
"Kau yakin Nick mau ke kantor? Kau tidak istirahat dulu, apa tidak lelah? Baru sampai sekarang sudah berkerja? Ingat kau itu sudah tua Nick!" Oma Marisa yang menyindir sang putra karena terlihat bersemangat sekali untuk berangkat ke kantor.
"Sebagai pimpinan yang baik aku memberi contoh agar pegawaiku tidak bermalas-malasan. Mereka akan malu, aku Boss nya saja sangat rajin!" Nick memuji dirinya sendiri.
Air laut siapa yang garemin Babang Nick! Sumpah ya Mak Author aja sebel Nick sama kamu yang terlalu over kepedean! Cuma bisa tepok jidat kalau jadi Gusti memang.
"Bilang saja kamu rindu dengan Kanaya kan Nick?" Skakmat Oma Marisa sukses buat Nick tersedak saat menyeruput kopinya.
"Uhuk,Uhuk,Uhuk!"
"Siapa yang bikin kopi! Kenapa panas sekali!"
Begitulah Nick si gede gengsi selalu ada saja pengalihan yang ia lakukan demi menjaga harkat dan martabak, eh maksudnya martabat tetap aman, jaya sentosa.
Gusti yang memang tidak pulang lagi sejak mengantar Boss nya kini bergabung menikmati sarapan dengan keluarga Boss nya begitu senang melihat big boss yang terhormat sedang di smesh oleh sang ibu.
"Ku ingin kau menjadi milikku
Entah bagaimana caranya
Lihatlah mataku untuk memintamu
Ku ingin jalani bersamamu
Coba dengan sepenuh hati
Ku ingin jujur apa adanya
Dari hati"
Ponsel gusti berbunyi entah sengaja atau tidak nada dering ponselnya penggalan lagu milik club 80's yang berjudul Dari Hati.
"Permisi Boss, Nyonya Oma, Saya izin angkat telpon dulu."
Sepeninggal Gusti Oma Marisa semakin tertawa dengan raut wajah Nick yang kesal.
Gusti kembali setelah menyelesaikan pembicaraannya ditelp.
"Gus, tadi lagu judulnya apa? Oma minta dong! Lagu cocok banget buat situasi hati seseorang!" Oma Marisa semakin gencar membully putra duda satu-satunya.
"Kau sudah aku bilang, ponselmu di silence, bagaimana kalau sedang meeting dengan klien? Memang ponselmu pasar malam harus berisik begitu! Ganti atau kupotong gajimu!"
Nick bangkit ia pergi meninggalkan ibu dan asistennya.
__ADS_1
"Sudah, ga usah dipikirin, anak Oma itu cuma malu, gengsi dia kalau ketahuan suka sama Kanaya! Hihihi!"
"Loh Nyonya Oma juga tahu kalo Boss suka sama Bu Kanaya?"
"Hish! Aku ini ibunya. Aku bahkan lebih tahu Nick dibandingkan dirinya sendiri!"
Gusti mengangguk membenarkan kata-kata Oma Marisa.
"Nah Oma mau minta tolong sama kamu Gus?"
"Apa Oma?"
"Sini Oma bisikin."
Oma Marisa sengaja agar tidak ada yang mendengar rencana yang akan ia lakukan dengan melibatkan Gusti.
"Tapi Nyonya Oma kalau Boss marah, bisa gawat. Bisa-bisa Saya dipecat!" Gusti takut sambil terbayang wajah killer Nick.
"Tenang! Itu biar Oma yang urus! Pokoknya kamu ikuti saja apa yang Oma bilang. Paham kan?"
"Iya deh Oma."
"Nah gitu dong."
Kanaya mewawancarai sang founder yang kini sedang duduk berhadapan di sebuah kursi santai.
"Selamat siang, perkenalkan Saya Kanaya, reporter NBC. Terima kasih atas waktunya yang telah ibu luangkan untuk kami. Maaf Saya boleh tahu dengan ibu siapa?"
"Siang Mbak Kanaya. Perkenalkan Saya dengan Amelia Oktaviana. Panggil saja Amelia"
"Baik Bu Amelia, Saya tertarik mengenai alasan Anda saat mendirikan yayasan anak ini. Bisa tolong diceritakan?"
"Sebetulnya, Saya pribadi begitu menyukai anak-anak. Sejak kecil Saya yang merupakan anak tunggal sering merasa sepi karena tidak memiliki saudara kandung seperti teman-teman sekolah lainnya pada masa itu, terlebih, hingga kini Saya pun belum dipercayakan memiliki putra maupun putri."
