JANDA SHOLEHAH JODOH CEO DUDA AROGAN

JANDA SHOLEHAH JODOH CEO DUDA AROGAN
Kenalan Dulu


__ADS_3

Staycation dadakan memenuhi keinginan putri tercintanya, tak jauh-jauh cukup datang ke hotel miliknya sendiri, meski begitu bahagia tak terlukis di hati Nick malam ini kala menyantap makan malam bersama ditemani oranh-orang tercintanya.


Nick, Khalisa, Oma Marisa dan Caca duduk bersama menikmati santap malam dengan penuh sukacita.


"Mas, boleh tidak Aku meminta bantuan Mas." Khalisa membuka percakapan disela menikmati makan malam mereka.


"Sayang, kayak sama siapa aja. Memang Sayangku mau apa sih?" Nick gemes sendiri dengan sikap Khalisa yang terkadang masih sungkan meminta sesuatu kepadanya.


"Begini Mas, sebetulnya baik Abah dan Pak Baskoro ingin mengadakan resepsi pernikahan Kak Salman dan Dira. Apakah boleh Aku ikut terlibat membantu persiapannya?"


"Ya Allah Sayang, Mas pikir ada apa. Jelas kita sebagai keluarga harus ikut serta. Ya Ga Mom?" Nick melirik sang Ibu yang ikut geleng kepala dengan rasa sungkan Khalisa.


"Sayang, pokoknya Oma bakal ikut bantu urus soal Salman dan Dira. Lagi pula Jeng Amelia kan sedang fokus merawat Pak Baskoro, dan Kyai Abdullah sedang menemani jamaah, jadi Oma ga keberatan malah seneng banget bisa bantu. Ya sudah, gini saja. Bagaimana kalau besok kita ajak Dira ke WO yang sama saat Kamu dan Nick resepsi. Pokoknya jangan sungkan Sayang, kalian anak-anak Oma. Malah Oma happy kalau dilibatkan mengurus yang seperti ini."


"Makasi banyak Oma, Mas. Maaf jadi ngerepotin semuanya."


Khalisa sangat bersyukur memiliki suami dan mertua yang luar biasa baiknya.


"Wah Tante Dira dan Om Salman seperti Daddy dan Bunda ya seperti prince dan princess. Pasti Tante Dira cantik deh. Om Salman juga pasti ganteng!" Caca ikit senang.


"No! Masih gangeng Daddy dong Sayang!" Nick tak terima jika putrinya memuji orang lain selain ia yang paling tampan.


"Iya Dad tampan! Tapi Daddy sudah tua!" Caca sengaja meledek.


"Nah itu baru benar Cucu Oma memang paling pinter!" Oma Marisa mendukung kata-kata Caca.


"Mana ada begitu! Daddymu ini masih muda dan sangat tampan! Buktinya Bundamu mau dengan Daddy!" Nick mencari pembenaran.


"Itu karena menantuku yang cantik dan baik hati saja, mau menerima duda karatan sepertimu!" Oma Marisa malah mengejek Nick mencibir.


"Sayang, Mom dan putriku tak ada yang membela Mas, Sayangku cintakan sama Mas? Mas ganteng kan?" Kini jurus terakhir meminta dukungan istri tercintanya.


"Sudah jangan manja drngan menantu Mom, oh iya Sayang, nanti malam, datanglah ke kamar Oma. Bisrkan si tua ini tidur sendiri dikamar. Oma juga kepingin tidur dengan menantu Oma." Oma Marisa senang sekali menggoda putra semata watangnya yang jelas akan menolak hal tersebut.


"Mana bisa begitu! Yang betul itu, Oma dan Caca satu kamar. Aku kan mau buat Cucu lagi untuk Mom!" Nick lupa dihadapannya ada Caca.


"Kata Oma, Caca tidur berdua sama Oma. Soalnya Daddy dan Bunda tidurnya mati lampu, supaya cepat jadi Adek bayi. Oma lupa ya?" Begitulah anak-anak tak mengerti gurauan sang Oma yang senang menggoda Daddynya Caca.


"Memang putri Daddy yang cantik dan paling pinter juga pengertian. Sayang, bantu doakan Daddy dan Bunda agar Allah mengabulkan doamu untuk memiliki Adek bayi. Iya kan Bun?" Nick mengusap kepala Caca sambil memberi kode pada Khalisa.

__ADS_1


Khalisa hanya tersenyum melihat ketiganya yang selalu membuat suasana meriah.


Berbeda dengan Nick dan keluarganya yang sedang seru-serunya, di tempat lain tepatnya di dalam kamar Ustadz Salman, kedua pasang anak manusia yang resmi menjadi kekasih halal kini tampak sedang asik menikmati moment dad dig dug ser.


