
"Gus, kamu tolong awasi Nick ya, jangan biarkan dia mabuk. Gerdnya bisa kambuh!" Oma Marisa menghubungi Gusti.
"Saya akan mengawasi Boss Nyonya Oma. Tenang saja." Gusti memang mengawasi Nick meski dari kejauhan agar si Boss tidak marah karena diikuti.
"Ok. Terima kasih Gus."
Di tempat lain Dira yang berhasil kabur dari cengraman Baskoro kini sudah tiba di bandara. Dira tidak tahu harus lari kemana.
Dira hanya berusaha berlari sekuat tenaga agar lolos dari cengkraman Baskoro.
Tampak disisi lain Amelia yang menerima telp dari sahabatnya yang mengatakan membatalkan untuk ikut menemani Amelia.
"Gapapa, kamu urus saja dulu Ibu mertuamu. Bagaimapun tugas kamu sebagai menantu. Jangan khawatir. Aku hanya ingin menenangkan diriku saja. Soal Baskoro, tidak usah khawatir, dia tidak akan mencariku." Amelia yang fokus dengan panggilan telp tak tahu kalau seorang gadis yang berjalan serampangan malah kini menabraknya.
Brukkk!
"Aw! Amelia jatuh terduduk sementara gadis yang menabraknya pun tersungkur.
Gadis itu segera membantu Amelia bangun dengan meminta maaf sungguh-sungguh.
"Maaf nyonya, Saya terburu-buru. Maafkan Saya Saya tidak fokus sehingga menabrak Nyonya. Sekali lagi maaf nyonya."
Amelia memperhatikan gadis yang menabrak sekaligus membantu dirinya.
"Kamu bukankah gadis yang menolongku saat hampir ketabrak mobil. Ah iya, betul itu kamu. Loh, kamu berbeda sekali Nak. Hampir aku tak mengenalimu." Amelia melihat dari atas hingga bawah penampilan gadis penolongnya.
"Nyonya bisakah Nyonya menolong Saya. Saya akan ikut kemanapun Nyonya pergi. Tolong Saya." Wajah cemas dan takut terlihat jelas.
"Aku ingat. Kamu Dira kan. Dira aku Tante Amelia. Kamu kenapa?" Amelia khawatir karena Dira terlihat begitu ketakutan.
"Aku akan menjelaskan nanti Tante. Aku mohon bawa aku dari sini." Wajah memelas Dira membuat Amelia tak lagi bertanya.
"Ok. Kamu ikut Tante. Tapi kamu harus ceritakan apa yang terjadi dengan kamu."
Dira mengikuti Amelia. Ia sendiri tidak mengenal Amelia meski Dira pernah menolongnya dan itu hanya sekilas. Yang ada dipikiran Dira ia segera lolos dari kejaran Baskoro dan tentunya anak buah Max.
Sementara di tempat berbeda, Kanaya dan Ustadz Salman serta Kyai Abdullah kini ketiganya berada di Rumah Sakit.
Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan. Ketiganya kini menuju rumah Kyai Abdullah.
Meski hasilnya masih 2 minggu ke depan, namun Kiai Abdullah yakin bahwa Kanaya adalah putrinya yang hilang saat masih bayi.
"Kanaya, silahkan masuk. Anggap ini rumah kamu sendiri." Kyai Abdullah mengajak Kanaya masuk.
Kanaya sendiri sebenarnya masih belum 100% yakin bagaimanapun hasil tes lah yang akan membuktikan apakah benar ia adalah putri Kyai Abdullah.
Kanaya masih berdiri di ruang tamu.
__ADS_1
Kanaya tertegun, apakah mungkin? Hanya itulah yang ada dalam pikirannya.
"Kanaya, silahkan. Abah memintamu masuk." Ustadz Salman menyadarkan Kanaya dari lamunannya.
Kanaya mengikuti langkah Ustadz Salman.
"Kanaya, kemari Nak. Ada yang ingin Abah tunjukkan." Kyai Abdullah meminta Kanaya masuk ke ruangan yang cukup luas disana berisi kitab-kita dan mushaf Al quran yang berbaris rapi serta figura besar.
Kyai Abdullah membuka sebuah lemari kayu yang terkunci.
Sebuah kotak agak besar terbuat dari kayu berukir.
Kyai Abdullah membuka gembok di kotak itu.
"Salman, Kanaya, kemarilah Nak. Ada yang ingin Abah perlihatkan.
"Ayo Kanaya, Abah memanggil kita." Salman mengajak Kanaya untuk duduk mendekat pada Kiai Abdullah.
"Ini adalah foto Umma saat mengandung kamu Kanaya." Kyai Abdullah menunjukkan foto seorang wanita cantik dengan kerudung panjang.
"Cantik." Kanaya memuji wanita dalam foto itu.
Kemudian Kyai Abdullah membalik lagi album foto itu dan memperlihatkan foto seorang bayi perempuan dan Kanaya tertegun saat melihat kalung dengan liontin seperti milik dirinya.
"Ini?" Kanaya tampak terkejut dengan apa yang ia lihat.
"Iya itu adalah kalung yang Umma minta Abah pesankan untuk kamu dan memakaikannya saat kamu lahir. Boleh Abah lihat kalungnya?" Kiai Abdullah mengulurkan tangannya.
