JANDA SHOLEHAH JODOH CEO DUDA AROGAN

JANDA SHOLEHAH JODOH CEO DUDA AROGAN
Boss Killer VS Ustadz Viral


__ADS_3

Nick begitu semangat untuk segera sampai kantor.


Sementara sang asisten Gusti nampak sekali terlihat sedikit mengantuk meski ia tahan sebisa mungkin.


"Selalu saja setiap hari macet!" Keluh Nick yang membuat lebih dalam perjalanan menuju ke kantor menjadi semakin lama untuk sampai.


Setelah berjibaku dengan kemacetan Nick sampai di kantor kebanggaannya, buah kerja kerasnya yang selama ini ia bangun dengan segala tenaga dan pengorbanan.


"Boss kenapa kita berenti disini? Memang Boss sudah lupa dengan ruang kerja sendiri?" Gusti heran sang big boss bukan menuju ruang kerjanya malah menuju studio.


"Sejak tadi kau terlalu bawel Gus!" Nick berucap sambil tersenyum pada Gusti.


"Eh si boss kenapa nih? Ga salah minum obat kan?" Gusti ngeri-ngeri sedap dengan senyum Nick memilih tak lagi berkomentar dan mengikuti saja langkah kaki sang pemilik NBC.


Kedatangan Nick distudio tentu disambut dengan sapaan dan sikap menghormati para staf dan crew yang kini sedang bertugas.


"Selamat pagi Boss. Senang rasanya boss menyempatkan waktu untuk memantau kami disini." Dengan tergesa kepala divisi penyiaran segara menghampiri Nick yang tiba-tiba datang tanpa ada pemberitahuan.


Sementara Nick yang diajak bicara matanya sedang menyisir semua ruangan seakan mencari sesuatu yang hingga saat ini ia belum temukan.


"Boss Nick perlu sesuatu atau sedang mencari seseorang?" Tebak kepala divisi yang yakin Nick mencari Kanaya.


"Tidak aku hanya sedang melihat saja bagaimana divisimu ini bekerja. Apakah kau becus mengatur staf dan crew yang bertugas dan memastikan lagi tidak ada pegawai yang seenaknya tidak masuk kantor." Nick selalu punya alasan untuk menyangkal.


Please deh babang Nick, kalo nyari Kanaya ngomong aja sih!" Lama-lama gemes banget sama duda satu ini!


"Assalamualaikum Tuan Nick. Senang bertemu lagi dengan Anda." Sapa Ustadz Salman yang baru saja menyelesaikan proses syutingnya.


"Waalaikumsalam. Saya senang Ustadz bisa tetap hadir meski semalam tentu kurang istirahat." Nick sebetulnya tak berharap bertegur sapa dengan Ustadz Salman.

__ADS_1


"Bagaimanapun Saya memiliki tanggung jawab untuk tetap hadir, karena sudah menjadi janji dan kontrak Saya terhadap NBC." Jawab Ustadz Salman.


"Bagaimana kalau Boss dan Ustadz Salman, duduk dan santai diruangan? Saya akan menyiapkan teh atau kopi?" Kepala divisi seakan memiliki sinyal bau-bau persaingan yang masih terhalang gengsi dan keadaan.


"Oh tidak perlu. Sepertinya Saya akan melanjutkan pekerjaan Saya Ustadz Salman. Ustadz sudah selesai? Terima kasih sudah memenuhi kewajiban dan selamat beristirahat ya." Dengan kata lain Nick seakan meminta Salman segera pulang.


"Terima kasih atas perhatian Tuan Nick. Alhamdulillah syuting berjalan lancar sehingga sekarang sudah selesai. Namun Saya masih ada keperluan dengan Kanaya." Senyum Ustadz Salman membuat Nick kesal namun masih mampu si boss tutupi.


"Tapi sepertinya pegawai yang Ustadz maksud tidak hadir?" Kata-kata Nick malah membuat kepala divis segera menjelaskan takut Nick menganggap tak bisa mendisplinkan stafnya.


"Maaf Boss, Kanaya bukan tidak hadir, namun Saya meminta alih tugas pada Kanaya untuk menginterview acara sebuah yayasan anak yang. Karena permintaan dari narasumber untuk mengirim pegawai wanita untuk menginterview. Jadi terpaksa Saya mengirim Kananya. Karena narasumber tidak ingin ada crew laki-laki saat interview. Semua yang saya tugaskan dilapangan selain driver semuanya perempuan." Jelas panjang lebar.


