JANDA SHOLEHAH JODOH CEO DUDA AROGAN

JANDA SHOLEHAH JODOH CEO DUDA AROGAN
Yang Tertunda


__ADS_3

Dira menghentikan langkahnya begitu sampai di depan pintu kamar hotel yang dipersiapkan keluarganya menyambut malam pertama ia dan Ustadz Salman.


Ustadz Salman menoleh pada Dira yang terdiam mematung menghentikan langkahnya seketika.


Melihat kegugupan di wajah Dira yang begitu jelas, senyum terukir indah di wajah Ustadz Salman.


"Katanya tadi lelah, ayo masuk." Dengan kode gerakan kepala Ustadz Salman meminta Dira memasuki kamar pengantin keduanya.


Dira tak menyangka, Bunda Amelia, Oma Marisa dan Khalisa seniat itu mempersiapkan kamar pengantin mereka meminta khusus staf hotel menyiapkan semuanya.



Suasana temaram, dengan hamparan kelopak mawar sepanjang langkah menuju ranjang besar yang dihias lengkap dua angsa saling beradu mesra membuat bulu roma Dira merinding seketika.


Dira mengedarkan pandangan kesekeliling kamar hotel yang disulap bak kamar pengantin begitu romantis dan syahdu dengan lilin-lilin membuat suasana semakin membuat Dira panas dingin.


"Mau mandi?"


Dira tersentak tak sadar ia larut dalam lamunannya dan terkejut mendengar suara Ustadz Salman yang kini ada di hadapannya.


"Mandi!"


Ekspresi Dira sangat lucu membuat Ustadz Salman tertawa melihatnya.


"Kenapa Kakak tertawa?"


"Kamu lucu dan gemesin tahu. Mandilah dulu." Ustadz Salman yang kini duduk bersandar di sofa dalam kamar itu.


Dira masih berdiri belum beranjak dari tempat ia mematung, rasanya lututnya lemas seketika terbayang apa yang akan terjadi setelah ini.


"Perlu Kakak bantu?"


"Tidak Kak. Aku bisa sendiri."


Buru-buru Dira menghindar, jantungnya terasa mau copot seketika setiap Ustadz Salman bersuara rasanya detak jantung Dira bertalu-talu.


Dira menuju toilet. Dira duduk dipinggir bathup merasakan lututnya yang lemas hilang rasa pegal berganti mata yang terang benderang efek debaran jantung semakin kencang.

__ADS_1


"Begini ya malam pertama? Ah, Aku kenapa jadi gugup begini! Huh! Dira ayo Kamu bisa!" Meski tangannya mengepal bersemangat namun bukannya semakin tenang Dira makin dag dig dug ser gak karuan.


Sementara diluar, Ustadz Salman merasa Dira sudah hampir satu jam di kamar mandi.


Tak terdengar pergerakan istrinya. Membuat Ustadz Salman penasaran. Ragu ingin mengetuk namun hati tak memungkiri pikiran yang sudah jauh berkelana entah kemana.


Memutuskan mengetuk pintu kamar mandi mengetahui kondisi sang istri yang tak jua keluar dari sana.


"Silahkan Kak." Ketukan Ustadz Salman hendak kedua kali namun sudah terbuka oleh Dira yang kini sudah berganti dengan bathrobe dan handuk di kepala seperti habis keramas.


"Iya." Ustadz Salman bergantian dengan Dira masuk kamar mandi dan membersihkan dirinya.


Dira bolak balik di dalam kamar hotel selagi Ustadz Salman berada di toilet.


Sejujurnya Dira lama ditoilet memutuskan apakah ia akan mengenakan hadiah special dari Khalisa atau tidak di dalam sana.


Dira menoleh saat terdengar suara pintu toilet terbuka.


Wajah gugup Dira semakin merah merona menyaksikan tubuh atlethis dengan perut kotak-kotak dan dada berbulu milik Ustadz Salman.


Malu tapi sayang untuk terlewatkan pemandangan indah dan halal didepan matanya, begitulah perang antara logika dan hati Dira.


"Sudah wudhu? Aku tunggu ya. Bersiaplah kita akan shalat sunah dulu." Bisikan Ustadz Salman sebelum berlaku berganti menyiapkan diri menggunakan koko dan sarung untuk shalat sunah.


Rasanya nafas Dira sesaat terhenti, detak jantung ikut tak bertugas ketika hembusan nafas Ustadz Salman membelai hangat ditelinga Dira.


