
"Sayang, nanti setelah Mas meeting, Mas akan jemput ya. Kabari Mas jika sudah selesai tesnya. Mas doakan semoga tesnya lancar, Mas yakin Sayangku pasti bisa! Semangat Sayang!" Nick mengecup kening Khalisa juga bibir nya sekilas di dalam mobil sebelum merelakan dan mendoakan istrinya keluar mobil menuju kampus untuk mengikuti tes masuk perguruan tinggi program Magister Manajemen Pendidikan.
"Mas, nanti kalau kelihatan bagaimana." Khalisa panik dengan ulah suaminya yang kadang omes ga lihat situasi.
"Makasi Mas doanya. Aamiin. Iya nanti Aku akan kabari Mas jika sudah selesai. Aku deg degan Mas." Khalisa mengaminkan doa dan restu yang diberikan Nick mengiringi langkahnya.
"Deg degannya kalau lihat Mas aja Sayang." Nick mengajak bercanda mengalihkan rasa panik Khalisa agar tak mempengaruhi saat mengerjakan ujian.
"Mas bisa aja. Ya sudah Aku pamit ya. Assalamualaikum Mas." Khalisa mencium tangan suaminya dibalas Nick dengan ciuman dipipi sang istri.
"Waalaikumsalam. Semangat Sayang." Nick menjawab salam sambil memberikan motivasi ala di drakor.
Khalisa masuk menuju ruang tes dan ia melihat sudah banyak mahasiswa lain yang sudah hadir disana.
Setelah ia menunjukkan scan barcode kepada panitia penerimaan mahasiswa Khalisa memasuki ruang ujian.
Semua rasa bercampur dalam hati Khalisa.
Senang, bahagia, gugup, deg degan semua menjadi satu.
Semalam ia juga tak lupa meminta doa kepada Abah Abdullah dan Kakaknya Ustadz Salman.
Selain itu Mom Marisa tak luput memberikan doa dan menyemangatinya dengan sangat unik khas sang Oma nyentrik satu itu.
Doa dari putri tercinta turut menyemangati Khalisa pagi ini sebelum berangkat ke kampus.
Betapa bahagianya Khalisa diberikan dukungan dan doa dari keluarga tercintanya.
Sementara di pasangan Dira dan Ustadz salman tampak sudah mulai menjalani aktivitasnya seperti biasa.
Dira sudah kembali ke kantor begitupun Ustadz Salman dengan segala aktivitasnya yang padat diantara perusahaan dan dakwah.
"Sayang, hari ini Kakak ada syuting di NBC setelah itu ada meeting di kantor. Sayangnya Kakak sibukkah hari ini?" Dira membantu suaminya bersiap.
"Aku hari ini ada meeting dengan klien baru." Dira menatap betapa tampan wajah suaminya dengan kekeguman.
__ADS_1
"Kalo dilihatin terus begitu, Kakak jadi ga pingin ngantor Sayang." Ustadz Salman menarik pinggang Dira menempelkan tubuh keduanya memberikan bonus kecupan mesra di bibir merona istri tercintanya.
"Kenapa harus cantik banget sih Yang ke kantor? Kliennya laki-laki atau perempuan?" Terdengar Posesif meski sebatas pertanyaan namun syarat akan sikap waspada.
"Kakak juga ganteng banget ke kantor. Meeting sama karyawan banyaknya laki-laki atau perempuan?" Begitupun Dira yang terkadang ada kecemasan sendiri membiarkan suami tampannya tak rela menjadi konsumsi khalyak ramai ibarat cokelat ratu silver yang ga rela untuk dibagi-bagi.
"Sayang, Insha Allah Hati Kakak, Cinta Kakak akan selalu terjaga untuk Kamu seorang. Sayangnya Kakak juga begitu ya." Ustadz Salman mengecup bibir ranum Dira yang selalu membuatnya candu.
"Ah melting deh jadinya. Siap Pak Ustadzku, Suamiku tercinta." Dira memberikan gerakan hormat sambil tersenyum manis pada suami tercintanya.
Di sekolah Caca tampak menikmati bekal yang disiapkan Bundanya, Caca bersama teman-temannya asik berbincang membicarakan banyak hal termasuk soal kedatangan murid baru pindahan dari luar negeri.
"Cie yang sekarang punya Bunda, asik banget sih dibawain bekal enak-enak terus. Aku minta ya." Chate salah satu teman sekelas Caca selalu tertarik dengan bekal Caca yang enak.
"Iya dong Chate. Itu namanya rezeki anak sholehah. Aku bahagia sekali bisa punya Bunda seperti Bundaku sekarang. Chate, Kamu senang sekali nyomot bekal Caca. Bekalmu masih banyak begitu Chate!" Caca hanya protes tak kesal berbagai makanan bekalnya dengan Chate.
"Hehehe, habisnya masakan Bundamu enak sekali Ca. Bawa yang banyak Ca, biar Aku bisa selalu icip-icip. Ini udang goreng saus asam manisnya beuh mantap!" Kali kedua mencomot udang milik Caca.
