JANDA SHOLEHAH JODOH CEO DUDA AROGAN

JANDA SHOLEHAH JODOH CEO DUDA AROGAN
Kebahagian


__ADS_3

"Kak apakah perlu ke Rumah Sakit?" Dira sesungguhnya takut kecewa jika kenyataannya ia hanya sakit asam lambung dan tidak hamil.


"Sayang, Kakak tidak akan kecewa. Semua itu Allah yang takdirkan. Kita sebagai manusia hanya bisa berdoa dan berusaha. Saat ini Kita ke Rumah Sakit adalah dalam rangka ikhtiar untuk mengetahui penyebab sakitnya Kamu." Tentu saja sebagai suami yang mencintai istrinya Ustadz Salman mengkhawatirkan kondisi sang istri.


"Tapi Aku takut Kak. Aku takut kecewa." Dira tertunduk saat mereka sudah menunggu dalam antrian dan tinggal menunggu dipanggil.


Sementara di Khalisa sudah dipindahkan ke dalam ruang rawat.


"Sayang, Mas kabari Abah dulu dan Kak Salman ya." Nick mengambil telpon dan hendak menghubungi Ustsdz Salman dan Kyai Abdullah.


"Bunda, dede bayinya sejak tadi lagi bobo ya?" Caca memperhatikan 2 box bayi yang berisi adik bayinya yang wajahnya begitu tampan.


"Iya Kak. Kakak senang tidak adik bayi sudah lahir." Khalisa mengusap lembut kepala Caca.


"Senang sekali Bunda. Caca mau foto boleh tidak dengan adik? Ah kenapa adik bayi imut-imut sekali. Caca gemas sendiri."Caca memandangi kedua adiknya yang sedang asik tertidur setelah diberikan ASI oleh Khalisa.


"Caca juga dulu waktu baru lahir seperti ini Sayang." Oma Marisa mendekat.


"Oh jadi semuanya itu kalau baru lahir sebesar ini? Apakah Daddy juga sebesar ini saat Oma melahirkan Daddy?" Caca semakin penasaran.


"Ya wajahnya juga mirip dengan kalian waktu Daddy baru lahir." Oma Marisa tersenyum, ingatannya kembali pada saat melahirkan Nick puluhan tahun silam.


Di dalam poli Obgyn Dira dan Ustadz Salman kini sedang memeriksa mengenai kondisi Dira.


"Pak, Bu, silahkan lihat. Ini adalah kondisi rahim Ibu Dira. Selamat. Bapak dan Ibu saat ini akan segera menjadi orang tua. Terdapat 3 kantong janin dalam rahim Ibu Dira." Jelas Dokter Obgyn pada Dira dan Ustadz Salman.


"Tiga Dok?" Baik Ustadz Salman dan Dira kompak kaget bersama.


"Iya Pak, Bu. Ini lihat." Dokter menjelaskan apa yang ada di layar monitor USG kepada kedua pasangan baru calon orang tua baby triplet.


"Alhamdulillah. Masya Allah. Tabarakallah. Terima Kasih ya Allah." Seketika Ustadz Salman sujud syukur atas apa yang kini ada dalam keluarga kecilnya bersama Dira.


"Alhamdulillah. Lalu bagaimana kondisinya Dok?" Dira menanyakan.


"Sebaiknya untuk trimester awal Bu Dira banyak istirahat. Terlebih janin Ibu ada 3 tentunya akan lebih membuat Bu Dira ekstra dalam mengalami keluhan selama kehamilan awal. Namun jangan khawatir, konsumsi makanan bergizi, kebutuhan protein, sayur, dan buah harus selalu terpenuhi. Dan minum vitamin jangan lupa." Dokter menjelaskan lebih lanjut.


"Dokter, istri Saya setiap hari bekerja, apakah aman?" Ustadz Salman menanyakan.


"Selama tidak ada keluhan dan pastinya jangan terlalu capek seperti sebelum hamil maka tidak apa-apa. Karena hamil itu bukan sakit, hanya batasi saja aktivitas fisik yang terlalu berat. Dan satu lagi, Bapak sebaiknya puasa dulu ya berhubungan seksual dengan Ibu hingga 16 minggu. Karena fase-fase awal kehamilan masih sangat rentan. Nanti setelah itu boleh kembali berhubungan seksual kok hanya saja ada beberapa kasus pada Ibu hamil ****** yang masuk menyebabkan kontraksi sehingga disarankan Bapak melakukan ejakulasi di luar kandungan." Dokter tersenyum melihat keduanya yang salah tingkah mendengar penjelasan ya.


