JANDA SHOLEHAH JODOH CEO DUDA AROGAN

JANDA SHOLEHAH JODOH CEO DUDA AROGAN
Kumpul Keluarga


__ADS_3

"Masya Allah yang pulang honeymoon wajahnya cerah sekali." Khalisa saat melihat kedatangan Ustadz Salman dan Dira yang baru tiba di kediaman Papa Baskoro.


Mereka memang sengaja janjian berkumpul di Kediaman Papa Baskoro.


Penggagas utamanya adalah Bunda Amelia yang ingin mengundang semuanya untuk makan bersama sekaligus menyambut pengantin baru yang pulang dari honeymoon.


"Assalamualaikum." Ustadz Salman dan Dira mengucap salam saat memasuki rumah.


Keduanya bergantian menyalami kedua orang tua, mertua, adik dan keponakannya.


"Papa bagaimana kondisinya?" Ustadz Salman menanyakan keadaan kesehatan Papa Baskoro.


"Papa alhamdulillah semakin sehat. Kan siap-siap mau gendong cucu!" Begitulah Papa Baskoro kini sejak ia menyadari kesalahannya menjadi lebih dekat dengan keluarga.


"Syukur Alhamdulillah. Terapinya masih lanjutkan Pa?" Kini Dira yang bertanya.


"Tentu saja, Papa punya perawat istimewa kesayangan yang setiap hari mengingatkan Papa Nak." Sambil melirik dan tersenyum menggenggam jemari Bunda Amelia.


"Ah Papa Baskoro ini ternyata Suhu!" Nick nyeplos sekenanya.


"Hei Nick, Kau itu tidak tahu saja, kalau Daddymu dan Abah mertuamu itu bahkan lebih bucin dan Suhu dari Papa." Pak Baskoro melempar julukan yang diberikan pada mertua dan Daddy Nick.


"Bagaimana, sehat-sehat Kalian? Sepertinya anak Abah wajahnya seger bener?" Kini Kyai Abdullah tak ketinggalan meledek putranya.


"Sepertinya asupan 4 sehat 5 sempurnanya pas!" Nick menambahkan ikut meledek Ustadz Salman.


Khalisa menyikut Nick melihat sang Kakak wajahnya sudah menahan malu apalagi Dira.


"Sudah, ini Bapak-Bapak ga kasihan sama pengantin baru wajahnya merah menahan malu di goda terus. Ayo masuk, kita makan sama-sama." Ajak Bunda Amelia.


"Sepertinya Oma bakal nambah Cucu ini!" Oma Marisa gatal ikut menggoda Ustadz Salman dan Dira.


Suasana kediaman Papa Baskoro dan Bunda Amelia tampak hangat.


Menikmati santapan bersama dengan orang-orang tercinta tentu saja membuat rasanya semakin bertambah nikmat.


"Tante Dira, Om Salman. Besok kita semua pergi ke Dufan yuk! Caca ingin sekali main kesana." Caca yang tidak sabar.


"Sayang, Tante Dira dan Om Salman baru pulang. Masih capek." Nick memberi pengertian.


"Caca sini." Panggil Dira.

__ADS_1


Caca pindah duduk kini berada diantara Om Salman dan Tante Dira yang sejak kemarin ia tunggu-tunggu kedatangannya.


"Caca bener mau ke Dufan?" Dira menatap manik Caca yang begitu antusias menyatakan keinginannya.


"Tapi Tante dan Om capek ya?" Wajah Caca sedikit mendung.


"Okeh. Kita besok ke Dufan. Iya kan Om?" Dira melirik pada Ustadz Salman.


"Tentu. Kita ke Dufan!" Ustadz Salman memangku Caca mencium pucuk kepala keponakannya.


"Asik. Tuh Daddy, Bunda. Om Salman dan Tante Dira setuju. Opa Bas, Oma Amelia, Eyang, Oma, Daddy dan Bunda, pokoknya semuanya besok temani Caca ya main ke Dufan." Caca mengabsen satu persatu.


"Wah Opa juga sudah lama tidak ke Dufan. Oke. Opa sih yes!" Papa Baskoro layaknya juri Indonesia Idol.


"Eyang juga setuju!" Kyai Abdullah senang bisa memenuhi permintaan Cucunya.


"Oma Amelia tentu saja ikut." Bunda Amelia juga bahagia.


"Oma ga perku ditanya. Pokoknya besok kita drescodenya seragaman." Nyatanya sudah ada konspirasi antara Caca dan Oma Marisa.


"Ya Daddy sih oke-oke. Asal Bunda Yes!" Begitulah kini si Bucin mantan duda.


Saat Caca menatap Khalisa, anggukan dan senyuman Bundanya melengkapi kebahagiaan Caca.


"Assalamualaikum."