"Jadi pilih yang mana, Sayang?" Ustadz Salman dengan posisi berada di belakang tubuh Dira masih menggunakan handuk sepinggang dengan dada polos.


Hembusan nafas Ustadz Salman mengenai telinga dan leher Dira membuat bulu roma merinding seketika.


Tok,Tok,Tok!


"Maaf Mas Salman, Bibi mau kasih tahu makan malam sudah siap."


Melihat celah, Dira berhasil melepaskan Diri dari kungkungan suaminya yang mulai meresahkan.


"Iya Bi. Kami akan keluar!" Dira menjawab.


"Kak! Kita makan dulu. Dira sudah lapar!" Mengalihkan rasa gugupnya Dira buka suara.


"Ok. Memang harus makan dulu, lalu shalat sunah, baru setelah itu," Ustadz Salman menyelesaikan memakai pakaiannya dan hendak membuka handuk yang menutupi bagian bawahnya.


"Jangan dibuka disini Kak!" Dira memekik mencegah belum siap dengan apa yang akan ia lihat dibalik handuk tersebut..


"Kita mau makan malam Kak! Lebih baik Kakak segera pakai celana." Sungguh meresahkan pria dihadapannya yang kini berstatus suami bagi Dira.


Sret!


Dira langsung berbalik mengantisipasi akan hal yang belum siap ia lihat.


Melihat tingkah istrinya Ustadz Salman tertawa, lucu sekaligus menggemaskan dengan kelakuan Dira.


"Ayo Kita keluar. Katanya lapar? Atau masih ingin disini?" Ustadz Salman berbisik ditelinga Dira.


"Kenapa mesti deket banget sih Kak, bikin kaget aja!" Dira masih kaget kagetan bila didekatin suaminya sendiri.


"Makanya biar ga kaget, kenalan dulu ya." Ustadz Salman menahan tawanya sungguh menjadi hiburan baru menggoda Dira sangat menyenangkan.


"Ah, kenapa Ustadz jadi meresahkan dan mesum begini!" Dira buru-buru membuka pintu kamar segera menuju ruang makan.


Melihat Dira yang berjalan mendahuluinya semakin membuat Ustadz Salman tertawa dengan kelakuan istrinya yang bikin gemes itu.

__ADS_1


"Mbak Dira semoga suka makanannya." Bibi sambil menyajikan beberapa buah dan makanan penutup.


"Ini enak Bi. Makasi Bi." Dira menikmati makanannya.


"Kapan-kapan, Kakak mau mencoba masakan istriku tersayang. Bolehkan?"


"Uhuk,Uhuk!"


Dira tersedak mendengar perkataan suaminya sambil menerima gelas berisi air yang disodorkan Ustadz Salman padanya.


Ustadz Salman mengusap perlahan punggung Dira meredakan batuk-batuk istri menggemaskannya.


Tentu saja Dira makin kaget dan malah kembali tersedak.


"Sayang, pelan-pelan saja makannya. Malam masih panjang kok, ga usah buru-buru."


Dira membulatkan matanya, malu pasti karena masih ada Bibi disana tentu tersenyum mendengar ucapan Ustadz Salman.


"Mas Salman, memang kalau masih pengantin baru suka begitu, Mbak Dira tenang saja. Lama-lama juga terbiasa."


"Ini kenapa jadi bahas begituan sih. Ah, meresahkan sekali." Batin Dira sambil ia menghabiskan air di gelas.


"Aduh!"


Tiba-tiba saja Dira merasakan sakit diperutnya, segera beranjak menuju ke toilet dalam kamar.


Melihat hal itu Ustadz Salman segera ikut beranjak mengekori sang istri yang pergi terburu-buru.


"Sayang, Kamu kenapa?" Ustadz Salman mengetuk pintu kamar mandi di kamar keduanya.


"Sepertinya Dira sakit perut. Semoga tidak terjadi apa-apa?" Masih memanggil dan mengetuk karena belum ada balasan dari Dira.


"Sayang, buka pintunya. Apa yang sakit? Mau Kakak antar ke dokter?"Ustadz Salman kini semakin panik takut Dira kenapa-kenapa.


Ceklek!


Dira meloloskan kepalanya saja keluar pintu namun masih menyembunyikan tubuhnya di balik pintu kamar mandi.


"Sayang, apa yang sakit? Ayo Kakak antar ke dokter." Wajah Ustadz Salman seketika semakin bingung melihat wajah Dira sedikit lemas.

__ADS_1


Dengan canggung namun butuh, meski awalnya terbata-bata kesulitan mencari kata, akhirnya Dira mengatakan sesuatu yang membuat Ustadz Salman terkejut.


__ADS_2