
"Assalamualaikum. Sayang, sudah sampai dihotelkah?" Nick baru saja menyelesaikan meetingnya dengan klien dan saat ini ia menuju parkiran otw menyusul Istri, Ibu dan Putrinya.
"Waalaikumsalam Mas. Sudah dari 2 jam tadi. Mas masih meeting?" Khalisa yang kini berada di dalam kamar hotel sendirian karena Caca sudah diboyong Oma Marisa ke kamar lain.
"Sudah otw Sayangkuh. Kenapa kangen ya sama Mas? Btw Caca dan Mom ga kedengeran suaranya." Rasanya Nick tak sabar untuk bertemu istrinya ingin segera memeluk dan menghirup aroma tubuh Khalisa yang terasa menenangkan.
"Mom dan Caca ada di kamar sebelah. Memang Mas sudah kangen sama Aku?" Khalisa balik menggoda suaminya.
"Jangan ditanya Sayang, rasanya Mas ingin punya pintu kemana saja seperti doraemon agar kalau rindu ga lama ketemunya. Mas bukan Dilan yang tahan menahan rindu."
"Kenapa Boss jadi alay begini sih." Gusti yang mendengar Boss Killernya kini malah tahu Dilan, padahal sebelumnya artis yang tergabung dalam NBC saja mana pernah Nick hapal namanya.
Tak membalas dengan kata-kata Nick hanya memberikan tatapan tajam pada Gusti yang tentu bisa dilihat Gusti dari kaca tengah mobil.
"Balik lagi kan mode nyereminnya!" Gumam Gusti melihat tatapan memangsa si Boss Killer.
"Mas ada-ada saja. Tentu suamiku ini lebih segalanya dari Dilan!" Khalisa sudah terkontaminasi Nick ikut jago gombal.
"Sayang tunggu Mas ya. Tidak lama lagi Mas sampai kok. See you soon baby. Muach. I love you." Nick kini terbiasa terang-terangan menyatakan cintanya pada sang belahan jiwa.
"Love you too Suamiku Sayang." Khalisa tak malu membalas kata cinta Nick terlebih ia sendirian dalam kamar.
Di kamar hotel sebelah Caca bersama Oma Marisa kini duduk berbaring diranjang, Caca sambil menonton kartun di kamar hotel sambil meneguk jus alpukat yang dipesankan oleh Oma.
"Oma, kenapa sih, Caca itu kepingin tidur sama Bunda dan Daddy." Caca masih saja mengutarakannya meski Oma Marisa sudah membujuk dengan segala cara.
"Sayang Oma, yang cantik, pinter. Caca mau ga punya adek bayi?" Kini Oma dengan cara jitu meluluhkan hati Caca agar tak lagi mau todur dengan Bunda dan Daddynya.
"Mau Oma. Terus?" Caca melihat sekilas kearah Omanya..
"Nah kalau begitu. Caca tidurnya disini aja sama Oma. Kalau Caca tidur sama Bunda dan Daddy nanti Caca ga jadi deh punya adek baby nya."
"Memang baby itu gimana sih Oma. Oh iya Caca itu dulu bisa lahir dan ada di dunia ini bagaimana caranya Oma?"
Pertanyaan Caca tentu membuat Oma Marisa pusing.
Jika yang diajak bicara pasangan dewasa tentu sikap bar bar Oma Marisa justru semakin terasah dalam menyampaikannya.
Sedangkan ini Caca anak SD yang tentu saja belum sampai kesana pemikirannya.
"Begini. Dengan penjelasan Oma. Caca kalau tidur ga bisa gelap kan? Sedangkan kalau Caca ingon punya Adek Baby Bunda dan Daddy tidurnya harus gelap Sayang. Ga boleh lampunya menyala."
Tampak Caca sedang berpikir namun ia masih tak paham.
"Pokoknya. Caca tidur sama Oma aja disini. Lampunya ga akan Oma matikan. Kalo di kamar Daddy dan Bunda lampunya pasti dimatikan. Caca ga bisa tidur nanti."