"Malam semua."


"Waalaikumsalam." Caca menjawab paling semangat saat Gusti dan Iman datang bersamaan.


"Ayo langsung bergabung makan sama-sama." Bunda Amelia mengajak keduanya ikut makanĀ  bersama.


"Kau ini, Aku bahkan jadi Boss yang tak dianggap. Kau nyatanya sudah berkonspirasi dengan anak dan Mom." Nick menggerutu saat tahu Gusti bagian dari rencana yang disusun Oma Marisa dan Caca acara ke Dufan.


"Sejak kapan Kamu jadi sembunyi-sembunyi Man. Rupanya selama Aku pergi Kamu punya sahabat baru." Ustadz Salman menepuk bahu Iman, asistennya itu semakin dekat dan sahabatan dengan Gusti.


"Ustadz kan sekarang ada Bu Dira, jadi Saya cari teman sesama jomblo." Iman pribadi yang polos tapi lucu dengan celetukannya.


"Hahahaha. Kau jujur sekali Iman. Aku suka. Memang betul Gusti ini jomblo senior. Kau jangan terlalu akrab dengan Gusti Iman. Nanti ketularan jomblo!" Puas sekali Nick menertawakan Gusti.


"Boss ga ingat ya, padahal sebelumnya lebih mirip kutub utara dan kulkas 2 pintu. Untung saja Bu Khalisa baik hati mau dengan Boss." Gerutu Gusti sambil menikmati makanannya.

__ADS_1


"Pak Nick kasihan Mas Gusti jangan dibully terus, nanti nangis lagi. Kemarin lusa saja Mas Gusti lagi nangis waktu Saya sampai ke apartementnya. Eh pas Saya lihat sedang nonton drakor. Apa ya judulnya?" Dasar Iman terlalu jujur, karena itu Ustadz Salman mempercayakan dirinya sebagai asisten.


"Kenapa Kamu bongkar kartu Iman. Aku itu menghayati dramanya saja." Gusti membela diri.


"Hahaha, cupu sekali Kau Gus. Masa nonton drakor saja nangis!" Nick rasanya puas menertawakan Gusti.


"Masih mending Saya Boss jujur sama perasaan sendiri, dari pada dulu, ada yang kesel sendiri, sewot sendiri, eh endingnya tahu paling belakang Bu Boss adik kakak dengan Pak Ustadz Salman." Gusti tertawa ingat aib Nick kala itu.


"Kau!" Nick membulatkan matanya pada Gusti.


Sementara para orang tua hanya tersenyum melihat para muda mudi yang asik bercanda namun menjadi kebahagiaan tersendiri melihat suasana keakraban yang kini tercipta.


Tanpa terasa pagi pun tiba.


Caca yang paling bersemangat sudah mengetuk kamar semuanya memastikan tidak ada yang telat.


Padahal tentu saja mereka para orang tua bahkan sudah bangun lebih dulu.


"Mom yang benar saja, mengapa harus pakai kaos alay begini sih!" Nick komplain pada Oma Marisa.


"Pakai saja tidak usah protes!" Tak menggubris kritik Nick.


"Iya Daddy tetap paling ganteng kok pakai baju ini!" Caca menyemangati Daddy Nick.


"Tentu Sayang. Daddymu ini tuh Ganteng Maksimal. Cakepnya ga ada obat!" Nick menggendong Caca sambil mencium gemas putrinya.


Khalisa memutar bola matanya mendengar ucapan Nick yang sangat percaya diri. Tapi memang Khalisa akui suaminya memang sangat tampan.


"Kenapa senyum-senyum Sayang?" Ustadz Salman memeluk Dira dari belakang.


"Kakak lucu pakai baju itu. Mana warnanya pink lagi." Dira tertawa baru kali ini melihat Ustadz Salman memakai warna pink.


"Tapi tetep ganteng dong?" Kini Ustadz Salman mencium pipi istrinya.


"Kakak, malu!" Dira masih belum terbiasa saat Ustadz Salman mengekpresikan cintanya dihadapan orang lain.


"Habis Kamu gemesin. Kakak jadi ga pengen lepasin Kamu. Bawaannya pingin nempel aja."


"Ulu,ulu, Kakak Ipar pagi-pagi udah hot aja nih! Sayang, Mas jadi pingin balik lagi ke kamar, lanjutin yang tadi aja yuk?" Nick malah ngelantur.


"Aduh, Daddy manja banget sih. Sini cayang dulu." Khalisa merayu tapi kemudian menyubit pinggang Nick.

__ADS_1


"Daddy, Om, Bunda, Tante ayo! Nanti keburu macet!" Caca menggiring orang tua dan Om Tantenya bergegas menuju mobil sedangkan yang lain sudah siap.


__ADS_2