JANDA SHOLEHAH JODOH CEO DUDA AROGAN

JANDA SHOLEHAH JODOH CEO DUDA AROGAN
Menjenguk Tuan Baskoro


__ADS_3

Setiba di RS tempat Pak Baskoro dirawat, rombongan Nick, Khalisa, Ustadz Salman dan Dira segera menuju ruang rawat intensif.


Kyai Abdullah terlihat sudah berada disana duduk bersama Nyonya Amelia, istri Pak Baskoro, Ibu sambung Dira.


"Assalamualaikum. Bunda." Dira terlihat mencium tangan Amelia.


Dira juga mengucapkan salam pada Kyai Abdullah menangkupkan kedua tangannya sebagai tanda hormat.


"Assalamualaikum Nyonya Amelia." Sapa Khalisa, Nick dan Ustadz Salman.


"Waalaikumsalam. Terima kasih Tuan Nick, Nak Khalisa dan Ustadz Salman sudah datang menjenguk." Nyonya Amelia terlihat sendu namun ia tetap tersenyum menghargai tamu-tamu yang datang menjenguk suaminya.


"Abah, sudah lama sampai?" Khalisa duduk di dekat Kyai Abdullah setelah anak dan menantunya secara bergantian mencium tangannya.


"Tak lama dari kedatangan Kalian." Kyai Abdullah ikut sedih melihat kondisi sahabatnya Baskoro yang kembali kritis di ruang ICU dengan peralatan medis yang menempel pada tubuhnya.


"Dira, Bunda tadi dipanggil oleh Dokter. Dokter menjelaskan bahwa kondisi Papamu kembali kritis. Kemungkinan hidupnya 50:50. Dokter belum bisa melakukan operasi di otaknya karena tekanan darah Papa sangat tinggi dan penyakit diabetes yang Papa derita. Dokter meminta kita menyiapkan diri jika terjadi kemungkinan terburuk." Wajah pias Nyonya Amelia terlihat semakin sendu terlihat mata merah dan bengkak mungkin banyak menangis.


Meski Dira sempat membenci Papanya namun perlahan kebencian itu hilang berganti kesedihan terlebih saat ini kondisi Papanya diantara hidup dan mati.


Dira perlahan mendekat pada kaca transparan yang memperlihatkan Pak Baskoro terbaring lemah dengan semua peralatan medis tak sadarkan diri membuat hati Dira mencelos.


Ada sesal dihatinya mengapa disaat Allah memberikan waktu dan kebersamaan seperti sekarang ketika Pak Baskoro dalam keadaan kritis.


Khalisa mendekat, merangkul dengan kasih sayang, memberikan penguatan kepada Dira.


"Dira, Aku turut bersedih dengan kondisi Papamu, semoga ada keajaiban dari Allah menyembuhkan Pak Baskoro seperti sediakala. Kamu yang kuat ya Dira, Pak Baskoro butuh doa dari Kamu putrinya. Dan ada Bunda Amelia kini yang selalu ada disampingmu." Khalisa memeluk Dira yang terlihat menitikkan airmatanya.


Dalam pelukan Khalisa Dira menumpahkan kesedihannya, meski tangis itu tanpa suara tapi terasa oleh Khalisa kesedihan Dira yang teramat dalam.


Beberapa saat kemudian Dokter memasuki ruang ICU memeriksa Pak Baskoro karena terlihat dalam monitor defak jantungnya begitu cepat.


Semua yang datang melihat ada gerakan di jemari Pak Baskoro dan mata yang selama ini tertutup, terbuka.


"Mas!" Nyonya Amelia kembali menangis saat melihat suaminya siuman.


"Papa sadar Mbak!" Dira tersenyum melihat kondisi Papanya yang sudah siuman.


Dokter didampingi perawat masih memeriksa Pak Baskoro.


Sesaat kemudian Dokter keluar menemui keluarga.


"Keluarga Tuan Baskoro."


"Dokter suami Saya sudah sadar, apakah Kami boleh menemuinya?" Nyonya Amelia kini bergandengan tangan dengan Dira, kedua wanita yang saat ini dimiliki Baskoro.


"Tuan Baskoro boleh ditemui, namun jangan beramai-ramai, bergantian saja. Kondisi pasien masih lemah pasca siuman jadi jangan terlalu dipaksakan. Silahkan keluarganya dulu yang masuk." Dokter menjelaskan kondisi terbaru Pak Baskoro.

__ADS_1


Nyonya Amelia dan Dira masuk mendekati brangkar dimana Pak Baskoro terbaring.


"Dira, Amelia, kesini." Ucap Pak Baskoro pada istri dan putrinya.


"Mas, Papa." Amelia dan Dira kini berada di kanan dan kiri Baskoro sambil menggenggam tangannya.


"Maaf." Baskoro susah payah mengucapkannya dengan nafas masih tersengal.


"Mas istirahat saja, jangan banyak berbicara dulu. Aku dan Dira sudah memaafkan Mas. Kami selalu mendoakan Mas cepat sembuh." Amelia menggenggam tangan Baskoro tetes airmatanya membasahi tangan Baskoro yang ia cium.


"Papa harus sembuh, Dira dan Bunda ingin kita tinggal sama-sama." Dira menggenggam tangan Baskoro tak kuasa menahan airmatanya.


