
Setelah menginap semalam dikediaman Kyai Abdullah, Nick, Oma Marisa dan Caca pamit pulang.
"Pak Kyai kami pamit pulang. Untuk persiapan pernikahan Nick dan Khalisa kita akan atur waktunya. Saya sebaga Ibu akan mengikuti saja seperti apa keinginan Khalisa." Oma Marisa beserta keluarga pamit undur diri dari kediaman Kyai Abdullah.
"Baiklah kalau begitu Bu Marisa." Kyai Abdullah mengiyakan.
"Sayang, nanti Mom telp kamu ya, kita ngobrol soal persiapan pernikahan kamu sama Nick. Duh rasanya Mom kepingin segera bawa kamu pulang." Oma Marisa memeluk calon menantunya.
"Nyonya Oma hati-hati diperjalanan ya." Khalisa masih belum biasa memanggil Marisa dengan Mom.
"Sayang, panggil Mommy kamu kan sebentar lagi jadi anak Mom." Oma Marisa membelai pipi lembut calon menantunya.
"Iya,, Mom." Khalisa menuruti.
"Eyang, Om Ustadz, Caca pamit pulang dulu ya. Bunda Caca pamit pulang ya!" Caca mencium tangan Kyai Abdullah, Ustad Salman dan memeluk Khalisa.
"Eyang bakal kangen sama Caca. Iya hati-hati cucu Eyang yang cantik!" Kyai Abdullah mengusap kepala Caca penuh kasih sayang.
"Caca kecil hati-hati ya! Nanti kita ketemu lagi!" Ustadz Salman gemas dengan calon keponakannya itu.
Kini kedua anak Adam yang sebentar lagi akan berubah status tak lagi janda dan duda harus berpisah dulu sementara.
"Pulang dulu ya." Nick tampak kikuk sendiri rasanya ia ingin segera menghalalkan wanita sholeha dihadapannya dibawa pulang terus dikurung dikamar.
Bang Duda pikirannya ya. Nakal! Awas Author sentil nih!
"Iya. Hati-hati." Khalisa tak kalah canggung.
Bagaimana mungkin jika sebelumnya hubungan keduanya antara atasan dan pegawai kini naik level jadi calon suami dan calon istri.
Ah ngebayanginnya aja jingkrak jingkrak sendiri.
"Bu Khalisa Saya permisi." Gusti berpamitan juga dengan Kyai Abdullah dan Ustadz Salman.
Kyai Abdullah, Ustadz Salman dan Khalisa mengantar sampai luar kepulangan Nick dan keluarga.
Nick membuka jendela mobilnya, dengan senyuman ia menatap calon istrinya, seakan berat padahal mereka masih akan bertemu dikantor.
Khalisa membalas senyuman Nick kemudian tertunduk malu.
"Ya Allah, kenapa senyumannya manis banget! Gimana bibirnya ya!" Batin Nick.
__ADS_1
Astaga duda pikirannya, kesitu mulu. Sentil juga nih ginjalnya Nick!
*
"Nak ini makam Umma." Kyai Abdullah mengajak Khalisa ke makam Umma Fatimah, Ibu dari Salman dan Khalisa.
Khalisa tak bisa membendung airmatanya.
Selama ini ia hidup bersama saudara-saudarnya dipanti dan Bu Fatma, kini bahkan Khalisa memiliki Abah, Kakak dan kini ia berada di makam Ibunya.
"Ca ayo kita doa buat Umma. Umma pasti seneng kamu akhirnya bisa ke makamnya." Ustadz Salman mengajak Khalisa mendekat ke makam Umma Fatimah.
"Assalamualaika Umma. Khalisa datang Umma." Khalisa mengusap nisan bertuliskan Fatimah Az Zahra binti KH. Hasyim Azhari.
"Khalisa, Salman ayo kita kirim al fatihah untuk Umma." Kyai Abdullah mengajak kedua anaknya mendoakan Umma Fatimah.
Airmata Khalisa tak berhenti menetes.
Meski ia tahu tak baik menangis saat di makam, namun perasaan emosional terharu manakala pertama kalinya ia menginjakkan kaki ke makam Ummanya tentu siapapun bila berada diposisi Khalisa akan merasakan hal yang sama.
Setelah dirasa cukup ketiganya kembali ke rumah.
"Nak, kamu mau pernikahan seperti apa? Biar Abah dan Kakakmu menyiapkannya." Kyai Abdullah menanyakan persoalan pernikahan Khalisa.