Dira bersiap memakai mukenanya dan mengikuti di baris belakang sebagai makmum mengikuti Ustadz Salman menunaikan shalat sunah sebelum malam panjang dan indah menanti keduanya.


Salam terucap pertanda selesai keduanya menunaikan shalat sunah berlanjut dengan mencium tangan dan mengecup dahi serta tak lupa berdoa akan rumah tangga mereka selalu diberikan keberkahan dan perlindungan dari Allah SWT.


"Sayang, apakah Kamu ridho bila malam ini, Kakak meminta hak kepadamu?" Ustadz Salman mengambil jemari lentik Dira membawa dalam pangkuannya.


Dira menganggukan kepala meski masih menundukkan wajah.


Perlahan Ustadz Salman mengangkat dagu runcing Dira mensejajarkan netra keduanya hinga saling bertatapan.


Rona merah di pipi Dira menambah kecantikannya dalam suasana remang cahaya lilin membuat hasrat yang ada muncul membangkitkan naluri seorang Salman Al Farisi.

__ADS_1


Cup!


Dira bisa merasakan lembut dan hangatnya bibir pria yang kini berstatus sebagai suaminya.


Begitupun Salman, ia tak menyangka untuk pertama kali bersentuhan dengan bibir mungil dan merah milik Dira yang nyatanya membuat ia dimabuk kepayang.


Sadar hasratnya sudah diubun-ubun Ustadz Salman menyentuh pucuk kepala Dira melafazkan doa sebelum ia memulai ibadah terindah bak surga dunia.


Dira mendengar lirih dan merdua suara Ustadz Salman melafaskan doa yang ia ketahui sebagai pembuka sebelum melakukan ritual malam pertama mereka.


Untuk pertama kali keduanya bersentuhan intim saling menelusuri dengan penuh minat dan rasa syukur dan cinta membara.


Jika dulu Ustadz Salman hanya berlajar secara teori apa yang di sampaikan Abah dan para Kyai-Kyainya dalam Kitab Qurratul Uyun, saat ini betapa nikmat rasanya setelah halal bagi keduanya dan berbuah pahala.


"Maaf jika menyakitkan. Semoga menjadi pahala bagi kita berdua dan Allah limpahkan zuriat dalam rahimmu Sayang."


Ustadz Salman membelai mesra istrinya yang kini dalam kungkungannya sebelum masuk gerbang kesucian yang selama ini terjaga.


Ustadz Salman melihat sudut mata Dira menganak sungai, ia menyadari kesakitan yang dialami istrinya.


"Kenapa berhenti? Lanjutkan Kak." Dira menatap wajah bermandikan peluh Ustadz Salman.


Kupu-kupu bertebaran, Bunga-bunga mulai mekar dan mewangi, deburan ombak memecah hingganya laut dalam malam panjang menemani dua insan manusia yang sedang mengukir cinta dalam ikatan suci pernikahan.


Dira dan Ustadz Salman saling menikmati hingga tak tertahan suara merdu penuh manja membangkitkan gelora di hati Salman memacu dan terus memacu hingga keduanya mencapai puncak asmara bersama dalam alunan nada cinta yang menggelora.


Keduanya masih saling mengatur nafas setelah perjalanan panjang menuju puncak pendakian.


"Terima kasih. Maaf menyakitimu Sayang." Mengusap peluh yang menetes di dahi Dira mengecup kening licin tersebut dengan rasa kasih sayang.


Rasanya lemas dan lelah hingga Dira menanggapinha dengan anggukan saja sambil membenakan wajah di dada kekar, bidang dan berbulu milik Ustadz Salman.


Ustadz Salman mengeratkan pelukannya, membawa Dira dalam dekapan sambil menutupi tubuh polos mereka dengan selimut mengistirahatkan raga yang letih meski batin terasa puas setelah penyatuan luar biasa yang baru saja terlaksana.


"Sayang, tidurlah. Masih ada waktu sebelum sepertiga malam."


Ustadz Salman masih menatap wajah polos dan terlelap Dira dalam pelukannya.

__ADS_1


Betapa bahagianya tak mampu terlukiskan lewat kata-kata.


Hingga tak tahu kapan matanya ikut terpejam hingga keduanya dibuai mimpi saling memeluk erat tak rela terpisahkan.


__ADS_2