JANDA SHOLEHAH JODOH CEO DUDA AROGAN

JANDA SHOLEHAH JODOH CEO DUDA AROGAN
Mantan Suami?


__ADS_3

Sejak kejadian kemarin, Nick tak berhenti memikirkan apa yang sebenarnya terjadi antara Kanaya dan mantan suaminya.


Untuk bertanya langsung tentu Nick tidak akan lakukan karena gengsi Nick pastinya menghalangi.


Meminta bantuan Gusti?


Sama saja dia mempermalukan dirinya sendiri.


"Tapi mengapa aku harus peduli akan masa lalunya?"


Nick seolah dibuat bimbang oleh perasaannya sendiri yang memilih acuh namun tidak sejalan dengan hatinya yang terlanjur penasaran.


Kanaya lagi dan lagi memblokir nomor yang diketahui milik Alvin.


Entah apa maksud Alvin kembali menghubungi dirinya.


Kanaya hanya tidak mau dianggap sebagai pelakor dan Kanaya sendiri enggan berurusan dengan Alvin lagi.


Cukup sudah segala sakit dan luka yang telah Kanaya berusaha lupakan meski tak akan sepenuhnya hilang.


Disisi lain Alvin tentu saja gencar mendekati Kanaya lagi setelah ia menceraikan Bella.


Ya Alvin mengakui ia memang bodoh.


Bella menipunya selama ini.


Namun kebodohan itulah yang membuat Alvin dibutakan dan mengambil langkah yang salah.


"Alvin! Meski Mom kecewa Bella menipu kita, tetap Mom tidak setuju Kamu kembali padanya!"


"Aku mencintai Kanaya Mom!"


"Hah! Masih banyak wanita sederajat dan pasti tidak mandul seperti Kanaya!"


"Mom!"


"Sudah! Mom tidak mau dengar kamu menghubungi dia lagi! Besar kepala wanita itu nanti!"


Ibu Alvin membanting pintu kamar putranya meninggalkan Alvin yang kini kesal.


"Naya, aku akan kembali mendapatkanmu!"


Di sebuah privat room tampak Dira sedang duduk berhadapan dengan seorang pria berusia baya yang didampingi 2 bodyguard.


"Papa bilang pulang sekarang juga!"


"Aku tidak mau Pa!"


"Kau sama seperti Ibumu, wanita liar!"


"Terserah Papa mau bilang apa, yang pasti Dira tidak akan pulang!"


"Ok. Terserah apa yang akan kamu lakukan. Papa sudah sepakat dengan mereka bahwa kamu akan menikah 2 minggu lagi!"


Pria baya itu diikuti kedua bodyguardnya meninggalkan Dira yang kini menangis marah dengan semua perbuatan Papanya.


"Ma, Dira capek Ma, andai Mama masih ada. Dira ga akan seperti ini. Papa ga sayang sama Dira. Ma, Dira ingin ikut Mama!" Dira meratapi kepedihannya seolah tak ada lagi tempat ia bisa hidup bebas dan tenang.

__ADS_1


Sementara di sebuah bar Sonia tampak sedang menikmati waktu bersama teman-teman dikalangan atas.


"Beib, Lo gimana sama Nick?"


"Susah Beib, anaknya ga nerima Gw!"


Sonia kembali meneguk minuman dan itu sudah gelas keempatnya.


"Ya ampun, hari ini masih main jujur? Yang cantik dong!"


"Maksud Lo gimana Beib?"


Tampak teman Sonia membisikkan sesuatu ketelinga Sonia.


"Ah, gila Lo!"


"Ya, terserah Lo sih, Lo mau Nick ga? Atau Lo masih,"


"Tutup mulut Lo! Jangan lagi pernah sebut nama b*jingan itu!"


"Sorry, sorry. Ya kalau gitu Lo ikutin cara dari Gw. Simple kan?"


Sonia tak menjawab, dia masih mempertimbangkan apakah harus seperti itu untuk mendapatkan Nick.


Ustadz Salman selesai bertemu dengan koleganya dan tentu saja keperluannya kali ini berkaitan dengan bisnis.


"Kalau begitu lusa, kita akan ke Singapura meninjau lokasi titik pengeboran minyak."


"Baik kalau begitu. Kemungkinan Saya akan tebang sore setelah menyelesaikan pekerjaan Saya."


"Ah, aku sampai lupa, pemuda tampan dihadapanku kan sekarang dikenal sebagai Ustadz Viral."


"Ya, kamu memang seperti Papamu, kalian pebisnis yang senang berdakwah. Sampaikan salamku pada Tuan Abdullah. Semoga beliau segera sehat kembali."


"Insha Allah akan Saya sampaikan salam Tuan."


"Saya permisi."


"Hati-hati dijalan Tuan."


"Ustadz, Pak Kyai baru saja menelpon, meminta Ustadz segera pulang."


