
Selesai membantu Dira beres-beres kontrakan. Kanaya kembali ke rumahnya.
Awalnya Kanaya ingin meminta Dira menemani dirinya ke salah satu Mall karena ingin membetulkan ponselnya yang sedikit berkendala.
Tapi Dira tampak pamit dengan terburu-buru setelah menerima telp.
Namun Dira hanya mengatakan ada keperluan dan mungkin akan kembali malam.
Kanaya tak banyak bertanya, apalagi Dira tak menjelaskan secara rinci ia hendak kemana dan ada keperluan apa.
Kanaya sudah berada di dalam Mall. Segera naik lift menuju lantai 3 menuju gerai ponsel yang akan ia datangi.
Saat sedang berjalan, seseorang menarik tangan Kanaya.
Kanaya terkejut hendak berteriak sebelum ia melihat siapa yang menarik pergelangan tangannya.
"Ada perlu apa kamu menarik tanganku Mas!"
Kanaya melepaskan cekalan tangan Alvin dipergelangan tangannya.
"Kita bicara! Ikut aku!" Alvin hendak meraih lagi tangan mantan istrinya namun Kanaya langsung menghindar dan melangkah.
Lagi lagi Alvin dengan sigap mencekal dan nada suaranya penuh penekanan.
"Please Naya, aku mau bicara. Ga akan lama." Sorot mata Alvin dengan berharap namun terlihat ada ketegasan disana.
Disebuah resto Kanaya kini duduk berhadapan dengan Alvin.
"Cepat katakan. Kita tidak seharusnya berada disini!" Kanaya dengan nada sinis tanpa menatap wajah Alvin yang hanya membuatnya sakit hati.
"Kamu merasa tidak pantas bersamaku? Jadi siapa yang pantas? Ustadz viral itu!" Kini Alvin terpancing emosi.
"Tidak usah bawa orang lain. Katakan saja apa yang mau kamu katakan! Aku tidak punya banyak waktu!" Kanaya tidak takut dengan nada bicara Alvin yang menyudutkannya.
Cukup bagi Kanaya dulu Alvin dan ibunya menginjak-injak harga dirinya.
Kini Kanaya tidak sudi diperlakukan semena-mena baik oleh mantan suaminya atau pun siapapun.
"Kenapa kamu tidak pernah membalas telp dan chatku? Bahkan kamu memblokir nomorku berulang kali. Kenapa Kanaya!" Terdengar amarah dalam suara Alvin.
"Ku rasa bukan hak Mas untuk bertanya seperti itu. Karena urusan diantara kita sudah selesai sejak dulu!" Kanaya menatap dengan tajam pria yang pernah meluluhlantahkan kesetiaannya dan mencoreng kesucian rumah tangga mereka.
"Kamu berubah Nay. Kamu merasa hebat karena sekarang menjadi wanita yang digosipkan oleh Ustadz kondang!" Nada suara Alvin terdengar sarat akan cibiran.
"Ya aku memang sudah berubah. Bahkan sejak dulu disaat pria yang berstatus suamiku berselingkuh hingga punya anak dengan wanita lain!"
Kemarahan Kanaya bukan karena ia masih cinta dengan Alvin, namun luka yang berusaha Kanaya kubur kini terbuka kembali kala Alvin ada dihadapannya.
__ADS_1
"Aku tahu kamu sekarang bekerja di NBC. Aku tidak menyangka kamu sekarang berhubungan dengan Ustadz kondang itu. Apa dia tahu status kamu yang seorang janda?" Ada nada meremehkan yang Alvin tujukan kepada Kanaya.
"Aku tidak pernah malu akan status yang aku sandang saat ini. Yang seharusnya malu adalah pria yang telah berselingkuh bahkan hingga punya anak dengan wanita lain!" Kanaya balik menyerang Alvin.
"Itu bukan putraku Kanaya!"
Kanaya tekejut dengan kata-kata Alvin. Namun Kanaya tidak iba sedikitpun.
"Bella menipuku. Dia hamil dengan pria lain dan bodohnya aku tertipu olehnya. Dia menjebakku Kanaya!" Alvin dengan kemarahan terlihat dari wajahnya yang memerah.
"Aku tak punya waktu untuk mendengarkan opera sabun hidupmu Mas. Aku pergi!"
Kanaya bangkit dari kursi hendak meninggalkan Alvin yang masih duduk.
Tentu saja melihat Kanaya yang akan pergi Alvin segera menahan Kanaya.
"Tunggu Naya! Dengarkan dulu penjelasanku! Aku belum selesai!"
"Aku minta lepas tanganku, kau kurang ajar Alvin!"
Kanaya sekuat tenaga melepas cengkraman tangan Alvin di pergelangan tangan Kanaya namun Alvin makin erat mencengkramnya seakan tak membiarkan Kanaya lepas kali ini.
"Tante Naya!"
Kanaya maupun Alvin sama-sama menatap ke arah suara yang memanggil Kanaya.
Alvin yang terkejut melihat keberadaan Nicholas Bryan, tanpa sadar melepas cengkramannya pads Kanaya.
Alvin tidak menyangka bertemu pria yang ia kagumi saat melihat langsung diacara beberapa waktu lalu, kini ada di hadapannya bersama tangannya kanannya dan beberapa bodyguard.
