
1 Minggu Kemudian
Di kehamilannya yang pertama Khalisa tidak merasakan mual lagi sejak ia diberikan vitamin dan beberapa obat penunjang kehamilannya.
Meski begitu Khalisa tetap menjaga dan hati-hati mengingat ini adalah kehamilan pertamanya.
Keluarga besar mereka sudah berkumpul di NBC Hotel, besok adalah hari pernikahan Ustadz Salman dan Dira yang akan dilaksanakan secara resmi tercatat oleh negara sekaligus dilangsungkannya resepsi pernikahan.
Sebenarnya tujuan diadakan resepsi agar tidak ada lagi berita miring seputar Ustadz Salman. Maklum saja pria satu ini kadung dikenal sebagai Ustadz Viral idola kaum hawa seantero jagat raya.
Meski telah kurang lebih 1 minggu menikah, namun Ustadz Salman dan Dira memang belum menjalani ritual malam pertama karena Dira kedatangan tamu bulanannya.
Alhasil meski besok mereka tinggal mengulang ijab kabul namun tetap saja rasanya grogi.
Pak Baskoro terlihat sehat meski masih menggunakan kursi roda untuk menjalani aktivitasnya sehari-hari.
Ada hikmah dari setiap kejadian yang ada, kini Pak Baskoro dan Bunda Amelia terlihat menerima satu sama lain, saling memaafkan atas apa yang telah terjadi sebelumnya.
Keduanya memang kini memulai semua dari awal, terlebih Pak Baskoro sadar bahwa Allah sudah sedemikian pemurahnya memberikan kesempatan hidup dan bisa berkumpul dengan istri, anak dan menantu.
Begitupun dengan keluarga Nick, rasanya lengkap sudah apa yang dirasakan oleh Nick saat ini memiliki keluarga besar yang saling mendukung dan bahagia.
"Mas, Aku mau ke kamar Dira dulu. Disana juga ada Mom dan Bunda Amelia." Khalisa tahu suaminya kini sejak kehamilannya semakin manja seolah mau dekat-dekat terus dengan dirinya.
"Sayang, Mas masih kangen." Nick masih asik mendusel-dusel bagian favorit pada istrinya yang selalu membuatnya ingin lagi dan lagi.
"Nanti kalau baby lahir, Mas harus ngalah loh. Karena ini menjadi hak anak kita." Khalisa mengingatkan.
__ADS_1
"Kan bisa gantian Sayang. Mana tahan Mas pisah sama ini. Gemesin tahu!"
Sungguh suaminya sangat meresahkan, seakan bayi yang takut kehilangan sumber mata air dari pegunungan.
"Mas, tuh Oma sudah telp. Aku kesana dulu ya. Mas mending ke kamar Kak Salman saja. Temani, kasian pasti lagi deg degan tuh!" Khalisa tahu sang kakak hingga kini belum malam pertama dengan Dira.
"Baiklah. Sebagai Adik Ipar yang baik, Aku akan berbagi pengalamanku untuk Kakak Ipar agar besok setelah akad dan resepsi bisa gas poll!" Tawa Nick mengingat lucu dan uniknya sang Kakak Ipar.
Di kamar Dira kini sudah berkumpul Oma Marisa, Bunda Amelia, dan Khalisa.
Bisa bayangkan bagaimana Dira berada ditengah-tengah para wanita dengan jam terbang tinggi tentu membuat telinganya tercemar oleh ajaran-ajaran sesat namun bermanfaat bagi kelancaran malam pertamanya besok.
"Sayang, Kamu hari ini sudah bersih ya?" Oma Marisa selalu paling semangat bila berurusan dengan hal berbau 21+.
"Jeng Marisa, jangan ditanya dong, nanti Diranya malu. Eh tapi pas banget waktunya ya. Biasanya selesai haid lagi subur-suburnya. Duh, Bunda banyak berdoa Sayang agar kalian cepet disegerakan memiliki momongan." Bunda Amelia tak kalah antusias dari Oma Marisa.
"Ayo, kita ikut, sekalian memanjakan diri. Besok Kita akan mengawal raja dan ratu sehari." Oma Marisa memboyong para wanita dewasa melakukan trearment sambil menemani Dira yang akan di treatment plus-plus agar persiapan malam pertama besok semakin afdol.
Berbeda dengan para kaum wanita, Disini di kamar Ustadz Salman nyatanya tak hanya ada sang calon pengantin pria.
Abah Abdullah, Pak Baskoro, Nick menemani sambil bersenda gurau selepas mereka shalat berjamaah.