Kiai Abdullah kemudian bangkit menuju meja kerjanya diruangan itu mengambil sebuah kotak dilaci meja.
Kyai Abdullah membawa kotak tersebut ke hadapan Salman dan Kanaya.
Kanaya menatap apa yang dilakukan Kyai Abdullah.
Pria baya itu membuka kotak beluru berwarna maroon dan mengeluarkan sebuah kalung yang sama.
Kemudian Kyai Abdullah mendekatkan kedua liontin kalung tersebut dan berbunyi klik.
Tentu saja keduanya baik Salman maupun Kanaya terkejut.
Kanaya tak menyangka kalung itu memiliki pasangan dan kini menyatu.
Membentuk inisial KH.
"Khalisa Humaira." Kiai Abdullah menjawab segala pertanyaan yang terlihat jelas dari raut Kanaya.
"Itu namamu Nak. Khalisa Humaira. Wanita yang bersih dan bersemu kemerahan." Kyai Abdullah menatap Kanaya.
__ADS_1
"Kamu boleh meyakininya hingga hasil tes DNA keluar, namun Abah sudah yakin setelah mendengar ceritamu dan melihat kalung ini, bahwa kamu adalah putri Abah yang hilang. Abah senang sekaligus meminta maaf Nak karena selama ini kamu hidup dalam kesulitan. Maafkan Abah Nak." Kyai Abdullah tak bisa lagi menahan airmatanya. Ia sangat bersyukur Allah mengabulkan doanya, bisa kembali berkumpul bersama sang putri.
"Khalisa, ee Kanaya, maafkan Kakak jika waktu itu aku tidak meninggalkan kamu ketoilet kamu tidak akan diculik dan diletakkan di depan panti asuhan. Maafkan kakak Khalisa." Ustadz Salman berlutut dihadapan Abah dan Kanaya.
Kini meskipun Kanaya belum melihat hasil tes DNA, Kanaya percaya bahwa ia adalah putri Kyai Abdullah dan adik dari Ustadz Salman.
Dengan melihat semua yang ada, tentu bukti-bukti tersebut menguatkan bahwa ia adalah Khalisa Humaira.
"Nak boleh Abah bertanya sesuatu? Tapi ini bersifat pribadi dan Abah akan meminta seorang asisten disini yang perempuan untuk memeriksanya, bagaimanapun secara medis hasil tes DNA belum keluar, Abah tidak mau melanggar batasan."
"Ia Ab, Kyai." Kanaya masih belum terbiasa memanggil Kyai Abdullah sebagai Abah.
"Tidak apa, Abah paham kamu belum terbiasa." Senyum Kiai Abdullah.
"Pak Kyai memanggil Saya?" Seorang wanita sudah berusia 50 tahun menghampiri mereka.
"Bi, tolong ajak Kanaya ke kamar dan apakah ada tanda lahir di punggungnya."
Ucapan Kyai Abdullah mengejutkan Kanaya, karena memang Kanaya punya tanda lahir di punggung seperti yang Kyai Abdullah katakan.
"Ayo Nona ikut Bibi." Ajak ART Kyai Abdullah.
Beberapa saat berlalu,
"Pak Kyai, betul ada tanda lahir dipunggung sebelah kiri Nona ini. Berwarna kemerahan namun tidak bertekstur, halus merata dengan kulit." Jelas ART Kyai Abdullah.
Kemudian Kiai Abdullah menunjukkan sebuah foto bayi dalam posisi tengkurap.
"Apakah seperti ini tandanya?"
Foto yang ditunjukkan Kyai Abdullah tentu saja mengejutkan Kanaya.
"Betul Pak Kyai. Seperti itu yang Saya lihat namun sedikit besar."
Tentu seiring bertambah usia dan postur tubuh yang bertambah tinggi maka tanda lahir itu ikut berubah ukurannya.
"Terima kasih Bi. Silahkan kalau mau dilanjut pekerjaannya." Ucap Kyai Abdullah.
Kanaya masih mematung, tanpa ia sadari air matanya menetes.
Kebahagiaan yang ia rasakan kini seakan menghapus segala kesedihannya dimasa lalu.
Betapa Kanaya merasa sedih meski ia mendapatkan kasih sayang dari Bu Fatma yang merawat Kanaya hingga ia besar dan menikah saat itu.
"Abah. Maafkan,Ka,, Kha,,," Kanaya sulit mengucapkan namanya sendiri sesak didadanya menerima kenyataan yang membahagiakan ini.
"Khalisa, itu namamu. Tapi kamu bebas memakai yang manapun yang kamu sukai Nak. Bukan soal Khalisa atau Kanaya, yang terpenting adalah kamu adalah putri Abah. Sama seperti Salman. Kalian adalah anak-anak Abah yang Abah sayangi." Kyai Abdullah terduduk ia menangis betapa Allah SWT begitu baik mempertemukan dengan putri yang telah lama hilang.
__ADS_1
"Salman, Khalisa ini adikmu, Kanaya adalah adikmu." Kyai Abdullah menatap Salman.
"Caca!" Adikku! Maafkan Kakak yang selama ini tidak mengenalimu! Padahal kamu ada didekat kakak."