"Baik Dok." Ustadz Salman menanggapi meski ia sedikit canggung.


"Sekali lagi selamat ya atas kehamilan Ibu. Bapak tolong banti menjaga. Bulan depan silahkan datang untuk memeriksakan kondisi kandungan. Jika ada flek atau pendarahan segera bawa ke Rumah sakit." Dokter sambil memberikan resep pada Ustadz Salman.


"Terima kasih Dok." Jawab kompak keduanya.


Setelah keluar dari ruang pemeriksaan, Ustadz Salman dan Dira tak sengaja bertemu Gusti.

__ADS_1


"Ustadz, Bu Dira. Kalian mau keruangan Nyonya Boss ya?" Gusti yang oleh Nick diminta untuk mengambil pakaian ganti dari rumah kini bertemu keduanya.


"Siapa yang sakit Gus?" Ustadz Salman dan Dira bersamaan.


"Bukan sakit Ustadz, Bu, tapi Bu Boss saat ini berada diruang rawat setelah melahirkan." Kelas Gusti.


"Alhamdulillah. Ayo Gus. Tunjukkan pada Kami." Dira dan Ustadz Salman senang bukan main segera menuju ruang rawat Khalisa.


"Assalamualaikum." Ucap Salam Dira dan Ustadz Salman.


"Waalaikumsalam." Jawab semua dalam ruang rawat Khalisa.


"Kakak Ipar, Adikmu menelpon ke nomor mu tapi tak ada jawaban alhamdulillah sudah datang. Ayo Kakak Ipar kemari lihat keponakan tampan kalian sudah lahir." Nick menghampiri Ustadz Salman.


"Selamat Ca! Masya Allah. Keponakanku ganteng-ganteng sekali! Ya Allah gemes sendiri. Caca sekarang sudah jadi Kakak ya. Wah senangnya." Dira duduk disamping brangkar Khalisa setelah memeluk dan bercipika cipiki dengan Khalisa serta keponakannya Caca.


"Tentu ganteng Kakak Ipar, Apakah tidak melihat seperti apa Daddynya." Nick dengan pose dibuat bergaya layaknya model majalah sampul.


"Iya Pak Boss percaya! Asal keponakanku ini jangan nular jutek dan dinginnya seperti kulkas 2 pintu!" Ledek Dira pada Nick.


"Ah Kakak Ipar ini, mana ada, Adik Iparmu ini sehangat sinar matahari pagi. Iya kan sayang?" Nick kini merusuh dekat Khalisa meminta dukungan.


"Magic com juga hangat Nick!" Oma Marisa malah meledek menyamakan dengan penghangat nasi.


Tentu saja semua orang tertawa apalagi Gusti paling kencang saja otaknya langsung imajinatif membayangkan Nick cosplay jadi magic com.


"Waalaikumsalam." Jawab semua yang ada dalam ruangan.


"Abah." Khalisa mencium tangan kepada Ayahnya begitupun Nich melakukan hal yang sama kepada Bapak mertuanya.


"Bagaimana keadaanmu Nak?" Kyai Abdullah duduk disisi brangkar Khalisa.


"Alhamdulillah semua berjalan dengan lancar. Terima kasih atas doa Abah." Khalisa menjawab.


"Alhamdulillah. Masya Allah. Ini cucu Abah yang ganteng. Kakak Caca ya sekarang Eyang panggilnya?" Kyai Abdullah mendekat ke box twins sambil menuntun Caca.


"Khalisa Sayang, selamat ya." Bunda Amelia memeluk Khalisa.


"Nick selamat. Wah kini Kamu sudah punya saingan. Dua jagoanmu begitu tampan seperti Kamu." Papa Baskoro menepuk bahu Nick.


"Nah ini baru benar, Papa Baskoro memang baik sekali." Nick tertawa.


