
Selesai mengambil dokumen Kanaya menuju lift hendak masuk dan akan menekan lantai ruang kerjanya.
Namun pintu lift tertahan oleh sebuah tangan yang akan masuk.
"Assalamualaikum Bu Naya." Sapa Iman yang mempersilahkan Ustadz Salman untuk masuk dalam lift sambil menyapa Kanaya.
"Assalamualaikum Mbak Kanaya. Wah kita bisa bareng begini ya." Ustadz Salman menyapa Kanaya sambil menangkupkan kedua tangannya di dada.
"Waalaikumsalam Iman, Ustadz Salman. Ustadz pagi sekali sudah datang, apakah ada keperluan dulu sebelum syuting?" Kanaya yang merasa kedatangan Ustadz Salman yang terlampau cepat 1 jam dari biasanya.
"Tidak. Hanya tadi baru saja dari bandara jadi langsung kesini dari pada balik malah takut terlambat syuting."
Lift membawa mereka menuju lantai yang sama.
Seperti rutinitas yang biasa keduanya lakukan.
Hari ini jadwal syuting program tausyiah yang biasa dibawakan oleh Ustadz Salman.
"Silahkan Ustadz jika ingin langsung ke ruangan. Nanti Saya panggilkan PU untuk melayani keperluan Ustadz."
"Terima kasih Mbak Kanaya."
"Sama-sama Ustadz. Mari Saya permisi."
"Silahkan."
Kanaya berpisah dengan Ustadz Salman. Kanaya menuju lokasi syuting guna mempersiapkan syuting hari ini sedangkan Ustadz Salman menuju ruang tunggu seperti biasa.
"Kanaya. Cepat kemari!" Panggil atasan Kanaya yang merupakan kepala divisi program tersebut.
"Pagi Pak. Ada apa?"
"Hari ini, MC kita berhalangan hadir. Suami beliau meninggal dunia. Saya harap kamu menggantikannya sebagai MC untuk mendampingi Ustadz Salman."
"Saya Pak?" Kanaya terkejut dengan penugasan mendadak yang diberikan kepadanya.
"Sudah bersiap Kanaya. Saya yakin kamu bisa. Tidak ada waktu mencari MC dari luar. Kamu bersiap ya dengan bagian wardrobe dan make up."
"Baik Pak. Saya akan berusaha semaksimal mungkin."
"Good! Oke segera berkordinasi dengan Ustadz Salman ya agar beliau tidak kaget dan kalian bisa saling menyesuaikan."
Sepeninggal atasannya Kanaya segera dibawa pihak wardrobe dan make up untuk mempersiapkan diri.
Sementara tugas Kanaya dialihkan kepada Dira.
"Mbak Naya semangat! Cie jadi MC! Calon artis nih!" Ledek Dira sambil tersenyum.
"Jangan buat aku semakin gugup Dira!" Kanaya jujur gugup karena ia harus in frame. Hal ini pengalaman baru bagi Kanaya berada di depan layar.
"Bismillah Mbak Naya. Pasti bisa. Fighting!" Dira memberikan semangat ala drakor yang sering ia tonton.
__ADS_1
"Makasi Dira."
Kanaya mengikuti tim wardrobe dan make up bersiap.
Kanaya yang memiliki tubuh proporsional dan sudah cantik membuat nya terlihat lain dari biasanya.
Keseharian Kanaya yang tanpa make up tentu kali ini terlihat begitu mempesona dengan pulasan make up yang kini menghiasi wajah Kanaya yang sudah cantik semakin tambah cantik.
"Wah Mbak Naya cantik sekali. Aku saja yang make upin pangling sendiri." Puji make up artis pada Kanaya.
"Bisa saja Mbak nya."
"Benar loh! Kulit Mbak Naya juga halus banget. Skincarenya apa sih?"
"Aku ga pakai skincare macam-macam, hanya bersihkan wajah saja pakai air mawar dan minyak zaitun sebelum tidur." Jawab Kanaya jujur.
Ustadz Salman yang sudah dipanggil untuk bersiap syuting bersamaan dengan Kanaya yang baru saja keluar dari ruang wardrobe dan make up.
Deg!
Tatapan Ustadz Salman tertuju pada Kanaya yang begitu mempesona pandangannya.
"Astagfirullah." Buru-buru ia turunkan pandangannya takut pikirannya semakin berpikir kepada hal yang tak halal.
Sedangkan Kanaya melihat ekspresi Ustadz Salman kala menatap lekat sekaligus langsung menunduk dan beristigfar.
"Ustadz, hari ini Saya diminta menggantikan MC yang berhalangan. Mohon maaf apabila nanti Saya tidak seluwes MC biasanya. Harap maklum ya Ustadz." Kanaya semakin gugup karena sesaat lagi proses syuting dimulai.