"Pantes saja, Kanaya tidak terlihat sejak tadi. Ah, padanya aku sengaja masuk kantor meski masih ngatuk!" Umpat Nick dalam hati.


"Sampai jam berapa Kanaya tugas luar?" Ustadz Salman bertanya kepada kepala divisi.


"Waduh, kalau itu Saya juga tidak bisa menjamin. Karena jika seperti itu tergantung dari narasumber yang kita interview Ustadz."


"Maaf Boss tapi ini situasional jadi Saya pikir Saya harus mengambil langkah cepat. Beruntung Kanaya bersedia jadi ya Saya anggap ini yang terbaik." Sedikit ngeri-ngeri sedap menjelaskan pasa big boss takut kena semprot.


Seakan semesta hari ini ingin menguji kesabaran dan mood Nick.


"Permisi Tuan Nick, Saya akan menerima telpon."


"Silahkan." Nick dengan santai sambil tetap brrdiri gagah ditempat.


"Assalamualaikum. Ah Waalaikumsalam. Mbak Kanaya. Iya maaf tadi memang Saya sempat menghubungi dan mengirim pesan. Oh begitu? Tidak apa-apa. Insha Allah Saya akan tunggu. Oh, tidak merepotkan. Maaf mengganggu ya Mbak Kanaya. Hati-hati dijalan. Waalaikumsalam." Ustadz Salman mengakhiri percakapan telponnya.


Tentu saja percakapan Ustadz Salman terdengar ditelinga Nick dan sukses membuat Si Bog killer meradang.

__ADS_1


"Tuan Nick sepertinya Saya harus pamit. Mari Pak. Assalamualaikum." Ustadz Salman pamit pada Nick dan kepala divisi.


Nick hanya tersenyum simpul segera balik kanan ia kesal dengan apa yang ia dengar dan lihat.


"Bisa-bisanya telponan sama si Salman. Dia kerja sama aku, tapi malah mengabari si Salman! Eh tapi aku memang tak telp dan chat dia sih! Ya tapi seharusnya sebagai pegawai ada izin dong! Ah menyebalkan sekali. Kanaya, dasar pegawai nakal!" Nick berorasi sendiri dalam pikirannya.


Melihat Boss ya yang tampak berpikir dengan ekspresi wajah yang berubah-ubah Gusti semakin yakin kalau si boss killer kita sedang panas karena cemburu namun Gusti memilih pura-pura tidak tahu.


Sebagai asisten yang baik tentu Gusti sudah tahu apa yang harus ia lakukan, bahkan sebelum si boss killer akan bisa mengira kejutan kecil yang akan Gusti berikan kepada pemilik NBC.


"Duh si boss, boss. Makanya kalo cinta bilang, jangan kebakaran jenggot begini! Di tikung Ustadz Salman kelabakan sendiri. Tapi tenang boss, jangan panggil aku Gusti asisten andalanmu kalau aku tidak bisa membuat hati boss senang." Gusti bermonolog sendiri dalam hatinya.


"Hei Gus, kau sudah gila ya! Senyum-senyum sendiri!" Nick aneh melihat Gusti yang senyum-senyum sendiri saat ini.


"Ah tidak boss. Bukankah senyum itu ibadah. Jadi anggap saja Saya sedang ibadah!" Gusti ngeles bagai bajaj.


Gusti udah ketularan boss Nick nih pinter cari alasan. Huh dasar ga Boss ga Asisten pada pinter ngeles kaya metromini.


"Oh iya boss, ada janji bersama klien, dan mereka meminta bertemu di luar. Ini alamat yang klien berikan. Apakah boss bersedia hadir? Tapi sebaiknya boss hadir, karena mereka salah satu klien kita yang loyal." Gusti menunjukkan ipadnya yang berisi jadwal Nick.


"Ya bilang saja aku harus datang Gus! Kau seperti perempuan, berbelit-belit. Laki-laki itu harus to the point! Kau ini!" Nick sambil geleng-geleng kepala.


"Bilang pada klien kita aku akan datang." Nick menambahkan.


"Lah kayaknya kata-kata itu cocok buat boss sendiri deh! Dasar duda, kalo ngomong ga ngaca! Untung Boss, sabar Gus, sabar!" Gusti bermonolog dalam hatinya.


"Terus, kenapa kau masih disini! Merusak mood kerjaku saja!" Usir Nick pada Gusti.


"Ok Boss. Saya keluar. Nanti jangan lupa kita ada meeting ya." Gusti menekankan.

__ADS_1


"Aku belum pikun! Kau tidak usah bawel Gusti!"


__ADS_2