"Dira, Salman bagaimana apakah Kalian jadi periksa?" Kyai Abullah menanyakan.


"Kamu sakit apa Sayang?" Bunda Amelia mendekat pada Dira khawatir.


Begitupun Oma Marisa, Papa Baskoro, Khalisa dan Nick menatap Dira.

__ADS_1


"Abah, Oma, Bunda, Adikku dan Adik Iparku, Alhamdulillah Dira baik-baik saja. Kami sudah memeriksa. Dokter mengatakan saat ini Dira sedang hamil." Ustadz Salman sambil menggandeng Dira memberitahukan dihadapan keluarga mereka.


"Masya Allah."


"Alhamdulillah."


"Ya Allah Dira selamat."


Secara bergantian Dira mendapatkan ucapan selamat pelukan, dan kecupan hangat dari orang tua, kerabat dan keponakannya.


Terlihat Papa Baskoro sangat terharu saat memeluk Dira. Ia meneteskan airmata kebahagiaannya. Betapa bersyukur Allah begotu baik memberikannya kesempatan hidup hingga bisa merasakan menjadi seorang Kakek.


Dirapun sama ia tak kuasa meneteskan airmata bahagia segala yang terjadi di masa lalu memang tidak akan pernah terlupakan nanti Allah ganti dengan buah manis saat ini.


"Ini hasil USG dari Dokter." Ustadz Salman memberikan foto hasil USG kepada para wanita disana.


"Dira, Kamu akan menjadi Mommy Triplet!" Khalisa betapa bahagianya saat melihatnya.


"Ya allah selamat calon Ibu!" Bunda Amelia memeluk Dira merasakan bahagia tiada tara.


"Alhamdulillah. Jaga kandunganmu ya Sayang. Jangan capek-capek." Oma Marisa memeluk sambil memberi wejangan.


"Nak, terima kasih. Masya Allah anak-anak Abah sangat luar biasa. Allah berikan Kami 2 kebahagiaan sekaligus. Semoga kebahagiaan yang kita peroleh bisa menambah rasa syukur Kita kepada Allah. Abah bahagia sekali putri-putri Abah sangat luar biasa. Kalian para suami, jaga betul-betul ya istri dan anak-anak Kalian. Ingat pesan Abah. Khalisa, Dira jika Nick dan Salman nakal, laporkan pada Abah. Biar Abah sunat keduanya." Kyai Abdullah bercanda meski wajahnya dibuat seserius mungkin.


"Setuju itu besan! Apalagi yang satu itu, kalau nakal sunat saja sampai habis!" Oma Marisa menunjuk pada Nick mendukung ucapan Kyai Abdullah.


"Wah jangan Abah, Kami putra-putra Abah ini, pria-pria tampan dan sholeh kok! Iya ga Kakak Ipar?" Nick merangkul Ustadz Salman.


Tentu saja demi keselamatan Si Joni dan Cacing Alaska (Julukan Dira untuk adik Ustadz Salman) keduanya kompak.


Melihat keduanya saling bahu membahu tentu saja menambah keceriaan.


"Abdullah sepertinya Kita perlu membuat syukuran." Papa Baskoro merangkul sahabatnya.


"Iya. Setelah pulang dari Rumah Sakit  Kita akan membuat Syukuran dan Aqiqah Cucu Kita Bas." Kyai Abdullah menyetujui.


"Tenang saja Pak Baskoro, soal itu Kami Oma-Omanya akan menyiapkan semuanya. Ya kan Jeng!" Oma Marisa sambil berpelukan dengan Bunda Amelia.


"Tentu Jeng Marisa. Kita lakukan yang terbaik untuk Cucu Kita!" Bunda Amelia sangat antusias.


"Berarti Caca akan punya 5 adik bayi?" Caca menghitung dengan jarinya.


"Insha Allah. Doakan ya agar Tante Dira dan baby triplet sehat-sehat hingga lahiran nanti." Jawab Dira dan Ustadz Salman yang memangku Caca.


"Asik. Caca punya 5 adik. Ah Caca bisa cerita ke teman-teman kalau Adik Caca banyak." Senang sekali Caca memiliki adik banyak.


“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan Mengawasi kamu.” (An-Nisa: 1).

__ADS_1


__ADS_2