keberadaan Kamu membuat Bunda bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang Ibu."
"Bunda juga bahagia, Kamu berjodoh dengan Salman. Bunda yakin Salman adalah pria sholeh, pria baik dan bertanggung jawab. Bunda yakin Salman paham bagaimana menjaga hati istrinya dan memuliakan wanita."
"Sayang, tidak ada cobaan yang Allah berikan kepada kita sebagai hambanya yang melebihi batas kemampuan Kita. Allah maha tahu bahkan melebihi diri Kita sendiri. Tugas kita berusaha, berdoa dan serahkan semuanya kepada Allah. Bunda percaya segera Kalian akan diberikan kepercayaan memiliki keturunan yang sholeh dan sholeha. Berprasangka baiklah kepada Allah. Karena Allah sebagaimana prasangka hambanya."
"Allah memberikan cobaan bukan karena tidak menyukai Kita, Allah memberikan cobaan kepada hambanya yang dianggap mampu. Maka jangan pernah mengatakan kenapa harus Aku? Mudah bagi Allah menjawab Karena Aku memilih Kamu dari sekian banyak hambaku yang ku anggap mampu melewati cobaan ini."
Dira meresapi kata demi kata yang Bunda Amelia sampaikan.
"Bunda, maaf jika dulu Dira berburuk sangka pada Bunda. Terima kasih karena mau menjadi Ibu yang baik bagi Dira." Dira memeluk kembali wanita paruh baya yang masih terlihat cantik di usianya yang tak lagi muda.
"Bunda juga berterima kasih, kepadamu dan kepada Salman. Kehadiran Kalian melengkapi keluarga Kita. Apapun yang terjadi jangan pernah sungkan untuk berbagi pada Bunda ya Sayang." Bunda Amelia mengusap perlahan punggung Dira.
Sementara melihat pemandangan Amelia dan Dira berpelukan, airmata Papa Baskoro tak terasa membasahi pipi.
Ustadz Salman memeluk Ayah mertuanya memberikan semangat menepuk lengan Papa Baskoro.
"Terima kasih Salman. Abdullah tentu bangga memilikimu sebagai putranya. Ia berhasil mendidik Kamu menjadi pria sholeh. Lewat Kamu keluarga Kita bisa berkumpul harmonis." Rasanya keharuan menyelimuti Papa Baskoro.
__ADS_1
"Kita adalah keluarga Pa. Jangan sungkan. Salman adalah putra Papa juga. Apapun yang terjadi Salman akan selalu ada untuk Kalian."
"Terima kasih Nak." Papa Baskoro menangis dalam kebahagiaan.