JANDA SHOLEHAH JODOH CEO DUDA AROGAN

JANDA SHOLEHAH JODOH CEO DUDA AROGAN
Resepsi Ustadz Salman dan Dira


__ADS_3

Bak Raja dan Ratu, Ustadz Salman dan Dira kini duduk bersama dipelaminan menyambut para undangan yang hadir memberikan selamat dan doa bagi keduanya.


Kedua orang tua mendampingi pengantin baru yang malam ini begitu memukau undangan yang hadir.


Pak Baskoro didampingi Bunda Amelia berada disisi Ustadz Salman sedangkan Kyai Abdullah didampingi Putrinya Khalisa berada disisi Dira.


Nick harus merelakan dulu sang istri mendampingi Ayah mertuanya, Nick bersama Oma Marisa dan Caca turut menyambut dan menyapa rekan-rekan kedua keluarga besar pasangan pengantin baru.


Suasana romantis menyelimuti pesta malam ini. Beragam kalangan turut hadir dalam walimah sang Ustadz Viral dan Ibu CEO yang kini tampak malu-malu saling bersenda gurau di atas pelaminan.


Nick memberi kode love dari bawah pelaminan kepada istrinya.


Khalisa senang sekaligus malu, karena menjadi pusat perhatian dengan tingkah romantis suaminya.


"Nak, Abah senang, Nick benar-benar mencintaimu. Cucu Abah, sehat-sehat ya di dalam sana." Kyai Abdullah menatap putri nya.


"Iya Eyang, Eyang juga harus sehat, jangan lupa vitaminnya." Khalisa menirukan suara anak kecil menjawab sapaan Kyai Abdullah pada calon Cucu di rahim Khalisa.


Sementara disisi lain, dengan menggunakan kursi roda tak mengurangi kebahagiaan Pak Baskoro.


"Amelia, terima kasih. Maafkan Mas selama ini. Mas bukan Suami dan Ayah yang baik bagi kalian." Bisik Baskoro saat Bunda Amelia duduk dan bersebelahan dengan Pak Baskoro.


Bunda Amelia meraih kedua tangan suaminya, membawa dalam genggamannya.


"Mas, kita mulai semua dari awal. Lihat Dira dan Salman, kita doakan semoga mereka menjadi keluarga ya Samawa, jangan seperti kita. Kita doakan semoga mereka cepet kasih kita Cucu." Senyuman Bunda Amelia terasa menenangkan di hati Pak Baskoro.


"Kita akan menjadi Opa dan Oma. Tidak terasa Kita sudah tua ya Sayang." Pak Baskoro menatap Wanita yang ia nikahi puluhan tahun silam.


Melihat wajah malu-malu Bunda Amelia, Pak Baskoro tersenyum.


"Sudah tua malu Mas," Bunda Amelia mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Selama ini mata dan hatiku terlalu buta hingga tidak bisa melihat, bidadari di hadapanku. Mulai detik ini jangan bosan dan malu bila panggilan Sayang kutujukan padamu."


Pengantin tua rupanya tak mau kalah dengan pengantin baru yang juga terlihat sweet.


"Mom, Nick perhatikan sejak tadi Tuan David terus menatap Mom, Apakah Aku akan segera memiliki Ayah tiri?" Nick tak bosan mengajak sang Ibu bercanda meski ia tahu cerita masa lalu antara Daddy, Mommy dan Tuan David, Ayah Sonia.

__ADS_1


"Kau jangan sembarangan Nick. Sampai detik ini, Mom bahkan tak bisa melupakan perasaan cinta ku pada Daddymu. Pria luar biasa yang memberikanku seorang putra." Memang benar Oma Marisa begitu mencintai mendiang suaminya Daddynya Nick.


Mendengar kata-kata sang Ibu, Nick terharu sekaligus bangga. Namun bukan Nick namanya jika tak menggoda Oma Marisa.


"Mom kan bisa lihat Aku kalau kangen Daddy, Banyak relasi bisnisku yang mengenal Daddy bilang, Aku duplikat Daddy loh!" Dengan bangga Nick merangkul Mommynya yang sedikit berkaca-kaca teringat mendiang suami tercintanya.


"Iya Kau memang plek ketiplek dengan Daddymu. Hanya Daddy mu itu tidak menyebalkan sepertimu!" Oma Marisa menjewer telinga Nick.


"Aowww! Mom, malu! Masa CEO NBC Nicholas Bryan dijewer! Mau ditaro mana wajah tampanku ini!" Nick mengusap telinga yang dijewer Oma Marisa.


Suasana meriah resepsi pernikahan Ustadz Salman dan Dira masih diatas pelaminan sambil menikmati alunan musik dari grup musik gambus dari group band religi kenamaan tanah air menemani para undangan menikmati sajian yang tentu menggugah selera.