Kanaya melihat kesempatan bisa lepas dari Alvin segera meninggalkan Alvin menghampiri Caca.
"Caca."
Kanaya langsung memeluk Caca. Entah apa yang Kanaya rasakan, hatinya merasa lega, ada rasa aman, terlebih ia melihat Big Bossnya berdiri menatap keduanya dengan sorot mata dingin dan tajam khas Nicholas Bryan.
Kanaya takut-takut membalas tatapan sang Big Boss yang sangat galak dan dingin.
"Tuan Nick. Apa kabar? Tak menyangka kita bertemu disini? Senang bisa melihat Tuan kembali. Saya," Alvin yang bersikap sok ramah seketika kata-katanya terhenti oleh sebuah kalimat pria yang langkahnya saja tercium bau wangi kemapanan.
"Aku tidak perduli urusan apa yang sedang kalian bicarakan. Aku hanya tidak mau pegawaiku membuat citra buruk bagi perusahaan dengan drama murahan kalian!"
Nick segera pergi meninggalkan Alvin yang terlihat bengong atas kata-kata Nick yang menohok hati.
Alvin hendak memanggil dan mengejar Kanaya namun bodyguard Nick menahannya.
"Silahkan pergi, sebelum kami bertindak." Tatapan dan cekalan tangan bodyguard Nick membuat Alvin gentar. Ia pun mengurungkan niatnya mengejar Kanaya.
__ADS_1
"Aku tidak akan menyerah Kanaya. Aku akan kembali. Aku tahu dimana aku harus mencarimu. Aku berjanji akan mendapatkanmu kembali dengan cara apapun!" Geram Alvin melihat Kanaya yang telah melangkah jauh menggandeng anak perempuan yang memanggilnya.
Nick menghentikan langkahnya.
Berbalik menghadap Kanaya yang sedang menggandeng Caca.
Gusti mengajak Caca agar Caca tak melihat apa yang akan Boss besarnya lakukan dengan tatapan tajam siap memangsa.
Nick maju beberapa langkah mendekat pada Kanaya.
Tentu saja Kanaya yang kini hanya berjarak kurang dari 1 hasta dengan Nick seketika dibuat ketar ketir, apalagi tatapan Big Boss killernya seperti harimau yang siap menerkam.
"Aku tidak peduli kamu ada urusan apa dengan pria itu, tapi kamu harus ingat, selama kamu masih menjadi pegawai NBC, jaga tingkah lakumu. Drama murahan seperti tadi tak pantas mencoreng nama besar NBC. Mengerti!"
Tatapan tajam Nick langsung menusuk netra milik Kanaya tanpa berkedip.
Kanaya tentu merasa getir terlebih kata-kata Nick bagaikan teguran keras bagi dirinya.
"Mengerti Boss. Saya tidak sengaja bertemu dengan ma," Kanaya berniat menjelaskan namun langsung dipotong oleh Nick.
"Aku tidak mau dengar alasan apapun. Cukup kamu ikuti aturanku! Jika tidak suka, silahkan angkat kaki dari NBC!" Suara Nick membuat Kanaya tak melanjutkan kata-katanya.
Caca yang ada dalam pengawasan Gusti, mendekat kearah Daddy Nick dan Kanaya.
"Daddy, jangan marah sama Tante Kanaya. Kata Oma kalau ada orang bicara jangan dipotong dulu. Daddy harus dengarkan penjelasan Tante Naya. Caca lihat Om tadi tarik tangan Tante Naya."
Caca menggenggam tangan Nick menatap wajah Daddynya yang terlihat marah.
Nick melihat wajah memelas Caca tentu saja Nick luluh, mana tega Nick melihat hazel putri tercintanya berkaca-kaca, namun Nick tetap masih kesal dengan apa yang ia saksikan tadi.
"Sayang, Daddy tidak marah, hanya memberi nasihat pada pegawai Daddy agar mematuhi peraturan. Sama seperti Caca disekolah yang tentu harus menaati tata tertib kan?"
Caca menganggukkan kepala.
"Pintar kesayangan Daddy. Caca ikut Om Gusti dulu ya. Daddy mau bicada dengan Tante Naya." Nick mengusap kepala Caca.
"Daddy janji ya, jangan marah dengan Tante Naya. Tante Naya ga salah. Om itu yang jahat. Dia melukai tangan Tante Naya. Daddy lihatlah itu." Caca menunjuk pada pergelangan tangan Kanaya.
Kanaya baru sadar bahwa pergelangan tangannya sampai biru oleh perlakuan Alvin dan sedikit perih mungkin tergores, Kanaya sendiri baru sadar kala melihatnya kini.
Nick melihat memastikan kata-kata Caca dan benar terlihat luka pada pergelangan tangan Kanaya.
"Iya Daddy janji. Sudah Caca main dulu sama Om Gusti ya. Gus, masih ada waktu?"
"Klien masih dalam perjalanan Boss. Aman." Gusti menyampaikan.
"Ajak Caca beli ice cream. Aku perlu mendisiplinkan pegawai NBC yang nakal!" Tatapan mata Nick menatap Kanaya saat mengatakannya.
__ADS_1
"Kamu, ikut aku!" Nick menunjuk Kanaya agar mengikuti langkahnya.