"Mbak Kanaya, cantik banget! Mbak Naya mesti dandan setiap hari. Mbak itu semakin cantik loh kalo make up gini." Dira yang baru kembali betapa terkejut melihat tampilan Kanaya yang mempesona.
"Kamu bisa saja Dira. Aku jadi malu."
"Eh Ustadz. Assalamualaikum." Dira menyapa Ustadz Salman.
"Waalaikumsalam Mbak Dira."
"Ustadz, hari ini Saya bertugas sebagai FD. Jika ada kekurangan mohon dimaafkan."
"Insha Allah akan Allah beri kita kelancaran Mbak Dira. Bismillah. Pasti Mbak Dira bisa menjalankan tugas dengan baik. Semangat ya!"
Dira tak menyangka kalau Ustadz Salman akan menggunakan gaya khas korea saat memberikan semangat kepada orang lain dengan kepalan tangannya.
"Semangat Ustadz!" Dira melakukan hal yang sama tentu dengan hati berbunga-bunga.
"Ya Allah, rasanya hati gw kayak sedang rebahan di ubin masjid adem banget liat senyum Ustadz Salman." Dalam hati Dira semakin jatuh hati dengan Ustadz Salman.
Kanaya dan Ustadz Salman bersiap in frame.
Keduanya terlihat begitu serasi.
Bagaimana tidak wajah keduanya yang sedikit memiliki raut timur tengah membuat keduanya semakin terlihat begitu cocok di kamera.
__ADS_1
Terlebih warna pakaian mereka soft pastel sage green yang disiapkan oleh pihak wardrobe dibuat senada menambah kesan keuwuan keduanya dan terlihat bagus dalam frame kamera.
Para crew juga memuji kecocokan keduanya yang tampak natural dalam menjalani proses syuting.
"Mereka serasi banget ya! Kayak pasangan saja! Aku berani taruhan rating hari ini bakal bagus!" Ucap salah satu crew.
Sementara si Big Boss yang baru sampai langsung menuju lift khusus bergegas keruangannya dengan perasaan senang terlihat dari senyuman menghias di wajah yang biasanya dingin bagai kulkas 2 pintu.
"Boss mau kemana?" Gusti baru akan mengatakan jadwal mengenai meeting langsung terlihat heran saat Nick hendak keluar ruangannya.
"Kita pantau syuting tausyiah!" Nick segera keluar diikuti dengan Gusti dibelakangnya.
Semua pegawai NBC menganggukan kepala dan menyapa Bis Boss saat melihat sang pemilik memasuki lokasi syuting.
Langkah Nick terhenti melihat pemandangan dihadapannya.
Tatapan tajam, dengan kedua tangan masih berada didalam saku celana dan diam mematung.
"Pagi Boss!" Sapa kepala divisi menyapa Nick.
"Sejak kapan Kanaya jadi MC!"
Mata tajam Nick menatap kepala divisi tentu saja membuat gentar yang ditatapnya.
"Begini Boss, jadi," kepala divisi menjelaskan kronologis mengapa Kanaya kini menjadi MC dalam syuting program tausyiah yang dipandu Ustadz Salman.
Nick masih tak memberikan tanggapan, wajah kakunya kembali menghiasi paras tampannya.
Tentu saja melihat ekpresi Big Boss yang kembali seperti sediakala membuat kepala divisi ketar ketir.
Sementara syuting baru saja selesai.
"Allhamdullillah." Kanaya merasa lega karena semua berjalan dengan lancar.
"Terima kasih Mbak Kanaya. Wah Mbak Naya hebat sekali, jamaah jadi sangat cair. Suasana interaksi dengan jamaah juga sangat mengalir natural. Ternyata Mbak Kanaya berbakat menjadi pembawa acara." Puji Ustadz Salman pada Kanaya.
Kanaya yang merasakan beban yang sejak tadi membuatnya gugup seketika hilang setelah syuting berakhir.
Belum sempat Kanaya menanggapi ucapan Ustadz Salman suara bariton menyela keduanya.
"Apa kabar Ustadz Salman?"
"Assalamualaikum. Selamat pagi Tuan Nick. Alhamdulillah kabar saya baik. Tuan Nick bagaimana?"
"Tentu baik! Hanya saja Saya perlu berbicara dengan pegawai Saya yang kini bersama Ustadz."
Tatapan Nick mengarah kepada Kanaya.
"Kalian berdua ikut Saya! Saya permisi dulu Ustadz."
Nick menunjuk kepada kepala divisi dan Kanaya, serta pamit pada Ustadz Salman.
__ADS_1