"Iya deh Oma. Caca ga ngerti juga." Caca tak melanjutkan pertanyaannya memilih melanjutkan menonton.
Sementara di tempat lain Ustadz Salman dan Dira kini sudah sampai di kediaman Kyai Abdullah.
"Assalamualaikum. Ayo Dira masuk. Semoga betah ya. Sekarang ini rumah Kamu juga." Ustadz Salman mengajak Dira masuk ke dalam rumah.
"Waalaikumsalam Mas. Wah ini Mbak Dira ya?" ART kediaman Kyai Abdullah menyapa.
__ADS_1
"Bi, ini Dira, Istri Salman. Dira ini Bibi yang bantu dirumah." Ustadz Salman mengenalkan keduanya.
"Dira Bi." Dira menyalami ART yang berusia sudah sepuh.
"Masya Allah cantik sekali istri Mas Salman. Mari Mbak Dira."
Dira tersenyum. Mengikuti langkah Ustadz Salman yang mengajaknya berkeliling rumah.
"Adem sekali disini Kak." Dira merasakan kesejukan dirumah mertua dan suaminya itu.
"Abah senang dengan ukiran dan kayu-kayu. Ya beginilah Dira. Semoga betah ya. Nah kita ke ujung disana. Itu Kamar kita." Ustadz Salman berjalan lebih dulu segera membuka pintu kamarnya.
Tentu saja Dira seketika bingung dan semakin tidak karuan.
Bayangkan saja, hanya ada beberapa asisten rumah tangga.
Literally, Dira kini hanya berdua Ustadz Salman dalam rumah itu.
"Dira, kenapa diam saja. Ayo sini. Ini kamar kita. Jangan sungkan." Ustadz Salman melihat Dira melamun tak beranjak.
"Ah, iya Kak." Dira semakin deg degan manakala langkahnya semakin dekat menuju kamar Ustadz Salman.
"Nah inilah kamar kita. Oh iya, disana ada lemari Kamu bisa memasukan baju dan perlengkapan pribadi Kamu. Disebelahnya juga ada peralatan mandi dan dan beberapa keperluan lain. Mau Kakak bantu menatanya?" Ustadz Salman gemas sekali melihat wajah panik Dira.
"Eh, Kak, kenapa pintunya ditutup." Dira langsung panik saat Ustadz Salman menutup pintu kamar mereka.
Sambil tersenyum Ustadz Salman berjalan mendekat pada Dira.
"Ustadz mau ngapain?" Dira kembali memanggil Ustadz Salman pada suaminya.
"Kamu kenapa Dira? Wajahmu merah sekali." Senyum Ustadz Salman saat memandang secara dekat wajah Dira yang merona.
"Ah, itu karena, Aku kepanasan. Iya panas." Dira mengipas wajahnua dengan telapak tangan mengalihkan kegugupan.
"Oh panas ya. Kalau gitu, Kamu mau mandi dulu atau Kakak yang mandi dulu?" Ustadz Salman melangkah maju melihat Dira yang mundur perlahan.
"Hah! Mandi! Kok mandi?" Konyolnya Dira, kalimat biasa yang terucap oleh Ustadz Salman seakan bermakna ambigu baginya.
"Katanya tadi panas. Atau biar cepat, Kita mandi sama-sama saja." Ustadz Salman sebetulnya sudah tak tahan ingin tertawa melihat Dira yang semakin salah tingkah.
"Allahhu Akbar! Ustadz!" Dira sangat kaget dengan kata-kata Ustadz Salman.
"Masya Allah. Lucu sekali sih istriku ini. Ya sudah lebih baik Sayangku mandi duluan. Kakak mau keluar sebentar minta Bibi menyiapkan makan malam untuk kita." Ustadz Salman mengusap kepala Dira dengan lembut tak lupa ia menyolek sedikit hidung mancung istri dadakannya yang masih pasang mode waspada.