"Eh iya Ca, Kamu lihat kesitu deh. Itu anak baru di kelas kita. Namanya Martin. Aku tadi mengajaknya kenalan tapi dia cuek saja!" Chate menunjuk kepada Martin yang memilih duduk di bawah pohon ditaman sekolah mereka sambil membaca buku dengan tenang.
"Oh!" Caca melanjutkan makan bekalnya melirik sekilas kepada teman baru yang terlihat tertutup dan tak banyak bicara.
"Kamu cerita-cerita saja Chate, jangan menjajah bekalku!" Caca membiarkan Chate ikut menikmati bekal buatan Bunda Khalisa yang memang selalu enak.
"Bundamu memang juara Ca! Apapun yang dimasak Bundamu semua enak. Aku daftar jadi putri Bundamu ah!" Chate asal bicara.
"Kamu doyan apa lapar Chate? Tidak, Bundaku mana mau punya anak tukang makan sepertimu Chate.
"Ca sudah bell, ayo kita masuk. Nanti Bu guru akan menghukum kita kalau telat."
Bell waktu istirahat selesai menandakan kalau para siswa harus kembali masuk kelas.
Setelah menjemput Khalisa di kampus Nick dan Khalisa bergegas menuju kesekolah Caca menjemput putri mereka.
"Sayang, bagaimana tadi ujiannya?" Nick menyetir sendiri karena ia ingin quality time dengan istri dan putrinya.
__ADS_1
"Alhamdulillah Mas. Tapi Aku ga tahu hasilnya bagaimana." Khalisa memang merasaka bisa mengerjakan soal-soal ujian dengan lancar namun hasilnya semua ia serahkan kepada Allah.
"Ingat saja doa Mom semalam, itu doa plus sedikit ngancem sih! Dasar Mom begitulah. Tapi Mas Sayang sekali dengan Mom." Nick selalu tersenyum mengingat segala cinta dan kasih sayang sang Ibu kepadanya meski terkesan bar-bar dan nyentrik dari Ibu kebanyakan.
"Tentu Mas, sampai kapanpun syurga Mas masih tetap berada di bawah telapak kaki Mom Marisa. Wajib bagi Mas menghormati dan menjaga beliau. Beliau adalah ladang pahala bagi Mas. Ingat Mas, Ibumu, Ibumu, Ibumu kemudian Ayahmu." Khalisa mengingatkan Nick.
"Masya Allah. Emang Istriku ini tidak hanya cantik parasnya tapi juga cantik hatinya. Duh, makin cinta Mas sama Istri Mas ini." Nick mengecup punggung tangan Khalisa.
"Assalamualaikum Bunda, Daddy!" Caca mengucap salam dan mencium tangan Bunda dan Daddynya saat melihat kedatangan keduanya menjemput.
"Waalaikumsalam Sayang." Khalisa memeluk putrinya mengusap pucuk kepala Caca.
"Sayangnya Dad, bagaimana hari ini sekolahnya?" Nick menjawil lembut pipi Caca gemas dengan putrinya yang tubuh semakin tinggi.
"Daddy, Caca bukan anak kecil lagi. Hari ini di kelas Caca ada murid baru. Tapi dia itu seperti kulkas dua pintu. Sedingin beruang kutub!" Caca teringat Martin dan mendeskripsikan sang teman baru.
Mendengar penuturan Caca, tiba-tiba saja Khalisa tertawa.
"Sayang, kenapa tertawa?" Nick membaca gelagat istrinya.
"Tidak, Ayo Sayangnya Bunda kita masuk mobil. Ayo Dad!" Khalisa meminta Nick bergegas turut masuk mobil.
Dalam perjalanan Caca dan Khalisa masih membahas teman baru Caca.
"Oh jadi namanya Martin." Khalisa menanggapi cerita Caca.
"Iya Bun, itupun Caca tahu dari Chate, soalnya kemarin saat dia tiba Caca sedang ikut turnamen jadi ga kenalan langsung. Males juga Bun, anaknya jutek, dingin gitu kayak kutub es!" Caca dengan wajah kesal.
"Jangan kesel-kesel Sayang. Mungkin saja Martin itu malu. Karena masih baru. Lama-lama juga akan cair sendiri. Biasanya yang jutek dan galak itu awal-awalnya aja kok, siapa tahu aslinya tidak seburuk itu." Khalisa teringat seseorang yang dulu memiliki sikap seperti itu tapi kini sehangat sinar matahari pagi.
"Seperti Daddy ya Bun?" Tebak Caca.
"Ih pinter banget sih anak Bunda." Khalisa dan Caca tertawa bersama.
"Wah ceritanya Kalian menggosipi Daddy nih?" Nick tersenyum melihat Caca dan Khalisa bahagia bersama.
__ADS_1
"Itu bukan gosip Daddy tapi fakta!" Ya kan Bun?" Caca meminta dukungan.
Anggukan dan senyuman Khalisa menandakan persetujuannya akan kata-kata Caca.