"Dek, tapi kamu harus mempertimbangkan juga dari sisi Nick, jika Nick mau mengadakan acara untuk pernikahan kalian tidak ada salahnya. Bagaimanapun ia seorang pebisnis yang tentu memiliki banyak relasi." Salman memberikan pendapatnya.
"Begini saja, kalian berdua bicarakan baiknya seperti apa, Abah ikut saja. Yang perpenting bagi Abah putri Abah bahagia."
"Kamu harus bahagia Dek! Kakak yakin Nick bisa membahagiakan kamu! Buktinya selama ini dia kan jealous banget ke Kakak!" Salman jadi lucu sendiri bagaimana sikap Nick selama ini.
"Oh begitu? Pantes wajah Nick tegang banget waktu nunggu jawaban kamu Nak." Kyai Abdullah tersenyum.
"Tahu ga Abah, mereka itu kalau dikantor dulu seperti tom and jerry, ribut terus!" Salman tertawa jika mengingat interaksi antara Khalisa dengan Nick.
"Kakak, jangan ngeledek terus!" Khalisa malu seakan semua aibnya dibongkar di depan Abah.
"Sudah Salman, kamu ga lihat wajah adikmu sudah merah begitu!"
"Hehehe iya ya Bah!" Tawa Salman.
"Nak apakah setelah menikah kamu tetap akan bekerja?" Tanya Kyai Abdullah.
__ADS_1
"Kalau Khalisa sih inginnya begitu Bah, tapi Khalisa serahkan semuanya pada suami Khalisa saja bagaimana, karena bagaimanapun istri kan harus ikut suaminya. Betul tidak Bah?"
"Ya memang seperti itu Nak, kalau Nick ridho kamu bekerja lakukan, namun jika ia memintamu fokus mengurus keluarga maka ikuti." Pesan Abah.
"Salman, tak apa adikmu menikah duluan?" tanya Abah.
"Tak apa Abah. Menikah itu kan tergantung siapa duluan yang sudah sampai jodohnya. Salman ridho Khalisa menikah duluan."
"Khalisa bujuk kakakmu ini, sejak dulu Abah sering kenalkan dengan putri teman-teman Abah, tapi kakakmu ini bilangnya masih mau fokus mengurus bisnis dan dakwahnya."
"Padahal Bah, di kantor banyak loh fansnya Kak Salman. Salah satunya sahabat Khalisa. Tapi sayang Sahabat Khalisa sudah resign." Khalisa seketika ingat Dira.
Ada rasa rindu di hati Khalisa pada Dira.
Andai Dira masih disini, Khalisa akan berbagi kebahagiaan ini kepada sahabatnya itu.
Nomor telpon Dira juga sudah tak aktif.
Sosial medianya juga sudah tak lagi memposting apapun.
Seakan Dira hilang ditelan bumi. Entah dimana Dira berada.
"Siapa Dek? Memang ada?" Salman penasaran.
"Ya ampun Kakak, itu loh Dira. Dira itu fans Kakak. Dira tuh suka banget kalo lihat kakak lagi ngisi tausyiah. Dia bela-belain loh sampai pindah divisi supaya bisa lihat kakak syuting. Tapi ga tahu Dira kemana sekarang, kayak hilang ditelan bumi. Ga ada kabar juga!" Jelas Khalisa.
Ustadz Salman tampak terpikir sesuatu. Tapi ia rasa tak mungkin, mungkin saja hanya sekedar mirip.
"Nak, besok kamu mulai kerja, mulai sekarang, Abah mau kemanapun kamu diantar ya, apa yang Abah miliki sekarang itu juga hak kamu dan Salman. Karena kalian anak-anak Abah."
"Dek kalau gitu besok kamu bareng kakak saja, kakak kan memang ada jadwal syuting. Ah ga sabar pingin segera besok. Mau ketemu calon adek ipar!" Salman kembali meledek Khalisa.
"Tuh kan becanda terus! Kakak seneng banget ngeledekin aku!"
"Salman, sudah. Duh Humairahnya Abah, tapi sebentar lagi jadi istri orang." Kyai Abdullah tak kalah mencandai putrinya.
"Abah," rajuk Khalisa.
Salman dan Kiai Abdullah tertawa bahagia tak menyangka mereka kini bisa kembali merasakan kebahagiaan bersama orang-orang tercinta.
Melihat kedua putra dan putrinya bisa cepat akrab perasaan bahagia menyelimuti hati Kyai Abdullah.
__ADS_1
"Ya Allah terima kasih telah mengabulkan doa-doaku." Batin Kyai Abdullah.