"Baik. Ayo kita kembali."


Saat Ustadz Salman keluar dari ruang VVIP tak sengaja dari arah berlawanan ia ditabrak oleh seseorang.


"Maaf Tuan."


Pria baya itu menoleh kearah Ustadz Salman, menelisik pemuda dihadapannya namun segera pergi meninggalkan tanpa menjawab perkataan Ustadz Salman.


"Sombong sekali Tuan itu Ustadz."


"Mungkin sedang terburu-buru Man. Ayo."


Caca sedang melukis di dalam kamarnya.


Sebuah lukisan seorang anak, ayah dan ibu yang berada dalam hasil karya Caca.

__ADS_1


"Caca kangen Mommy. Mommy, Caca selalu berdoa agar Mommy bahagia di Syurga. Mommy jangan khawatir, Caca disini akan jadi anak baik buat Daddy dan Oma. Oh iya Mommy, Caca sekarang punya orang yang sayang dengan Caca selain Daddy dan Oma. Namanya Tante Kanaya. Caca suka dengan Tante Kanaya Mommy. Tapi Daddy selalu galak dengan Tante Kanaya. Tante Kanaya jadi takut dengan Daddy. Oh iya Mommy, Caca sedang belajar mengaji dan menghapal doa-doa dengan Om Ustadz. Caca akan kirimkan banyak doa untuk Mommy agar Mommy disana lebih tenang. I Love You Mommy."


Caca mencium lukisan yang dibuatnya.


Nick yang hendak masuk ke kamar putrinya seketika terhenti saat ia mendengar segala keluh kesah Caca.


Sesak rasanya dada Nick mendengar perkataan Caca.


Ada rasa sedih yang tak mampu Nick bendung.


Jika berandai-andai dibolehkan tentu Nick ingin Aurel masih hidup, berada disini bersama mereka.


Andai bisa memilih, ia ingin Aurel ada bersamanya dan Caca.


"Mengapa kau ambil Aurel secepat ini? Katanya kau maha pengasih dan maha pemurah."


Nick sebelumnya adalah pria yang menjalankan ajaran agama namun hatinya keliru ketika diuji atas kepergian Aurel.


Nick marah mengapa Tuhan menakdirkan hal seperti itu pada ia dan putrinya yang kala itu masih bayi merah.


Nick menyesap sebatang rokok. Sejak kepergian Aurel, ia kembali melarikan diri dalam rokok saat hatinya gundah.


"Sayang, kamu pasti marah kalau melihat aku merokok!"


Nick terkenang saat Aurel masih ada, Aurel tak suka Nick merokok.


"Sayang, aku ga suka kalau kamu merokok. Kalau kamu tidak berhenti merokok, kita putus!" Begitu ancaman Aurel pada Nick saat keduanya masih menjalin kasih.


Tentu saja cinta Nick yang begitu besar pada Aurel, ia lebih memilih berhenti merokok daripada kehilangan wanita yang sejak pertama ia lihat sudah berhasil mencuri hati Nick.


"Nick," Oma Marisa menepuk bahu Nick perlahan.


"Mom, belum tidur? Caca sudah tidur?" Nick terkejut saat Oma Marisa kini ada dihadapannya.


"Sampai kapan kamu mau menyimpan dukamu? Mommy rasa jika Aurel melihatmu seperti ini, dia tidak akan suka. Nick, kamu memang seorang ayah yang sukses. Semua materi bisa kamu berikan kepada Caca. Tapi ingat, Caca butuh sosok seorang ibu yang mendampingi dirinya dan juga istri yang kelak menemanimu."


"Nick, apakah Kamu tidak melihat Aurel menyayangi Kanaya. Kalau menurutmu bagaimana Kanaya?"


Nick mematikan rokoknya.


Nick berbalik menatap wajah Oma Marisa.


"Ada-ada saja Mom." Senyum getir tersungging dari bibir Nick.


"Kanaya wanita yang baik. Mom lihat dia menyayangi Caca. Apa kamu tidak ingin membuka hatimu Nick?"


"Sudah, istirahat sana. Mom tidak perlu jawabanmu saat ini. Tapi Mom harap kamu jangan menyesal. Karena wanita sebaik Kanaya tentu tidak akan sulit membuat pria lain jatuh cinta. Mom lihat Ustadz Salman tertarik dengan Kanaya."


"Intinya jangan jual mahal. Menyesal itu datangnya belakang Nick."


Nick tak menjawab sepatah katapun kata-kata Oma Marisa.


Pikiranya seakan buntu. Entah apa yang sebenarnya kata hatinya inginkan.


Sudah terlalu lama hati Nick tertutup rapat.


Celah itu seakan tak ada.

__ADS_1


Entahlah, malam ini kepala Nick sulit berpikir.


__ADS_2