Dira kini bisa duduk memijat betisnya yang mjlai terasa pegal.


Ustadz Salman melihat hal itu, reflek memijat betis istrinya meski terhalang gaun yang Dira kenakan.


"Eh," Dira terkejut dengan apa yang Ustadz Salman lakukan.


"Maaf, Pegel ya?" Ustadz Salman salah tingkah sendiri.


"Mau langsung ke kamar?" Sebenarnya maksud Ustadz Salman mengajak Dira turun pelaminan dan segera beristirahat.


"Eh, ini masih banyak tamu Kak! Lagi pula, Dira lelah sekali malam ini!" Mata Dira membelalak berpikir kalau sang suami mengarah kearah itu.


"Maksud Kakak, Kamu mau istirahat? Kenapa kaget begitu?" Ustadz Salman menelisik kedua netra Dira yang kini malah salah tingkah.


"Ya sebentar lagi acaranya selesai, Dira masih kuat kok Kak!" Pikiran Dira jadi makin kemana-mana mengingat setelah resepsi selesai keduanya akan segera menuju kamar pengantin mereka yang telah dipersiapkan oleh keluarga keduanya.


Ustadz Salman tersenyum, paham apa yang ada dipikiran Istrinya.


Tentu saja menggoda sedikit tentu tidak masalah, apalagi Ustadz Salman sudah seminggu bersama Dira sesikit banyak ia mulai memahami karakter unik istrinya itu.


"Sudah selesai ya?" Sambil mengangkat kedua alisnya.


Dira paham maksud pertanyaan Ustadz Salman membuat dag dig dug dan panik sendiri.


Melihat Dira yang panik, Ustadz Salman tak bisa menyembunyikan rasa gemasnya.

__ADS_1


"Kalo panik, wajah Kamu jadi kemerah-merahan begitu Sayang, bikin Kakak gemes!" Bisik Ustadz Salman di telinga Dira membuat Dira menoleh sambil membulatkan matanya.


Untung saja ada tamu yang naik ke pelaminan hendak memberikan ucapan selamat kepada kedua mempelai membuat keduanya teralihkan.


Tepat pukul 10 malam. Resepsi pernikahan keduanya selesai.


Tamu undangan terlihat meninggalkan Ballroom hotel sambil membawa souvenir pernikahan yang mereka terima.


Malam ini semua keluarga juga menginap di NBC Hotel.


"Nick, lekas ajak istrimu ke kamar, Khalisa pasti lelah seharian menemani Abah. Nak istirahat ya. Cucu Abah pasti juga capek." Kyai Abdullah mengusap perut Khalisa.


"Abah juga istirahat, dan jangan lupa minum vitaminnya. Ya." Nick dan Khalisa mengingatkan.


"Bunda, Caca sama Oma ke kamar duluan ya, Caca sudah ngantuk Bun." Caca memeluk Khalisa.


"Iys Sayang, selamat istirahat ya. Mom juga istirahat." Khalisa memeluk Caca dan juga Oma Marisa.


"Iya Sayang. Kamu juga istirahat. Nick malam ini jangan ganggu istrimu, awas Kau!"


"Iya Mom." Nick terkekeh mendengar ancaman Oma Marisa.


"Sayang, Bunda sama Papa istirahat duluan ya. Kalian nikmati malam ini. Kalau lelah, tidur dulu sebentar nanti baru dilanjut!" Bunda Amelia menggoda putrinya sambil melirik pada Pak Baskoro.


"Sudah Bunda, lihat tuh mereka jadi malu. Seperti tidak pernah muda saja. Salman, Dira, Papa dan Bunda duluan ya. Kalian istirahatlah." Pak Baskoro dibantu Bunda Amelia meninggalkan kedua mempelai tersebut.


"Hai Kakak Ipar, duh gandengan aja nih kayak truk!" Nick yang akan kembali ke kamar menyempatkan menggoda keduanya.


"Kak, semangat!" Khalisa mengepalkan tangan seperti bintang drakor.


"Sudah Kalian berdua duluan saja." Ustadz Salman memegang bahu Nick dan Dira meminta keduanya segera berlalu.


"Ayo Sayang, sepertinya Kakak Ipar sudah tidak sabar. Kakak Ipar jangan lupa, ramuan yang diberikan Abah semalam!" Nick menepuk lengan Ustadz Salman menyemangati.


"Dira, Kamu jangan lupa pakai yang Kami siapkan ya. Semua ada di dalam kamar kalian." Khalisa mengusap lengan Dira.


"Kami duluan ya Kakak Ipar. Selamat menikmati malam Kalian." Nick merangkul Khalisa berjalanan duluan meninggalkan keduanya.

__ADS_1


__ADS_2