
"Ayo Ustadz, silahkan." Oma Marisa kini mengajak tamu-tamunya menikmati santapan yang telah ia masak tadi bersama Kanaya.
Walaupun akhirnya Oma Marisa membiarkan Kanaya memasak, ia senang melihat betapa cekatannya Kanaya mengeksekusi bahan makanan yang akan mereka masak.
Caca ikut turun, bergabung di meja makan karena merasa bosan seharian dikamar.
Nick tentu saja sudah duduk dikursi biasa miliknya menatap Kanaya dan Salman yang duduk bersebelahan.
"Sini Oma suapin makannya." Oma Marisa hendak akan menyuapi sang cucu yang masih terlihat lemas.
"Tanye Naya Caca boleh tidak minta disuapi Tante Naya?"
Caca yang biasanya duduk dekat dengan Nick, kali ini sudah berpindah berdiri diantara Ustadz Salman dan Kanaya.
Melihat posisi Caca yang tentu saja akan duduk ditengah menggeser posisi Ustadz Salman disebelah Kanaya tanpa sadar Nick tersenyum sendiri.
"Nick, kamu baik-baik saja? Kok senyum-senyum gitu!" Oma Marisa memperhatikan sikap Nick.
Tentu saja Nick dibuat gelagapan meski bukan Nick namanya kalau tidak bisa mengendalikan dirinya tetap cool.
"Ayo Sayang, duduk. Kapan mulai makannya kalau Caca masih berdiri."
Nick seolah menegaskan, "Bagus anak Daddy, posisinya sudah duduk kamu sudah telat Nak! Sudah pas!"
"Ayo sini Tante Naya suapi."
"Asik. Makasi Tante."
Caca kini duduk diantara Kanaya dan Ustadz Salman.
"Caca ayo sekarang Caca pimpin baca doa sebelum makan ya." Ustadz Salman mengingatkan Caca sambil mengusap kepala Caca.
"Baik Om Ustadz. Kalau Caca bacanya ada yang salah, Om Ustadz kasih tahu ya."
Anggukan Ustadz Salman sambil tersenyum.
Kanaya mengusap kepala Caca.
Caca membaca dengan lancar doa mau makan.
"Bismillahirrahmanirrahim."
“Allahumma baarik lanaa fiimaa rozaqtanaa wa qinaa 'adzaa bannar.”
Artinya:
"Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang."
“Ya Allah, berkahilah kami dalam rezeki yang telah Engkau berikan kepada kami dan peliharalah kami dari siksa api neraka.”
Semua yang berada di meja makan ikut mengaminkan.
Gusti yang ikut bergabung di meja makan ikut turut berdoa meski dalam kepercayaannya masing-masing.
__ADS_1
"Tante nasi goreng seafoodnya enak. Om Ustadz enak kan masakan Tante Naya?"
"Iya enak. Ga salah Caca suka sama masakan Mbak Kanaya." Ustadz Salman menyetujui pujian Caca terhadap masakan Kanaya.
"Alhamdulillah kalau enak." Senyuman Kanaya sambil menyuapi Caca makan.
"Kenapa jadi terlihat seperti keluarga bahagia mereka? Ayah, Ibu dan Anak. Menyebalkan!" Batin Nick.
Entah sadar atau tidak Nick yang dalam hati sedang menggerutu seketika tersedak sendiri.
Uhuk! Uhuk! Uhuk!
Posisi Oma Marisa yang ada di sebelah Nick langsung menyodorkan air minum pada putranya.
"Kamu kenapa sih Nick, makanya kalau makan pelan-pelan. Walaupun masakan Kanaya enak, ya jangan buru-buru. Seperti takut kehabisan saja!" Oma Marisa membantu menepuk punggung Nick meredakan batuknya.
"Justru Capcay seafood ini rasanya terlalu asin. Aku jadi tersedak!"
Please deh Babang Nick ga usah pake acara nyalahan masakan orang, bilang aja cembokur Bang! Huhhh dasar gengsi segunung!
Kanaya tentu saja merasa tidak enak hati, masakannya membuat Boss nya tersedak.
"Apa iya asin? Perasaan sudah aku coba?" Batin Kanaya.
"Ah, lidahmu salah Nick! Capcaynya tidak asin. Kamu saja lidahnya bermasalah!" Oma Marisa tahu kalau putranya hanya beralasan.
"Ya itu kan selera Mom, bagiku itu asin!" Nick si tidak mau kalah, gengsi setinggi langit tetap dengan alibinya.
"Tante Caca mau coba Capcaynya. Caca penasaran. Om Ustadz makan Capcay kan? Asin ga Om?"
Caca tidak memperdulikan peringatan Kanaya, ia menyendok Capcay dan meletakkan pada piring makannya, dan ia suap sendiri saking penasaran.
"Ini enak Tante! Caca itu sebetulnya kurang suka Capcay karena ada brokoli, tapi ternyata Capcay buatan Tante Naya enak. Om Ustadz merasakan asin juga seperti Daddy?"
Tentu saja kini posisi Nick semakin tersudut.
Ustadz Salman yang melihat situasi tersebut memahaminya dan ia memilih menentramkan situasi yang ada.