Kanaya bisa menangkap ada gurat sendu dari wajah wanita paruh baya yang masih terlihat cantik diusianya yang tak lagi muda.
Tentu saja Kanaya bisa merasakan apa yang wanita dihadapannya rasakan.
Kanaya yang pernah menikah meski pernikahan itu kandas dan hanya sebentar, namun Kanaya tak lupa akan segala komentar negatif baik dari ibu mertua, suami bahkan orang - orang terdekatnya.
"Maaf atas pertanyaan Saya Bu Amelia. Saya tidak bermaksud menyinggung dan membuat sedih hati ibu." Kanaya sungguh tidak enak hati, Kanaya meminta cameramen untuk menghentikan dulu proses perekaman.
"Saya jeda dulu ya Bu Amelia. Maaf sekali lagi."
__ADS_1
"Tidak apa-apa Mbak. Silahkan jika ingin dilanjutkan." Wanita baya itu dengan ramah.
"Bu, Saya pribadi betul-betul minta maaf, tak ada niat dihati kecil Saya untuk menyinggung hati ibu. Sayapun bisa merasakan apa yang ibu rasakan." Kanaya terbawa perasaan manakala ia sendiri seeing sensitif saat itu jika ada yang bertanya soal anak kepada dirinya.
"Maksud Mbak?"
"Saya juga pernah ada diposisi itu, Saya menikah namun tidak kunjung memiliki keturunan. Hingga suatu saat seorang wanita datang membawa anak dan mengatakan bahwa ia dan suami Saya sudah memiliki anak." Kanaya entah mengapa tak biasanya ia mudah bercerita kepada orang lain seperti saat ini yang sedang ia lakukan dihadapan wanita baya yang baru saat ini ia temui.
Deg!
Amelia terkejut. Betapa kisah hidup Kanaya mirip dengan dirinya.
Amelia kini menatap lekat Kanaya seolah ia sedang menatap dirinya puluhan tahun silam.
Amelia kemudian menghampiri Kanaya, membawa Kanaya dalam pelukannya.
Amelia menepuk-nepuk punggung Kanaya sambil sesekali mengusap kepala wanita yang memiliki nasib yang sama.
"Lalu apa kamu masih bersama pria itu?" Amelia menatap netra yang kini basah oleh airmata.
"Kami bercerai. Saya mengajukan talak. Karena memang selama kami menikah mantan ibu mertua Saya memang tidak pernah merestui kami." Kanaya seperti air mengalir, entah mengapa ada rasa nyaman saat berbincang dengan Amelia.
"Maaf siapa namamu tadi?"
"Kanaya Bu."
"Naya, semua yang sudah terjadi dalam hidup ini adalah suratan yang Tuhan takdirkan kepada kita umatnya. Kamu masih muda. Saya yakin Tuhan memilih kamu menghadapi cobaan ini karena ia maha tahu kalau kamu adalah wanita yang kuat dan mandiri. Keputusanmu sangat cerdas. Kamu wanita yang tahu kapan harus berhenti. Saya yakin dibalik cobaan yang kamu alami akan ada saat dimana kamu akan merasakan kebahagiaan. Saya salut sama kamu, kamu mampu berdiri tegak, berkarir seperti saat ini. Tandanya kamu wanita yang tangguh. Karena tidak semua wanita memiliki mental baja seperti kamu."
Sungguh Amelia merasakan tamparan keras pada dirinya dengan kata-kata yang ia ucapkan.
Karena Amelia tahu dirinya adalah salah satu wanita yang tidak punya keberanian untuk bisa seperti Kanaya.
Rasa cinta Amelia terhadap Baskoro begitu besar. Hingga Amelia buta mata dan hatinya.
"Maafkan Saya ibu, Saya malah bercerita masalah pribadi Saya pada ibu."
"Tak apa Naya. Saya senang kamu mau berbagi pada Saya. Paling tidak kita butuh tempat untuk segala unek-unek dihati kita agar kita merasa lebih baik. Anggap saja Saya ibumu. Itupun kalau kamu berkenan." Wanita baya itu berkelakar sambil tersenyum simpul.
"Suatu kehormatan bagi Saya bisa menganggap ibu sebagai ibu Saya."
"Jangan terlalu memuji. Saya itu aslinya galak loh! Jadi kalau kamu mau jadi anak Saya, kamu harus siap Saya omelin! Canda Amelia pada Kanaya dengan acting wajah yang dibuat galak.
"Dengan senang hati bu." Kanaya tersenyum betapa sedikit sesak di dadanya berkurang.
__ADS_1
Entah, Kanaya sendiri tidak tahu alasan apa dirinya bisa seterbuka itu oleh wanita yang baru ia kenal.