"Huft! Ya Allah. Baru dideketin begitu. Jantung ku sudah mau copot! Bagaimana kalau nanti malam Kak Salman minta itu? Ah!" Dira menggelengkan kepalanya tak bisa membayangkan namun hatjnya juga penasaran.
Segera ia membuka koper, dan membawa baju ganti bergegas ke kamar mandi sebelum Ustadz Salman kembali ke kamar.
"Segar sekali." Dira merasakan tubuhnya yang memang lelah setelah sehari semalam tidak bisa tidur saat di RS, kini Dira merasakan tubuhnya lebih relax berendam dengan air hangat.
Dira begitu menikmati hingga ia tak terasa menghabiskan 1 jam sendiri merampungkan aktivitasnya dalam kamar mandi.
Ceklek!
__ADS_1
Dira memakai pakaian rumahan, namun Dira membiarkan rambutnya yang basah pasca keramas terurai saat keluar kamar mandi.
"Sudah selesai?"
Deg!
Dira tentu lupa saat ini ia berada dalam kamar Ustadz Salman.
Melihat Dira tanpa kerudung dengan rambut yang masih basah tentu saja sebagai pria dewasa dan kini telah menikah, halal bagi Ustadz Salman menikmati keindahan istri dihadapannya.
Dira tampak memegang rambut panjangnya yang masih basah terlihat kikuk.
Meski Ustad Salman pernah melihat Dira saat ia belum berhijrah namun kali ini rasanya berbeda.
Mereka halal bahkan bukan hanya rambutnya saja, semua yang ada dalam diri mereka halal bagi keduanya untuk saling melihat.
"Kakak mau mandi?" Dira menyadarkan lamunan Ustadz Salman yang terbius oleh pemandangan kekasih halalnya.
"Apakah mau bantu."
Ustadz juga manusia biasa. Jangan heran bila kini Ustadz Salman pun akan bereaksi sama terlebih Dira sudah halal baginya. Tentu saja dorongan naluri kelaki-lakiannya tentu timbul.
"Maksudnya?" Dira kaget dengan respon suaminya.
"Kakak mandi dulu ya. Kakak minta tolong dibantu siapkan pakaian. Iya, itu maksudnya." Ustadz Salman segera masuk ke kamar mandi.
"Huh! Kirain bantu apa! Eh dimana ya pakaian dia."
Dira kini mulai membuka lemari pakaian dan mencari pakaian yang akan ia siapkan.
Saat melihat pada benda pribadi yang tentu saja menjadi kain paling dekat yang menutupi sesuatu yang Dira tak bisa bayangkan, ada keraguan saat ia saat mengambilnya.
"Ah kenapa kepalaku jadi berpikiran tidak-tidak. Tapi ini pertama kali aku memilih pakaian dalam pria. Duh, sebel deh dengan otakku yang traveling kemana-mana!"
Dira tak sadar begitu lama ia memandangi benda keramat milik suaminya dengan beraneka warna dihadapannya.
"Jadi Kakak harus pakai yang mana? Atau malam ini tidak perlu pakai?"
Suara Ustadz Salman terdengar dekat di belakang Dira membuat Dira terkejut setengah mati.
Dira yang kaget segera berbalik badan dan tak tahu nyatanya malah menubruk tubuh polos yang masih basah dan hanya bermodalkan handuk yang menutupi pusat hingga lutut.
Ustazd Salman dengan sigap menangkap tubuh Dira yang hampir jatuh namun berhasil diamankan lengan kekarnya melingkar sempurna pada pinggang ramping wanita yang kini menjadi kekasih halalnya.
Netra keduanya saling mengunci, menyusuri detail wajah satu sama lain.
Desiran dalam dada tentu saja membuat detak jantung yang bertalu semakin kencang berdebar.
"Kak." Dira merasakan lemas seluruh tubuh seakan tak ada tenaga.
"Jadi pilih yang mana, Sayang?"
Rasanya Dira mau pingsan saat itu juga.
__ADS_1