"Aku bahagia." Baskoro terlihat menitikkan airmata memandang pada kedua wanita yang berhati luar biasa, bidadari tak bersayap penyempurna hidup Baskoro.


"Mas, Kyai Abdullah sahabat Mas dan Ustadz Salman putranya datang menjengukmu. Itu mereka ada disana bersama Tuan Nick dan Khalisa, anak dan menantu Kyai Abdullah." Amelia menunjuk keluar terlihat dari kaca ruangan.


"Panggil Abdullah dan putranya." Dengan nafas berat dan terbata-bata Baskoro meminta dipanggilkan sahabatnya.


Kini di dalam ruangan Baskoro dengan izin dokter atas permintaan Baskoro Kyai Abdullah, Ustadz Salman, Amelia dan Dira terlihat mengelilingi Baskoro.


"Jangan banyak bergerak Bas," Kyai Abdullah duduk dipinggir Brangkar Baskoro menahan gerakan Baskoro yang hendak bangun.


"Abdullah, terima kasih."


"Kau sahabatku Baskoro. Aku selalu mendoakan agar Allah memberikan kesembuhan untukmu. Bisa kembali berkumpul bersama istri dan putrimu." Kyai Abdullah berdoa dan memberikan semangat pada Baskoro.


"Ya, masih ingat kan?"


Terlihat Baskoro menganggukan kepala.


"Sini Nak." Panggil Baskoro.


Kyai Abdullah berganti posisi dengan Ustadz Salman yang kini duduk di tepi brangkar Baskoro.


"Ustadz."


"Panggil saja Salman." Ustadz Salman meraih tangan Baskoro mencium dengan hormat.


"Nak Salman, sudah menikah?"


Semua yang ada terkejut dengan kata-kata Baskoro.


"Belum Tuan." Salman menggelengkan kepalanya.


"Maukah Nak Salman menikah dengan putri Saya Indira?"


DEG!

__ADS_1


Semua yang mendengar tentu terkejut saat mendengar permintaan Baskoro yang tiba-tiba terlebih ia baru saja siuman.


Jujur, Ustadz Salman memang memiliki rasa suka pada Dira meskipun ia belum yakin 100% akan perasaannya.


Amelia menggenggam tangan Dira yang terlihat syok.


Kedua netra mereka bertemu.


Salman melihat tatapan Baskoro yang terlihat menahan kesedihan dan kekhawatiran seorang Ayah terhadap putrinya.


Ustadz Salman menatap kearah sang Abah, dengan senyuman Kyai Abdullah menganggukan kepala memberikan restunya.


Ustadz Salman kini menatap kearah Dira, sesaat kedua netra mereka bertemu, terlihat mata hazel milik Dira yang basah dan bengkak karena menangis.


"Insya Allah, Saya mau menikahi Indira." jawaban Ustadz Salman membuat lega Baskoro terlihat senyuman yang membingkai wajah pucat itu.


"Kalau begitu, Aku ingin saat ini melihat Kalian menikah. Aku takut tak sempat menikahkan Kalian jika menundanya." Baskoro berhasil menuelesaikan kalimatnya.


Tentu saja kali ini lebih mengejutkan buat semua pihak.


Kyai Abdullah mendekat pada Baskoro.


"Bas, kita akan menikahkan mereka sekarang. Apakah Kamu sanggup menikahkan keduanya?" tanya Kyai Abdullah.


"Bantu dan tuntun Aku Abdullah. Aku ingin secara langsung menikahkan putriku selagi masih ada waktu." Tatapan mata Baskoro terlihat begitu yakin.


"Baiklah, Aku akan menyiapkannya, Salman komunikasikan pada pihak RS. Kalian menikah secara siri dulu. Yang terpenting SAH sesuai syariat Agama. Adapaun setelah baru mengurus legalitasnya di KUA." Kyai Abdullah memberikan beberapa intruksi agar akad nikah dadakan ini bisa terlaksana.


Kini semua orang tampak sibuk mengurus segala keperluan akad nikah yang disiapkan secara kilat dan mendadak.


Alhamdulillah setelah berbicara pada pihak rumah sakit dan diberikan izin.


Ustadz Salman dibantu oleh Nick, Gusti dan Iman.


Kyai Abdullah tampak menemani Baskoro menuntun Baskoro untuk berdzikir.


Sedangkan Amelia dan Khalisa membantu menyiapkan Dira sebagai calon pengantin.


"Masya Allah, Aku senang sekali Dira, akhirnya kita akan jadi saudara. Malah sebentar lagi Kamu akan jadi Kakak Iparku." Tak henti rasa syukur di ucapkan Khalisa yang begitu senang dengan takdir Allah yang layaknya kejutan.


"Bunda yakin Ustadz Salman adalah pria yang baik dan bisa menuntunmu dalam kebaikan. Bismillah Sayang, Bunda mendoakan agar Allah membukakan jalan ini sebagai salah satu berkah yang diberikan untuk Kamu." Bunda Amelia memeluk dan mengusak kepala putri sambungnya.


"Bunda, Mbak, Aku deg - degan. Ini terlalu tiba-tiba!" Wajar jika Dira merasakan hal itu.


"Bismillah. Insha Allah semua karena izin Allah." Khalisa mengusap bahu Dira menenangkan.


"Aamiin." Ucap Dira dan Amelia secara bersamaan.

__ADS_1


__ADS_2