"Bas, Aku senang dan bersyukur Kamu sehat kembali." Kyai Abdullah menepuk bahu sahabat sekaligus besannya kini.
"Semua berkat doa kalian, keluarga baruku yang sangat luar biasa. Berkat semangat dan doa dari kalian Aku bisa seperti ini. Meski ya kini Aku duduk dikursi roda, namun Aku tetap bersyukur karena merasakan kedamaian dan kebahagiaan yang selama ini tidak pernah Aku rasakan." Ada rasa haru disetiap kata terucap dari Pak Baskoro.
"Semua kejadian itu ada hikmahnya Bas. Allah tidak akan memberikan ujian diluar batas kemampuan hambanya. Allah memberimu kesempatan kedua agar bisa menjalani kehidupan lebih baik lagi." Kyai Abdullah menambahkan.
__ADS_1
"Aku juga senang, sekarang putriku sudah menikah dengan putramu. Salman, jaga Dira ya. Jangan sakiti dia. Sudah banyak rasa sakit yang aku berikan kepadanya dulu. Aku yakin Kamu bisa membawa Dira kejalan yang lurus dan bahagia bersama hingga akhir hayat." Baskoro menepuk bahu menantunya.
"Aamiin. Terima kasih Pa. Papa juga semangat terapinya. Insha Allah bisa kembali pulih seperti sedia kala." Ustadz Salman menanggapi.
"Abah dan Papa tidak ada tips dan kiat-kiat untuk calon pengantin kita, untukku juga boleh." Nick mencairkan suasan haru.
"Kau ini Nick, pantas Khalisa kini sudah mengandung, menantumu ini Abdullah, gerak cepat sepertinya. Aku yakin menantuku Salman juga pasti tak kalah dengan Sultan yang satu ini." Pak Baskoro memang tipikal humoris.
"Ah Aku jadi malu Papa Baskoro, terlalu memuji." Nick pura-pura malu-malu meong.
Kyai Abdullah hanya tersenyum mendengar candaan antara Nick dengan Baskoro.
"Pesan Abah cuma satu jangan lupa tahapan-tahapannya sesuai dengan tuntunan yang sudah Kamu pelajari. Jangan asal seruduk ya Salman!" Nyatanya Kyai Abdullah sengaja sedikit menggoda putranya yang terlihat tegang.
"Abah bisa saja. Memang Kakak Ipar banteng, nyeruduk segala!" Nick bahagia mendengar mertuanya yang nyatanya bisa berguyon juga.
"Wah benar itu. Jangan seperti Papa, Jangan tiru yang buruk ya Nak!" Baskoro memberi contoh diri sendiri yang sebagai contoh tak baik dimasa lalu.
"Oh iya, kemarin waktu Aku takziyah sempat bertemu dengan sahabatku Kyai Mahmud dari Madura. Eh, malah dikasih oleh-oleh ini. Aku bilang akan kuberikan saja ya kepada anak dan menantuku. Karena untukku pasti tidak akan bermanfaat." Kyai Abdullah mengeluarkan pemberian sahabat sesama Kyai yang berasal dari Madura.
"Wah, benar sekali itu Abdullah. Meskipun Aku masih memiliki Amelia, namun Aku sadar diri, sudah tua sekarang. Lebih baik kita berikan kepada Nick dan Salman, agar bisa lebih bermanfaat." Pak Baskoro menanggapi.
"Iya ini untuk kalian saja. Abah dan Papa sudah lewat masa-masa seperti itu. Lebih baik Bas kita banyak beribadah, mendoakan anak, menantu dan cucu agar sehat, berkah usianya dan bermanfaat bagi sekitar." Kiai Abdullah menyerahkan oleh -oleh berupa ramuan Madura kepada Ustadz Salman dan Nick.
"Terima kasih Abah dan Papa. Wah ini Aku simpan dulu. Belum bisa Aku pakai sekarang, masih awal. Nah paling tepat ya untuk Kakak Ipar saja. Biar besok lancar jaya acara belah durennya!" Nick begitu semangat.
"Ya, dikira-kira saja ya Salman. Kalian sama-sama baru pertama kali. Ingat, harus sesuai tahapan dan langkah-langkahnya." Ulang Kyai Abdullah berpesan pada sang putra.
__ADS_1
Pak Baskoro dan Nick tertawa bahagia bersama melihat Kyai Abdullah berpesan pada Ustadz Salman, sementara yang dinasehati sejak tadi hanya bisa malu tak tahu harus menjawab apa karena tak punya pengalaman.