"Caca Sayang, maaf sekali, bukankah jika sedang makan kita dianjurkan tidak berbicara? Ayo kita selesaikan makannya dulu ya. Biar Caca bisa lebih cepat minum obat. Katanya tadi sudah bosen dirumah? Ayo kita makan lagi."
Gusti yang melihat situasi tersebut entah harus tersenyum atau tidak berekspresi sekalian.
Nick melihat Gusti menahan senyum sambil mengalihkan wajah, segera menatap tajam pada Gusti.
"Ah si Boss! Payah juga! Kalo begini, bisa-bisa kalah saing sama Ustadz Salman!" Tentu saja kata-kata tersebut hanya bisa Gusti ucapkan dalam hati.
"Alhamdulillah." Ucap Ustadz Salman saat mengakhiri makannya.
Begitupun yang lain mengikuti mengucapkan Alhamdulilah.
"Terima kasih Bu Marisa atas jamuannya, Terima kasih juga Mbak Kanaya atas masakannya."
"Justru Saya yang berterima kasih Nak Ustadz Salman sudah bersedia meluangkan waktu menjenguk Caca."
__ADS_1
Kanaya melirik jam tangan. Ia merasa sudah terlalu meninggalkan kantor, kini Kanaya mengambil tasnya bersiap balik.
"Caca, Om Ustadz pamit dulu ya. Om Ustadz doakan semoga lekas sembuh. Tuan Nick Saya pamit, Bu Marisa saya izin pulang."
"Caca Tante Naya juga izin kembali ke kantor ya. Nyonya Oma, Saya balik ke kantor dulu."
"Mbak Kanaya sekalian saja Saya antar." Ustadz Salman menawarkan, karena saat berangkatpun Kanaya ikut dengan Ustadz Salman.
"Ya semuanya pulang, Caca sepi deh!" Wajah sendu terlihat dari raut wajah putri cantik Nick.
"Kamu tetap disini, ada hal yang harus kita bahas soal pekerjaan. Iya kan Gus?" Nick menunjuk Kanaya untuk tidak meninggalkan rumahnya sambil menoleh pada Gusti dengan sorot mata mengintimidasi.
"Kerjaan apa yang dibahas melibatkan Mbak Naya." batin Gusti bingung.
"Iya Boss!" Begitulah pegawai yang baik Gusti harus yess Boss jika ingin aman, damai sentosa dari amukan Boss killernya.
"Terima kasih Ustadz, maaf merepotkan waktunya. Hati-hati diperjalanannya ya." Nick menampilkan senyumnya, sambil merangkul Ustadz Salman menuju pintu keluar rumah.
"Ah, si Boss! Modusnya kebaca! Payah!" batin Gusti saat melihat sikap Nick yang kini mengantar Ustadz Salman sambil merangkul.
Senyuman Gusti merefleksi suara batinnya yang lucu melihat tingkah konyol Nick di hadapannya.
"Hati-hati dijalan ya Nak Ustadz." Ucap Oma Marisa.
"Makasi banyak Om Ustadz. Atas doa, waktu dan hadiahnya. Caca senang sekali. Kalau Caca audah sehat temani Caca belajar ngaji lagi ya!" Caca mencium tangan Ustadz Salman.
"Insha Allah, selagi Om Ustadz sehat, ada kesempatan insha Allah kita akan belajar ngaji lagi." Ustadz Salman senang dengan semangat Caca untuk belajar agama tinggi.
"Mari semuanya, Saya pamit. Assalamualaikum."
Ustadz Salman menangkupkan tangan di dada sambil mengucap salam saat pamit.
"Waalaikumsalam."
"Boss, tadi bilang akan membicarakan pekerjaan? Memang ada pekerjaan apa ya?" Kanaya segera menanyakan kepada Nick.
Kanaya tahu Nick serba cepat makanya daripada kena omel mending Kanaya inisiatif bertanya.
"Nanti, Saya mau ada pembicaraan internal dulu dengan Gusti! Kamu temani saja Caca! Gusti ke ruang kerja Saya!"
Nick berjalan meninggalkan Kanaya yang tampak bingung dengan Boss Killer yang aneh bin ajaib saat ini.
"Sudah, ga usah dengerin Boss kamu Nak Naya, emang suka rada-rada. Maklum, kelamaan duda jadi gesrek kepalanya!" Oma Marisa dengan bar bar tanpa sensor nyelos begitu saja.
Sementara Kanaya tak menanggapi ucapan Nyonya Oma karena siatuasi Kanaya bagai buah simalakama.
"Tante Naya, mending kita latihan bahasa mandarin aja yuk! Caca sudah hapal lagi kosakata baru! Ayo Tante!" Caca menuntun Kanaya kembali ke kamar Caca.
Sepeninggal semua orang, Oma Marisa hanya tersenyum mengingat kelakuan putra semata wayangnya yang iya jelas tahu sebab musababnya mengapa Nick seperti itu.
Oma Marisa menatap foto mendiang suaminya.
"Dad, putramu itu gengsinya ngambil banget kamu! Awas aja nanti, kalo ditikung disepertiga malam, baru nyesel dia!"
__ADS_1
Tawa Oma Marisa sambil mengusap gambar mendiang suami tercinta yang telah berpulang dan sudah tenang di syurga.